Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Memancing Dia Muncul


__ADS_3

"Terima Kasih," jawab tuan Nan. Anitha hanya mengangguk dan tersenyum manis.


Mereka makan malam, setelah itu melanjutkan membahas kerja sama yang di tawarkan oleh tuan Nan pada perusahaan tempat Sahrul yang menjabat sebagai kepala cabang.


Sahrul sedikit shock saat mengetahui Anitha sebagai sekretaris dari perusahaan besar yang menawarkan kerja sama.


Dia melihat belum sampai sebulan dan hanya hitungan minggu Anitha berpisah darinya sudah jauh berubah. Pakaian mahal dan polesan make-up membuat Sahrul sedikit pangling dengan Anitha. Matanya tidak lepas dari Anitha dan itu tak luput dari pandangan tuan Nan.


Saat mereka hanya berbincang ringan. "Saya permisi mengangkat ponsel sebentar Pak," ucap Anitha pada tuan Nan beralasan saja. Tak sopan menurutnya permisi ke toilet di restoran yang mewah ini.


"Silahkan," jawab tuan Nan tak kalah formal.


Anitha pergi ke toilet dan berkaca di cermin toilet. "Bangun Anitha, ini bukan mimpi. Ini nyata, dia ada di depanmu," ucap Anitha sambil menepuk-nepuk pelan pipinya.


"Kau harus bisa tegar Anitha. Sejauh ini kau pergi, masih bisa bertemu dengannya. Kau harus mempersiapkan hatimu untuk hal-hal yang tak di inginkan," gumamnya menguatkan hati tetap memandang gambaran dirinya dari cermin.


Anitha menenangkan hati. Setelah dia merasa lebih mantap dan tenang. Anitha keluar dari toilet dan betapa dia terperanjat siapa yang menunggunya di lorong itu.


"Kenapa? Kau terkejut aku menyusul?"


Anitha tak berniat menggubris, dia terus melangkah dan berniat mengabaikan Sahrul. Siapa sangka jika tangannya di tarik paksa oleh Sahrul.


"Kau tak bisa mengabaikan aku begitu saja sayang," ucap Sahrul tak tahu malu. Nada bicara Sahrul terdengar tidak puas.


"Aku tak ada urusan lagi denganmu di luar konteks pekerjaan!" Nada sinis Anitha terdengar.


"Siapa bilang? Kau masih istri sah dariku!"


Anitha menyentak tangan dalam genggaman Sahrul. Dengan berani dia memutar badan dan menghadap pada Sahrul. Raut wajah Anitha memendam emosi bercampur. Sakit hati dan marah.


"Istri katamu?"


"Benar!"


"Jangan tak tahu malu, bukannya kau telah mengusir aku dan menjatuhkan talak! Saat kau mengusirku di tengah malam kelam tanpa perasaan!" Anitha berkata tegas dan menahan suara agar tidak melengking seperti malam terakhir di rumah suaminya.


"Aku menyesal sayang, apalagi melihat kau ternyata jauh jadi lebih cantik begini. Juga talak yang aku jatuhkan tidak sah sayang. Kita tak ada saksi malam itu!" Sahrul memang menyesal setelah melihat Anitha menjadi lebih cantik.


Anitha merasa mual mendengar kata sayang dari mulut manis Sahrul. "Aku tidak begitu paham soal sah atau tidaknya talak itu. Bagiku kau bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku!"


Mendengar penolakan Anitha yang terang-terangan, Sahrul yang sudah terpancing cemburu dari awal karena Anitha menjadi sekretaris bos kaya raya dan rupawan. Membuat dia terpancing emosi.


"Apa karena pria itu kau akhirnya menentang dan sanggup meminta pisah dariku?"


"Aku tak perlu menjawab yang bukan urusan kau lagi," masih dengan nada sinis dan penuh tekanan Anitha berbicara. Anitha takut memancing keributan di sini.


"Aku tahu kau di tunggu kekasih gelap kau. Aku tak bisa menahan terlalu lama di sini. Namun kau harus tahu sayang, aku akan mencari cara untuk kembali bisa dekat dan mendapatkan dirimu!" ucap Sahrul mencium sekilas pelipis Anitha dan berlalu menuju ke toilet.


Anitha terkesiap.Dia tidak menyangka Sahrul akan berani mencari kesempatan untuk mencium. Anitha masih bisa berdebar mendapat perlakuan dari lelaki yang masih bisa di katakan suaminya. Namun dia tidak lagi merona malu seperti dahulu. Anitha menarik napas panjang dan berlalu kembali menuju ke tuan Nan.

__ADS_1


"Maaf lama Pak," ucap Anitha penuh sopan santun.


"Tak apa, kita sudah selesai juga," kata tuan Nan penuh wibawa.


"Kalau begitu, besok Bapak ke kantor saya yang di sini. Kita bahas lebih lanjut dan lebih detail di kantor." Tuan Nansen cepat membatasi pertemuan itu untuk segera berakhir. Dia sangat ingin tahu apa yang di dapat Jeffy.


"Baik Pak, terima kasih atas kepercayaan pada perusahaan kami," ucap bos utama Sahrul.


***


Mereka kembali ke hotel dan Jeffy sudah stay di parkiran restoran bersama para bodyguard. Tetap hanya Jeffy yang semobil dengan tuan Nan.


Sesampai di depan pintu kamar Anitha, tuan Nan berkata, "Kamu istirahatlah. Saya juga ingin istirahat."


"Baik Tuan," kata Anitha tak ada niat membantah. Dia mengeluarkan card kamarnya dan menempelkan di dekat gagang pintu kamarnya.


