Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Nostalgia Singapura


__ADS_3

Dengan menjalani dan menjalin hubungan atas dasar komitmen, perjalanan cinta mereka sejauh ini masih mulus. Mereka tetap disibukkan dengan urusan masing-masing. Setahun sudah berjalan.


Apalagi Anitha bertekad merentangkan sayapnya dengan lebar dah kokoh. Anitha melanjutkan studi S2 masih selinear dengan jurusan S1-nya. Anitha mengambil magister manajemen bisnis dengan kosentrasi ke manajemen internasional. Dia merasa jurusan ini akan membantu perusahaan yang berbasis MNC.


Tuan Nan terus mendukung Anitha dengan rasa sayangnya. Walau kerap rasa cemburunya hadir mengetahui Anitha banyak disukai oleh para pria di kampusnya. Tidak bisa dielakkan rata-rata lelaki yang juga sudah beristri. Ada yang dari dosennya sendiri sampai teman sekampusnya.


Hanya yang membuat tenang hati tuan Nan membiarkan Anitha melebarkan sayapnya, Anitha selalu bersikap dingin pada mereka, baik itu pria apalagi wanita. Tuan Nan diam-diam selalu meminta Jeffy memantau dan mengawasi gerak-gerik Anitha.


Hingga pada suatu hari ... mereka di warnai percekcokan. Anitha bercerita bagaimana aktivitas di kampusnya.


Tanpa sengaja tuan Nan berkata, "Duhh kekasih kanda banyak yang melirik di kampus, mulai dari dosen sampai sesama mahasiswa ...."


Anitha bukan tidak menyadari apa yang dikatakan tuan Nan. Namun Anitha sudah menutup hatinya untuk pria lain. Dengan bersikap dingin pada teman kampusnya maupun dosennya. Baginya kampus hanya untuk menuntut ilmu bukan untuk ajang bersosialisasi. Anitha hanya memandang tuan Nan dan berusaha terus membuka hati agar bisa mencintai tuan Nan sebagaimana tuan Nan yang penuh cinta.


Anitha sedikit meradang mengetahui ternyata kekasihnya mengawasi gerak-geriknya.


"Hmmm jadi Kanda mengawasi gerak-gerik aku?" tanya Anitha dengan muka bertekuk kesal.


"Itu_" tuan Nan kehilangan kata-katanya.


"Itu sama saja Kanda tidak percaya padaku!"


"Bukan begitu maksud kanda sayang."


"Apanya yang bukan begitu, berapa kali aku katakan, jika aku bisa mencintai pria dengan seutuhnya hanya kau Tuan yang akan mendapatkan hatiku." Anitha mulai memakai kata tuan. Tuan Nan yang bersikap dewasa mulai menyadari Anitha sangat kesal dan kecewa padanya.


Walau posisi duduk mereka masih tetap berdampingan di bangku halaman rumah tuan Nan, namun bibir cemberut Anitha mulai menghiasi wajahnya. Tuan Nan mulai kelabakan kalau Anitha sudah merajuk.


Setahun sudah hubungan kasihnya dengan Anitha, tuan Nan mengetahui ternyata Anitha perajuk dalam hubungan berkasih sayang. Tuan Nan tak menyangka dibalik sikap mandiri, gigih dan dinginnya pada interaksi bermasyarakat, Anitha wanita yang kekanakkan dan mudah merajuk. Sikap ini tidak mengganggu hubungan mereka, karena tuan Nan sangat dewasa menghadapi rajukan Anitha.


"Jadi kekasihmu ini tidak boleh cemburu ceritanya?" goda tuan Nan.


"Boleh tetapi aku paling sakit hati jika Tuan memata-matai karena cemburu. Itu sama saja tidak percaya padaku."


"Kalau kanda minta maafpun, pasti tetap salah di matamu. Lalu apa yang harus kanda lakukan untuk membuat wanita boneka kanda ini jadi tidak menyeramkan?" rayu tuan Nan.


"Aku tidak tahu, aku masih sangat kesal padamu Tuan. Jika Tuan mengirim Jeffy untuk menjaga keselamatan diriku, aku bisa terima."


