
Anitha menengadahkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan tuan Nan. Lalu dia membalikan ke tuan Nan. "Apa kau tidak ingin?" Tak ada lagi nada mesra bagi keduanya.
"Jika aku bilang ingin, lalu kau bisa apa?"
"Aku memang tidak bisa apa-apa. Karena aku hanya bisa berharap."
Entah apa yang membuat tuan Nan begitu panas hati melihat istrinya.
"Lalu untuk apa kau bersikeras?" tanya tuan Nan masih dengan nada kesal.
"Aku tidak tahu. Mungkin hanya untuk menyenangkan diri sendiri."
"Kau__"
"Cukup! Jangan maki aku lagi. Aku hanya ingin berusaha! Tidak lebih."
"Terserahlah." Tuan Nan meninggalkan Anitha dan menuju ruang kerjanya. Dia memanggil satu ART melalui interkom telfon paralel. Dia meminta membuatkan susu coklat panas.
Anitha melangkah ke sofa dan membawa bantal. Dengan hanya menggunakan bathrobe dia tidur tanpa selimut.
Anitha menghadap kepalanya ke sandaran sofa. Dengan posisi meringkuk dia memejamkan matanya.
Air matanya kembali menetas. Hatinya terluka dengan sikap suaminya. Di mana salah dia sebagai istri yang hanya ingin membuat bahagia suaminya.
"Apa harus dikasari hanya karena aku berhujan?"
Anitha jatuh tertidur dalam tangisnya. Sementara tuan Nan di ruang kerjanya menyesal telah berkata kasar pada istrinya.
"Mengapa aku harus marah, hanya karena dia berhujan. Dia hanya mencoba metode lain. Walau metode itu tidak berdasarkan survei dan penelitian."
Mengingat istrinya juga lebih lama dalam berhujan, dia bangkit kembali ke kamarnya. Terlihat istrinya berada di sofa.
Tuan Nan menyadari jika Anitha sakit hati. Jantungnya terenyu melihat istrinya tidur tanpa selimut.
Dia bergerak, tubuh tingginya menjulang dari atas melihat sisa air mata Anitha yang menghadap sandaran sofa.
Dia hendak menjangkau Anitha, terdengar pintu kamar diketuk pelan. Tuan Nan berjalan ke arah pintu dan msmbukanya. "Ini Pak," ucap satu ART menyodorkan segelas susu coklat panas.
Tuan Nan mengambilnya dan menutup pintu kamar. Dia meletakan di meja kecil di samping sofa.
Dia membalikkan tubuh istrinya dengan lembut. Anitha yang baru terlelap dan tertidur karena lelah, sehingga tak menyadari.
Tuan Nan memperhatikan wajah istrinya. Kesibukannya yang hampir dua minggu ini tak terlalu memperhatikan keadaan istrinya. Anitha tipe yang tidak banyak mengeluh.
Perasaan bersalah semakin dalam mendera hati tuan Nan. Istrinya terlihat pucat dan wajahnya menjadi lebih tirus.
Dia menyusuri tulang pipi dan rahang Anitha. Anitha masih tak terganggu. "Sayang, bangun." Tuan Nan mengguncang sedikit tubuh istrinya.
Anitha hanya memberi sedikit pergerakan. Seakan suara tadi hanya mimpi lalu. Anitha masih tetap terlelap. Bahkan, ketika tuan Nan mengangkatnya ke tempat tidur.
__ADS_1
Tidak hanya dalam sadar dia merasa nyaman dengan suaminya, dalam tidurpun dia mencari kenyamanan di dada suaminya. Anitha merapatkan wajahnya ke dada tuan Nan begitu saja. Seperti sudah melupakan perkataan kasar suaminya yang mengoyak pembuluh jantungnya.
Tuan Nan merasa jantungnya diremas. Hatinya pedih karena sikapnya yang marah tak beralasan. Bahkan dia memaki istrinya yang begitu membutuhkan dirinya.
Tuan Nan meletakan Anitha di pembaringan. Dia menyelimuti Anitha dan berjongkok di samping Anitha. Dia mengecup lembut dahinya. Tidurlah, besok kanda akan menebus kesalahan kanda padamu.
Tuan Nan ikut naik kepembaringan. Dia tidur menelentang seperti posisi Anitha. Rasa lelah dan rasa bersalah bercampur mengantar tidurnya.
Jam menunjukkan pukul 3 subuh ....
"Kanda, maafi aku. Jangan tinggalkan aku dalam keadaan begini," racau Anitha dalam igauannya.
Tuan Nan tersentak bangun dan mendengar seksama apa igauan Anitha. Anitha kembali mengucapkan kalimat itu.
"Sayang," tuan Nan menepuk lembut pipi Anitha.
Anitha membuka mata dan melihat suaminya memandang penuh rasa bersalah dan penuh kesedihan padanya.
"Kanda ... maafi aku kalau pemikiran dan sikapku menyusahkan hatimu." Anitha berkata pelan dan serak. Tuan Nan langsung memeluk istrinya.