"Selamat malam Tuan," kata Anitha tak bisa di pungkiri nada yang lelah. Lelah pikiran membuat lelah fisiknya dengan cepat.


"Selamat malam. Ada apa-apa jangan sungkan menelepon saya. OK!" tegas tuan Nan.


"Ok Tuan," jawab Anitha lalu masuk ke kamar.


Anitha langsung berbaring tanpa mengganti gaunnya. Dia ingin menelepon ibunya memberi kabar bertemu Sahrul. Namun bukan sifatnya membebankan ibunya apalagi di tengah malam begini. Anitha hanya bisa menelentang dan dan memandang ke langit-langit kamar.


"Apalagi skenario yang harus aku lakoni," bisik hati kecilnya.


Sementara Anitha bergulat dengan hatinya, Tuan Nan menyusul Jeffy di kamar.


"Bagaimana Jeff? Apa yang kau peroleh. Benar dia menyusul Anitha bukan?" Tuan Nansen begitu tidak sabar ingin tahu.


"Benar."


"Mana videonya?" tanya tuan Nan. Jeffy memperlihatkan dan melihat betapa tuan Nan terpaksa menahan amarah. Entah karena sakit hati dengan kata-kata Sahrul yang kejam pada Anitha atau cemburu karena dia menyempatkan diri mencium pelipis Anitha walau sekilas. Jeffy hanya diam melihat reaksi tuan Nan.


"Apa maksudmu dengan semua ini Nan?" tanya Jeffy sedikit kesal. Tatapan Jeffy terlihat tajam mencari tahu isi kepala tuan Nan. Jeffy merasa tertipu oleh tuan Nan setelah memaksa mencari tahu dengan cepat siapa mantan suami Anitha.


"Aku tak bisa mengandalkan Anitha untuk membuka tabir masa lalunya. Aku harus mencari tahu dengan pasti walau harus mempertemukan mereka secara tidak langsung. Aku sangat ingin tahu apa yang terjadi sehingga dia seperti wanita mati perasaan."


Tuan Nansen memberikan alasan, akan tetapi Jeffy tak habis pikir dengan cara tuan Nansen. "Kau sudah gila Nan! Apa kau sudah perhitungan masak-masak dengan langkahmu!" ucap Jeffy masih ketus.


"Aku memang sudah gila Jeff!" Tuan Nansen mengurut tengkuk.


"Kau tidak berunding denganku memancing dia muncul dalam kehidupan Anitha."


"Ya aku salah, tapi semoga caraku ini tidak salah."


"Menurut aku, jika begini lebih baik kau rebut paksa saja wanita itu dari pada begini. Kau gila mempermainkan hatinya dengan mengumpan suaminya ke dalam hidupnya kembali."


"Mantan suami Jeff!"

__ADS_1


"Kau tak dengar jika dia bilang talaknya tak sah tanpa ada saksi!" ucap Jeffy menegaskan kembali.


"Tak usah merisaukan itu Jeff, kita bisa membantu Anitha nanti melalui jalur hukum."


"Aku tahu, apa yang tidak bisa terjadi jika uangmu sudah bicara. Seharusnya kau memikirkan perasaan Anitha. Dia telah berjuang melepaskan diri dari pria itu, tetapi kau malah mengikat kembali," kata Jeffy. Jeffy merasa cara ini tidak akan baik pada akhirnya.


"Kau pantau saja terus apa yang mereka bicarakan di luar konteks pekerjaan. Aku ingin membawa Anitha keluar dari masa lalunya. Untuk itu aku harus tahu banyak apa yang terjadi dalam 3 tahun dia berumah tangga dengan lelaki play boy itu!" Tuan Nansen masih bersikeras pada pemikiranya.


"Ok." Jeffy tak punya jawaban lain.


"Aku kembali ke kamarku," kata tuan Nan meninggalkan Jeffy dalam pikiran yang bercabang.


Di tengah malam tepat pukul 12 malam, nomor ponsel pribadi tuan Nan bergetar sebentar. Dia yang belum tidur melihat nama Anitha tertera.


Tuan Nan menelpon balik. "Ada apa Tha?" tanya cemas tuan Nan.


"Tuan belum tidur?" tanya Anitha ragu-ragu.


"Belum. Ada apa?"


"Boleh aku ke kamar Tuan?" tanya Anitha pelan.


"Marilah," kata tuan Nan penuh keheranan.


"Apa Tuan keberatan jika Tuan membukakan pintu kamar Tuan duluan?"


"Baik, sinilah. Aku sudah menuju pintu kamar.


Anitha bangkit dan membuka kamarnya, tak lupa dia membawa card kunci kamar. Dia membuka pintu dan melongok kepala. Ketika dia sudah melihat pintu kamar tuan Nan terbuka. Anitha melangkah ke kamar dengan memeluk dua bantal. Tuan Nan mulai paham apa yang terjadi dan dia tersenyum simpul.


"Masuklah," ucap tuan Nan lalu menutup pintu kamar ketika Anitha telah masuk.


"Tuan, boleh aku tidur di kamarmu?" tanyanya serius. Tuan Nan berniat membalas mengusik Anitha.


"Kenapa? Kamu mulai melancarkan tujuanmu?" ucap tuan Nan penuh cemooh.


"Mimpi ketinggian Tuan," ujar Anitha mencibir.


"Lalu kenapa? Jangan katakan kamu takut di kamar hotel?"


"Itu yang terjadi Tuan," akunya polos.


"Boleh aku mentertawakan kau?"


"Lakukan sesuka hati, Tuan. Asal aku boleh tidur di sini."


***


Boleehhh tak yaaa, bolehlahh yaaa aku minta vote, like and komennya para pembaca 😊😇😇✌️🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2