
"Kau ingin bermain-main dengan seorang yang kau katakan 'hanya wanita' ini?" Anitha menantang mereka.
Infokus kembali menampilkan kegiatan salah satu istri mereka. Di mana seorang wanita yang terlihat berada di dapur sedang memasak, sementara terlihat dua lelaki berada di balik tembok rumah mereka. Mereka tersenyum jahat ke arah layar monitor dan memberikan tanda ok.
"Baik-baik aku akan jujur!" teriak satu mantan staf panik.
"Katakan!" kata Anitha.
Mereka menunjuk direktur utama mereka dalang dibalik semua ini. Mereka mengakui di beri uang dalam jumlah besar, hasil dari menipu perusahaan.
Awalnya direktur memilih berkelit, tetapi saat ke tiga orang tersebut kompak bersuara, direktur tidak bisa mengelak. Ditambah bahasa tubuhnya mulai tidak tenang.
"Selesai Ko, mana polisi seperti janjimu padaku." Entah siapa yang di telepon Anitha.
Tak menunggu lama, masuk tujuh orang bersenjata lengkap. Mereka diringkus tanpa bisa banyak bicara.
"Tolong lepaskan keluargaku," seseorang meminta pada Anitha dengan ketakutan.
"Baik. Jika kau mau bekerja sama."
"Oke. Aku janji."
Setelah semua keluar, masuk Liam Lee. "Liam, apa kabar? Bagaimana kau bisa datang ke sini?" tanya tuan Nan. Serangkaian peristiwa yang tidak disangka tuan Nan, membuat buntu jalan pikirnya.
"Aku baik. Aku ingin membalas hutang budi padamu. Kau telah membuat perusahaan berkembang pesat bahkan kebaikan hatimu telah menjadikan aku seorang suami dan seorang ayah," ucapnya. Mereka kini duduk berhadapan.
"Aku tak paham," kata tuan Nan tak menutupinya.
"Sebelum kalian sampai di sini, Anitha minta aku mencari orang yang bisa diajak bekerja sama, jika benar perusahaan terkena kasus penipuan."
"Aku sungguh terkejut. Wanitaku seperti boneka siluman." Tuan Nan masih seperti bermimpi akan sisi lain calon istrinya. Hanya hitungan jam dia bisa menyelesaikan kekacauan ini.
"Aku pamit duluan. Jika kalian punya waktu luang, mampirlah ke apartemen. Ohh ya Anitha, Allea kirim salam padamu. Aku disuruh menyampaikan katanya kau memang 'wanita predator'. Dia ingin makan malam denganmu," ujar Liam penuh senyum.
"Oke Ko, terima kasih aku sudah merepotkan. Semua demi cintaku pada lelaki tampan yang aku cintai sepenuh hati ini. Aku tidak bisa membiarkan dia merana karena merasa gagal membahagiakan aku."
Tuan Nan merasa begitu tersanjung. Anitha mau mengakui cintanya di depan mantan rivalnya. Walau tak sepenuhnya dulu dia menganggap Liam, rivalnya.
Kini tinggal dia berempat dengan orang-orangnya, siapa lagi kalau bukan Jeffy dan Harri. Tuan Nan ingin menginterogasi calon istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita berbicara di sebuah resto bersama dengan yang lain. Dinda lapar." Tuan Nansen paling tidak berdaya jika Anitha sudah mengatakan lapar. Anitha sering badmood kalau sudah lapar.
"Baiklah, ayo." Mereka berjalan beriringan layaknya rekan bisnis. Tak ada genggaman tangan, tak ada rangkulan bahu. Hanya hati mereka yang menyatu dalam cinta mereka.
Ketika mereka telah berada di dalam mobil. "Aku penasaran, bagaimana kau bisa melakukan itu semua?" Jeffy tidak tahan untuk tidak bertanya sebelum sampai di restoran.
"Aku lapar," jawab Anitha mengelak.
"Jangan cari alasan sayang, kami semua penasaran," ujar tuan Nan sambil mengapit lembut leher Anitha.
"Kalian tahu, itu semua bisa dilakukan oleh siapa?"
"Hacker!" jawab tuan Nan dan Jeffy seperti orang yang belajar membaca.
"Nah itu tahu. Apalagi yang harus buat penasaran." Anitha malas-malasan bersandarkan dada bidang tuan Nan yang masih mengapitnya.
"Jangan mempermainkan kami Tha." Jeffy terlihat tak sabaran.
"Maksudmu di mana aku mengenalnya?" tanya Anitha dengan gaya polosnya.
"Pastinya begitu!"