Air mata tuan Nan jatuh menitik membasahi pipi Anitha yang sedang dipeluknya. Bagaimana dia bisa melukai istrinya yang tak pernah membantah padanya, kecuali perihal keturunan.
"Jangan meminta maaf yang tidak menjadi kesalahanmu. Hati Kanda menjadi perih mendengarnya." Suara tuan Nan ikut terdengar serak.
Air mata Anitha meleleh, begitupula kesedihannya ikut luruh bersama air matanya dan air mata suami tercintanya.
Tuan Nan bangkit dan menarik Anitha dalam pelukkannya. Dia memeluk erat Anitha, wujud dari permohonan maafnya. Dia menyeka air mata Anitha, lalu mengecup pelupuk mata Anitha. Tak ada suara Anitha selain isakannya.
"Kanda ... dinda haus dan lapar," bisik istrinya dengan suara bergetar malu. Dia takut menjadi bulan-bulanan suaminya di subuh buta.
Tuan Nan tak sanggup untuk mengolok apalagi mentertawakan Anitha. Istrinya bisa memaafkan dan bermanja kembali padanya suatu berkah tersendiri baginya.
"Ayo ganti bajunya, kanda buatkan susu hangat dan makan roti saja dulu ya."
"Makasih ya Kanda."
"Kanda tunggu di bawah ya."
"Iya."
Anitha mengambil piyama tidurnya. Setelah mengenakan, dia menyusul tuan Nan. Segelas susu putih hangat telah tersedia di meja dapur kering. Anitha dan tuan Nan memang membuat dua ruang dapur berbeda tanpa sekatan.
Mereka membedakan dapur basah dan kering. Dapur kering hanya digunakan untuk membuat minuman serta sarapan dan berkumpul keluarga di waktu-waktu santai.
"Kanda tidak minum?"
"Tidak, kanda tidak lapar. Sebelum tidur tadi malam kanda sudah meminumnya." Anitha memakan dua potong roti dan meminum susu hangatnya.
"Sudah?" tanya tuan Nan lembut.
__ADS_1
"Sudah."
"Ayo kita kembali," ajak tuan Nan. Mereka meletakan gelas kotor dalam westafel cuci piring dan menuju kamar.
"Tanggung mau tidur sayang. Sebentar lagi subuh. Nanti saja siap shalat subuh kita tidur ya."
"Memang Kanda tidak ke kantor besok pagi?"
"Tidak. Kanda mau ajak Dinda berenang dan di rumah seharian."
"Sudah siap urusan kantornya?" tanya Anitha senang. Hampir dua minggu tuan Nan sibuk. Anitha juga menenggelamkan dirinya dalam kesibukan di kantornya.
"Sudah," tuan Nan berbohong. Dia lebih memilih menebus rasa menyesalnya. Dari pada pekerjaan yang tak ada habisnya dan masih bisa diserahkan ke sekretarisnya.
"Okelah," sambil berkata begitu Anitha melompat masuk ke dalam pelukan tuan Nan. Jelas tuan Nan tidak membuang kesempatan begitu saja.
Hampir dua minggu mereka melewati malam-malam hanya dengan berpelukan lalu tidur. Kini tuan Nan tidak akan melepaskan Anitha.
"Hmmm Kanda curang."
"Kenapa gitu?"
"Iya, setelah memberi dinda energi malah kanda serap lagi."
"Gak apalah sayang, nanti siap shalat subuh kanda isi lagi. Baru kita tidur atau kita berenang sejenak di belakang."
"Lihat nanti saja, kalau mengantuk kita tidur saja sampai jam 11."
"Memang Dinda bisa tidur sampai jam segitu?"
"Gak tahu juga, dinda belum pernah juga coba, heheheppp." Tak ada lanjutan tertawa Anitha. Dirinya sudah dikuasai oleh suaminya.
Setelah selesai, tuan Nan kembali melayangkan permintaan maafnya.
"Tak apa, hanya saja semarah apapun Kanda, dinda akan tetap melakukan apapun untuk bisa memberi keturunan pada Kanda!" tegas Anitha.
"Okelah, bagaimana kalau kita rencanakan bayi tabung di luar negri?" akhirnya tuan Nan mengalah. Baginya jalan itu lebih baik dari pada istrinya melakukan hal gila lainnya perihal mendapatkan keturunan itu.
"Benarkah?" tanya Anitha gembira.
"Iya, kanda takut Dinda melakukan kegilaan lainnya."
"Hmmm," Anitha tak ingin berdebat dengan tuan Nan.
"Tetapi kasih kanda waktu sebulan ini untuk mengurus perusahaan ya. Setelah itu kita langsung ke Singapura untuk program."
"Kenapa tidak di sini saja?"
"Tidak, Kanda ingin di sana saja."
__ADS_1
"Ok. Terserah yang baik menurut Kanda."
***/