
Malam terakhir di padang ....
Hari menunjukan pukul delapan lewat lima menit. Terlihat tiga orang berjaket hitam dan satu wanita yang cantik yang menggunakan jaket hitam yang juga pas di bodi. Jika diperhatikan dengan seksama sudah seperti mafia kejam. Tak ada wajah ramah, hanya wajah-wajah datar dan dingin. Begitu juga gadis wajah cantik yang berkulit putih tersebut.
Mereka mengetuk pintu dengan irama yang dalam. Seakan hawa dingin menelusup masuk ke rumah tersebut dari lubang kunci dan lubang-lubang angin.
Seorang ibu yang belum terlalu berusia senja, membukakan pintu dan tak bisa membendung rasa terkejutnya.
"Mau apa kau ke sini," tanyanya tanpa ada nada ramah sedikitpun.
"Hai Ibu mertua, apa dirimu begitu terhina jika menerima menantumu yang pernah selingkuh ini?" tanya Anitha dengan nada mencemoohkan.
"Siapa Bu?" tanya satu suara wanita muda. Dia telah menyusul ibunya dan melihat Anitha serta satu pria tampan. Tuan Nan.
"Siapa dia, tampan sekali." Dia berkata dalam hati.
"Hai mantan adik ipar, apa kabar?"
"Ada apa!"
"Apa begini etika menyambut tamu jauh. Anda berdua kurang mencerminkan adab bumi ranah minang," ucapan yang keluar dari bibir Anitha cukup lembut, tapi kata-kata yang terucap cukup menyakitkan hati. Tuan Nan tersenyum tipis mendengar Anitha cukup lihai menyudutkan orang.
"Apa kau masih mau mengemis cinta mantan suamimu?" ketus suara mantan adik iparnya tanpa mempersilakan Anitha dan tuan Nansen untuk masuk.
"Hheheheh, apa IQ kau terlalu rendah dulu saat sekolah? Atau mata kau yang mulai tak awas karena sebentar lagi kau akan mengikuti jejakku menjadi janda?!" Anitha terus menyerang dengan kata-kata.
Ibu dan anak tersebut terkejut saat Anitha tahu, jika sidang perceraiannya sedang berjalan.
"Kau terkejut ibu mertua tersayang dan mantan adik ipar tercintaku?" ejek Anitha.
"Dari mana kau tahu he!" bentak ibu mertuanya.
"Jangan naik darah Bu, saya takutnya anda tensi dan berakhir tidur di ranjang rumah sakit."
"Pergi kau dari rumah ini!" ibunya Sahrul akan menutup pintu saat mantan adik ipar Anitha telah menyingkir.
Namun tuan Nan dengan sigap menahan daun pintu tersebut agar tidak tertutup. Tubuh kokohnya yang berdiri di belakang Anitha tidak kesulitan melakukannya. Kontak tubuh tidak bisa dielakkan dan membuat darah mereka sama berdesir. Hanya saja mantan adik ipar masih menjadi target bulan-bulanannya. Tuan Nan juga fokus menahan daun pintu sehingga mereka mengabaikan sejenak desir indah di hati mereka.
"Jangan buru-buru ditutup, aku takutnya kalian penasaran kenapa tiba-tiba suamimu ehh mantan suami tepatnya, menggugat ceraimu!"
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan!" kata sang ibu yang di ucapkan juga oleh mantan adik iparnya dengan kalimat serupa.
Anitha hanya menoleh ke belakang dan menggerakan sedikit kepalanya. "Majulah ke sini!" Seorang bodyguard tuan Nan yang tadi hanya bersembunyi di balik dinding rumah ibunya Sahrul, maju ke dekat Anitha saat terdengar perintah Anitha yang kini sama seperti perintah tuannya.
Betapa shock mantan adik iparnya. Melihat pria yang pernah dia jumpai di kafe yang sama dan cara yang sama saat dia memfitnah Anitha.
Satu tangan sudah melayang untuk menampar pipi mulus Anitha, namun Anitha telah mengambil tamparan itu dan mencengkeram telapak tangan itu dengan kuat.
