Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Harusnya Jadi Artis Bukan CEO


__ADS_3

"Mommy akan datang ke Indonesia sayang, untuk melamarmu," kata Tuan Nan seminggu setelah pemesanan gaun pengantin di butik Melly.


"Apa kata Mommy?" tanya Anitha.


Mereka lagi menikmati udara malam di teras depan rumah tuan Nan yang masih kosong tanpa bunga dan taman bunga. Dia dan ibunya memang menginap di rumah tuan Nan. Tuan Nan ingin mendekor rumah baru mereka. Besok hari libur bagi mereka berdua. Tuan Nan memang telah menjual rumah lamanya dan membagi separuh hasilnya buat Allea.


"Maksudmu karena kita tidak memberikan kabar, lalu tiba-tiba ingin menikah tanpa restunya?" tanya tuan Nan santai pada kekasih keras hatinya.


"Iya," jawab Anitha.


Anitha sengaja memesan gaun telebih dahulu. Baru meminta tuan Nan mengatakan mereka akan menikah. Anitha masih gengsi untuk menikah dengan minta izin. Bukankah dia yang telah menolak setelah direstui karena tidak ingin restu atas latar belakang 'KASIHAN'. Akan tetapi permintaan lembut penuh harapan tuan Nan, tidak sanggup dia tolak.


"Mommy mengaku kalah padamu, hahaha." Tuan Nan tergelak, mengingat perkataan mommynya.


"Ceritakan Kanda, apa kata mommy." Anitha sudah seperti wartawan yang haus mencari info.


Kilas balik...


"Mom, apa kabar?" tanya tuan Nansen di sambungan internasional.


"Baik sayang, kamu?"


"Aku baik Mom."


"Anitha bagaimana?" Ibu tuan Nan tidak lupa menanyakan kabar calon menantunya.


"Anitha baik Mom, dia diam-diam telah memesan gaun pengantinnya."


"Hmmm, jadi dia berniat menikah tanpa memberi tahu diriku?" tanya ibu tuan Nan tanpa rasa kesal.


"Iya Mom. Dia mengatakan, Mommy sudah pernah merasa punya menantu. Jadi bukan pengalaman yang mendebarkan dan menyenangkan lagi punya menantu. Mommy marah?"


"Tidak Nak, Mommy malah ingin tertawa. Dia cerminan mommy saat muda."


"Ohh ya Mom?"


"Iya, mommy dulu juga selalu keras hati, sehingga eyangmu selalu kesal." Ingin tuan Nan mengatakan, sekarang pun mommynya masih keras hati. Dia bisa membayangkan Anitha juga akan sulit merubah sifat itu.


"Kembali ke pernikahanku Mom, apa Mommy tak ingin mengalah dengannya. Bagaimanapun aku juga ingin Mommy ada di sampingku saat pernikahan nanti."


"Di mana-mana, menantu yang harus mencari simpati mertuanya. Tapi tiba di Mommy, Mommy yang harus cari simpati menantu." Ibu tuan Nan tertawa lembut. Itu cukup membuktikan dia mau mengalah. Membuat hati tuan Nan tenang.


"Apa yang akan Mom lakukan?"


"Aku akan melamar dia untuk putraku. Aku juga akan mengumumkan di media surat kabar dan media elektronik, siapa dia di mataku."


"Mom yakin bukan untuk mempermalukan dirinya?" tuan Nan tak bisa tidak mencurigakan ibunya.


"Apa aku tega membuat anakku terpuruk untuk kedua kalinya?"

__ADS_1


"Apa benar, Mom menerima dia karena hanya kasihan padaku?"


"Tidak." Ibunya menjawab tegas. "Dari awal, perlu kau ketahui, mom sudah mencari tahu siapa dia. Saat mom mendengar kau bercerai dengan Allea, mom sudah memata-mataimu. Mom tahu semua tentangnya." Perkataan ibunya membuat tuan Nan terkejut.


"Mom melakukan itu padaku?"


"Makanya mom tidak pernah menentangmu. Hanya saja saat kau datang, hati mom masih tidak terima padamu. Mom hanya berniat melampiaskan sejenak padanya. Saat dia menahanmu ingin mengejar mom, mom sangat terharu. Dia menantu idaman. Mom tak menyangkanya, dia akan mengalami nasib naas begitu. Siang-malam, mom berdoa dia sadar. Mom tak ingin kehilangan dia dan pastinya akan kehilanganmu juga."


***


"Itu kata mommy sayang."


"Wowww, aku senang. Jangan beri tahu mommy kalau Kanda cerita padaku."


"Kenapa?"


"Aku tak ingin mommy merasa terhina karena aku."


"Kau yakin itu alasanmu sayang?" tuan Nan mencium niat lain dari Anitha.


"Kanda mencurigai aku?" Nada Anitha mulai jadi kesal.


"Bukan begitu maksud kanda sayang," tuan Nan akhirnya merasa serba salah.


"Untuk apa membangun mahligai rumah tangga, jika di dalamnya ada hati yang tidak saling percaya," kata perkata disampaikan dengan tenang. Namun tuan Nan merasa bersalah.


"Maafi kanda sayang."


