Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Menguasai Diri


__ADS_3

Jeffy memberi kode untuk mendorong daun pintu lebih terbuka. Tuan Nan mendorong pelan daun pintu dan melihat ke mana Anitha tiba-tiba tak bersuara.


Tuan Nan langsung mendorong pintu lebar-lebar dan melangkah gesit saat melihat Anitha tergeletak di lantai. Terlihat sisa air mata. Anitha jatuh pingsan dalam posisi meringkuk. Tuan Nan langsung meraih tubuh Anitha dan mengangkat dalam gendongan.


Jeffy yang mengikuti tuan Nan terpaksa dengan lancang mengacak tas Anitha mencari sesuatu yang bisa menyadarkan Anitha. Jeffy menemukan sebuah Vic**s pelega pernapasan. Jeffy memberikan pada Tuan Nan yang sudah lebih dulu memiringkan kepala Anitha ke arah kiri menghadap ke arahnya. Tuan Nan melakukan ini agar suplai darah ke otak menjadi lebih cepat.


Tuan Nan lalu menghidukan aroma Vic**s ke Anitha. Anitha tak lama membuka matanya perlahan. Dia mengerjap mata dan berusaha mengingat apa yang terjadi. Begitu ingatan terkumpul sepenuhnya Anitha hendak bangkit namun dengan cepat tuan Nan menahan kedua bahunya dan berkata, "Jangan bangkit dulu, nanti kau bisa pusing bahkan bisa pingsan lagi."


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Anitha menyelidiki. Dia bukan tak tahu apa yang membuatnya pingsan. Namun dia tak tahu bagaimana tuan Nan bisa di kamarnya.


"Kau tidak menyahut saat saya ketuk kamar kembali, padahal baru hitungan menit saya tinggalkan. Saya jadi cemas dan meminta resepsionis mengantarkan kunci cadangan pada Jeffy, dan kami melihat kau pingsan di lantai. Ada apa?" tanya tuan Nan jelas bersandiwara.


"Bagaimana kalau saya sedang mandi atau tidur?" kata Anitha tak sepenuhnya percaya pada cerita tuan Nan. Itu sanggup membuat tuan Nansen berdebar. Pandangan dan sikap Anitha terlihat mencurigai perkataan tuan Nan.


"Saya bukan kamu, wanita boneka yang tanpa perasaan dan tidak peka. Saya pria normal yang punya perasaan tidak enak ketika bawahan spesial saya kenapa-kenapa," ucap tuan Nan bercanda, dan mampu di terima akal Anitha Putri.


"Nan, minta dia meminum teh hangat yang sudah aku buatkan. Dan kau Nan, harus membayar dengan dolar segelas teh hangat ini. Ini teh hangat pertama aku buat untuk seorang wanita," ucap Jeffy penuh candaan membantu tuan Nan dari tatapan curiga Anitha. Anitha tersenyum.


Tuan Nan membantu Anitha duduk bersandar di kepala ranjang. Tuan Nan mengambil segelas teh yang disodorkan Jeffy dan mendekatkan bibir gelas tersebut ke bibir Anitha. Anitha meneguk teh dengan perlahan.


"Terima kasih Tuan, terima kasih Jeff," ucap Anitha tulus.


"Aku tinggal ya Nan, aku lapar. Apa kalian mau aku belikan sesuatu?" tanya Jeffy.


"Aku mau Jeff, aku mau roti," ucap Anitha tanpa sungkan. Jeffy sangat senang dengan sikap Anitha yang mulai terbuka.


"Oke, kamu mau apa Nan?"


"Sama saja dan belikan aku secangkir kopi hitam tanpa ampas." Padahal fasilitas di kamar hotel ada menyediakan. Namun tuan Nan tak bersemangat. Hatinya masih kacau mendengar semua ucapan Anitha dalam tangisan tadi.


Jeffy meninggalkan mereka memberi ruang pada mereka berdua. Tuan Nan menatap Anitha dengan dalam.


