
Anitha menatap Ajeng dengan tajam dan dalam. Sekali lagi Ajeng merasa jantungnya berdebar. Anitha yang dia kenal jauh berubah. Tidak ada kenaifan lagi di sikap dan pandangannya. Anitha teman kampusnya telah hilang dibawah bendera kekuasaannya.
"Saya memanggil anda sebagai atasan dan bawahan!" tegas Anitha dengan tajam. Ajeng menelan salivanya dengan susah payah.
"Iya Bu, ada apa?" jawabnya dengan pelan. Ajeng tidak lagi berani menatap mata Anitha. Anitha sengaja menekan Ajeng terlebih dahulu untuk mencapai tujuannya. Tujuan memperbaiki hubungan baik diantara mereka.
"Apa anda senang bekerja di perusahaan ini?" lagi-lagi nada Anitha begitu dalam.
"Saya senang Bu."
"Saya tahu, anda termasuk karyawan yang diperhitungkan di perusahaan ini. Sebagai atasan saya merasa bangga dan sangat senang. Namun ...." Anitha sengaja menjeda bicaranya.
Anitha ingin melihat reaksi Ajeng. Terbukti Ajeng terlihat gelisah. Anitha bisa menangkap Ajeng masih ingin bekerja di sini atau mungkin membutuhkan pekerjaan ini. Itu nilai tambah bagi Anitha untuk lebih mendesak Ajeng agar mau diajak bicara olehnya.
Ajeng memberanikan diri mengangkat kepalanya karena Anitha tak kunjung menyelesaikan ucapannya. Ajeng melihat Anitha masih menatap dirinya dengan tajam.
"Namun apa Bu?" Mau tidak mau, dia memberanikan diri bertanya. Ajeng harus menyingkirkan egonya. Dia memang membutuhkan pekerjaan ini. Ibunya butuh biaya lebih demi mengangkat derajatnya.
Ajeng sempat ingin menyerah, namun rasa sayang pada ibunya membuat dia tegar.
"Kau pasti tahu diluar konteks kantor, kita pernah berteman dan saling menyakiti." Anitha memilih kata saling menyakiti. Ajeng terpancing karena kata itu.
"Maksud Ibu?" Ajeng tidak berani menggunakan bahasa non formal pada Anitha. Dia tetap berbicara formal.
"Aku rasa kau paham dengan maksudku. Kau mungkin bisa mengabaikan aku karena rasa sakit yang dalam. Namun aku tidak bisa mengabaikannya. Selain karena ini perusahaanku, aku juga menyimpan kekecewaan terbesar padamu." Anitha diam, menarik nafas panjang.
Ajeng tetap diam dan menyimak seksama kalimat demi kalimat Anitha. Ajeng bisa merasakan kepahitan nada Anitha bercampur dengan kekecewaan.
"Aku yang tidak tahu apa-apa, menjadi tumbal keegoisan kalian berdua. Kau temanku, apapun dulu keadaannya, tidak seharusnya kau menutupi hubungan kau dengannya. Sementara hubungan kalian sudah sangat jauh."
__ADS_1
"Aku__"
Anitha sengaja memotong, "Aku naif. Aku bisa-bisanya mempercayai satu teman seumur hidupku. Aku mendapat lelaki yang benar aku cintai saat itu hanya sisa dari temanku sekaligus sahabat karibku, karena teman tercintaku sangat egois. Demi cintanya pada lelaki itu, dia rela memberiku sisa cintanya. Demi cintanya dengan pria tak pantas itu, dia rela membiarkan aku menikah dengan barang sisanya. Lalu dia juga yang menghancurkan hidupku demi rasa sakit hatinya dengan beralasan akulah yang menghancurkan hidupnya ...."
Ajeng terperangah, dia tak menyangka Anitha tahu segalanya. Apa yang dikatakan Anitha diserap oleh otaknya dan mengalir ke relung hatinya yang terdalam. Dia bisa merasakan kesedihan Anitha. Anitha sendiri mengatur perasaannya. Tidak dia sangka sesakit ini membuka cerita lama pada wanita yang pernah jadi sahabatnya dan pacar dari mantan suaminya dulu.
"Hanya tiga bulan aku merasa apa itu dicintai, karena dia yang tak berani tegas mempertahankan cintanya atau melepaskan saja cintanya, aku difitnah. Dia sekali lagi berhasil menghancurkan aku yang dianggap sahabat karib."
"Aku__" Ajeng sudah tak tahan. Dia juga wanita. Dia juga sama tertutup dengan Anitha. Dia juga hanya punya satu teman karib, Anitha. Kini air matanya hampir tumpah melihat sahabatnya berjuang keras menceritakan apa yang dia rasa diam-diam selama ini.
Anitha tak memberi peluang untuk Ajeng menyela, setidaknya sampai dia bisa mengeluarkan semua rasa hatinya yang tidak diketahui Ajeng. Air mata Anitha penuh sudah di pelupuk matanya. Dia menahan sekuat tenaga.
