
Anitha telah di bawah oleh Jeffy ke klinik terdekat. Luka tangannya telah dirawat. Kini mereka kembali ke hotel. Saat Anitha telah membuka dan masuk ke kamar hotel Anitha. Jeffy ikut masuk. Tanpa menutup pintu kamar, Jeffy tak ingin Anitha tak nyaman atau tuan Nan yang salah sangka.
"Apa yang terjadi!" tanya Jeffy tegas. Bukan ingin tahu dengan apa yang terjadinya, tapi ketegasan Jeffy mendesak Anitha jujur.
"Kau lihat aku terluka, apa lagi yang ingin kau tahu Kak Jeffy?" Anitha mencoba bercanda di tengah hatinya yang kalut.
"Tak lucu!"
"Aku bukan badut Kak," canda Anitha lagi tetap memanggil kakak. Anitha memanggil kakak bukan untuk bahan candaan. Anitha hanya ingin mempunyai tempat berbagi dengan seorang abang lelaki yang dia tak punya.
"Ada apa sampai tanganmu terluka. Cobalah jujur padaku! Aku tak akan memberikan info ini pada tuan kita," ucap Jeffy mencoba membangun suatu hubungan yang lebih dekat pada Anitha.
Anitha memandang Jeffy penuh keraguan. Di satu sisi dia ingin berbagi di satu sisi dia tidak percaya pada Jeffy.
Jeffy bisa melihat keraguan Anitha di raut wajahnya. "Percayalah padaku, jika kau ingin aku menganggapmu sebagai adik perempuanku maka aku bisa menjadi kakak lelakimu!" tegas Jeffy kembali.
Jeffy diam-diam ingin mencari tahu dengan cara dia sendiri. Jeffy ingin cerita itu keluar dari mulut Anitha. Jeffy merasa ngeri membayangkan apa lagi yang akan Anitha lakukan jika terus-terusan berhubungan dengan Sahrul. Di lain sisi tuan Nan tetap keras menuntut Anitha membuka tabir masa lalunya dengan membiarkan Anitha dan Sahrul terus berhubungan.
"Apa yang mau kau tahu Jeff?" tanya Anitha akhirnya.
"Apa yang membuat tanganmu terluka?"
"Aku meremas gelas minumanku."
"Alasannya?" tanya Jeffy tenang. Dia terkesan tidak ingin mendesak Anitha.
"Aku merasa sangat marah!" Anitha terus menjawab dengan lugas-lugas pertanyaan Jeffy.
"Pada siapa? Atau hal apa?" tanya Jeffy terus dengan sikap tenang. Tepatnya yang Anitha rasakan menenangkan.
"Pada mantan suamiku!"
"Mantan suami? maksudmu?" Jeffy juga salah satu bintang Hollywood yang berbakat.
Anitha kembali menimbang apakah cerita atau tidak. Anitha berniat tidak ingin melanjutkan membahas ini. Sifat keras kepalanya menguasai egonya. Namun Jeffy tidak ingin pembahasan ini berhenti begitu saja.
"Maksudmu tuan Sahrul mantan suamimu?" Jeffy nekat mengajukan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa berkata demikian Jeff?" tanya Anitha memandang Jeffy dengan tajam. Anitha bukan tidak memperkirakan tuan Nan bisa saja sudah tahu siapa dia dan siapa Sahrul. Namun sejauh ini Anitha tak melihat ada yang janggal.
Jeffy yang sudah bersiap dengan pertanyaan Anitha, terlihat santai. "Bukankah kalian cuma makan bertiga? Tak mungkin di Singapura kau bertemu dengan mantan suamimu. Apa suamimu CEO besar seperti bule kawe satu itu?" ucap Jeffy mengolok tuan Nan. Anitha tak tersenyum. Anitha sibuk menilai apa Jeffy mengetahui sesuatu. Jeffy santai seolah tidak tahu apapun.
"Dia bukan CEO seperti tuan Nansen. Bagaimana kalau aku katakan yang mengajak kami makan tadi adalah mantan suamiku?" pancing Anitha.
