Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Tuan dan Wanita Boneka


__ADS_3

"Apa kamu bisa memandikan saya wanita boneka!" ucap tuan Nan tegas, tegas dalam candaannya.


"Tenang Tuan. Saya bisa," jawab Anitha dengan berpura kesal. Lalu mereka tertawa bahagia. Anitha mendorong kursi roda suaminya ke dalam kamar mandi.


Anitha sengaja tidak melepas pakaian suaminya di kamar. "Apa boleh saya melepas pakaian Tuan?" tanya Anitha dengan mimik geli. Dia geli sendiri membayangkan jika dia memang belum menikah. Dia tidak bisa menjamin akan sanggup jadi tuan dan wanita boneka.


"Di mana-mana mandi ya lepas pakaian! Apa itu saja kamu tidak tahu?" ucap tuan Nan menghayati peran kembali ke masa lalu. Anitha justru terkikik geli melihat suaminya persis seperti awal di kenalnya. Tangannya dengan lihai telah menanggalkan pakaian tuan Nan.


"Wow Tuan, tubuhmu begitu indah. Aku takut tidak bisa tidur siang dan malam membayangkannya."


"Kamu jadi wanita tidak tahu malu, wanita boneka!"


"Anda lebih tidak tahu malu Tuan sayang. Anda bisa-bisanya polos di depan ART palsu ini?" Anitha memulai ritualnya memandikan tuan Nan. Mereka tertawa-tawa membayar sebulan lebih waktu yang hilang.


Anitha menggosok seluruh tubuh suaminya. "Mana kulit tubuh Tuan yang dipegang perawat itu, biar aku gosok kuat menghilangkan nodanya," kata Anitha sewot sendiri. Tuan Nan tergelak.


"Sini juga, biar saya gosok kulit tubuhmu yang dipegang dokter tampan itu. Walau kau cuma wanita bonekaku tak ada yang boleh menyentuh milikku," tuan Nan ikutan terbakar cemburu mengingat dia terbaring tak sadar sementara istrinya disentuh-sentuh.


Percakapan mereka di bawah guyuran shower membuat api cemburu mereka padam dan berganti gelak tawa.


"Kanda ... tolong gosokkan juga ya punggung dinda," kata Anitha lembut. Anitha juga ikut mengguyur tubuhnya di bawah shower dan meminta tuan Nan menggosok punggungnya.


"Iya sayang. Sini, ambil spon dan sabunnya."


Setengah jam mereka di dalam kamar mandi. Mereka keluar dengan badan dan fikiran fresh.


Anitha menekan telfon paralel dan meminta Nova mengantarkan makan siang ke kamar. Ibu mereka memahami ada waktu yang ingin ditebus oleh anak-menantunya. Mereka sepakat tidak mengusik.


Tok ... tok ... tok ....


Anitha bergerak dan membuka kunci pintu.


"Permisi Bu," kata Nova dan Marta. Mereka membawa dua nampan berisi makan siang dan minuman.


"Letak di meja sana ya. Terima kasih."


"Sama-sama Bu."


"Ohh iya pesan sama mom dan ibu, makannya untuk sementara hanya kalian berdua saja yang temani, tanpa kami."


"Ya Bu, tadi nyonya sudah katakan juga."


Anitha kembali mengunci pintu kamarnya.


"Ayo Kanda, dinda suapi."


"Iya tetapi tidak pakai tangan," ucap tuan Nan kembali menggoda Anitha.


"Iya pakai sendok dan garpu," balas Anitha pura-pura polos.


"Tidak pakai sendok juga!"


"Jangan mengada-ada ya Kanda." Anitha sedikit sengit. Tuan Nan kembali melengkungkan bibirnya, membentuk sebuah senyum merayu.


"Kamu pemarah sayang," ucapnya sambil tergelak.

__ADS_1


"Habis, mancing-mancing melulu dari tadi."


"Kita sudah lama saling tidak merasakan sentuhan spektakuler loh."


"Iya, walau sudah lama, kita tidak saling lupa rasa itu Kanda."


"Karena tidak lupa itulah kanda kembali menginginkannya."


"Tetapi kaki Kanda masih sakit?" tanya Anitha serius. Anitha mulai terpancing oleh omongan suaminya. Begitu piawai tuan Nan mengarahkan Anitha.


"Kaki kanda memang sakit sayang. Tetapi bagian yang lain juga sakit karena merindukan pemiliknya." Tuan Nan terus melancarkan jurusnya.


Muka Anitha mulai dijalari warna merah muda. "Ayo kita makan sayang." Anitha mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Anitha berdiri dan hendak beranjak menjauhi kursi roda tuan Nan. Namun tangan tuan Nan menahan dan menarik lembut diri Anitha.


Tidak mudah bagi tuan Nan menarik istrinya yang sedikit kurusan dan menjadi lebih ringan dari biasanya. Tuan Nan memangku Anitha.


"Nanti kaki Kanda sakit loh," ucap Anitha bergetar menahan malu. Mukanya semakin semerah buah chery masak karena posisi yang intim dan pandangan tuan Nan yang begitu intens. Anitha merasa pandangan intens tuan Nan membakar diri dan gelora jiwanya.


"Tidak, masih ada cara lain menjelang kaki kanda sehat," ucap tuan Nan semakin memandang dalam dan penuh hasrat,membakar gairah Anitha.


Anitha tadinya merasa sejuk setelah siap mandi dan terkena kamar dingin akibat ac yang menyala, kini dia merasa panas. Begitu mahirnya tuan Nan menyalakan api cinta di antara mereka.


"Hmm bagaimana?" cicit Anitha dengan suara kecil. Membuat tuan Nan memberi satu kecupan singkat di dahinya.


