Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Malam Naas


__ADS_3

"Apa yang kau rencanakan Nan?" Jeffy bertanya dengan nada tak suka. Saat ini Nansen berada di kamar Jeffy. Anitha sedang bersiap untuk makan malam seperti rencana sebelum terjadi malam yang naas hanya karena sepiring makanan.


"Kau pasti tahu apa rencana aku Jeff." Tuan Nansen tetap pada pendiriannya.


"Apa tak ada jalan lain, selain harus terus mempertemukan mereka berdua!"


"Sering bertemu adalah obat untuk luka hati Jeff," jawab tuan Nan santai.


"Sok tahu. Kau saja tidak pernah terluka. Jangankah hati, ragamu hampir tak ada bekas luka," Jeffy mencemoohkan tuan Nan yang seperti anak mama dijaga ketat jangan sampai terluka.


"Jalani saja dulu, jika ada hal yang tak diinginkan kita cari rencana baru."


Tuan Nan tak ada keraguan sedikitpun untuk meneruskan rencananya. Dia akan terus mengumpan Anitha pada Sahrul. Menurutnya obat luka hati adalah orang yang melukai hati itu sendiri. Tuan Nan tak percaya jika waktu bisa menyembuhkan seseorang ataupun merubah seseorang.


Namun sebuah kondisi yang bisa merubah seseorang. Dia akan terus memberikan stimulus pada Anitha melalui mantan suaminya yang mungkin belum bisa dikatakan mantan.


"Aku menilai sepintas suami Anitha punya kelainan jiwa. Suaminya tidak sehat secara mentalnya." Jeffy mengemukakan pikiran yang tak berfakta.


"Sembarangan kau mengatakan orang punya kelainan jiwa."


"Terserah kaulah Nan," putus Jeffy akhirnya pasrah dengan keputusan Nan.


Kini Anitha sudah tampil cantik, pakaian dan make-up serta tatanan rambut yang telah diubahnya saat di salon bersama nyonya Allea menambah kecantikan sang janda muda itu. Tuan Nan tidak bisa untuk tidak memuji saat Anitha mengetuk kamar Jeffy dan Nansen yang membuka langsung pintunya.


"Ternyata wanita desa ini tidak kalah cantik dengan wanita konglomerat jika sudah diurus Jeff." Pujian yang dilontarkan tidak lupa diucapkan dengan nada mengejek. Jeffy mengakui apa yang dikatakan tuan Nan. Anitha terlihat bersinar, semakin menarik dan cantik.


"Tuan kira aku apa mengatakan diurus?" ucap Anitha kesal. Tuan Nan senang hati melihat bibir Anitha yang mengerucut. Baginya kini saat Anitha berperilaku seperti ini baru terlihat sifat aslinya. Manja.


"Jeffy tidak diajak Tuan?" tanya Anitha sambil memiringkan kepalanya melihat Jeffy yang terhalang body atletis tuan Nan.


"Tidak, dia bukan orang resmi kantor. Dia hanya siluman di perusahaan," kata tuan Nan dengan nada jahat. Jeffy hanya mendengus kesal. Dia tahu tuan Nan kesal karena diintimidasi tadi. Anitha melayangkan senyum manis serta lambaian jari tangan lentiknya.


Tuan Nan yang melihatnya biasa saja. Dia bukan tipe pria yang posesif. Apalagi dia mengetahui ruang hati Anitha susah ditembus. Dia juga percaya pada Jeffy.


Tak lama Jeffy ikut bergerak dengan mobil yang terpisah. Jeffy selalu main tunggal jika menjalani misi.


Kini mereka bertiga telah telah mengambil sebuah meja di restoran mewah ini. Mereka makan malam dengan tenang. Sahrul tidak mau memandang Anitha terang-terangan. jika dia melakukan tuan Nan akan bisa berfokus padanya. Karena hanya ada mereka bertiga di meja makan ini.


"Sebentar saya tinggal, ada telepon yang akan saya terima," pamit tuan Nan dengan hormat pada Sahrul.