"Kau kenal di mana? Pria?" tanya tuan Nan tak bisa menutupi cemburunya.
"Bukan kenal di mana Kanda, tepatnya jumpa di mana. Dia sudah aku kenal jauh hari. Aku berjumpa kembali saat di boat ilegal saat kabur darimu. Dia juga kabur dari Singapura ini. Sejak itu kami kembali saling komunikasi."
"Apa dia sepintar itu?" tanya tuan Nan masih penuh cemburu.
"Dia tidak pintar di akademis. Satu-satunya yang dia suka hanya bidang teknologi. Orang tidak ada yang mau berteman dengannya karena dia tidak cerdas di mata mereka. Perawakannya juga biasa saja. Bahkan orang tuanya mengusir dia karena tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya jadi dokter bedah. Kan, akhirnya aku buka cerita juga."
Anitha mau tidak mau bercerita sedikit agar tuan Nan tidak salah sangka.
"Kalau dia sehebat itu, kenapa dia tidak membantumu dulu?" tanya Jeffy antusias.
"Itu karena aku ingin menipumu, sehingga tuan tampanku ini tidak bisa mencari."
"Iya juga ya. Kami mengira kau sembunyi di sini." Jeffy tak segan mengakui.
"Sudahlah jangan dibahas masa lalu. Aku merasa malu pada tuan Nansen Adreyan ini," ucap Anitha mencubit manja tangan tuan Nan yang melingkar di lehernya.
__ADS_1
"Tetapi, Dinda belum jawab, apa dia pria?" tanya tuan Nan tidak lupa dengan pertanyaannya.
Anitha terkekeh geli. "Iya dia pria. Bahkan pria yang dulu mengejar aku." Anitha berkata jujur. Tak ada niatnya menyembunyikan apapun dari tuan Nan.
"Namun Kanda jangan berprasangka dulu. Aku mengenal dia jauh sebelum aku mengenal Sahrul. Jika aku mau, aku tidak mungkin bersama Sahrul. Apalagi kini aku sudah punya kau sayang. Matipun rasanya aku tak ingin berpisah darimu." Anitha berkata serius.
Namun Jeffy berkata lain, "Sejak kapan kau pintar merayu?" Jeffy mencurigai Anitha.
"Sejak Tuan kaya ini berjanji menyerahkan seluruh aset bahkan nyawanya untukku." Anitha mengecup pelan tangan tuan Nan. Tuan Nan merasa seperti tersetrum listrik. Dia berusaha tenang di balik punggung Anitha yang masih dengan santai menyandar di dada bidangnya.
Anitha merasakan bahasa tubuh tuan Nan yang lain dari biasanya. Anitha semakin mengerjai tuan Nan. Dia menempelkan dengan pelan bibirnya ke kulit tangan tuan Nan. Tipis dan selayang namun berulang kali.
"Kamu memang selalu bisa membuat kanda tersiksa sayang," bisik tuan Nan.
Harri yang duduk di bangku belakang masih bisa mendengar. Membuat dia mengumpat sepasang kekasih yang unik ini. Jiwa mudanya ikut meronta, setiap Anitha mengerjai tuan Nan dan tuan Nan yang membalas mesra keusilan Anitha.
"Aku lama-lama bisa mengundurkan diri jadi orang kalian." Jeffy juga mendengar bisikan tuan Nan. Jeffy lebih berani dengan tuan Nan.
"Masih bermoral aku tidak menciumnya di depanmu Jeff," jawab tuan Nan.
Namun tak lama terdengar pekikan tuan Nan. "Aahhh." Anitha mencubit kecil paha tuan Nan.
"Rasain Kau," olok Jeffy. Entah apa yang dilakukan Anitha, tetapi yang jelas itu menyakiti tuan Nan.
Mereka diam seperti hanyut dalam pikiran masing-masing, sampai Anitha memanggil tuan Nan.
"Kanda ...."
"Apa."
"Terima kasih untuk semuanya. Dinda akan mengabdi pada Kanda sepenuh hati."
"Terima kasih juga sayang."
"Macam anak remaja kalian!" kata Jeffy mendengar mereka bersayang ria.
"Usia boleh tua Jeff, jiwamu itu di mudakan. Tuh gara kau, Harri terpaksa menjomblo. Dia takut durhaka melangkahimu sindir Anitha. Tepat sasaran dua-duanya.
"Ahhh akhirnya sampai. Aku sudah lapar berat dan ingin menelan semua makanan di sini." Tuan Nan dan Jeffy hanya bisa pasang wajah datar.
__ADS_1
***/