
Hujan turun membasahi bumi. Waktu berganti haripun berlalu. Bulan berganti tanpa terasa dengan kesibukan masing-masing penghuni bumi. Kini dua tahun sudah usia pernikahan Anitha dan tuan Nan.
Begitu juga dengan Anitha. Dia sibuk menenggelamkan diri dengan aktifitas kantor dan rumahnya. Dia tak pernah mengeluh lelah harus berperan tiga. Sebagai istri, anak dan wanita karier.
Anitha dan tuan Nan selalu bahu membahu. Sehingga mereka tetap harmonis di tengah kesibukan yang kadang kalanya begitu padat.
Ajeng dan Sahrul telah bersatu tahun lalu. Begitu Sahrul keluar dari tahanan, hanya dalam sebulan mereka langsung menggelar akad nikah dan hanya mendoa kecil-kecilan.
Anitha meminta maaf pada Ajeng tidak datang. Anitha menimbang banyak perasaan, terutama perasaan tuan Nan sendiri. Anitha hanya memberi hadiah berupa bulan madu ke Thailand. Sesuai keinginan Ajeng.
Walau telah dibantu Anitha dan tuan Nan, baru bisa keluar dari penjara setelah menjalankan dua per tiga dari masa tahanannya. Bahkan Ajeng telah mendapatkan buah hati dari Sahrul.
Walau Anitha telah kembali akrab dengan Ajeng. Anitha tetap menjaga jarak dengan Sahrul. Anitha tak ingin ada masalah dengan masa lalu apalagi pada mantan.
Kehidupan mantan adik ipar dan ibunya telah jauh membaik. Sebelum Sahrul keluar dari penjara, Anitha dengan izin suaminya membukakan kedai kecil-kecilan untuk menyambung hidup ke duanya.
Hampir semua yang diusahakan pasangan suami istri ini berhasil. Hanya mendapatkan momongan yang belum berhasil bagi mereka.
Anitha pernah menangis pada tuan Nan, ketika dia tak kunjung hamil dan ibu mertuanya menanyakan. Walau ibu tuan Nan tak pernah menyesak. Semua karena peringatan suaminya. Ayah tuan Nan mengingatkan jangan ikut campur urusan anaknya. Apalagi tentang anak yang menjadi hak Allah.
Kini di bawah langit yang menangisi bumi dan isinya, Anitha juga duduk menangis di depan jendela kamarnya.
"Ya Allah, apa aku tidak bisa engkau percayai untuk memiliki satu nyawa yang menjadi hak Mu. Aku bukan tidak bersyukur, tetapi ibu mertuaku begitu menginginkan anaknya punya keturunan."
Tuan Nan memang terlambat pulang hari ini. Begitu banyak urusan di perusahaannya. Anitha berusaha tegar selama ini. Namun sekali lagi dia gagal.
Lama Anitha memandang hujan yang jatuh dengan derasnya. Seakan mengiringi air mata kesedihan Anitha.
"Apapun bisa aku capai selama ini jika aku mau. Tetapi satu hal ini aku tak berdaya," gumamnya pilu.
Anitha teringat perkataannya dengan Ajeng beberapa waktu lalu.
Kilas balik ....
"Masuk," ucap Anitha ketika siang jam istirahat pintu ruangannya di ketuk.
"Ada apa An?"
"Kenapa Jeng?"
"Di tanya malah tanya balik. Wajahmu kenapa pucat? Kau sakit?" Ajeng bertanya penuh perhatian.
"Tidak Jeng. Duduklah dulu."
"Ada masalah? Apa kau ingin cerita?"
__ADS_1
"Tak ada." Anitha tetap mengelak halus.
"Jangan bohongi aku An, sudah seminggu kau pucat dan tak bersemangat."
"Apa iya?"
Apa begitu terlihat, aku sudah memakai make-up untuk menyamarkan wajah lelahku.
"Maaf An. Apa kau sedih masalah anak?" tanya Ajeng hati-hati.
Anitha memandang Ajeng dalam. Dia menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar. Anitha melihat pancaran bola mata Ajeng yang menanti jawabannya. Anitha memutuskan mengungkapkan kesedihannya pada sahabat dekatnya.
"Apa aku mandul Jeng?" tanyanya berusaha tegar. Namun tangisannya lolos.
"Dokterkan tidak mengatakan itu. Kalian berdua baik-baik saja. Jangan berpikiran negatif An." Ajeng menguatkan hati Anitha yang sedang rapuh.
"Namun sampai sekarang aku belum hamil Jeng. Dulu tiga tahun juga tidak. Kau saja baru setahun sudah memperolehnya."
"Kita tidak tahu hikmah apa dibalik semuanya An."
"Aku tahu, tetapi kadang kala hatiku tidak bisa mengerti."
"Kenapa tidak memutuskan bayi tabung?"