"Ya, Silahkan Pak." Sahrul mempersilakan.

__ADS_1


Anitha terlihat menegang sekilas oleh tuan Nan. Begitu terlihat rasa tidak nyamannya jika ditinggal berdua. Tuan Nan tetap memantapkan hati untuk melanjutkan rencananya. Tuan Nan sudah terbiasa untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya. Jika tidak bagaimana bisa dia mengelola perusahaannya yang berbasis Multinational Corporation.


"Apa kabar istri uda ini? Malam ini kamu sangat cantik sayang." Sahrul mulai melancarkan aksinya. Sama saat Anitha masih menjadi gadis polos.


Ada segudang emosi yang hadir bermain di hati Anitha. Jika dengan tuan Nan Anitha mulai terbiasa jika diganggu, namun dengan Sahrul Anitha belum kembali terbiasa setelah malam yang menyempurnakan luka hati menjadi dalam.


"Bapak ingin apa?" tanya Anitha bersusah payah mengontrol hati dan kata-kata.


"Anitha, please ... uda mohon pisahkan urusan kantor dengan hubungan kita. Jangan panggil bapak. Uda merasa semakin jauh darimu." Nada Sahrul terdengar begitu meyakinkan. Sayang Anitha sudah tidak percaya dan berharap apapun dari Sahrul.


Anitha merasa hatinya berbelah. Separuh memberontak dan separuh lagi ingin tahu apa yang membuat sosok yang pernah begitu dia cintai atau bahkan masih dia cintai itu tiba-tiba berubah drastis. Anitha berada di jurang kegelisahan. Membuat dia hanya terdiam mengatur hati yang semakin hancur luluh lantak.


"Uda tahu tiga tahun banyak menyakiti hatimu. Uda tidak pernah berniat mengusir. Uda cuma tersulut emosi saat kau meminta berpisah."


Andai ini di sebuah kamar. Anitha ingin mengeluarkan air mata. Ingin dia berteriak sekuat tenaga untuk melemparkan bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya. Anitha hanya mencengkram kuat gelas minumannya. Anitha ingin mengalirkan emosi ke gelas minuman tak bersalah dan tak tahu apa-apa.


"An-an, jawablah uda sayang," panggil Sahrul lembut dengan nama kesayangan yang pernah diberikan pada Anitha.


Anitha semakin menegang. Panggilan itu memutar kilas balik memorinya saat dia sedang bercinta dengan Sahrul. Anitha merasa sesuatu bergejolak di jiwanya.


"Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu!" tukas Anitha dengan nada dalam.


Anitha tanpa sadar semakin mencengkram gelas tipis yang bening itu. "Crack ...." terdengar bunyi gelas pecah akibat remasan kuat.


Anitha kalap dalam diam tidak mendengar dan merasakan jika gelas tipis itu sudah pecah di dalam genggaman tangannya.


Sahrul menyadari langsung memutari meja dan mengejar Anitha. "Apa yang kau lakukan Anitha!" sentak Sahrul tegas melihat tangan Anitha mulai merembes oleh darah.


Sahrul berusaha melepaskan pelan tangan Anitha. Setelah diperhatikan tak ada pecahan kaca halus yang menempel di telapak tangan Anitha, dia mengambil sapu tangan dan membalut luka di telapak tangan Anitha.


Jeffy dan tuan Nan bukan tidak melihat semua kejadian, bahkan omongan mereka berdua terdengar jelas dari suatu tempat.


"Apa yang kau tunggu Nan! Kau jangan melampaui batas menyakiti wanita itu secara tidak langsung!" geram Jeffy.


"Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka Jeff. Lebih cepat lebih baik!" Nada dingin tuan Nan terdengar tidak bisa dibantah.


Jeffy hanya bisa menarik napas dengan kuat dan mengembuskan dengan kuat. "Fuuhhh!"


Mereka terus memantau apa yang dilakukan Sahrul.