"Hahahah, kau pandai bercanda atau pikiranmu lagi sakit Anitha." Jeffy sengaja membuat nada begitu tidak masuk akal untuk ucapan Anitha barusan.
"Enak saja kau bilang pikiran aku sakit!"
"Ya bagaimana aku bisa percaya kalau salah satu utusan HS adalah mantan suamimu," ucap Jeffy menyepelekan kata Anitha.
"Hahaha, kau memang pintar Jeff. Bagaimana bisa dia mantan suamiku. Aku inikan cuma dari kampung." Anitha kembali menarik keinginan hatinya untuk jujur pada Jeffy. Jeffy hanya bisa bersabar dengan sifat tertutup Anitha.
"Lalu apa yang membuat tanganmu terluka," tanya Jeffy kembali mendesak Anitha.
"Ufff, kau sama persis seperti tuan Nan. Suka mendesak ingin tahu."
"Karena aku penasaran kenapa bisa tanganmu terluka!"
"Aku mendapat telfon dari mantan suamiku," ucap Anitha, tidak sepenuhnya jujur.
"Aku punya kenangan terburuk dalam hidupku dengan orang yang sangat aku cintai ... aku di telfonnya menanyai kabarku. Dia juga bertanya apa aku ingin kembali padanya. Dia memanggilku dengan nama kesayangan yang diberinya. Dulu aku sangat menyukainya bahkan aku selalu mendambakan dia memanggil dengan nama itu. Aku suka karena dia memanjaiku."
Anitha berhenti bercerita. Jeffy dengan sabar menunggu dan duduk di kursi yang tersedia di balkon kamar tersebut. Air matanya mulai mengalir. Anitha tak bisa menahan untuk tidak bercerita pada Jeffy. Anitha hanya berdiri di pinggir balkon tersebut dan bersandarkan dinding yang mulai terasa dingin karena suhu malam.
"Berjanjilah Kak, jangan ceritakan pada siapapun. Aku percaya padamu. Aku tak kuat lagi Kak. Aku ingin menyerah tapi sebagian hatiku menolak untuk menyerah." Anitha serius memanggil Jeffy dengan sebutan 'Kak'. Anitha ingin percaya pada Jeffy sebagai abangnya.
"Jika kau menganggapku kakak, maka ceritakan padaku. Agar aku bisa membantu mencarikan jalannya," pinta Jeffy lembut. Anitha memandang Jeffy sejenak. Lalu dia memilih duduk di kursi sebelah Jeffy.
"Aku sudah dua kali dikhianati. Apakah aku tidak akan ketiga kali akan merasa dikhianati Kak?" tanya Anitha menuntut Jeffy.
"Aku tahu sulit untuk percaya jika kita sudah dikhianati ... tapi, tidak semua orang penghianat Tha! Jika aku penghianat tidak mungkin aku masih hidup di tangan Nansen Adreyan. Aku awalnya memang tidak menyukaimu, bukan karena apa-apa. Aku hanya tidak mengenal siapa kau. Semakin hari aku mengenal dirimu dan aku ingin membantu seperti adik perempuan saja. Sekarang terserah kau mau bagaimana. Satu yang harus kau ingat. Aku tidak main-main membantumu. Jika itu harus menghianati Nansen sekalipun!"
Lalu Jeffy melanjutkan omongannya, "Tapi tidak urusan perusahaan ya! Jika kau minta aku menghianati Nansen soal perusahaan, aku bisa pastikan dan tegaskan padamu. Aku tak akan berpihak padamu. Karena Nansen membangun perusahaan ini bukan dengan mudah! Banyak keringat yang dia kucurkan bahkan air mata darah yang dia keluarkan. Banyak yang dia korbankan untuk bisa membuat perusahaan ini jadi berskala internasional!" kata Jeffy penuh ketegasan.
Anitha yang mendengarnya menjadi terbuka sedikit pintu hatinya untuk mempercayai kembali seseorang. Dia tidak minta perusahaan tuan Nan. Jadi Jeffy tidak harus berkhianat pada tuan Nansen. Anitha hanya meminta perlindungan dari Jeffy.