"Maafkan kanda, janji tidak lagi."


"Jangan janji apapun, nanti timbangan dosa kanda jadi berat karena tak bisa menepatinya."


"Iya, iya, kanda tepati." Tuan Nan memeluk Anitha.


Di bahu tuan Nan Anitha menyeringai penuh kemenangan. "Kena kau, kanda tercintaku."


Anitha menarik diri dari pelukan tuan Nan. Seringainya telah berganti dengan senyum menawannya.


"Kanda, kita cari waktu ziarah ke makam ayah sebelum menikah." Anitha mengajukan permintaan.


"Apapun, Min dag och mitt hjärta, du är ägaren!"


"Aku tidak paham bahasa kampung halaman ayahmu," Anitha terlihat kesal digoda tuan Nan dalam bahasa swensk.


"My day and heart, you are the owner."


"Benarkah, hari dan hatimu aku pemiliknya?"


"Woww, Kanda memang romantis seperti film turki yang aku tonton."

__ADS_1


"Jangan samakan kanda seperti bintang film," tuan Nan mendesah kesal.


"Kenapa juga tidak boleh? Aktornya tampan, memang sih jauh tampan Kanda yang punya darah campuran, weeks," Anitha kembali menjulurkan lidahnya mengolok kekasihnya.


"Mereka cuma romantis di dunia maya. Kita ada di dunia nyata. Makanya perangai Dinda aneh, kebanyakan nonton film dan baca novel."


Perang argumenpun dimulai. Ibu dan Jeffy yang ada di ruang tamu mulai mendengarkan perdebatan mereka. Ibu Anitha mulai terbiasa melihat mereka suka perang kata.


"Hmmm, apapula hubungannya nonton dan baca dengan sifat orang. Itukan untuk mengisi sedikit waktu luang. Tapi sejak sama Kanda, aku hampir tak punya waktu luang."


"Kanda pula yang salah, memangnya siapa yang sibuk mau jadi CEO wanita. Kanda sudah tawarkan posisi nyonya CEO saja."


"Jangan mancing-mancing deh Kanda. Aku tak akan mundur dari misi aku."


"Dinda pandai ya buat kesal menggunung."


"Jadi benaran kesal sama dinda? Percuma saja usia tua kalau tak pandai sabar," Anitha sudah berganti ke mode bad mood tingkat dewa-dewi."


"Dindaaa ... bukan itu maksudnya," wajah tuan Nan mulai seperti melihat kebakaran rumah."


"Jadi apa maksudnya, Kanda selalu saja menyalahkan aku secara tidak langsung. Kanda tak pernah mau mengalah padaku. Katanya aku cinta sejati Kanda, nyatanya hal gini saja Kanda tak mau menyenangi hati," Anitha menyampaikan dengan pelan dan sedih. Wajah penuh hujan air mata akan segera tiba.


"Iya ya, kanda ngaku salah. Jangan menangis. Kanda tak sanggup melihat air matamu." Tuan Nan sekali lagi merengkuh Anitha. Dia tak peduli ibu dan Jeffy melihatnya. Baginya menenangkan ratu hatinya lebih penting. Anitha bisa luluh dengan dipeluk hangat.


Jeffy dan ibunya hanya bisa menggeleng penuh senyum. Mereka melihat tangan Anitha yang melingkar di bahu tuan Nan membentuk huruf V. Senyum jahilnya ikut mengukir di wajah cantiknya.


"Harusnya dia jadi aktris Bu, bukan jadi CEO. Dia sangat pandai menghayati perannya," bisik Jeffy pelan.


"Ibu juga tidak sangka dia akan jadi CEO, Jeff. dia di kampung cuma Upik Abu yang ingin jadi atlit pencak silat." Ibu Anitha terkekeh mengingat bagaimana anaknya waktu kecil menyampaikan cita-citanya setiap pulang latihan pencak silat.


"Hei Nan, aku dan ibu bukan patung untuk melihat kalian ribut lalu bermesraan." Jeffy dengan lantang berteriak dari ruang tamu.


Tuan Nan menoleh, masih dengan memeluk Anitha. Dia lalu melepaskan Anitha dengan perlahan, dan berkata, "Ngukur jalanan kota Jakarta kita malam ini sayang? Kasihan ibu hanya di rumah saja." Ide tuan Nan di sambut dengan suka cita oleh Anitha.


"Ayo Kanda, i love you honey." Anitha tanpa dosa melenggang masuk. Membuat tuan Nan mengusap tengkuknya. Masih hitungan menit dia bersusah hati, kini tanpa beban raut wajahnya bersinar cerah.


"Ayo Ibu, kita ganti pakaian. Menantu tampan ibu ingin mengajak kita jadi anggota PU."


"Maksudmu?" Jeffy yang bertanya tak paham.


"Ngukur jalanan kota Jakarta," jelasnya santai Sambil terus melangkah ke kamar.


"Sembarangan kalau ngomong. Ditangkap orang baru tahu rasa kamu!" teriak Jeffy.


"Percuma ada pria kaya itu!" Anitha balas teriak sebelum menghilang dari ruang tamu.


***/


Pria kaya

__ADS_1


Nansen Adreyan 😍



__ADS_2