
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya. Silahkan tunaikan duluan kewajiban pada Tuhan, setelah itu kalau masih ada waktu, luangkan untuk tetap membaca dan memberi aku like vote dan komen 😘😍😍
Love U and Miss U semuanya. Semoga silahturahmi kita tetap terjalin. 💕💞💕
_-_-_
Tak ada yang susah bagi tuan Nan dan Jeffy dalam waktu singkat semua permintaan Anitha kelar di urus oleh tuan besarnya dan para bodyguard setianya.
Kini Anitha kembali tiba di bandara Soekarno-Hatta. Dengan langkah tenang dia menunggu kopornya yang dia titip di bagasi pesawat. Setelah di dapatnya, Anitha berjalan keluar dari ruang kedatangan tersebut. Anitha telah di carikan rumah yang minimalis oleh Jeffy atas permintaan tuan Nan. Anitha yang tak menginginkan dia tinggal serumah kembali dengan tuan Nan. Dia bukan lagi ART di rumah itu. Anitha berniat mencari taksi dan menuju alamat yang diberikan Jeffy.
Anitha tiba-tiba melihat seseorang melambaikan tangan kokohnya. Hatinya berdebar melihat siapa yang menjemputnya. Tuan Nan berdiri dengan gagahnya lengkap dengan baju jas resmi ke kantornya. Wajah yang rupawan di tambah dengan penampilan yang menawan, lengkap dengan dua orang bodyguard setianya yang juga berwajah tampan. Jeffy dan Harri. Membuat Anitha merasa seperti putri dalam dongeng.
Anitha mendekati dengan senyum canggungnya. Tak pernah dia merasa secanggung ini. Tuan Nan menikmati ekspresi Anitha. Dengan memiringkan kepalanya, Harri sudah paham bahwa tuan Nan meminta Harri mengambil alih kopor Anitha.
"Makasih," suaranya bergetar, dia bertambah canggung.
"Ayo." Tuan Nan menarik bahu Anitha. Mereka melangkah pergi tanpa banyak bicara. Anitha mencuri pandang pada tuan Nan ketika telah duduk di sampingnya. Tuan Nan tak banyak bicara. Anitha sibuk menduga ada apa dengan tuan Nan. Dia menjemput Anitha namun wajahnya hanya datar. Senyumpun hanya sekali saat melambaikan tangan di bandara tadi.
Mobil hanya terasa di isi oleh orang-orang bersikap kaku. Anitha ikut menjadi kaku ditambah Jeffy juga banyak diam. Anitha akhirnya memutuskan tidur di perjalanan. Tuan Nan terlihat menggeleng dengan sikap acuh Anitha.
Entah sudah berapa banyak, ban mobil berputar, mencetak puluhan kilometer bahkan ribuan. Anitha masih terlelap didukung dengan suasana adem di mobil mewah tuan Nan.
"Bangun Tha," suara Jeffy yang nyaring dan senggolan di bahu Anitha membuat dia membuka matanya. Anitha melihat ke sampingnya kosong.
"Mana tuan Jeff?"
"Tuan sudah diantar ke kantornya."
Anitha tertidur tanpa tahu mobil berhenti dan kembali jalan ke arah rumah kontrakan Anitha.
"Turunlah, besok silahkan ke kantor. Jumpai personalia dan sebutkan namamu."
Anitha tak banyak membantah. Dia turun dan Jeffy memberikan kunci rumah. Kopornya diangkat oleh Harri. Diletakan di depan beranda rumah kontrakan Anitha.
Anitha masuk setelah Jeffy melambaikan tangan dengan hangat dan ramah. Harri hanya mengangguk penuh hormat.
@@@
__ADS_1
Paginya Anitha datang ke kantor tepat waktu dan menemui bagian personalia. Anitha diberi tahu dia sebagai office girl . Anitha shock dan ingin tidak terima. Bukan dia berniat sombong dengan ijazah dan kemampuannya. Namun dia merasa dibohongi dengan dijadikan sebagai pemenuh kebutuhan pegawai kantor tuan Nan.
Anitha bersikap tenang. Dia menerima baju seragam dan kontraknya. Personalia itu terlihat ramah dan ada gurat keheranan di wajahnya. Pasalnya wajah cantik Anitha dan ijazah dalam berkas datanya, seharusnya bisa mempunyai posisi yang lebih tinggi.
Anitha tanpa banyak mengeluh mengerjakan semuanya. Anitha marah pada Jeffy dan tuan Nan yang dianggapnya mempermainkan hidupnya. Anitha tidak ada menelfon Jeffy maupun tuan Nan. Mereka berdua juga dianggap Anitha tidak punya niat untuk memberi kabarnya.
Walau begitu, Anitha tetap Anitha, tanpa banyak mengeluh dia melakukan pekerjaannya. Hingga Setelah dua minggu dia menjalankan pekerjaannya. Jeffy bersirobok di pagi hari ini dengan Anitha saat sedang membawa nampan yang berisi air kopi dan teh hangat. Beberapa orang di divisi lantai dasar meminta dia membuatkan minuman pagi.
"KAU, APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Jeffy heran.
"PUAS KAU DAN TUAN KAU MEMPERMAINKAN HIDUPKU!" ucapan Anitha penuh penekanan dan rasa sakit hati. Anitha berlalu dengan dingin.
Jeffy meneruskan langkahnya ke lantai tempat kantor tuan Nan berada.
Terlihat tuan Nan sedang menelfon seseorang. Lalu setelah selesai dia menghampiri Jeffy. Jeffy memang diminta melaporkan tentang kemajuan perkembangan dan bukti-bukti kecurangan HS di Singapura. Saat Anitha mulai bekerja, Jeffy juga hari itu berangkat ke Singapura.