"Aku belajar dari caramu. Ternyata setelah aku praktekkan memang penuh kepuasan. Lalu kenapa kau marah iparku eh MANTAN iparku?" Anitha menekankan kata mantan. Suara Anitha terdengar semakin jahat.
"Selamat menjadi janda di tinggal pergi begitu saja! Bukankah lebih menyakitkan dari pada aku yang pergi meninggalkan uda kau!" Anitha berucap sambil menyentak tangan yang tadi dicengkeram.
"Ayo Kanda, kita tinggalkan mereka." Anitha sengaja bersikap dan berkata manja. Dia ingin menjelaskan kepemilikannya pada mantan adik ipar dan ibu mertuanya.
Mereka membalikkan badan dan hendak melangkah pergi. Satu suara menyeruak masuk memenuhi gendang suara Anitha, tuan Nan maupun pengawalnya. "Tunggu, apa yang harus aku lakukan agar suamiku tidak meneruskan gugatan cerainya?" tanya mantan adik ipar Anitha penuh frustasi.
Anitha melihat ke tuan Nan, namun tuan Nan hanya menggedikkan bahunya. Anitha mengambil kesimpulan tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyerahkan pada Anitha. Anitha tidak mau bersikap lembut atas apa yang telah terjadi. Terlalu banyak hal buruk yang dia lalui.
"Jalani hidupmu seperti aku menjalankan hidupku dulu. Semoga kau bisa mendapatkan kekasih hati seperti kekasih hatiku ini." Anitha berkata sambil bergelayut manja di lengan tuan Nan. Tuan Nan juga mengambil kesempatan, dengan satu tangan yang bebas dari rangkulan Anitha, dia mengusap puncak kepala Anitha penuh kemesraan.
Tanpa perasaan mereka tetap melanjutkan langkah dan kembali ke dalam mobil. Kini mobil rental itu menembus jalanan malam kota Padang. Mereka kembali ke hotel. Besok pagi mereka hendak terbang ke kota Jakarta.
"Aku sangat senang, kanda," bisiknya pelan ketika menyebut kata kanda. Tuan Nan tersenyum gemas melihatnya.
@@@
Mereka telah kembali ke Jakarta dan bersiap menjalankan aktifitas seperti biasa. Tuan Nan telah mengantongi restu ibu Anitha. Dia dengan gentle meminta Anitha pada ibunya. Ibunya menolak diajak ikut, alasannya ada masanya dia akan didekat Anitha. Ibunya masih betah dikampung halamannya sendiri.
Hari ini hari pertama Anitha dibawa oleh tuan Nan secara resmi ke perusahaannya. Tidak hanya sebagai tunangan tuan Nan, Anitha juga bekerja sebagai Manager at Business Development Divison. Memahami segmentasi pasar, penempatan sasaran pasar, penempatan produk, advertising dan banyak hal yang kini menjadi tanggung jawabnya. Menjalin relasi dengan banyak anak perusahaan dan perusahaan lain adalah hal yang paling pokok menjadi tanggung jawabnya.
Kini Anitha berdiri penuh percaya diri di sisi tuan Nan. Dress mahal yang membalut tubuh indahnya ditambah asesories berkelas yang melekat di tubuhnya, membuat dia tampil menawan sebagai calon istri sang CEO. Bahkan sebagai manager begitu tidak padunya dengan penampilan Anitha yang berkelas.
Tuan Nan sengaja mengumpulkan karyawan yang telah secara tidak langsung semena-mena saat dia disisipi hanya sebagai office girl.Betapa terkejutnya semua karyawan saat tuan Nan memanggil semua divisi yang pernah berhubungan dengan Anitha. Dengan lantangnya tuan Nan mengatakan apa status Anitha di sisinya dan di perusahaan ini dan apa tujuan dia menyisipi kekasihnya sebagai karyawan biasa.
Air muka yang berbeda bisa dinikmati oleh Anitha, mulai dari yang merasa bersalah merasa takut sampai wajah yang terkejut dan patah hati, tidak menyangka jika Anitha yang dikenalnya ternyata kekasih bos besarnya. Banyak dari mereka yang arrogant pada Anitha. Tanpa dia tahu siapa Anitha yang sebenarnya.
