
Setelah tuan Nan selesai mandi, Anitha mendekati suaminya. Dia sangat suka menghidu wangi aroma sabun di tubuh suaminya.
"Kanda ... wangi sekali," kata Anitha memeluk suaminya. Anitha suka menempelkan tubuh hangatnya di tubuh sejuk suaminya setelah mandi.
Kebiasaan Anitha tidak hanya karena kehamilannya. Anitha memang suka melakukan sejak dia menikah dengan tuan Nan. Satu yang berubah dulu dan sekarang, Anitha menjadi bertegangan tinggi ketika hamil ini.
Tuan Nan tersenyum geli melihat perubahan Anitha. Dia bisa memahami bahasa tubuh istrinya. Tubuh Anitha menjadi lebih hangat dan napasnya sedikit berat. Tuan Nan paham apa mau istrinya.
Timbul keinginan hatinya untuk melepaskan lelahnya. Dia ingin mengganggu Anitha. "Sayang, Kanda lapar," ucap tuan Nan telah membawa istrinya ke sofa dan menarik Anitha dalam pangkuannya.
"Hmmm, tadi ditelfon katanya sudah makan." Rajuk istrinya manja. Anitha merasa terhambat untuk mencapai kemauannya.
Tuan Nan semakin bersemangat mengusik Anitha. "Iya sayang, tadi kanda sudah makan dengan Jeffy karena mau lembur."
"Hmmm, makannya tak bisa ditunda?" bujuk Anitha membuat gemas tuan Nan. Jika tidak sedang ingin mengerjai Anitha, ingin tuan Nan langsung meloloskan permintaan Anitha.
"Memangnya mama anak kanda tidak lapar?" Tuan Nan semakin menunda keinginan istrinya.
"Tidak. Dinda mau Kanda." Anitha semakin manja dan agresif.
"Mau kanda ngapain?" tuan Nan memandang dalam manik mata Anitha, penuh kemesraan. Membuat pipi Anitha bersemu merah.
Malu telah kalah dengan mau dari seorang wanita yang biasanya sedikit pasif. Hormon kehamilan membuat Anitha menjadi aktif dan tentunya tuan Nan sangat menyukainya.
"Hmmm mau apa?" kembali tuan Nan mendesak istrinya.
"Ihhh kura-kura dalam perahu," bisik Anitha. Dia semakin cemberut. Anitha merebahkan kepalanya ke dada tuan Nan. Tangannya melingkar lembut di leher tuan Nan.
"Tadi kanda lihat, Dinda sudah siapkan piyama tidur kanda. Masa tak boleh kanda pakai, kanda kedinginan ini."
Anitha tak mau melepaskan tuan Nan begitu saja. "Hmmm masa sudah dinda peluk masih dingin."
"Kurang erat kali pelukan Dinda, atau kita matikan saja AC kamar."
"Jangan, dinda kepanasan nanti." Anitha menambah kekuatan memeluknya. Tidak hanya itu Anitha sengaja mengendus leher suaminya. Membuat tuan Nan ingin menyerah. Namun dia berusaha bertahan demi mengobarkan hasrat Anitha.
Jika sebagian wanita lain mungkin telah menyerah dan redup jika seakan ditolak atau diundur, Anitha berbeda. Dia semakin berusaha keras mendapatkan maunya. Ini yang membuat tuan Nan menyukai mengulur dengan menjahili istrinya.
"Cepatlah Kanda," kata Anitha. Hidungnya terasa mampet dan napasnya semakin berat. Pertanda pasokan oksigen mengalir deras ke pusat otaknya.
"Kasihan bayinya sayang." Tuan Nan hanya beralasan. Dia dan Anitha telah berkonsultasi dengan dokter saat di Singapura kemarin.
"Jangan cari alasan ya sayang. Kata dokter tidak apa-apa asal melihat bayinya pelan-pelan saja." Anitha mulai menggemas. Dia semakin yakin tuan Nan sekedar mengusili.
Dia berniat membalas tuan Nan. Anitha sengaja memberikan banyak tanda basah bibirnya di kulit bersih tuan Nan. Tuan Nan menahan hasrat menyala dari tadi.
Tak berpuas dengan kecupan saja. Anitha mulai semakin berani. Dia melepaskan simpul handuk yang melilit di pinggang tuan Nan dan mengganggu isinya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Anitha membalas tuan Nan. "Iya, kanda nyerah dan ngaku kalah," ujar tuan Nan dengan napas beratnya. Anitha tertawa.
"Kalahkan?"
"Iya, habis Dinda genit sekarang." Tuan Nan mengecup hidung istrinya.
"Bukan Dinda. Sepertinya anak kanda mewarisi sikap lelaki sejati papanya."
"Jadi di mana? Di sofa ini apa di ranjang sana?" bisik tuan Nan sensual. Membuat Anitha kembali dilanda hawa panas.
"Di sini saja," jawab Anitha bergetar. Malu dan mau telah bersatu. Tuan Nan jelas tidak menyia-nyiakan. Dia memulai dan menyelesaikan apa yang Anitha dan dia inginkan. Pelan dan penuh kasih sayang.
***
"Pagi sayang," bisik tuan Nan ditelinga Anitha. Hari menujukan pukul 04.30 subuh.
