
"Ada apa, mereka telah lelah menunggu kalian!" ucap Jeffy kesal.
"Kenapa mesti kesal begitu Kak Jeffy?" Anitha menggoda Jeffy membuat tuan Nan juga ingin menggoda Jeffy.
"Iya Kak, harusnya kau bahagia adikmu ini secepatnya akan menuju pelaminan." Tuan Nan sengaja juga menggunakan kata 'kak'. Jeffy membuat reaksi mual. Mereka tertawa bahagia.
"Aku tunggu di bawah, jangan lanjutkan adegan mesra kalian. Aku takut kalian malah berakhir di ranjang tanpa menikah," sindir Jeffy.
"Ihh amit-amit. Emang kau Jeff yang lama di negara luar!" tuduh Anitha membuat tuan Nan tergelak dan Jeffy kembali bersungut kesal. Jeffy membalikan badan dan turun duluan ke lantai satu.
"Ayo sayang, kita klarifikasi jika kita tak jadi menunggu setengah tahun." Tuan Nan menurunkan Anitha dan merapikan baju mereka. Dia menggandeng mesra Anitha turun ke lantai satu. Jiwanya terasa sangat bersemangat.
Anitha melihat semua mata memandang padanya. Tak ada gentar, tak ada rasa risih. Dia telah terlatih untuk menjadi sorotan banyak orang. Dengan anggun dan tenang dia melangkah turun. Kedua insan lain jenis ini disambut penuh kebahagiaan bagi dua keluarga.
Mereka duduk di tempat masing-masing. Sepatah kata dari kedua bela pihak telah dilakukan. Tuan Nan berbisik pada ayahnya. Mengatakan mereka hanya sebulan ini saja tunangan. Bulan depan mereka akan menikah. Tanggal dan tempat akan ditentukan nanti secepatnya.
Raut wajah terkejut tidak bisa di elakkan. Namun rasa sukacita juga hadir di hati kecil ayah tuan Nan. Dia memang menginginkan tuan Nan secepatnya menikah dan meneruskan garis keturunan. Hati orang tua mereka sangat yakin Anitha adalah sumber kebahagiaan anaknya. Mereka juga yakin Anitha sangat mencintai anaknya walau apapun keadaan nantinya.
Pemilihan tanggal dan penetapan yang akan dibicarakan nantinya, malah akhirnya putus dibahas dalam waktu singkat. Bagi mereka, mereka percaya hari apa saja akan baik, asal niatnya di hati baik. Kini tuan Nan pun telah menyematkan sebuah cincin berlian pilihan ibu tuan Nan ke jari manis Anitha. Wajah-wajah sehangat sinar matahari pagi tergambar.
Tuan rumah mempersilakan untuk menyantap hidangan. Ketika mereka asyik menyantap hidangan yang telah di siapkan para ART tuan Nan. Anitha duduk di samping ayah-ibu tuan Nan. Ibunya juga ada di tengah keluarga inti tersebut.
Mereka berdua di interogasi oleh dua perwakilan negara.
"Apa yang terjadi?" tanya ibu Anitha lembut namun tegas meminta penjelasan.
"Iya kenapa keluar dari kamar kalian berubah pikiran." Kini ibu tuan Nan yang meminta penjelasan.
__ADS_1
"Itu karena aku sudah tidak kuat berjauhan darinya Bu, Mom. Aku takut terlalu lama menuai dosa setiap hari, karena tak tahan untuk tidak berdekatan dengannya. Tuan Nan memperhalus bahasa ingin 'menyentuhnya' dengan kata 'berdekatan'.
"Tidak ada hal lain?" tanya ibu tuan Nan pada anaknya.
"Jika Ibu takut aku menanam saham duluan, itu tidak pernah terjadi. Wanitaku bukan wanita sembarangan. Aku juga bukan pria yang suka menabur benih tidak pada waktunya." Tuan Nan berkata lembut.
"Melihat Anitha menyerahkan hati sepenuhnya, membuat aku semakin dimabuk cinta." Tuan Nan kembali bersuara, membuat wajah Anitha bersemu merah.
Mereka cukup mengerti. Mereka para orang tua memberi izin.
Tuan Nan dan Anitha mohon diri, mereka bergabung dengan Jeffy. Mereka bertiga mengambil tempat di taman depan yang memang dipasang tenda mewah. Jeffy memberi info setengah jam yang lalu, saat lamaran dipuncak acara.