"Jika sudah begitu, apalagi harus kau sedihkan?"
"Aku sedih ketika dia menatap dalam pada anak kecil. Namun aku tak habis pikir dia menolak bayi tabung."
"Kita tidak tahu apa yang jadi pertimbangannya. Jadi nikmati saja dulu. Banyak pasangan lain lebih lama lagi darimu. Berbelas bahkan berpuluh tahun."
"Iya aku tahu Jeng."
"Hmmm aku tidak tahu ini kebetulan atau memang doanya dikabulkan di bawah guyuran hujan deras. Kita hanya berusaha dan berdoakan?"
"Pastinya ya begitu Jeng."
"Bagaimana kalau kau coba ketika hujan deras? Sambil kau panjatkan doa di dalamnya."
"Begitu ya?"
"Coba saja. Tidak ada salahnya."
***
Anitha akhirnya menyeka air matanya. Dengan langkah perlahan dia menapak ke lantai bawah. Terlihat kesunyian melanda rumahnya. Pertanda penghuni rumah sudah tidur.
__ADS_1
Waktu baru menunjukkan pukul 10, karena hujan deras membuat suhu berdamai untuk bergelung dalam selimut.
Anitha melangkah ke beranda depan. Dia duduk di bangku taman depan rumahnya. Air hujan mulai mengguyur rambut dan tubuhnya. Anitha memang tidak mengenakan jilbab jika di rumah. Perlahan dirinya telah basah kuyup.
Pelan namun pasti hatinya menjadi ikut rileks bersama air hujan. Anitha memanjatkan doa. Hanya sepuluh menit dia menikmati dinginnya air hujan. Anitha menlihat cahaya lampu mobil menyorot ke halamannya.
Anitha yakin itu suaminya. Terdengar pagar terbuka dengan sendiri. Tuan Nan memang mendesain pagar rumahnya dengan memakai remote.
Begitu mobil mendekat ke bangku taman yang tak jauh dari teras depan, tuan Nan sangat terkejut melihat Anitha duduk berhujan. Tanpa menunggu Harri membukakan pintu untuk memberi payungan, tuan Nan merangsek keluar dari mobil.
"Dinda kenapa?" tuan Nan menarik Anitha ke beranda rumahnya. Dia begitu cemas melihat Anitha yang basah kuyup. Matanya terlihat sembab tanda siap bahkan tengah menangis.
Tuan Nan tanpa menunggu jawaban Anitha menarik Anitha masuk dan menuju kamar mereka. Tanpa menunggu lebih jauh dia menarik Anitha ke bathroom dan menyalakan kran air hangat.
Tuan Nan membantu Anitha menanggalkan pakaiannya lalu pakaian dia sendiri. Setelah dirasa tubuh Anitha menghangat, tuan Nan mengambil bathrobe dan memakaikan pada Anitha.
Dia meminta Anitha keluar dari kamar lalu menyusul setelah mengenakan baju handuknya.
Tuan Nan melihat Anitha duduk di tepi ranjang mereka. Dia ikut duduk menyusul di samping istrinya.
"Ada apa!" katanya tiada kelembutan. Hanya nada tegas dan rasa penasaran.
"Tak ada, aku hanya mencoba cara itu untuk memperoleh keturunan," ucap Anitha pelan.
Namun tuan Nan juga hanya manusia biasa, begitu juga Anitha. Tuan Nan terpancing amarah melihat pemikiran Anitha. Suara Anitha yang pelan tenggelam dalam amarahnya.
"Berapa kali aku katakan, kau tidak usah memikirkan soal anak. Aku bisa menerima, atau kau yang tidak bisa menerima aku!" Suara tuan Nan terdengar tajam dan kasar.
Anitha terkejut dan tersentak. Ini kali pertama suaminya terlihat kasar dan memarahinya.
"Aku hanya berusaha. Secara medis sudah apa salahnya aku coba," kata Anitha menerima kemarahan suaminya. Hatinya sakit dan bertambah sakit dengan bentakan suaminya.
"Aku tidak paham dengan cara kau berpikir soal anak. Seolah pendidikan kau jadi tidak berguna!" suaminya masih di lingkupi kemarahan.
"Jangan Kanda singgung soal pendidikan. Aku hanya berusaha, salahnya di mana." Anitha tetap tidak meninggikan suaranya. Cukup suaminya marah, tidak dengan dia. Jika marah sama marah, maka hati akan semakin panas dan setan dengan mudah menguasai.
"Salahnya kau tidak berpikir rasional!"
Anitha hanya diam tak membalas perkataan suaminya. Hatinya lelah dan kini menjadi sakit.
"Apa kau begitu menginginkan keturunan?"
***/
Gantung sikit ye biar ada kisah untuk hari besok 😅🙏😍
__ADS_1