"Mmm ...."
Merasa Anitha hanya separuh sadar, tuan Nan memberi kecupan pada telinga Anitha. "Ayo bangun. Sudah subuh."
"Hmmm lima menit lagi Kanda. Dinda masih mengantuk," katanya manja.
"Apa mau kanda ulang melihat buah hati kita?" rayu tuan Nan.
"Hmm, mau. Itu ide bagus juga," jawab Anitha dengan suara serak. Tuan Nan tak tahan untuk tertawa. Anitha tetap memejamkan matanya
Anitha hanya tersenyum mendengar kata-kata tuan Nan. Usapan dan kecupan tuan Nan membuat sensasi lain di hati dan tubuhnya. Sirna sudah rasa kantuknya.
"Apa papa janji-janji saja melihat anak papa hmm?" ucap Anitha pelan masih dengan mata setengah terpejam. Anitha kembali memancing-mancing keadaan.
Tuan Nan mengambil posisi. "Oke sayang, jika ini kemauan kalian berdua, papa akan turuti."
Anitha masih sempat protes, "Bukannya kemauan Kanda juga?"
"Itu telah pasti seratus persen sayang." Tak ada lagi kata-kata selain suara yang sering diredam tuan Nan.
"Gendong, mau mandi." Tuan Nan, mengikuti mau istrinya. Setelah berbagi kebahagiaan.
"Sampai nyawa berpisah dari badan tetap gendong begini ya Kanda."
"Iya, asal istri kanda tetap manja seperti sekarang, dan tidak bertambah berisi."
"Memang kalau sudah tua masih sanggup?"
"Gendong mungkin tidak, tapi kalau absen ke dalam kanda sanggup."
"Ihhh, maunya." Mereka tertawa ceria di subuh buta. Setelah selesai ritual mandi dan melakukan shalat subuh. Tuan Nan mengajak Anitha menghirup udara segar di halaman depan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah, dibalik kesedihan terdalamnya, Engkau memberikan nyawa lain di dalam rahim istri hamba."
Ini hari libur dan santai dari pekerjaan. Dari awal prinsip tuan Nan, waktu lebih berharga dari uang. Dia tidak mau waktunya diatur oleh uang. Waktu libur hanya buat keluarga bagi tuan Nan.
Sambil mengelilingi kebun bunganya. Anitha bertanya pada tuan Nan. "Kanda, apa Kanda tidak tersiksa saat jam sarapan tiba?"
"Dengan tersenyum tuan Nan menjawab, "Tidak. Kanda malah senang merasa bisa berpartisipasi atas kelakuan calon anak kita."
"Benarkah? Tetapi dinda sangat kasihan Kanda tak bisa makan apapun yang menjadi kesukaan Kanda biasanya."
"Terima kasih sayang. Dinda sudah kasihan saja, kanda sudah senang."
"Kenapa pula begitu?"
"Iya ... bagaimana kalau calon anak kita mengompori mamanya untuk tega. Mamanya dulukan si ratu tega."
"Dinda serius, malah diajak bercanda, mau Dinda marah?" kata Anitha lembut. Anitha tidak benar-benar marah.
"Pemarah kamu sayang," canda tuan Nan. Tuan Nan menarik Anitha duduk di bangku taman.
"Tapi walau pemarah, aku cinta mati sama Tuan." Anitha memeluk suaminya.
"Terima kasih sayang, sudah hadir dan banyak memberi warna dalam hidup Kanda."
"Dinda juga sayang, terima kasih. Semoga kita bisa melewati rintangan hidup ini bersama selalu. hanya Kanda yang Dinda punya sekarang."
"Tapi sebentar lagi Nansen junior akan mewarnai hidup Dinda dan menyita waktu Dinda."
"Bukan Dinda saja, kita berdua. Dinda tidak mau jika kanda hanya pandai menghadirkan dia saja ke dunia ini. Dinda paling sakit hati melihat lelaki yang merasa, anak hanya tanggung jawab istri dalam menjaga dan mendidiknya."
"Tenang sayang. Kanda ini lelaki terakhir yang ada di dunia ini." Anitha tergelak, mendengar jawaban tuan Nan yang mengada-ada.
"Ayo kita sarapan. Kanda tak ingin kalian kelaparan."
"Ayo." Mereka masuk dan menuju ruang makan.
Tuan Nan memilih minum kopi dan roti tanpa apapun sepotong. Namun sepertinya itu juga di tolak oleh perutnya. Anitha memandang risau pada suaminya.
Setelah tuan Nan membasuh wajahnya, dia kembali ke meja makan menemani Anitha yang ikut berhenti sarapan jika suaminya ke westafel.
"Jangan risau sayang."
"Kita konsul ke dokter Via saja bagaimana? Dinda risau, sayang melewati sarapan pagi terus."
"Baiklah, biar kanda coba telfon dokter Via-nya." Tuan Nan berniat memancing Anitha.
"TIDAK BOLEH. Biar Dinda atau Jeffy saja yang urus." Anitha dengan penuh tekanan menolak. Tuan Nan merasa posesif Anitha bukan karena bawaan hamilnya.
__ADS_1
***/