Sebelum mereka hendak beranjak pergi, tuan Nan kembali berkata, "AYO SAYANG. MAAFKAN AKU SENGAJA MEMBUAT KAU MENDERITA DI TANGAN MEREKA SEJENAK." Kata per kata tuan Nan yang penuh penekanan membuat tengkuk yang mendengar menjadi dingin. Tatapan peringatan hadir di bola mata tajamnya.
Saat tuan Nan serta Anitha dan beberapa staff yang mendampingi, hendak membalikkan badan meninggalkan tempat itu, terdengar satu suara bergetar meminta maaf.
__ADS_1
"Tunggu Bu," Anitha sangat ingat suara siapa itu. Dengan tenang Anitha kembali menghadap ke para karyawan.
"Maafi saya Bu, saya menyesal memperlakukan anda semena-mena," ucapnya dengan tertunduk kaku. Tuan Nan mengernyitkan dahinya, dia tidak tahu apa-apa. Setelah dia menempatkan Anitha pada posisi biasa, tuan Nan dilibatkan dengan urusan kecurangan perusahaan kontruksi dan masalah lain, sehingga dia lupa memperhatikan gerak-gerik Anitha. Pantas saat ditanya jawaban Anitha, capek, kesal dan lainnya.
Anitha memandang tajam pada salah satu karyawan perusahaan tuan Nan, masih ingat ketika dia di siram air teh hangat-hangat kuku di dapur perusahaan ketika Anitha tak sengaja hampir menabraknya.
"Lupakan, jika saya membalas dengan menyirami anda air teh hangat-hangat kuku kembali, sama dengan saya merusak image calon suami saya! Karena orang akan bergunjing betapa tidak ada etikanya calon istri Nansen Adreyan!" ucap Anitha dingin dengan menyindir mengatakan karyawan tersebut tidak ada etika.
Banyak pasang mata yang terkejut, entah terkejut karena sikap karyawan yang terlalu berani pada Anitha atau karena nada Anitha yang begitu dingin. Tuan Nan hampir tak pernah terlihat dingin pada karyawannya.
"Maafkan saya Bu."
"Oke anggap saja semua tidak terjadi. Agar hati saya baik-baik saja." Anitha mengajak tuan Nan meninggalkan tempat itu.
Setelah tuan Nan dan Anitha beserta jajaran staffnya menghilang dari pandangan mata, banyak dari mereka yang memukul pelan dadanya sambil membuang nafas dengan kasar.
"Aku tidak sangka jika dia kekasih CEO kita," ucap satu suara wanita mulai bergosip.
"Makanya, jangan cuma pandai gosip dan semena-mena dengan orang walau jabatannya dibawah kita." Teman wanitanya menjawab.
"Apa kau sudah tahu siapa dia, makanya kau tak pernah memintanya mengambilkan teh atau menyuruh apapun lah itu namanya," tanya temannya.
"Aku tak tahu, aku hanya merasa janggal saja melihat sikap dinginnya dan penampilannya walau tak begitu mencolok dengan seragamnya," jawab temannya.
"Makanya lebih cerdas kalau melihat situasi, tidak mungkin wanita menarik sepertinya hanya karyawan biasa." Teman lainnya menambahkan.
"Gimana tuh nasib Rahmi, apa dia akan dipecat? Secara dia yang keterlaluan.
"Aku rasa tidak, walau calon istri sang CEO macam beruang kutub. Namun pemikirannya tidak dangkal macam si udang gala. Ucap satu suara pria ikut bergosip di divisi itu.
"Kau jadi seperti mengagumi calon istri bos?"
"Aku sudah mengagumi dia masih dengan balutan seragam biasanya. Kini aku mana berani, lihatlah dirinya dalam balutan dress mahalnya, tak ada yang berani menjangkaunya." Begitu terang-terangan seorang karyawan mengutarakan isi hatinya.
"Sudah, kalau sekarangpun kau inginkan dia sama saja cari mati."
Begitulah mereka bergosip tentang Anitha.
@@@
__ADS_1