"Aku merasa di neraka diperlakukan suamiku yang salah paham karena fitnah sahabat pengecutku. Tidak hanya hatiku yang disakitinya, tetapi badanku jauh dia sakiti dengan melampiaskan amarahnya melalui nafsu syahwatnya. Setiap dia telah berhasil memancing gairahku sebagai istri, dia menyiksaku seakan aku wanita malam yang suka menjajahkan tubuhku ... seberapa keras aku memberontak semakin keras dia menghujam dan menghujatku. Semua penderitaan itu akan semakin sempurna saat aku menjadi wanita malam jika sahabatku berhasil menjualku."
Anitha menjatuhkan pandangannya ke bawah dengan telapak tangan saling bertaut. Luruh sudah air mata Anitha. Begitu juga dengan Ajeng. Ternyata bukan hanya dia saja yang tersakiti, Anitha jauh tersakiti. Setidaknya dia tak mendapatkan perlakuan Sahrul yang kasar dalam berhubungan badan dengannya. Walau adakalanya dia dipaksa, namun Sahrul tetap memperlakukan dia dengan lembut.
Tangan Anitha yang terhampar di atas meja, merasa mendapat remasan lembut. "Apa aku masih berhak meminta maaf padamu?" tanya Ajeng dengan pandangan buram. Air mata telah jatuh berlinang.
"Apa bukti kau tidak berdusta padaku lagi?" tanya Anitha dengan berpura meragui Ajeng. Dia hanya ingin mengetahui sejauh mana Ajeng berubah.
"Aku tahu kau tidak mungkin bisa percaya padaku, setelah begitu banyak kebohonganku padamu. Asal kau tahu, jika tadi kau mengunakan kekuasaan untuk menekanku, aku rela bersujud padamu meminta maaf demi tetap bisa kerja di sini."
"Begitu butuhkah kau dengan pekerjaan ini?"
"Aku sangat butuh. Maka aku rela memohon jika kau tadi berniat memberhentikan aku."
"Lalu?"
"Kini aku rela mengundurkan diri, supaya kau tidak merasa resah karena ada aku di perusahaan ini. Asal kau bisa memaafkan aku. Aku memang egois selama ini. Aku memupuk sakit hati tanpa kau tahu apapun. Harusnya lelaki bejat itu yang aku sakiti. Tetapi aku tak bisa. Bahkan sampai saat ini ketika kali kedua dia membohongi aku, aku masih sangat mencintainya."
__ADS_1
Anitha menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Ajeng. Ajeng tersentak mengira Anitha menolak dirinya. Anitha bangkit dari kursinya. Dia memutari meja kerjanya dan menarik tangan Ajeng duduk di sofa.
Ajeng terbodoh mengikuti tarikan tangan Anitha. Anitha menarik Ajeng duduk di sampingnya.
"Apa aku bisa berteman baik lagi seperti dulu?" tanya Anitha menelisik raut wajah Ajeng.
"Apa aku pantas menerima uluran persahabatanmu?" tanya Ajeng balik.
"Hanya kau sahabat dekat yang aku punya. Jika kau bisa melupakan dendammu padaku, aku ingin kita kembali berteman."
"Kau benar bisa memaafkanku?"
"Bisa. Andai kau berjanji tidak mengkhianati aku lagi."
"Aku tidak tahu bagaimana cara berjanji. Aku hanya bisa menawarkan mengundurkan diri dan menjauh darimu."
" Tidak perlu, jika kau masih mau bekerja denganku dan ikhlas jika aku adalah atasanmu," ucap Anitha dengan suara serak siap menangis dan dengan nada tanpa berniat sombong.
Ajeng tertawa dengan suara yang sama serak mendengar kata Anitha. "Aku bersedia dan berterima kasih banyak. Aku tidak pernah iri dengan keberhasilan kau dari dulu. Aku tahu siapa kau. Hanya masalah lelaki sialan itu aku mendendam padamu dan dendamku salah alamat. MAAFKAN AKU AN." Ajeng memeluk erat Anitha.
"Maafkan aku juga yang tidak peka pada waktu itu," ucap Anitha di telinga Ajeng.
"Apa benar kau masih mencintai Sahrul?" tanya Anitha.
"Kenapa? Apa kau masih ingin kembali padanya?" tanya Ajeng tanpa ada nada cemburu lagi. Ajeng telah memutuskan tidak mengejar lagi cintanya. Hanya menyimpan untuk kenangan dia sendiri.
"Ditanya malah balik tanya. Jawablah aku dengan jujur. Biar aku bisa berpikir jernih."
Ajeng tersenyum kecut. "Aku sudah memutuskan tidak mengejar dan mengharapkannya lagi."
__ADS_1
"Kalau aku, sejak aku memutuskan meninggalkan dia. Aku tak ingin kembali lagi padanya. Apalagi kau tidak tahukan, aku sudah menikah lagi."
***/