
Internasional Arlanda ....
Kini tuan Nan dan jajarannya telah mendarat di bandara Internasional Arlanda. Mereka telah di jemput dengan dua mobil mewah menuju hotel yang juga sudah pasti mewah.
Anitha, tuan Nan dan Jeffy berada dalam satu mobil, sedangkan Helmi dan dua staff lain berada di dalam mobil lainnya.
Anitha begitu takjub melihat pemandangan dan bangunan-bangunan dari negara ini. Dia dulu hanya melihat dari medsos dan hanya berkhayal bisa keluar negeri. Siapa sangka kini dia bisa menjejakkan kakinya di sini. Dengan penampilan yang jauh berubah.
Tuan Nan pastinya bukan fokus pada negara ini. Namun dia lebih fokus pada wanita yang dibawanya ke negara ini. Tuan Nan melihat Anitha yang begitu asyik menoleh memandang keluar.
"Apakah negara ini lebih menarik dari pada warga negaranya?" tanya tuan Nan mengusik kesenangan Anitha.
"Maksudnya, Kanda warga negaranya?" tanya Anitha tanpa pura-pura tidak tahu maksud tuan Nan. Jeffy hanya mendengarkan percakapan insan lain jenis itu.
"Iya."
"Kanda-kan hanya keturunan, bukankah Kanda berwarga negara Indonesia?" tanya Anitha baru tahu.
"Tidak, Kanda warga negara sini," ucap tuan Nan benar adanya.
"Apakah Tuan serius?" tanya Anitha sengaja mengusik hati tuan Nan dengan memakai kata Tuan.
"Bisa tidak ngomongnya tidak formal begitu? kau kira kau itu sekretarisku?" ujar tuan Nan kesal. Anitha melotot dan Jeffy tergelak. Dia senang ada yang bisa membuat tuan Nan kesal.
"Jeff, kau terlalu sering membela dia?" sindir tuan Nan melihat Jeffy tertawa penuh cemooh. Jeffy hanya tersenyum.
"Jangan kau bilang, kau mencemburui aku juga Nan?" ujar Jeffy.
"Aku tahu siapa wanita kekanakan ini, sama aku saja masih separoh hati." Tuan Nan sangat percaya pada Anitha. Walau cemburu masalah yang berbeda. Dia berniat membalas Anitha. Namun Anitha tak terpengaruh.
"Kamu tidak jawab?" perhatian tuan Nan kembali pada kekasih di sampingnya.
"Entah kenapa Aku lebih suka memanggil anda dengan kata TUAN?" dia sengaja menekankan pada kata tuan.
"Kenapa tidak memanggil nama saja sekalian," tawar tuan Nan dengan hati mengkal.
"Inginnya, namun anda terlalu tua jika kupanggil nama. Usia kita terlalu jauh, aku takut durhaka!" Goda Anitha. Ingin Jeffy tertawa melihat Anitha yang terus mendebat dan mengganggu tuan Nan.
Pemandangan ini yang sangat dinikmati Jeffy, jika tidak tuan Nan yang berulah maka Anitha sendiri yang memulai.
"Kalau begitu pakai embel-embel!" kata tuan Nan.
"Oke Mbel ... begitu?" tuan Nan sempat semakin gemas dan kesal melihat kekonyolan Anitha. Seolah tahu kekasihnya sudah panas. Anitha terpingkal penuh kepuasan.Mengganggu tuan Nan adalah suatu kesenangan tersendiri baginya.
Melihat kesenangan Anitha yang menjadikan dia leluconnya dan tawanya yang terpingkal membuat tuan Nan ingin membalas Anitha. "Puas sayang menggodaku?" bisik tuan Nan. Namun jika dikatakan berbisik, Jeffy mendengar kata sayang dari mulut tuan Nan.
"Puas!" jawab Anitha singkat.
__ADS_1
"Cukup kamu puas itu sudah buat aku bahagia. Kini aku meminta satu hal padamu, jika kau ingin perjanjian kita lanjut, panggil aku dengan sebutan 'KANDA' dan biasakan ber-DINDA kebadan sendiri!"
Anitha mendelik mendengar tuan Nan setengah mengancam. Namun Anitha juga lelah berdebat. Perjalanan yang memakan waktu begitu lama membuat dia lelah.
"OKE, DINDA, PUAS!" kata Anitha penuh tekanan setiap katanya. Tuan Nan tersenyum. Walau nada Anitha seperti setengah mau.
