
Tri semester pertama telah berlalu. Tuan Nan telah kembali seperti biasa. Anitha menerima limpahan kasih sayang dari tuan Nan, keluarganya dan kerabatnya.
Tak ada kendala apapun selain terkadang Anitha masih ada menangis merindukan ibunya. Seperti malam ini, kehamilannya hanya menunggu hari. Ketika perutnya semakin membesar dia semakin rindu pada ibunya.
Dia ingin bermanja pada ibunya, memperlihatkan perut tempat calon bayinya berkembang.
"Bu, lihat perutku. Apa dulu ibu merasa berat seperti ini juga ketika mengandungku?" gumam Anitha sambil mengelus perutnya.
Anitha merasa sang jabang bayinya menendang memberi respon. "Hehehe kamu menendang perut mama. Apa kamu ingin menyampaikan, jika dulu mama juga menendang perut nenekmu?"
Kembali terasa si jabang bayi memberi respon. Anitha melupakan kesedihan karena rindunya. Anitha terlibat asyik dengan calon bayinya.
Tuan Nan baru selesai mengganti pakaian. Dia sedikit terlambat pulang malam ini. Tuan Nan bergabung dengan Anitha.
"Asyik sekali mama dan anak papa ini? Sedang bicarakan papa ya?" kata tuan Nan mengusap perut istrinya. Tak ada respon dari jabang bayi.
"Papa fitnah kita ya Nak. Makanya kamu diam saja."
Tuan Nan merasa respon bayinya dengan menendang perut Anitha. Dia tersenyum dan berkata, "Jadi anak papa merajuk ceritanya karena papa tuduh?"
Kembali terasa pergerakan jabang bayinya. Tuan Nan terkadang melihat Anitha meringis jika pergerakan bayinya terlalu keras.
Tuan Nan kembali berkata, "Hari sudah malam. Bagaimana kalau anak papa tidur dulu. Kasihan mama sudah lelah."
Sang jabang bayi bergerak pelan, lalu menghilang seiring usapan lembut di perut Anitha.
"Anak pintar. Semoga menjadi anak saleh ya Nak." Tuan Nan dan Anitha telah melakukan usg dan mengetahui jenis kelamin buah hatinya. Walau kadang bisa terjadi kesalahan dalam pemeriksaan. Namun apapun itu mereka bersyukur.
"Berat sayang?" tanya tuan Nan melihat perut istrinya yang semakin Mengkilap.
"Lebih berat menanggung rindu pada Kanda." Anitha mengungkapkan apa yang dirasanya.
"Maafi Kanda ya. Kanda sengaja lembur, karena besok sudah harus jadi suami siaga."
Anitha melunakan pandangannya. Dia memeluk erat suaminya. Merekapun beristirahat.
***
Tiga hari setelah itu, ketika kegelapan tak di temani bintang, hanya terdengar bunyi jangkrik ... krikk ... kriiikk ... krikk. Juga bunyi burung hantu, ukk ... ukk ... kukkukuk ... kukk ....
Anitha mengerang menahan sakit. "Uhhh Kanda perutku sakit sekali.
__ADS_1
Tuan Nan lalu tersentak dan dengan cepat meraih telfon genggamnya, meminta Harri menyiapkan mobil. Ini kali ke dua Anitha mengeluh sakit yang kuat. Dokter telah mengatakan Anitha mulai sering kontraksi.
Si jabang bayi sudah ingin keluar dan melihat dunia, serta menyentuh wajah ayah-ibu yang menantikannya.
Tuan Nan juga memanggil asisten rumah tangganya melalui interkom telfon paralel.
"Ke sini cepat." Nova yang mengangkat menutup dan langsung bergegas ke kamar tuannya.
Dia mengetuk daun pintu dan langsung masuk ketika mendengar titah tuan Nan. Tuan Nan memapah Anitha. Dia bisa mengendong Anitha, namun dia khawatir saat menuruni tangga. Bobot Anitha jauh lebih berat dari biasanya.
"Bawa tas pakaian nyonya."
Nova dengan cekatan mengambil tas yang di tunjuk tuan Nan. Anitha telah jauh hari menyiapkan jika dia tiba-tiba di bawa ke rumah sakit untuk proses kelahiran.
Sejam berlalu, Anitha di temani tuan Nan. Dia masih berulang kali kontraksi. Menunggu pembukaan terakhir.
Saat yang ditunggu pun datang. Anitha terlihat bercucuran peluh. Ruangan yang sejuk tidak bisa meredam titik peluh Anitha menahan sakit.
Tuan Nan menjadi korban remasan tangan Anitha saat menahan sakit. Anitha dan tuan Nan telah sepakat menolak operasi caesar selagi bisa normal.
Dokter Bayu mengatakan Anitha bisa melahirkan normal. Karena itu juga sepasang suami-istri ini memilih persalinan normal. Mengingat juga faktor lain dari operasi caesar.
"Ibuu ... inikah yang engkau rasa ketika melahirkan aku. Aku bersyukur tidak durhaka padamu. Ternyata begitu berat." Anitha sempat-sempatnya membatin.
