
Malam di kota Batam ....
"Hallo ibu, sehat?" tanya Anitha saat ibunya menelfon dirinya.
"Sehat Nak, kamu?"
"Aku sehat Bu. Ada hal yang ingin Ibu infokan?"
"Iya Nak, kamu benar. Orang tuanmu sudah sampai ke sini dan menemui Ibu."
"Lalu?"
"Karena ulahmu yang suka nekat tanpa pikir panjang, terpaksa Ibu ikut berakting." Tak ada nada marah dalam suara ibunya.
"Intinya amankan Bu?"
"Aman."
"Kau tidak akan bisa pulang ke kampung, jika begini terus Nak." Ibunya protes. Kini ibunya telah berada di rumah mereka.
"Aku memang tidak berniat kembali ke kampung Bu. Aku ingin membawa Ibu tinggal bersamaku. Di sini."
"Selesaikan urusanmu dengan tuanmu dulu. Ibu tak sanggup harus lari sana lari sini. Ibu sudah tua Nak," kata ibunya sambil terkekeh. Kelakuan anaknya tak pernah menjadi beban selagi anaknya tidak menyakiti orang lain.
Anitha juga tertawa saat mendengar tawa ibunya yang ringan tanpa beban.
"Apa yang kamu rencanakan dengan lari darinya?" tanya ibunya kembali.
"Tak ada Bu, aku hanya tidak ingin terkurung lagi di sangkar emas. Cukup bersama Sahrul aku begitu." Anitha mencari pembenaran.
"Kenapa tidak kau bicarakan saja padanya?"
"Aku belum siap Bu. Aku tidak yakin orang sepertinya akan bisa menerima penolakan. Aku tidak mengenal betul siapa dia Bu."
"Hmmm begitu," kata ibunya tanpa nada yang butuh jawaban.
"Bagaimana jika Ibu ke sini untuk beberapa hari. Mereka tidak akan lagi mencari Ibu dalam waktu dekat. Aku rindu pada Ibu."
"Baiklah sayang, Ibu akan ke sana," kata ibunya. Membuat Anitha gembira.
"Aku akan carikan ibu Tiket. Kapan ibu akan ke sini?"
"Dua hari lagi ya sayang. Ibu bereskan rumah dulu."
"Oke Ibu, love u." Anitha memutuskan sambungan video callnya. Anitha lalu menelfon Sahrul.
"Sibuk Uda?"
"Tidak juga, ada apa sayang?"
"Kapan Uda ke sini. Sudah dua bulan aku di sini tapi Uda masih belum bisa menemuiku. Aku rindu padamu," ujar Anitha dengan muka manjanya. Membuat dada Sahrul berdetak kencang.
Anitha terus merayu Sahrul. Dua bulan ini Sahrul terus mengirimkannya dana untuk biaya hidupnya. Sahrul tak tahu jika Anitha sudah bekerja di sebuah perusahaan.
"Sabar sayang, uda jauh lebih rindu padamu. Uda ingin menebus kesalahan uda bertahun lalu padamu." Sahrul berkata serius.
__ADS_1
"Tak usah kita bahas yang sudah berlalu Uda, takutnya aku mendendam padamu," Anitha berkata jujur, tapi nada suaranya hanya seperti gurauan lalu.
"Tuan Nan masih memata-matai uda. Makanya uda tidak mau kita salah langkah."
"Baguslah kalau begitu, aku masih punya banyak waktu menjadikan kau atm berjalanku Sahrul Ramadhan! Akan aku ambil apa yang menjadi hakku dulu." Anitha hanya diam dan membatin.
"Kenapa diam?" Sahrul bertanya karena melihat Anitha hanya diam memandangnya dari layar handphonenya.
"Iya Uda, aku tahu mereka pasti memata-matai dirimu. Mereka bahkan mencari Ibu."
"Apaa??Lalu?"
"Tidak usah cemaskan ibu, Uda. Persiapkan diri Uda. Aku yakin dia akan mencari Uda, bahkan mulai dengan terang-terangan. Sahrul tahu dia sering di awasi. Namun sesuai dengan rencana Anitha dan dirinya, mereka sepakat tidak bertemu dulu. Mereka sepakat LDR, itu menurut Sahrul. Namun menurut Anitha itu hanya sebuah trik menjerat Sahrul kembali padanya saat dia membutuhkannya.