"Kenapa begini? Apa uda terlalu menyakitkan hatimu? Jangan sakiti dirimu lagi, uda tak sanggup!" Terdengar ucapan Sahrul namun Anitha tidak bisa menilai apa itu tulus atau tidak. Konsentrasi Anitha buyar oleh rasa perih di tangannya.

__ADS_1


"Jika tuan Nan bertanya, katakan padanya aku menerima telepon dan marah lalu tanpa sadar meremas gelas minuman yang sedang dipegang!" kata Anitha ketika kesadarannya pulih.


"Ayo kita bersihkan lukamu__"


"Tidak usah!" tolak Anitha kasar.


Anitha berdiri dan mengambil handphone yang tergeletak di samping gelas pecah. Masih dengan meremas sapu tangan pemberian Sahrul, Anitha melangkah pergi dengan kepedihan hati. Anitha tidak memperdulikan Sahrul berdiri tertegun. Sahrul tak mungkin meninggalkan meja begitu saja dan menuai curiga tuan Nan.


Dengan menenangkan hati, dia kembali ke meja dan menunggu tuan Nan datang. Pikirannya bercabang dua, antara Anitha dan jawaban atas pertanyaan tuan Nan.


Jika Sahrul menunggu tuan Nan, Anitha menghubungi Jeffy. Anitha tidak membawa tas ataupun apalagi uang tunai. Hanya meminta bantuan Jeffy yang bisa dilakukannya.


"Jeff aku tahu kau pasti tidak jauh dari kami! Bantu aku. Aku diluar resto," ucapnya menahan tangis dan nyeri tangannya ketika Jeffy mengangkat telepon.


"Tunggu di sana!" kata Jeffy tegas. Jeffy memutuskan panggilan.


Sebelum meninggalkan tuan Nan, Jeffy berkata, "Kontrol emosimu!! Jangan sampai pengorbanan wanita yang kau cintai sia-sia!! Apalagi ini keinginan kau sendiri." Jeffy memberi peringatan keras berulang kali pada tuan Nan.


"Iya, kau tolong urus luka tangan Anitha." Tuan Nan juga tidak membantah Jeffy yang memperingati tak ubah layaknya saudara.


Tuan Nan menarik napas, lalu melangkah perlahan. Tuan Nan sedikitpun tidak menyesalkan apa yang telah direncanakannya dan apa yang terjadi pada Anitha adalah berupa perasaan bersalah.


Dia memasang muka tenang ketika kembali kehadapan Sahrul. Namun Sahrul penuh dengan debar di hatinya. Dengan nada sedikit heran dia bertanya?" Di mana dia?"


"Dia ...." Ucapan Sahrul tercekat di tenggorokan, Sahrul sedikit kesulitan mengatur kata.


"Apa yang terjadi Pak? Kenapa ada gelas pecah dan tetesan darah?" ucap tuan Nan pura-pura memperhatikan tangan Sahrul. Aktingnya sudah mengalahkan bintang besar Hollywood.


Sahrul yang melihat tuan Nan memperhatikan tangannya mulai merasa tenang. "Bukan, bukan saya yang terluka Pak. Sekretaris anda yang terluka."


Tuan Nan kembali duduk di kursinya. "Ada apa?" tanyanya dengan nada datar.


"Dia menerima telepon dan terlihat marah. Tanpa sadar dia meremas gelas tipis tersebut." Sahrul semakin lancar berbicara. Dia semakin tenang setelah menjelaskan alasannya.


"Ohhh, saya minta maaf atas namanya. Telah membuat Bapak tidak nyaman," lanjut tuan Nan.


"Tak masalah Pak, saya paham wanita memang kadang melakukan di luar logika kita," balas Sahrul membuat pembuluh jantungnya memompa darah lebih cepat. Dia cepat mengontrol emosinya.


Mereka akhirnya hanya membahas seputar bisnis. Setelah itu tuan Nan mohon pamit.


***

__ADS_1


__ADS_2