"Bagaimana kalau kanda ajak sabtu minggu ini ke Singapura berjumpa Allea, kita double date dengan suaminya dan Allea?"


"Nyogok? Dilarang keras loh, mau dipenjara karena hal itu?" Anitha mulai melunak mendengar sogokan tuan Nan.

__ADS_1


"Dipenjarakan dalam hatimu sampai mati kanda rela sayang," tuan Nan serius, membuat senyum merekah Anitha hadir.


"Senyum Dinda ini yang membuat hari-hari kanda semangat. Apalagi jika Dinda memakai kata itu ke badan Dinda sendiri." Tuan Nan melancarkan aksinya membiasakan Anitha untuk memakai kata dinda ke badannya. Selama ini Anitha masih kerap menggunakan kata 'aku' walau dalam suasana hati yang baik.


"Gombal saja terus Tuanku yang penyabar," Anitha menyandarkan kepalanya ke bahu tuan Nan. Ini yang di suka tuan Nan dari Anitha. Walau perajuk tapi tidak membuat tuan Nan kesal. Anitha bisa memporsikan rasa merajuknya tidak berlarut.


"Iya ke Singapura kita jumpa Allea?"


"Duhhh yang kangen sama mbak Allea, aku atau kanda nih?" Anitha yang kini menggoda tuan Nan.


"Mau tidak?"


"Duhhh kumat deh pemarahnya," Anitha terkikik. Tuan Nan selalu tak sabar jika Anitha menjawab lama ajakkannya. Moment ini pula yang membuat Anitha suka menggoda tuan Nansen.


Tuan Nan mengalungkan lengannya di leher Anitha, "Mau cari lawan nampaknya ya ..." bisik sensual tuan Nan yang membuat dada Anitha berdebar.


"Gak, gak ampun. Ayo kita besok pagi ke Singapura," Anitha langsung mengalihkan pembicaraan.


@@@


Mereka menginjakkan kaki di bandara Singapura. Hanya Harri dan Jeffy yang menemani.


"Kamu jangan pakai kabur lagi ya sayang," kata tuan Nan sambil merengkuh bahu Anitha. Jeffy dan Harri tersenyum kecut ingat bagaimana Anitha melarikan diri.


Anitha yang berjalan dengan rangkulan tuan Nan, menolehkan kepalanya sambil berkata, "Iri? Makanya buka tu hati!"


"Macam yang ngomong buka hati saja," olok Jeffy pada Anitha.


"Aku sudah buka hati ya Jeff, yakan sayang?"


"Iya," jawab tuan Nan memberikan pembelaannya.


"Apa buktinya, jangan bilang jika kalian bekanda-dinda tanda sudah buka hati. Bisa saja itu topeng licikmu." Jeffy terus mendesak Anitha. Jeffy tak peduli jika tuan Nan sudah melotot dan Anitha yang mendelik tajam saat kembali menoleh ke belakang.


Anitha memandang tuan Nan, mencari sesuatu di mata tuan Nan. Tuan Nan paham apa yang di cari kekasihnya.


"Tenang saja, kanda percaya pada Dinda__ Dinda mungkin memang licik ...." Tuan Nan tidak meneruskan ucapannya.


Anitha menyela memberi merespon, "Apa kita menikah saja, biar Jeffy yang menyebalkan itu bisa melihat buktinya!" ucap Anitha serius.


Jeffy tergelak tak percaya, berbeda dengan tuan Nan. Ada rasa bahagia jika Anitha memang mau menikah dengannya dalam waktu dekat.

__ADS_1


Anitha tanpa berhenti dia mulai membuat Jeffy merana dalam kesendiriannya begitu juga dengan Harri. Anitha yang tadi hanya dirangkul tuan Nan, mulai memegang pinggang tuan Nan dan satu tangannya memegang tangan tuan Nan yang bertengger di bahunya. Anitha mendongak manja pada tuan Nan dan berkata, "Apa sepulang dari Singapura ini kita menikah saja Kanda," ucapnya yakin.