__ADS_1
Kini yang Anitha bingungkan dari mana dia harus memulai cerita. Anitha hanya bisa mendehem kecil.
"Jika kau masih bingung, aku tak akan mendesak. Aku hanya ingin tahu kau kini tidak sendiri lagi. Ada aku, dan yang harus kau tahu ada Nansen yang selalu ada untukmu!" ucap Jeffy ingin mengarahkan perhatian Anitha pada perhatian tuan Nan yang tidak bisa disadari Anitha.
"Tuan Nan?" tanya Anitha tak percaya.
"Iya, Nansen Adreyan yang kau katakan sombong itu. Coba kau perhatikan dia, dia tampan dan juga penuh perhatian padamu. Apa hanya kesombongannya yang dapat kau lihat jelas?"
"IYA BENAR, HANYA ITU YANG BISA AKU LIHAT!" kata demi kata penekanan terucap oleh Anitha. Anitha berbohong, padahal Anitha memang mulai menyadari, ada yang berubah dari perilaku tuan Nan.
"Itu karena hatimu hitam! Kau tak mau memberikan lampu pada hatimu," ucap Jeffy mengingatkan Anitha.
Tanpa Anitha sadari satu sosok telah berdiri di belakang mereka. Berbeda dengan Jeffy yang sudah terlatih untuk memata-matai orang. Jeffy menyadari ketika mendengar pintu kamar Anitha ditutup walau dengan gerakan perlahan.
"Apa kalian begitu senang bergosip di belakangku?" nada yang dingin terdengar. Anitha langsung terjengkit dan berdiri menghadap tuan Nan. Jeffy tahu nada itu hanya mengganggu Anitha.
"Apa tuan memang manusia JELMAAN! teriak Anitha kesal. Walau Anitha terkejut namun mulutnya tetap bisa berteriak mengatai tuan Nan. Membuat Jeffy tertawa geli.
"Jika tak ada yang kau kerjakan, kau boleh kembali ke kamarmu dan beristirahat Jeff," usir Nan terang-terangan. "Aku masih ingin menatar sekretaris gadunganku ini yang selalu lari dari jamuan makan relasiku," lanjut tuan Nan.
"Baiklah, jangan terlalu keras dengan sekretaris yang bekerja tanpa tahu gajinya berapa. Jika dia sekretaris gadungan kau juga bos gadungan," ucap Jeffy berdiri dan melangkah keluar kamar Anitha.
"Ohh ya satu lagi Nan, jangan lupa suruh wanitamu ini minum obatnya, agar lukanya tidak infeksi. Cukup hatinya saja yang infeksi!" olok Jeffy yang mendapat pelototan tajam Anitha.
"Awas kau Jeff!" Anitha tak puas hanya melotot Jeffy.
"Kau yang harus hati-hati, jangan sampai kau jadi hantu cantik di negara orang ini karena lompat dari balkon hotel." Jeffy lalu hilang dibalik pintu kamar hotel. Anitha yang berada dekat ke pinggir balkon saat terjengkit tadi menjadi terkejut mendengar ucapan Jeffy. Anitha langsung bergeser dan menabrak dada bidang tuan Nan yang bergerak maju hendak duduk di kursi bekas Jeffy duduk.
"Apakah kau begitu ingin menghempas diri ke pelukanku sayang," goda tuan Nan hilang sudah nada dinginnya.
"Iya Tuan. PUAS?" ucap Anitha mengambil posisi duduk di bangkunya tadi. Tuan Nan merasa hatinya sedikit lega melihat Anitha tidak lagi dingin. Namun nadanya masih datar tanpa ada rasa lebih.
"Apa tuan ingin bertanya kenapa tanganku berbalut kain kasa putih ini?" tanya Anitha sambil mengunjukkan tangannya.
@@@
Kira-kira apa ya yang akan dilakukan Nansen Adreyan??
__ADS_1
Namun menunggu Nasen ngapain, bolehlah ya ... ya ... tinggali like cantiknya 😊
👀😍