"Uda siap kalau sekarang."
"Uda tidak merasa terbebani olehku? Gara diriku uda ikut susah. Jika kita tidak bertemu lagi, uda tidak akan terseret seperti ini," ucap Anitha dengan wajah yang menyesal dan sedih.
"Jangan berkata begitu, uda justru bersyukur kita di pertemukan kembali. Uda tak bisa terima jika istri cantik uda dimiliki yang lain." Anitha hanya bisa menahan mualnya mendengar kata manis Sahrul.
"Jika Uda tidak berjuang, berarti Uda sendiri yang memberikan peluang padanya. Aku bisa apa." Nada Anitha terdengar semakin memelas.
"Tidak, uda tak akan menyerahkan kamu padanya."
"Aku penasaran Uda, apa yang membuat Uda berubah dulu?"
"Tunggulah, Uda akan cari waktu menjumpai kamu dan akan Uda ceritakan. Kamu juga harus cerita, bagaimana bisa kamu berjumpa dengannya."
"Ok, aku akan cerita."
"Uangmu masih ada?"
"Jadi tak perlu uda transfer?"
"Tak perlu dulu Uda transfer. Nanti kalau benar tak ada, aku akan katakan."
Anitha tersenyum penuh kemenangan. Kini waktu berpihak padanya. Bukan lagi dia yang mengemis cinta, namun Sahrul yang mengemis cintanya. Anitha tak ambil pusing apa sebab Sahrul berubah kini.
"Tidurlah lagi, sudah malam. Uda juga mau istirahat dulu."
"Oke, jangan lupa hapus panggilan masuk atau keluar dariku Uda. Kita hanya jaga-jaga jika ponsel uda tidak di otak-atik orang saat tergeletak sembarangan. Walau nama yang Uda tulis bukan namaku."
"Oke. Malam sayang," ucap Sahrul sambil memberi kiss jauh.
"Malam sayang," balas Anitha. Begitu video call tersebut berakhir, Anitha lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Itulah siksa yang harus Anitha tanggung ketika memutuskan untuk bermesraan dengan Sahrul demi rencana terindahnya.
Dua hari setelah itu ibunya datang, Anitha menyambut dengan suka cita. Sebulan sudah ibunya bersamanya, ibunya ingin pulang ke kampung. Beliau mengatakan rindu kampungnya. Padahal Anitha baru merasakan bahagia bisa memanjakan ibunya.
Jauh di dasar hati Anitha, dia keberatan ibunya ingin pulang. Namun Anitha tak mau memaksakan kehendaknya. Anitha tak mau jadi anak yang egois setelah semua yang dilakukan pada ibunya. Ibunya akan berjanji datang lagi. Anitha sudah berniat membuat ibunya nyaman dan senang, di manapun ibunya inginkan.
@@@
Setengah tahun sudah berlalu Anitha menghabiskan waktunya di kota ini. Anitha semakin mandiri. Dia sudah mempunyai teman kembali. Anitha tetap membatasi hanya sebagai teman dalam pekerjaannya. Anitha sudah tak ingin punya teman dekat.
__ADS_1
"Pagi Bu Neva," sapa Anitha dengan ceria pada asisten manajernya. Anitha bekerja di sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang industri dasar dan kimia. sebagai staff business development.
"Pagi An, ceria amat seperti menang lotre saja." Bu Neva mencandai Anitha. Bu Neva memang suka bergurau dengan Anitha. Anitha hanya menanggapi dengan senyum manis.
"An, kamu di minta bos ke Jakarta besok. Ke perusahaan Industri besar PT NAS. Kamu di minta ke pabrik produksi." Anitha shock mendengar kata 'Jakarta'.
"Saya Bu?" tunjuknya pada diri sendiri.
"Iya saya," jawab bu Neva sambil menirukan Anitha menunjuk dirinya.
"Ndehhh Ibu jangan bercandalah. Saya serius Ibu."
"Aku juga serius Anitha Putri."
"Apa gak bisa digantikan Bu?" tanya Anitha memilih menghempaskan bokongnya ke kursi dihadapan bu Neva.
"Gak bisa, pertama sudah jadi job desk pekerjaanmu untuk bertemu dengan relasi bisnis kita. Kedua kamu masih bawahan saya, masa kamu yang memerintah saya." Tak ada nada arogant dari bu Neva.