"Ada apa? Seperti mau memangsa saja?" tanya Anitha penuh gurauan dan nada ceria terdengar.


"Bagaimana kalau aku memang memangsamu di sini Anitha Putri?" ucap tuan Nan memanggil dengan nama lengkap.


"Jangan panggil nama lengkap, Tuan."


"Kenapa?"


"Hatiku bergetar seolah aku dipanggil paksa," jawab Anitha tak sepenuhnya berbohong. Anitha merasa dadanya bergetar setiap tuan Nansen menyebut nama lengkapnya.


"Ohhh jadi begitu, bagus juga bila ada yang bisa membuat hati kau bergetar. Setidaknya kau tak seutuhnya jadi wanita boneka," olok tuan Nan mencairkan suasana.


"Tuan ini."


"Kau kenapa? Kelelahan?" tanyanya pura-pura tak tahu-menahu.


"Bisa jadi Tuan," elak Anitha dan tuan Nan sudah bisa memprediksikan jawaban Anitha. Anitha tidak akan jujur terhadap apa yang terjadi.


"Bagaimana, pusing tidak?"

__ADS_1


"Tidak Tuan."


"Kamu tidak berbohong? Jika terasa pusing kita ke rumah sakit dulu. Saya tidak mau kau membuat malu besok pingsan di kantor ketika sedang membantu tim audit." Tuan Nansen memberikan perhatian sekaligus olokan agar Anitha tidak merasa didesak.


"Oke Tuan, tidak akan terjadi. Asal tuan memberi aku makanan yang bergizi dan mewah," ucap Anitha meyakinkan tuan Nan sambil tertawa.


"Oke nanti malam saya mengajak kau makan malam sekalian menjumpai relasi bisnisku," kata tuan Nan.


"Apa saya tidak malu-maluin Tuan?"


"Tidak asal kamu membuat wajah dan badanmu fresh. Aku tak ingin sekretarisku dikatakan tidak menarik oleh relasiku."


"Maksud Tuan?"


"Kamu yang akan jadi sekretaris nanti malam sekalian partner makan malam."


"Aku tidak berpengalaman Tuan, dan Helmi mau di ke manakan?"


"Karena ini relasi tidak begitu penting dan berharga bagi saya, saya ingin kamu langsung terjun untuk belajar. Apa kamu akan menyia-nyiakan kesempatan ini?"


"Tentu tidak Tuan, tapi jangan salahkan kalau anda merugi karena punya sekretaris amatiran!"


"Saya sudah bilang ini tidak penting bagi saya. Jadi turun lapangan dan belajarlah."


"Oke Tuan."


"Bagaimana kalau kau mandi dulu dan berendam sebentar, agar pikiran kau fresh dalam belajar kilat pada Helmi."


"Ya!!" kata tuan Nan tegas.


"Apa Tuan takut saya pingsan lagi?"


"Aku bersyukur pikiranmu tidak terganggu karena pingsan tadi. Sehingga kau tidak menuduhku mencari kesempatan dalam kesempitan," ejek tuan Nan.


"Aku bukan wanita penuh curiga tanpa alasan Tuan dan aku juga bukan wanita bodoh!"


"Makanya, mandilah! bawa saja baju gantimu jika kau tidak ingin menggodaku di kamar mewah ini," seringai tuan Nan muncul untuk mengganggu Anitha.


"Jika aku ingin menggoda, di rumahmu aku punya banyak kesempatan Tuan!"


"Bagus juga, aku ingin kau menggodaku dan agar aku bisa menyerahkan satu M itu buatmu. Apakah kau tidak lupa Anitha?"


"Aku tidak lupa Tuan, tapi aku tak akan menggoda dengan cara MURAHAN demi MILIARAN!!" kata Anitha menekan nada murahan dan miliaran dengan senyum mengejek.


"Hahaha aku bisa benar jatuh cinta padamu Anitha," ucap tuan Nan dalam candaan. Namun kata itu jujur dari hatinya yang paling dalam. Dia mengagumi cara pikir Anitha.


