Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Tuan Nan Tercengang


__ADS_3

Pagi ini mereka telah berada di ruang meeting. Terlihat direktur utama dari orang Singapura. Perusahaan ini di bangun untuk menjalin kerja sama dengan pihak lokal. Oleh sebab itu dalam struktur organisasi, direktur harus ada dari pihak sini.


Anitha dan tuan Nan tidak membawa pemegang saham yang lain untuk bertemu. Tuan Nan dan Anitha berusaha mencari solusi dengan mencari tahu apa yang terjadi. Kini di sinilah mereka berada. Sekretaris perusahaan AP. PTE. Ltd juga ada dalam ruangan ini. Hanya staf direksi yang diajak serta merta.


Dalam bahasa inggris dan nada dalam Anitha bertanya pada direktur utama, "Apa yang terjadi?"


Tuan Nan mendampingi Anitha, dia ingin Anitha mengurus permasalahan ini, jika gagal maka saat itu dia akan turun tangan.


"Tiga staf kunci di bidang teknologi informasi mengundurkan diri secara bersamaan, Bu. Sehingga berimbas pengoperasian sistem." Direktur utama tersebut berusaha tenang. Ini pertama kali dia bertemu dengan pemilik saham terbesar perusahaan.


Wajah Anitha terlihat tenang menatap dalam mata direktur, namun terkesan dingin. Dia sangat membenci penghianat. Dia merasa ada permainan dibalik mengundurkan diri staf teknologi informasi. Untuk perusahaan yang baru startup, teknologi informasi bisa menyedot anggaran yang besar pada perusahaan. Kini karyawan di perusahaan malah bermain-main dengan perusahaan yang telah dibangun tuan Nan untuknya.


"Jika aku memanggil tiga staf itu ke sini bagaimana Pak?" tanya Anitha pada tuan Nan dengan profesionalisme.


"Apa Ibu ada rencana?" Tuan Nansen tidak tahu apa rencana Anitha. Dia hanya membantu Anitha dibelakang saja.


"YA," nada Anitha langsung dipenuhi aura kesuraman. Dia merasa sedikit kecewa dengan keadaan.


"Baik, kalau begitu, panggil paksa mereka sekarang juga!" Perintah tuan Nan, pada sekretaris perusahaan.


Tuan Nan juga meminta bodyguard menemani sekretaris menjemput paksa tiga karyawan yang telah menyebabkan kerugian besar.


Menunggu pemanggilan tiga orang tersebut, Anitha memutari perusahaan. Anitha juga mengecek laporan keuangan. Anitha pernah sepintas memperhatikan tim audit saat tuan Nan memintanya ikut serta. Anitha hanya menjadikan ajang belajarnya. Siapa sangka banyak ilmu yang dia serap di tambah jenjang pendidikan yang ditekuninya.


Anitha melihat arus kas, neraca laba-rugi keuangan perusahaan. Dia semakin fokus mengecek, tuan Nan hanya bisa menikmati wajah seriusnya. Saat bersama di luar kantor, tuan Nan hampir tak pernah melihat wajah serius Anitha, kecuali saat dia mengerjai tuan Nan.


"Apa selama setahun perusahaan ini berjalan sudah pernah di audit?" tanya Anitha pada direktur. Direktur menggeleng perlahan.


Banyaknya urusan yang di tangani oleh tuan Nan, membuat dia lengah memperhatikan jalannya perusahaan dengan maksimal sebagai salah satu komisaris perusahaan. Tuan Nan tak pernah meminta pertanggungjawaban untuk perusahaan. Dia hanya mempercayai pada orang tertentu.


"Besok panggil tim audit ke sini!" perintah Anitha tegas, membuat direktur utama hanya mengusap tengkuk.


Anitha melayangkan senyum misterius pada kekasihnya. Tuan Nan hanya bisa membalas dengan menggedikan dahinya.


"Silahkan tunggu di ruang meeting Pak! Ada yang mau saya bahas empat mata dengan pak Nansen." Anitha meminta direktur tersebut meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Baiklah Bu, saya permisi." Direktur tersebut bangkit dan membungkuk sedikit pada tuan Nan dan Anitha. Dia melangkah dan menutup pintu kembali.


"Apa rencanamu sayang, memanggil staf yang kabur tanpa tanggung jawab."


"Aku ingin Kanda yang menekannya, untuk berkata jujur, apa dibalik alasan dia mengundurkan diri."


"Sayang, itu namanya kita menuduh tanpa bukti."


"Bukti bisa saja dibuat dan dicari Kanda, tetapi mereka mengundurkan diri tanpa alasan jelas, apa bukan suatu bukti kecurangan pada perusahaan? Belum lagi seminggu setelah dia mengundurkan diri terjadi kekacauan ini. Apa itu bukan bukti yang jelas."


"Hmmm masuk akal."


"Seharusnya mereka membuat surat pengunduran diri lebih dahulu sebelum berhenti."


"Ya, seharusnya begitu sayang. Namun namanya kabur pasti mendadak sayang." Tuan Nan tersenyum jahil.


"Hmmm, niatnya nyindir." Anitha tersenyum mengetahui ke mana maksud tuan Nan.


"Rileks sejenak sayang, agar wajahmu tidak berkerut. Lalu bagaimana kelanjutan rencana?