"Sayang yang memimpin ya."


"Dinda tidak bisa memimpin," kata Anitha dengan pelan.


"Hmmm, memimpin perusahaan dua saja istri kanda bisa. Masa memimpin percintaan sama satu suami saja tidak bisa?"


"Ihhh kanda tambah genit saja."


"Selama ini Kanda yang memimpin. Dinda benar tidak bisa."


"Nanti kanda bantu hmmm."


Anitha benar tidak sanggup menahan malu membayangkan dia yang akan memimpin selama suaminya sakit. Dia yang dalam pangkuan tuan Nan ingin bergerak turun. Lagi-lagi tuan Nan menahan tubuh istrinya.


"Jangan lari, kanda sangat menikmati raut wajah malumu sayang."


Anitha tidak bisa keluar dari pangkuan tuan Nan, dia memilih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Posisi ini ternyata lebih menguntungkan bagi tuan Nan untuk menggodanya.


Tuan Nan menyibakkan rambut Anitha yang menutup wajahnya. Tuan Nan menyelipkan di belakang telinga Anitha. Dia dengan begitu sensual berbisik, "Bagaimana sayang? Apa kita coba satu babak siang ini?"


Tuan Nan bisa melihat daun telinga istrinya yang semakin merah. Dia menyeringai lebar melihat pemandangan indah yang di suguhkan istri manjanya. Dia merasa jauh lebih muda melihat sikap Anitha yang begitu menggoda.


"Diam tandanya iya sayang." Bisiknya lagi karena Anitha masih menyembunyikan wajahnya dan diam.


"Tapi kita makan dulu ya," tawar Anitha.


"Dinda lapar?" tanya tuan Nan.


Dia tersenyum lebar saat mendengar istrinya menjawab pelan, "Tidak, mana tahu Kanda sudah lapar."


"Kanda memang lapar sayang," kata tuan Nan.

__ADS_1


"Ayo kita makan," ucap Anitha menarik kepalanya dari ceruk leher tuan Nan dan memandang serius tuan Nan.


Tuan Nan mencapit lembut dagu Anitha. "Ayo sayang. Kita mulai dengan memakan bibir rasa strawbery ini," ucapnya langsung melakukan tindakan tanpa sempat Anitha protes.


Setelah terpuaskan dan memuaskan, tuan Nan menatap istrinya. "Masih sama sayang, jika sudah kanda taklukkan, selalu tak ada perlawanan. Kamu benar-benar istri yang Manis.


"Banyak cerita Kanda. Ayo kita makan, katanya lapar."


"Ayo," tuan Nan menggerakan kursi rodanya. Namun bukan menuju meja sofa yang ada di kamar tersebut, malah menuju ranjang.


"Hmmm," dehem Anitha paham.


"Kita latihan ya," ajak tuan Nan lembut.


"Iya," jawab Anitha lugas membuat tuan Nan mengacak rambut Anitha.


Tuan Nan menurunkan Anitha dan Anitha membantu dengan senang hati.


"Ayo sini," panggil lembut suaminya. Anitha merasa debar di dadanya semakin menjadi. Walau usianya bukan remaja lagi, tetapi pengalaman baru ini membuat seakan baru mengenal cinta dan percintaan.


Anitha dengan perlahan mendekatinya suaminya, dengan lihai suaminya menarik Anitha.


"Pakai selimut ya Kanda, malu."


"Pakailah sayang."


Anitha kalah dengan remaja sekarang yang banyak tahu dengan gaya percintaan demi memuaskan lelaki yang berstatus pacar bukan berstatus suami. Anitha sangat minim dengan ilmu di ranjang. Namun justru itu yang membuat tuan Nan bahagia, istrinya bukanlah perempuan pemuas nafsu banyak lelaki.


"Aku tidak pandai Kanda," Akunya jujur, nada malu telah hilang dan berganti dengan sikap serius dan fokus demi membahagiakan suami dan dirinya sekaligus. Tuan Nan tak bisa membuat bibirnya digaris normal. Selalu saja bibir tuan Nan melengkung indah karena Anitha. Kini dilihatnya istrinya begitu serius untuk belajar ilmu baru, manajemen percintaan.


Tuan Nan mengajarkan dengan sabar dan perlahan. Jika ilmu di kampus Anitha begitu mudah menyerap, ilmu yang diajarkan suaminya sedikit lebih lambat.


"Dinda jangan ragu dan malu begitu, biar Dinda lincah dalam bergerak," saran suaminya.


"Ahhh susah Kanda boleh pakai istirahat tidak?" tanya Anitha dengan memandang memelas.


"Tidak, nanti lama pintarnya," kata tuan Nan tanpa ada nada mendesak. Justru terselip nada bergurau.


"Ihhh dosen satu ini killer banget!" rutuk Anitha manja.


"Ayo kita belajar lagi," ajak tuan Nan sambil tertawa dan Anitha pun menjadi lebih rileks. Lalu tanpa dia sadari 3 SKS, kelar di pelajari oleh Anitha dalam satu jam.


Kini dia masih memeluk sayang tuan Nan. Tuan Nan juga masih mengelus lembut punggung Anitha. Dia kembali merapikan rambut Anitha yang berantakan. Tuan Nan berbisik, "Asyikkan ilmu barunya sayang?"


"Mmm," jawab Anitha hanya berupa gumaman.


"Terima kasih sayang."


"Mmm."


Mendengar cara Anitha menjawab, membuat hasrat tuan Nan kembali berontak. "Kita praktekkan lagi atau makan dulu?"


"Mandi lagi, baru makan."


"Okelah, Dinda tidak lelah memapah dan memandikan kanda?"

__ADS_1


"Tidak sayang. Ayo."


***/


__ADS_2