"Jatuh cinta saja dalam mimpimu Tuan!" kata Anitha datar. Tuan Nan hanya terbahak.


"Mandilah kalau kau benar tidak pusing dan tak merasa lemah."


Anitha bangkit dari ranjang hotel dan mengambil perlengkapan mandi serta baju ganti.

__ADS_1


"Anda benar mau menunggui saya Tuan?"


"Iya!"


"Saya lama, ingin berendam."


"Tak apa, pergilah. Saya tidak ingin kau pingsan tanpa ada yang tahu. Kesempatan tahu, tidak mungkin datang dua kali."


Anitha pergi mandi dan berendam. Tuan Nan berbaring. Dia mengganjal kepala pada tangan kanannya. Tuan Nan masih mengingat jelas semua perkataan pilu Anitha.


"Ada apa sebenarnya? Tapi sebentar lagi aku mungkin bisa menemui satu titik terang tentang masa lalunya," batin tuan Nan larut dalam penasaran.


Pintu kamar hotel Anitha di ketuk. Tuan Nan beranjak dari kasur. Dia membukakan pintu dan Jeffy memberikan pesanan Anitha dan tuan Nan.


"Mana dia?" tanya Jeffy.


"Mandi."


"Kau tahan menunggu dia mandi?" tanya Jeffy walau mulai tak begitu heran.


"Aku takut dia pingsan."


"Okelah, aku ke kamar." Jeffy pamit.


"Nanti setelah dia aman, aku akan susul ke kamarmu," kata tuan Nan. Dia menutup pintu kembali.


"Kau masih bernapas Tha?" kata tuan Nan sambil mengetuk pintu kamar mandi, dia mulai terbiasa memanggil nama pada Anitha.


"Aman Tuan, saya sebentar lagi selesai." Jawaban Anitha membuat hati tuan Nan lega.


Tuan Nan duduk di sofa dan mulai menyesap kopi hitam. Dia juga menggigit perlahan rotinya. Tak lama Anitha keluar dengan penampilan yang lebih fresh. Tuan Nan senang melihat Anitha sudah lebih segar.


"Makanlah rotimu dan minumlah teh hangat yang sudah saya ganti dengan yang baru."


Anitha tak percaya tuannya mau melakukan ini untuknya. "Terima kasih Tuan, rasa jadi putri sehari aku." Tuan Nan hanya tersenyum lembut menanggapi ucapan terima kasih yang penuh gurauan.


"Saya kembali ke kamar. Saya juga ingin menyegarkan diri."


"Baik."


Malam hari ....


Anitha sudah bersiap, dengan mengenakan baju kerah lebar dan memakai ikat pinggang kecil di pinggang rampingnya. Dia juga sudah memakai make-up.


Anitha jauh berubah karena baju dan make-upnya. Sangat cantik dan bersinar. Tuan Nan sempat terpana karena penampilan Anitha yang drastis.


Tuan Nan dan Anitha memasuki resto mahal tersebut. Walau ada rasa gugup sedikit, namun Anitha bisa menutupi dengan sifat tenangnya. Jeffy dan orang-orang tuan Nan mengambil meja yang berbeda.


Anitha dan tuan Nan menuju meja yang telah di nanti oleh tiga orang. Melihat kedatangan tuan Nan, ketiga relasinya berdiri menyambut. Namun salah satu relasi tuan Nan membuat Anitha membeku. Anitha cepat menguasai diri dan tetap menyambut jabat tangan lelaki yang ikut membeku. Anitha juga tak lupa memperkenalkan namanya. Lelaki itu adalah Sahrul. Lelaki yang membuat hati Anitha hancur berkeping-keping. Membuat hidup Anitha berubah 180 derajat.


"Silahkan duduk Tuan, Nona Anitha," ucap Rekan Sahrul.

__ADS_1


***


__ADS_2