"Uhhh kejamnya Ibu begitu arogant padaku," kata Anitha memasang wajah memelas. Bu Neva hanya tertawa.
"Kenapa kamu takut ke Jakarta? Apa di sana ada yang akan nagih hutang?" Niat bu Neva hanya bergurau, tapi mengena sasaran untuk Anitha. Anitha terbatuk kecil.
"Atau kamu takut naik pesawat?" olok bu Neva tanpa tahu perjalanan Anitha sudah cukup jauh.
Anitha tahu dia harus profesional dan harus berani menghadapi setiap masalahnya. "Baiklah Ibu Moneva yang cantik, muda dan arogant." Anitha memberikan senyum manisnya.
"Oke, nanti kamu urus surat perjalanan dinasnya ke human resource."
"Sip Ibu, aku lanjut kerja dulu."
Anitha bekerja tanpa gangguan akan terjadi apalagi ke Jakarta nanti. Baginya sejak dia memutuskan melarikan diri dari tuan Nan. Jiwanya semakin kuat. Apalagi sejak dia mulai berkarier, pola pikirnya semakin tenang dalam menghadapi problematika yang ada.
Setelah semua urusannya selesai dan jam pulang kantor tiba, Anitha pulang dengan diantar rekan kerjanya. Anitha belum berniat membeli kendaraan, dia lebih suka menggunakan jasa ojek atau taksi online. Terkadang dia ditawarkan rekan kerjanya untuk mengantar dia pulang.
"Terima kasih ya Bang," ucapnya pada rekan kerjanya yang bernama Kemal. Kemal melambaikan tangan dan langsung tancap gas meninggalkan halaman kost-an Anitha. Sejak kasusnya dengan Ajeng, Anitha tak ingin terlalu berteman dekat dengan wanita.
Anitha memasukan anak kuncinya dan membuka pintu kost-nya. Walau tak terbilang besar dan mewah namun suasana yang tenang dan bersih yang membuat dia betah tinggal di sini, dan Anitha lebih memilih sendiri. Anitha hanya bersay hello saja pada penghuni lain. Anitha bukan tak mendengar nada sumbang, mengatakan dia sombong dan tidak mau bergaul. Anitha hanya menganggap seperti angin yang berbisik pada ilalang.
Malam hari, Anitha menelfon Sahrul. Sudah enam bulan mereka belum ada kesempatan untuk bertatap muka secara langsung. Sahrul masih sibuk bolak-balik Singapura-Jakarta. Anitha justru merasa senang. Tanpa harus menjumpai Sahrul, Anitha tetap di kirim belanja oleh Sahrul.
"Uda, besok aku ke Jakarta," ujar Anitha menjelaskan tujuan dia menelfon.
"Ada apa ke sana?" tanya Sahrul seperti kurang suka.
"Aku tidak mungkin menyusahkan Uda terus. Aku tahu Uda tak merasa kesusahan karenaku. Hanya aku tak sampai hati saja. Aku mencoba melamar kerja di sini, tapi aku harus ikut training ke Jakarta," jelas Anitha penuh kebohongan.
"Uda tidak keberatan kau tidak bekerja, percayalah uda tak akan memperlakukan kau seperti dulu. Bukankah setelah proyek di sini rampung, uda akan menyusulmu ke sana dan akan berhenti dari PT ini. Uda akan cari kerja baru di sana."
"Tapi, aku ingin berkarir Uda, aku ingin mempunyai penghasilan sendiri. Percayalah aku tidak akan merasa lebih tinggi darimu," kata Anitha seakan penuh permohonan. Matanya berkaca-kaca penuh kesedihan jika tak diizinkan berkarir.
Sahrul menghela napasnya, dia tak tahan melihat kesedihan di mata Anitha. Cukup rasanya dulu dia menyakiti wanita cantik ini. "Baiklah jika itu keinginanmu."
"Terima kasih Uda, aku sungguh senang. Apa Uda tidak bisa ke Jakarta? Aku tidak bisa ke Singapura, aku takut di tangkap pihak berwenang Singapura."
"Ya ini kesempatan kita bertemu. Uda akan bicara dengan bos uda untuk izin pulang dua hari."
__ADS_1
"Aku tunggu ya Uda, aku putuskan sambungan telfonnya."
@@@