Perjuangan Anitha mengeluarkan bayinya untuk melihat dunia ... selamat. Terdengar tangisan lengking bayi lelaki seperti yang di perkirakan dokter ketika USG.
"Oeeekk ... oeeeekkk ...." Suara melengking penuh irama terdengar di telinga Anitha dan yang lain.
"Bayinya laki-laki, tampan seperti ayahnya. Selamat ya pak Nansen. Bu Anitha." Dokter memberikan ucapan selamat.
Anitha yang masih lemah, merasa semangat ketika bayinya diletakan sesaat di atas perutnya.
"Sayang, terima kasih kau sudah hadir diantara kami." Anitha mengecup ubun-ubun bayinya.
Tuan Nan yang mendengar ucapan istrinya, juga mengecup dahi istrinya yang masih penuh peluh. "Terima kasih juga sayang, sudah memberikan Kanda keturunan." Anitha mengerjapkan matanya.
***
Kini mereka telah di kamar inap. Mommy mereka langsung terbang landas keesokan hatinya ketika mendengar Anitha telah melahirkan.
seorang bayi lucu, merah dan dalam bedungan berbaring di box bayi khusus di ruang bayi. Bayi laki-laki gembul itu memberikan kehangatan di hati kakek dan neneknya. Betapa mereka mendambakan cucu.
__ADS_1
Anitha menerima peluk cium dari mommy-nya, juga ucapan terima kasih. Narllye juga tak ketinggalan datang dan membawa baju-baju bayi dari Swedia.
Tak ada kebahagiaan paling besar dirasa oleh keluarga tuan Nan. Tidak sebanding dengan kekayaan dan kekuasaan mereka. Wajah-wajah berbangga dan berbahagia tercetak jelas.
Namun tidak dengan Anitha, antara kebahagiaan terselip kesedihannya. Tak bisa ditepisnya, dia merasa sakit ditengah kebahagiaannya.
"Ibu ... ayah ... andai ibu dan ayah masih ada. Aku juga akan sangat berbahagia seperti mereka."
Anitha menoleh keluar jendela. Tak ada yang memperhatikan kesedihannya. Mereka larut dalam kebahagian. Begitu juga tuan Nan, karena begitu bahagia, pandangan sedih anitha terabaikan olehnya. Anitha berusaha mengerti, kini bayinya menjadi sorotan utama.
"An, coba lihat. Mirip papanya bukan?" Sapa Narllye pada Anitha. Anitha membalikkan pandangannya dari luar jendela, melihat Narllye yang asyik menowel-nowel pipi keponakannya.
Anitha memberikan senyum manisnya. Menutupi kesedihan. Dia tak ingin merusak momen bahagia ini.
"Siapa namanya Nan?" tanya Mommy-nya.
"Belum tahu Mom. Baru rencana saja."
"Baiklah, kami tunggu namanya." Mommy mereka tidak ingin mengambil bagian. Dia dulu merasa tidak ingin siapapun ikut andil dalam memberi nama pada anak-anaknya.
Hari ke empat mereka telah boleh pulang. Tuan Nan memapah Anitha. Si bayi gembul di gendong oleh neneknya. Mereka melabel dengan panggilan lebih ke Inggris-an bukan ke Swedia.
Sang nenek yang harusnya dipanggil mormor lebih suka di panggil dengan grannie dan sang kakek di panggil grandad. Berbeda dengan Narllye, dia tetap ingin di panggil dalam bahasa Swensk, moster (bibi).
Penentuan panggilan itu saja begitu riuh dan heboh. Anitha dan Nan tuan sepakat jauh hari saat si Nansen junior dalam kandungan memanggil papa-mama saja. Panggilan khas Indonesia.
Anitha dibaringkan dan diminta banyak istirahat. Tugasnya hanya menyusui. Semua diambil alih oleh tuan Nan dan keluarga besarnya.
"Kanda, bisakah tolong dinda ke kamar mandi? Dinda ingin mandi. Rasanya tidak puas mandi di rumah sakit kemarin."
Anitha meminta tolong karena merasa ada yang lain di otot kakinya. Anitha merasa kebas di tungkai kirinya. Dia takut terjatuh di kamar mandi. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Baiklah, tunggu ya. Kanda berikan bayi kita pada Mom dulu." Tuan Nan mengantar bayinya yang sedang tidak tidur.
Tap ... tap ... tap ....
Dengan langkah pelan dia menggendong bayinya yang baru berumur empat hari. Terlihat mommy-nya sedang di ruang keluarga bersama Narllye.
"Mom, bisa tolong jagakan si montok ini. Anitha ingin mandi." Ibu tuan Nan menyambut si bayi dengan hati-hati.
Tuan Nan kembali ke kamar. Dia kembali memapah Anitha dengan hati-hati. Tuan Nan membantu ritual mandi Anitha.
__ADS_1
Setelah selesai Anitha meminta izin untuk tidur. Entah apa yang terjadi hatinya sedih dan badannya terasa lemah. Anitha menangis setelah tuan Nan menutup pintu kamarnya. Tuan Nan menyusul bayinya.
***/