"Bagaimana?" tanya tuan Nan serius.
Bukannya mendapat jawaban dari Jeffy, tuan Nan malah mendapat bogem mentah di perutnya oleh Jeffy. Tuan Nan terhuyung ke belakang.
Jeffy yang sangat marah mengambil dokumen dari balik jaket hitamnya, dia hanya melempar berkas laporan dari Singapura dan meninggalkan tuan Nan yang meringis di sofa menahan sakit di perutnya.
Jeffy menelfon Anitha, namun Anitha tak mau mengangkat. Jeffy mencari sendiri dan menemukan Anitha di dapur perusahaan. Dia mengambil gelas yang sedang dipegang Anitha, dan meletakkan dengan kasar.
"Ikut aku," sentak Jeffy.
Anitha hanya pasrah dan ikut dengan Jeffy. Jeffy menarik Anitha tanpa peduli sebagian mata yang memandang heran. Jeffy memerintahkan Anitha masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kau tidak katakan jika kau ditempatkan tidak sesuai basicmu!"
"Aku pikir kau tahu dan sekongkol dengan tuan Nan dalam membalasku. Aku juga bukan takut kau melenyapkan aku, aku anggap saja sedang belajar dari bawah agar bisa menjadi pemimpin seperti Nansen Adreyan sombong itu."
Jeffy menjelaskan kemana dia dua minggu ini. Namun dia menutupi masalah perusahaan dan Sahrul di Singapura.
"Kita pulang, ganti bajumu itu." Jeffy tak bisa menerima Anitha dijadikan office girl.
Tuan Nan, meminta Helmi mencari Anitha. Namun Helmi menyampaikan Anitha di tarik paksa oleh Jeffy dan di bawa keluar dari perusahaan.
__ADS_1
Tuan Nan mencoba menghubungi Anitha. Anitha tak diperbolehkan oleh Jeffy mengangkat. "Biarkan dia, dia sudah melampaui batasnya jika hidupmu hanya untuk candaannya." Anitha merasa terharu, ternyata di dunia ini masih ada orang yang bisa dia andalkan selain ibunya.
Anitha hanya ikut diam, ketika melihat muka kaku Jeffy yang bertekuk. Tak ada niat untuk membahas apapun.
"Kau mau makan?" tawar Jeffy.
"Boleh, tapi apa kau tak malu membawa aku dalam balutan pakaian seragam ini? Aku tak sempat menggantinya karena ditarik paksa"
"Kita berhenti di butik kecil di depan sana," ucap Jeffy.
Mereka berhenti, Anitha memilih satu set pakaian biasa saja. Anitha menggerai rambutnya yang dia ikat sejak menjadi office girl. Jeffy mencari kafe dan mengajak Anitha makan.
Kini mobil Jeffy mulai melaju mengarah ke rumah kontakan Anitha. Saat tiba di kontrakan, mereka telah melihat mobil tuan Nan parkir di halaman rumah Anitha. Anitha bisa melihat betapa suramnya wajah Jeffy.
"Sabar Jeff, kita tidak tahu apa rencananya." Anitha menyabarkan Jeffy. Anitha takut terjadi baku hantam antara dua pria tampan di halaman rumahnya.
"Kau membela Nansen?" ujar Jeffy yang masih berada di dalam mobilnya. Begitu juga dengan Anitha.
"Tidak." Anitha dan Jeffy keluar dari mobilnya.
Tuan Nan juga keluar dari mobilnya dibantu oleh Harri membukakan pintu mobilnya. Tuan Nan melihat Anitha tidak memakai seragamnya. Dengan mengernyitkan alisnya dia tanpa rasa bersalah berkata pada Jeffy dan Anitha, "Dari mana kalian!"
Nada yang tak enak didengar, membuat Jeffy kembali tersulut emosi. Tanpa banyak bicara dia bergerak cepat dan maju, memberi tinju ke muka tuan Nan. Tuan Nan yang tak menyangka tak sempat menghindar. Harri kalah gerak dengan Jeffy. Harri juga tak sangka. Jadi dia tak memasang sikap waspada.
Tuan Nan merasa bibirnya perih. Tinju Jeffy sempat mengenai pinggir bibirnya walau dia telah mencoba menahan dengan tangkisan tangan kanannya. Anitha yang sadar dari rasa terkejut mengejar tuan Nan dan berkata, "Jeffy, sabar. Kau sudah melukai dia tanpa alasan." Anitha berdiri di depan tuan Nan. Walau postur tubuhnya tak bisa menghalangi tuan Nan.
Tuan Nan sudah tahu apa alasan Jeffy marah. Sejak Helmi mengatakan Jeffy menggeret paksa Anitha, tuan Nan sudah bisa menebak.
Jeffy hendak meninggalkan halaman rumah Anitha dengan marah. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara tuan Nan, "Masuklah, biar aku jelaskan pada kalian apa alasan aku menjadikan Anitha hanya office girl.
Tak ada nada marah dalam suara tuan Nan. Walau dia terluka oleh Jeffy.
Jeffy tetap bersikeras hendak meninggalkan halaman rumah Anitha. "Jeff, jangan kelahi karena aku. Itu sama kau memberikan aku sebuah beban!" kata tegas Anitha mampu meluluhkan hatinya.
Jeffy berbalik dan mengikuti tuan Nan dan Anitha masuk. Tuan Nan meminta Harri untuk menunggu di mobil.
@@@
__ADS_1