"Aku bisa saja menekan mereka, tetapi apa Kanda tega aku dikatakan wanita mengerikan oleh para karyawan."


"Maka dari itu, aku ingin menjadikan Kanda kambing hitam. Aku bisa tetap baik di mata mereka." Senyum Anitha semakin lebar.


"Licik." Tuan Nan hendak mengganggu Anitha kembali.


Tok ... tok ... tok .... terdengar pintu di ketuk.


"Masuk," kata tuan Nan.


Ternyata sekretaris yang datang. Dia memberi kabar, jika orang-orang tersebut sudah di ruang eksekusi, alias ruang rapat.


Tap ... tap ... tap ... terdengar langkah kaki dengan tenang melangkah. Terlihat tiga staf tersebut duduk di balik meja ruang rapat yang membentuk leter U.


Tuan Nan tanpa basa-basi bertanya, apa alasan mereka mengundurkan diri. Namun jawaban mereka tidak bisa diterima akal logika Anitha. Mereka selalu berbelit-belit memberikan jawaban.

__ADS_1


Bahkan mereka dengan berani menentang tuan Nan dan mengatakan akan melaporkan tuan Nan atas pencemaran nama baik. Anitha yang tadinya hanya duduk menyimak, bangkit dan menuju ke depan meja para mantan karyawan tekhnologi informasi. Anitha mulai tidak sabar.


"Ingin bermain-main?" Nada dingin Anitha membuat mereka membeku. Dinginnya wajah tuan Nan lebih dingin wajah Anitha. Wajah Anitha dipenuhi kebencian, membuat dia lebih mengerikan dibanding tuan Nan yang hanya memasang wajah dingin. Sementara Anitha mengeluarkan dari relung hati terdalamnya atas sebuah kata 'penghianatan'.


Mereka masih terperangah memandang wajah Anitha. Tak ada simpati tak ada empati dipertunjukkan Anitha.


"Katakan terus terang ada apa dibalik semua pengunduran diri anda bertiga!"


Bukan jawaban yang diterima Anitha dan tuan Nan, justru senyum sinis dipemerkan oleh salah satu mereka.


Tuan Nan mulai terlihat tidak sabar, sama seperti Anitha. Tuan Nan kembali bertanya justru mendapat jawaban tak enak dari mereka. Anitha terpancing emosi melihat sikap kurang ajar mereka terhadap tuan Nan.


BRAAKK .... Anitha menggebrak meja di depan mereka. Membuat semua yang hadir di sana terkejut, tidak terkecuali tuan Nan. Dia bisa melihat Anitha begitu melampiaskan kemarahannya.


"Jawab AKU!! Apa Anda bertiga pikir membangun perusahaan ini dengan daun. Sehingga melakukan sesuai dengan keinginan anda bertiga!"


"Kau cuma WANITA!" kata salah satu dari mereka dengan berani setelah pulih dari keterkejutan.


Mereka menyangka Anitha akan down jika di serang dengan gender. Namun kata 'hanya wanita' justru menimbulkan api kemarahan lebih besar dari Anitha. Dia menahan tuan Nan yang mulai tak tenang. Dia mengangguk lembut pada tuan Nansen meminta persetujuan untuk mengatasi masalah semampunya. Tuan Nan mengangguk setuju. Dia juga ingin mengetahui secara langsung, sejauh mana kemampuan Anitha menyelesaikan sebuah masalah.


"Lalu karena aku wanita, kau bisa mempermainkan perusahaan?" tanya sinis Anitha.


"Lalu apa mau Anda?" tantang salah satu dari mereka dengan senyum mengejek.


Anitha tak ingin banyak cerita. Bagi Anitha tindakan kini jauh lebih baik. Anitha mengangkat telepon dan kini infokus ruang rapat tersebut menyala. "Coba Anda bertiga perhatikan." Dilayar lebar tersebut, terputar rekaman aktivitas keluarga mereka masing-masing pagi hari tadi. Wajah-wajah heran menghias di wajah mereka.


"Aku memang wanita, tapi aku bukan wanita yang punya perasaan. Aku tidak akan paham jika diminta merasakan apa arti sebuah kehilangan."


Anitha kini kembali menoleh dan menopang kedua tangannya ke sisi meja. Dengan posisi semakin membungkuk, Anitha bertanya, "Siapa dalang dibalik penipuan perusahaan!" ucap Anitha berani mengikuti insting saja, dia telah siap dengan resiko.


Mereka masih bersikeras untuk diam. Anitha kembali mengangkat telepon. Kini terlihat istri salah satu dari mereka mengangkat ponselnya dan berkata, "Hello honey, ada apa? Hello ...." Anitha memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Apakah pertunjukan ini semakin menarik? Ketika istrimu menyangka dia menerima panggilan seluler darimu?" tanya Anitha dengan gaya acuh tak acuhnya.


"Apakah kita lanjut dengan meminta seseorang mengambil anakmu di sekolahnya?" tanya Anitha dengan penuh ejekan.

__ADS_1


Tuan Nan semakin tercengang. Bagaimana bisa Anitha melakukan itu semua hanya dalam semalam. Dia yang pebisnis besar tidak pernah berpikir melakukan cara ini.


***/


__ADS_2