Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Pantai Air Manis Saksi Bisu


__ADS_3

Ombak saling mengejar dan saling terhempas. Saat terhempas meninggalkan riak-riak kecil yang tak sama. Sebuah patung seperti anak manusia di kapal yang mulai hancur terlihat di pantai ini. Ya inilah pantai air manis di daerah Padang, Sumatera Barat.


Kini Empat wajah tampan dan dua wajah cantik walau berbeda usia sedang menikmati indahnya pantai ini. Mereka adalah Tuan Nan dan pengawalnya serta Anitha dan ibunya.


Mereka akhirnya memilih pantai, tuan Nan tidak ingin naik gunung. Terakhir-terakhir ini dia jarang berolahraga. Dia menolak pilihan Anitha untuk ke gunung dan menjanjikan pantai.


Jika ibunya dan Jeffy terlihat asyik mengobrol, Anitha dan tuan Nan juga terlihat asyik berjalan beriringan di pinggir pantai.


"Kau senang Anitha, kita sampai ke kampungmu dan mendapatkan apa yang kau mau," ucap tuan Nan sambil kaki-kaki indah mereka menyusuri pasir pantai yang basah.


"Aku senang, sangat senang." Suka citanya tak ada dia tutupi membuat tuan Nan tak menyesal mengosongkan harinya selama tiga hari.


"Apa hadiahnya buatku?" Tuan Nan berkata tanpa menoleh ke Anitha.


"Aku tak punya hadiah, kau bisa memiliki semua dengan uangmu. Apa yang harus aku beri padamu." Anitha berkata dengan melirik sepintas tuan Nan.


"Ada yang tak bisa aku miliki dengan uangku Anitha," kata tuan Nan.


Anitha mengira-ngira hal apa yang tidak bisa di miliki oleh tuan Nan. Anitha tak mendapatkan jawabannya. Diapun bertanya, "Apa itu kalau aku boleh tahu."


"HATIMU!" tegas tuan Nan. Tuan Nan memang sudah bertukar pikiran pada Jeffy. Jeffy menyarankan agar tidak menunda waktu. Setidaknya, Anitha tahu apa perasan tuan Nan. Apapun keputusan Anitha, tuan Nan harus siap.


"Hatiku?" tanya Anitha seperti orang tak paham.


"Ya aku mencintaimu Anitha Putri!" Tak ada keraguan dalam ucapannya. Pantai Air Manis jadi saksi bisu ungkapan cinta tuan Nan pada gadis asal Sumatera Barat itu.


Anitha berhenti melangkahkan kakinya. Tuan Nan juga ikut berhenti. Dengan penuh keyakinan dia berbalik dan menatap dalam bola mata Anitha. Dia mengulangi pernyataannya. "Aku mencintaimu, pada saat pertama melihatmu di selamatkan Allea dari niat busuk temanmu."


Anitha bertanya dengan perkataan yang selalu bisa membuat tuan Nan kesal dan meradang. "Tuan serius?"


Tuan Nan kali ini tidak menguasai hatinya dengan egonya. Dia tahu Anitha pasti tidak percaya tiba-tiba dia mengatakan cinta pada Anitha yang masih sedang dalam proses perceraiannya.


Tuan Nan memutuskan meyakini Anitha dengan rasa di hatinya. "Aku hampir tidak pernah main-main denganmu, apalagi soal berkata cinta padamu."

__ADS_1


Anitha merasa hatinya kembali bisa berdebar, seperti saat-saat cinta Sahrul menyapanya. Usia yang muda maupun usianya yang matang, tidak menampik jika dia seorang wanita yang butuh cinta dan bisa malu oleh rasa cinta. Anitha memilih duduk di pasir pantai yang basah itu dengan menghadap ke laut.


Pandangannya jauh ke laut melihat ombak bergulung-gulung dan saling berkejaran. Dia duduk dengan menekukkan kedua lututnya. Tangan putihnya yang berkulit halus memeluk lututnya. Tuan Nan juga sudah menyusulnya dan duduk dengan posisi yang sama seperti Anitha. Hanya saja tangannya hanya dia sanggah di lututnya.


"Tapi Tuan tahu, aku pernah gagal dalam percintaan. Aku tak tahu apa aku bisa percaya pada yang namanya cinta. Bukan aku tidak percaya pada Tuan atau pada perasaan hati Tuan, aku justru tidak bisa mempercayai hatiku sendiri. Aku kini terkadang ada merasa berdebar jika berdekatan dengan Tuan. Namun aku tidak tahu apa aku mempunyai perasaan yang sama pada Tuan." Anitha mengakui semua dengan gamblang.


"Kalau kau tidak percaya dengan cinta, aku bisa terima itu semua. Namun bisakah kau percaya pada sebuah komitmen?" Tuan Nan begitu dewasa, bukan hanya usianya, namun juga dengan sikap dan tutur katanya.


"Jika komitmen aku masih bisa percaya Tuan. Karena kita bukan lagi di usia yang belia."


"Bagaimana kalau kita berdua berkomitmen saja untuk saat ini. Bicara cinta kita serahkan pada waktu dan kebersamaan kita." Tuan Nan semakin merasa tenang, setidaknya masih ada cara untuk bersama dengan wanita yang dipujanya.


"Aku tidak menolak. Kita boleh mencoba untuk itu. Jika gagal bisakah Tuan melepaskan aku berbahagia tanpa Tuan?"