Tuan Nan berhenti tepat saat mereka telah di depan mobil jemputan mereka.


"Apa kamu tidak lagi mengigau sayang?" tatapan tuan Nan menghunus tajam pada wajah manja Anitha. Anitha tersenyum penuh makna.


Dia menggeleng kecil dengan wajah yang telah bersemu merah. "Aku tidak mengigau. Suasana hatiku tiba-tiba sangat senang bernostalgia di Singapura ini. Apalagi dengar sindiran si manusia tua yang tanpa kekasih itu." Tawa Anitha lolos saat mereka telah di dalam mobil.


"Tapi menikah bukan buat pembuktian karena sindiran sayang."


"Menurut Kanda menikah untuk apa? Selama ini kita tidak pernah membahas tujuan kita menikah. Kini di depan si single-single ini coba Kanda bahas. Mana tau mereka secepatnya cari pasangan." Tawa lepas tuan Nan keluar namun senyum-senyum kecut muncul di wajah para bodyguard yang pada tak punya pasangan kekasih.


Tuan Nan menjawab, "Buat meneruskan garis keturunan."


Dasar wanita, sepintar apapun intelektualnya namun emosinya tidak sepintar pikirannya. "Ohhh jadi aku hanya ibarat mesin produksi? Apa pabrik perusahaan Tuan kekurangan mesin produksi?" Anitha bersungut kesal.


Harri dan Jeffy hanya diam, mereka sudah sering melihat bagaimana pasangan ini berinteraksi dan berakhir dengan Anitha yang merajuk mendengar omongan tuan Nan yang tak bisa diterima Anitha begitu saja dan tuan Nan yang kelabakan menjernihkan pokok bahasannya. Beginilah jika sudah berbicara hati dan perasaan. Bagi Jeffy dan Harri, pasangan ini akan selalu sejalan jika bicara perusahaan dan bisnis.


"Tujuan menikah itu yang paling utama ya untuk kita memadu kasih, sayang." Tuan Nan sudah merasa jawabannya paling tepat.


Tidak begitu dengan Anitha, Anitha semakin menyerang tuan Nan. "Jadi maksud Kanda aku cuma alat pemuas kebutuhanmu? Gitu?" cecar Anitha. Tuan Nan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Rasain kau Nan, kau kira dia wanita yang mudah kau ajak bicara tentang perasaan." Jeffy berkata dalam hati sambil tersenyum.


Tuan Nan yang melihat senyum Jeffy, mengalihkan dan menyerang Jeffy. "Apa yang kau katakan dalam hatimu Jeff!"


"Ihhh tak usah mengalihkan perhatian, Tuan kebiasaan jika tak bisa menjawab!" kembali Anitha bersuara.


"Iya kebiasaan sepertimu yang memanggil tuan dan tak bisa berdinda pada dirimu itu," ucap tuan Nan membalikkan kata-kata Anitha.


"Uhhh susah punya suami tua tapi gak ada dewasanya," tuduh Anitha. Tuan Nan hanya tersenyum.


"Mending aku tidur. Bangunkan aku jika sampai." Anitha tetap menyandarkan kepalanya ke dada tuan Nansen, dengan rileks tuan Nan menahan kepala Anitha. Anitha sangat merasa nyaman diperlakukan begini. Anitha dengan mudah lelap dalam pelukan tuan Nan dan melupakan perselisihan kecilnya. Anitha tahu tuan Nan tidak akan menyakiti hatinya. Hanya egonya sebagai wanita yang tidak terima dengan jawaban kekasihnya.


"Hemm apa kau akan tahan dengan sikapnya yang begini Nan?" selidik Jeffy.


"Jangan khawatir Jeff, aku merasa hidup dengan penerimaannya yang suka salah arti dan rajukannya."


"Ohhh baguslah kalau kau paham."


"Iya, bagiku ini bumbu untuk penyedap dalam hubungan. Walau kadang aku bingung bagaimana melunakkan hatinya jika sudah merajuk." Tuan Nan mengecup pucuk kepala Anitha yang terlelap bersandar di dada bidangnya.

__ADS_1


@@@


__ADS_2