"Ada yang harus aku sampaikan pada kalian. Mungkin tidak tepat, tapi kita harus bergerak cepat," nada Jeffy begitu dalam.
"Perihal apa?" tanya tuan Nan.
"Perihal perusahaan yang kau bangun di Singapura atas nama Anitha." Anitha terkejut mendengar perkataan Jeffy. Namun dia tidak berkomentar apa-apa. Feeling-nya ada yang lebih penting yang harus dibahas.
"Keamanan data perusahaan AP PTE. Ltd bocor. Mereka melakukan Cyber Attach berupa Pishing dan SQL Injection sekaligus. Mereka menyerang situs pelayanan publik. Banyak konsumen sudah memasukan data penting dan melakukan pembayaran tinggi."
"Oke, nanti saja penjelasannya. Kau minta Helmi menyiapkan jet pribadi, Hari ini juga kita berangkat!" perintah tuan Nan.
"Oke, aku tunggu kau di bandara. Kau sama Harri saja ke sana." Jeffy bergerak cepat.
Tuan Nan dan Anitha kembali dan meminta izin pada seluruh anggota keluarga. Tuan Nan berkata singkat, jika perusahaan Anitha di Singapura bermasalah. Jelas menuai keterkejutan kedua bela pihak. Keluarga Anitha terkejut tidak menyangka Anitha sesukses ini. Begitu juga ibu Anitha yang tidak tahu apa-apa.
Tanpa banyak membuang waktu mereka berangkat ke bandara. Kini mereka berakhir di dalam jet. Namun tak ada nada gurau tentang Anitha yang akhirnya merasakan naik jet pribadi.
__ADS_1
"Maafi aku ...." kata tuan Nan bersalah.
"Jangan merasa bersalah begitu Kanda. Setelah semua yang Kanda lakukan. Dinda paham." Anitha sangat tersentuh mengetahui apa yang telah dilakukan calonnya.
"Niat hati ingin membahagiakanmu, malah yang ada menghancurkanmu."
"Siapa bilang kita hancur. Kita selesaikan ini bersama." Anitha begitu tenang. Membuat orang-orang tuan Nan semakin hormat. Wajah polos yang cantik itu, siapa sangka akan setegar batu karang.
"Dinda punya solusi?"
"Belum, kita belum tahu apa penyebabnya. Kanda jangan takut, akan ada solusi jika kita berusaha. Akan tetapi jika tidak, paling penjara tempat bernaung. Jika aku memendam dalam penjara karena kasus ini, Kanda jangan coba tinggalkan aku. Begitu keluar aku akan membuat Kanda menyesal seumur hidup." Nada bercanda namun membuat bulu tengkuk orang-orang tuan Nan meremang.
Tuan Nan memang telah merintiskan Anitha sebuah perusahaan industri yang bergerak di bidang periklanan dan jasa konsultasi. Anitha sebagai pemegang saham terbesar dan menjabat sebagai komisaris utama.
Kini ketika bermasalah, mau tidak mau Anitha yang harus bertanggung jawab untuk menangani para investor dan media saat ini. Legalitas kepemilikan perusahaan itu atas nama Anitha Putri.
Selama ini tuan Nan yang mengendalikan dan menghandle jalannya perusahaan yang memang masih startup. Namun untuk masalah sebesar ini sang pemilik harus menunjukkan wajah asli.
Tuan Nan berencana untuk memberikan Anitha kejutan di hari pertama pernikahannya. Rencana hanya bisa jadi sebuah rencana.
"Tidak, kanda tak akan biarkan itu terjadi."
"Iya tahu, sekarang adakah yang bisa di makan. Aku lapar, aku belum sempat makan tadi." Membuat Jeffy tersenyum. Bisa-bisanya Anitha merasa lapar di tengah kekacauan besar ini.
"Sama, kanda juga belum sempat makan karena dipanggil darurat oleh Jeffy. Namun kata 'aku' itu bisa tolong diganti tidak? Membuat gendang telinga sakit," ucap tuan Nan sedikit kesal.
"Ohhh bisa, dinda lapar, dinda mau makan, dinda belum makan dan dinda ingin memakan semua yang menyusahi kita dalam hidup!" kata Anitha sambil tertawa. Mau tidak mau menular sama yang lain termasuk tuan Nan.
__ADS_1
Wajah-wajah tegang menghilang oleh ulah Anitha. Tanpa ada yang menyadari jauh di dalam hati Anitha, dia merasa tegang membayangkan jika harus berpisah sesaat dengan tuan Nan karena mendekam di bui.
***/