"Kamu tahukan tugas kamu apa saja aku ajak sayang?" ujar tuan Nan.
"Tenang ... sayang, aku bukan wanita boneka yang kanda tuduhkan dulu," ucap Anitha.
"Apa kamu merasa canggung di negara ini?" tanya tuan Nan. Mobil masih melaju di jalanan aspal yang begitu mulus. Namun tak semulus perjalanan cinta dua anak manusia ini.
"Terus terang, aku merasa gelisah," aku Anitha pelan.
Jeffy langsung menoleh ke belakang, dia tidak melihat kegelisahan Anitha. "Apa kamu begitu pandai menyembunyikan perasaanmu," batin Jeffy. Jika Jeffy hanya bisa membatin, tuan Nan bisa langsung bertanya.
"Apa yang kamu gelisahkan?" tanya tuan Nan.
"Aku tak tahu," jawab Anitha jelas berbohong. Jika tuan Nan dan Jeffy merasa Anitha tidak ingin cerita, Anitha sibuk menenangkan diri.
Anitha menyandarkan kepalanya di bahu tuan Nan. Lelah yang dirasa ditambah dinginnya AC di dalam mobil membuat dia tertidur. Tuan Nan tidak mengganggunya. Dia malah mengamati wajah Anitha. Jika sedang tidur wajah itu begitu polos, begitu damai dan tanpa ada kewaspadaan sedikitpun. Siapapun yang melihatnya ingin melindungi dirinya.
Setelah diyakini Anitha tertidur, tuan Nan bertanya pada Jeffy, "Jeff, kamu sudah carikan guru untuk Anitha?"
"Sudah, tapi kamu yakin dia bisa belajar hanya sehari saja?" tanya Jeffy ragu.
"Hanya untuk makan malam di tengah keluargaku, aku yakin sehari saja cukup untuk dia dilatih," yakin tuan Nan.
"Kau jangan khawatir, apapun akan aku pertaruhkan demi melindungi dia," kata tuan Nan bersunguh-sungguh.
Tuan Nan pun mengambil posisi menyandarkan kepalanya. Dia merengkuh Anitha dalam pelukkannya. Memejamkan matanya walau tidak ikut tertidur. Mobil terus melaju membawa mereka menuju hotel yang dituju.
Merekapun kini tiba di hotel. Anitha telah terbangun sebelum sampai ke hotel. Dengan langkah yang teratur mereka turun dari mobil dan langkah berderap mulai terdengar di lobi hotel. Seakan tahu siapa yang datang semua pegawai yang ada di lobi menyambut dengan hormat.
Tak bisa dipungkiri bagi karyawan yang mengenal tuan Nan dan rekannya merasa sedikit penasaran ada wanita di samping tuan Nan.
Rambut yang tergerai, bola mata yang besar dan tajam, hidung yang mancung semua terlihat sempurna di wajah putih mulusnya. Tuan Nan bukan tak menyadari pandangan penasaran dan terpesona karyawan hotel tersebut.
Mereka tetap meneruskan langkah ke lif hotel yang membawa mereka ke kamar masing-masing.
Malam hari di Swedia ....
"Gugup?" tanya tuan Nan. "Kanda ingin kau les private singkat untuk belajar aturan makan Fine Dining. Kamu pasti bisa dan terbiasa. Karena sibuk dengan perusahaan dan kuliahmu, kanda lupa membiasakanmu."
"Tuan-kan tahu aku dari kampung!" sindirnya menutupi rasa tak nyamannya.
"Ikutlah dengan Jeffy, dia akan menjagamu untukku," ucap tuan Nan. Mereka memang berada di meja terpisah.
__ADS_1
Kini mereka sedang berada di sebuah restaurants mewah. Anitha sedikit merasa gugup. Anitha walau sudah berpengalaman makan di restaurants mahal, namun tetap gelisah. Bagaimanapun akan tetap ada perbedaan budaya masing-masing.
Seseorang menyambut Anitha dan Jeff dalam bahasa Swensk. "Hej hur mår du Jeff?"
Jeffy menyambut jabat tangan yang diulurkan oleh wanita tersebut. "Goda nyheter Fru."
Anitha mengikuti Jeffy berjabat tangan saat Jeffy berkata dan merujuk menyebut namanya. "Det här är Anitha Putri, Fru." Walau dia tak paham bahasa mereka. Anitha hanya mengangguk kecil bukti hormatnya.