"Baik, aku ikuti maumu." Tuan Nan memilih untuk mundur selangkah demi bisa maju berpuluh langkah.


Tuan Nan tak menyangka jika kemajuan dirinya dan Anitha bisa sepesat ini. Tuan Nan berjanji akan memberi bonus pada Jeffy yang telah menarik Anitha secara halus ke sisinya dan memberi ide untuk memerangkap Anitha dalam sebuah komitmen dahulu.


"Tapi, berjanjilah. Kau tidak memaksa mematahkan sayapku. Aku tak ingin hanya menjadi wanita biasa. Aku tak ingin kembali jadi upik abu. Aku ingin bisa berkuasa walau tidak sebesar kuasamu."


"Tuan, terima kasih. Selama ini aku bukan tidak menyadari kau selalu ada untukku. Hanya saja hatiku selalu tertutup kabut hitam. Aku tak bisa berpikir terlalu jauh, apa yang telah kau lakukan untukku. Aku menyadari setelah aku bisa berdamai dan memenuhi hati hitamku dengan balas dendam."


"Aku sebenarnya kurang suka dengan kata balas dendam. Namun jika itu yang membuat aku bisa memilikimu tanpa memaksamu, aku bisa suka," ucap tuan Nan. Anitha tertawa.


"Aku tidak sabar Tuan, untuk melihat reaksi ibu dan adiknya. Apakah dia akan merangkak dengan tangisan atau masih bisa licik seperti dulu." Nada amarah dan sakit hati masih terasa kuat menguasai Anitha.


"Aku juga tidak sabar sayang, mendengar kau mengganti sebutan Tuan dengan kata yang lebih mesra. Aku juga tidak sabar ingin merangkak di atas ranjangku." Tuan Nan mengalihkan rasa marah Anitha pada dirinya.


"Dasar lelaki, belum jauh sudah menghayal kejauhan."


"Hahha aku tidak bilang merangkak diatas tubuhmu Anitha, dari mana aku kejauhan." Tuan Nan berkilah.


"Lelaki dewasa memang banyak alasan ya Tuan."

__ADS_1


"Ayolah sayang, ganti embel-embel Tuan itu untuk langkah awal dari komitmen kita,"


"Lagi-lagi alasan. Aku mau panggil apa? Biasanya kalau bule di panggil nama saja, tapi Tuan, hanya bule setengah saja alias gak original, hahahah. Aku juga gadis Indonesia tercinta. Panggil Mas juga malas, nanti kau ingat panggilan mbak Allea lagi."


"Apa kau tipe wanita pencemburu Anitha?" tanya tuan Nan serius.


"Ya aku tipe wanita yang cemburuan, namun dalam mimpiku saja, hahahha." Tawa bahagia Anitha kembali hadir.


"Bagaimana kalau kau memanggil aku kanda?" ujar tuan Nan tersenyum menggoda.


"Hemmm begitu juga enak, baiklah itu saja. Tapi besok sampai di Jakarta."


"Kenapa tunggu di sana?"


"Karena aku tidak ingin di olok ibu dan Jeffy." Anitha berkata dengan lucu. Tuan Nan tertawa dan mulai berani mengacak rambut Anitha kembali.


Ibu Anitha dan Jeffy hanya bisa memperhatikan interaksi tuan Nan dan Anitha. Mereka bisa memprediksikan jika hubungan keduanya mulai berubah arah.


"Semoga anak ibu bisa bahagia di tangan Nansen, Jeff." Begitu penuh harap ibu untuk anaknya.


"Percayalah padaku Ibu, aku tahu persis siapa Nansen dari kecil hingga sekarang. Anitha wanita pertama yang dia cintai. Kita berdoa saja dia cinta terakhir juga."


Ibu Anitha memang sudah banyak mengobrol dengan Jeffy. Beliau bertanya, "Jadi Nansen tidak mencintai istrinya?:


"Tidak pernah sekalipun Bu, dia sudah berusaha namun gagal."


Ibu Anitha hanya bisa manggut-manggut. Mereka melihat kedua pasangan baru itu melangkah ke arah mereka. Ketika telah sampai Anitha berkata, "Ayo Ibu, kita kembali ke hotel."


Nada dan wajah ceria terbaca jelas oleh ibunya. Ada doa yang dipanjat ibunya diam-diam. Doa untuk kebahagian anaknya.


Mereka semua bergerak ke satu mobil yang di rental. Terlihat kedua orang tuan Nan menyusul langkah mereka berempat. Setelah dua orang tuan Nan masuk ke bangku paling belakang, tuan Nan, Anitha dan ibunya menyusul masuk di bangku tengah. Barulah Jeffy duduk di samping Harri. Anitha hanya mengarahkan jalan, walau ada kalanya dia salah komando dan Harri menjadi salah arah. Anitha hanya bisa terpingkal, melihat Harri dan Jeffy yang bersungut karena mereka harus memutar-mutar. Anitha hanya berpura salah komando. Tuan Nan ingin merengkuh melihat kejahilan Anitha, yang hampir enam bulan hilang dari hidupnya.


"I love you, my angel. Akan aku buat kau bahagia hidup denganku," bisik hati kecil tuan Nan.

__ADS_1


@@@


Like-like donk 😘💝💗


__ADS_2