"Trevligt att träffa dig, Anitha," ucap nyonya tersebut yang bergaya elegant tersebut.
Jeffy menerjemahkan dan berkata, "Nyonya ini mengatakan, senang berkenalan dengan anda nona Anitha."
"Ohh ... katakan Jeff, saya juga senang berkenalan dengan Nyonya dan terima kasih."
Ternyata Jeffy diminta bukan hanya untuk menjaga Anitha, namun juga menterjemahkan bahasa mereka yang berbeda dan saling tak paham.
Jeffy menerjemahkan apa yang diminta oleh nyonya Ziya, Anitha mulai melakukan dan memperhatikan bagaimana tata cara dan sikap nyonya Ziya, lantas mempraktekan setiap yang diminta oleh nyonya Ziya.
Anitha mulai belajar aturan makan Fine Dining, mulai dari tata cara memegang menu, menggunakan gelas, menjaga tepi piring agar tetap bersih sampai tata cara melipat serbet dan cara menyantap hidangan. Nyonya Ziya juga melatih bagaimana tata cara makan di tengah keluarga bangsawan.
Tak butuh menghabiskan banyak waktu, sambil dia berlatih, Anitha menikmati semua yang dia makan. Membuat Jeffy dan nyonya Ziya tersenyum simpul. Anitha memang orang yang tak banyak pilih dalam makan. Anitha kecil selalu diajarkan memakan apa yang ada tanpa banyak merengek. Suka tidak suka dia harus menelan makanannya. Keadaan ekonomi ayahnya tak mengajarkan dia pemilih dalam makanan.
Nyonya Ziya memuji Anitha yang cepat tanggap dan cepat belajar. Kini Anitha diminta untuk pindah ke meja tuan Nan yang sedang berbisnis. itu menurut Anitha. Tanpa Anitha tahu itu hanya orang-orang suruhan tuan Nan dari negara ini untuk melatih Anitha di tahap selanjutnya.
"Hai sayang, kenalkan ini rekan bisnisku," ucap tuan Nan menyambut dan menyapa mesra Anitha. Anitha lalu memberikan hormat dengan menunduk sedikit kepalanya. Tuan Nan telah berdiri saat melihat Anitha menuju ke arahnya.
Jeffy menarik satu kursi di samping tuan Nan dan mempersilakan Anitha duduk. Anitha sebenarnya resah berada di kalangan atas. Namun dia harus bisa, agar kekasihnya tidak kecewa.
Mereka menyapa Anitha dalam bahasa mereka. Tuan Nan menerangkan dan Anitha hanya bisa mengangguk.
Tak ada kendala soal percakapan, karena bukan itu tujuan tuan Nan mengajak Anitha ke sini. Tuan Nan bertujuan hanya melatih tata cara Anitha ketika dihadapkan pada acara keluarganya nanti. Ayahnya paham berbahasa Indonesia.
"Tenang sayang, fokus pada tata cara makan dan sikap saja. Soal bahasa yang berbeda abaikan dulu. Nanti aku akan kuruskan kau di lain waktu jika kau bersedia."
Mendengar ucapan tuan Nan hati Anitha menjadi ringan, kini dia fokus hanya pada satu hal. Dia memberikan senyum penuh pesonanya pada tuan Nan. Senyum yang bisa menggetarkan hati kecil Nansen Adreyan.
Mereka mulai menyantap hidangan, jika tadi mereka hanya terpaksa menyantap hidangan pembuka demi menunggu ratu di hati tuan Nan. Anitha masih dengan santai menikmati hidangannya dengan gaya yang elegant. Nyonya yang melatihnya hanya tersenyum manis karena Anitha sangat cepat beradaptasi. Anitha berhasil dan mendapatkan ilmu baru.
Kini tuan Nan membawa orang-orangnya kembali ke hotel. Di dalam mobil tuan Nan berbisik, "Apa kamu tidak mau muntah makan dua kali hidangan utamanya?"
"Tidak, aku bisa tiga kali memakannya dalam satu waktu," ucap Anitha membuat tuan Nan dan Jeffy tersenyum.
"Tapi aku salut melihat kau yang mudah mengerti untuk suatu hal."
"Karena aku suka belajar. Bagiku tak ada yang tak bisa jika kita mau belajar! ucapnya tegas.
"Kalau begitu, belajarlah mencintaiku sepenuh hati sayang."
__ADS_1
@@@
Dilarang baper 😂😂