
Malam hari di sebuah apartemen ... Liam dan Allea telah menikah satu tahun lalu. Kini Allea sedang hamil 7 bulan. Tuan Nan mengontak Liam mengabarkan ingin bertamu. Liam dan Allea menyambut suka cita, apalagi mendengar Anitha ikut bersama tuan Nan. Liam menyarankan untuk makan bersama di apartemennya. Selama ini hampir tak ada yang bertamu ke sana.
"Halloo Mbak ...." Sapa riang Anitha. Saat telah bertemu Allea.
"Hallo Anitha, wow kamu tambah cantik saja." Puji Allea.
"Hehehe, Mbak juga walau agak gendut," ucap Anitha lucu saat menyebut gendut.
"Awas kamu ya, besok Mbak balas kamu," ucap Allea. "Kenalkan ini suami Mbak, Liam."
Mereka bersalaman disusul tuan Nan yang menyalami Allea dan Liam.
Allea telah menyediakan makan malam walau semua sistem pesan. Bukan makannya yang jadi prioritas, tapi silahturahmi yang jauh lebih baik sejak pasangan itu memutuskan bercerai.
Mereka duduk di sofa tamu apartemen Allea. Cemilan dan minuman telah di letakkan oleh Allea. Allea lalu duduk dibantu oleh suaminya. Perut Allea yang semakin besar membuat dia sulit bergerak.
Mereka bercengkerama dan Allea bertanya kisah Anitha kabur dari tuan Nan. Allea bercerita bagaimana tuan Nan dan Jeffy datang padanya dan menuduh dia menyembunyikan Anitha. Anitha tertawa dan menyempatkan mengucapkan kata maaf pada Allea.
Anitha juga menceritakan dengan singkat bagaimana dia lari dan datang sendiri kehadapan tuan Nan. Kini gantian Allea yang tertawa. Para pria mereka hanya memperhatikan dan menikmati tawa pasangan masing-masing.
Sejak Anitha kembali pada tuan Nan, Allea memang kerap bertanya kapan Anitha bisa mengunjunginya.
"Jadi kapan kamu akan menikah An? Apa kamu tak ingin memberikan pria berumur itu keturunan?" tanya Allea telah berani menyindir tuan Nan. Kini tak ada sifat kaku tuan Nan pada Allea begitu sebaliknya.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan Mbak?" Walau pertanyaan ditujukan ke Allea. Namun lirikan matanya dilayangkan pada tuan Nan.
"Kamu jangan pesimis dululah sayang, belum tentu dulu dan sekarang sama. Tingkat stres juga bisa mempengaruhi terlebih kembali pada rezeki kita yang telah diatur Nya." Allea serius menerangkan pada Anitha. Allea bisa melihat betapa tuan Nan sangat mencintai Anitha. Anitha kembali melirik tuan Nan, yang dilirik mengangguk setuju.
"Kalau bisa sudah Mbak lahiran ya, cukup kamu saja yang tidak datang di resepsi pernikahan Mbak." Ada nada kecewa di dalam perkataan Allea.
"Maafi aku Mbak, aku masih seperti kincir angin kemarin."
"Makanya, kami akan usahakan hadir di resepsi kalian."
Allea dan Liam mengajak makan malam. Saat para pria berbicara bisnis sedikit, Anitha dan Allea membahas hubungan kasih Anitha pada tuan Nan. Banyak hal yang mengganjal di hati Anitha yang dia luahkan pada Allea. Allea ibarat kakak yang sabar memberi solusi.
"Aku belum merasa sepadan dengannya Mbak, maka aku terus berusaha dulu. Agar layak di mata keluarganya."
__ADS_1
"Jadi itu kenapa kalian belum melangkah juga ke jenjang perkawinan?" tanya Allea.
"Iya Mbak. Mbak juga tahukan, bagaimanapun dia keturunan bangsawan. Jika hanya kami berdua, memang terlihat menyatu. Namun belum tentu dengan keluarganya." Anitha menyampaikan terus terang ketakutan dia diam-diam.
"Tak perlu takut, itu karena kamu belum mengenal orang tuanya. Mereka orang-orang yang berpikiran terbuka. Apalagi kamu sekarang, walau bukan keturunan konglomerat, kamu wanita karier dan berpendidikan tinggi. Kamu juga cantik, kamu juga baik. Apalagi yang kurang bagi ayah dan ibunya untuk menerima kamu sebagai menantunya. Percayalah pada Mbak," ujar Allea meyakinkan Anitha. Anitha hanya angguk-angguk separoh melamunkan kata Allea.
"Kamu tidak menyampaikan ini pada Nansen?" tanya Allea.
"Tidak Mbak, belum tepatnya."
Ternyata tak sia-sia tuan Nan mengajak Anitha menjumpai Allea. Setidaknya satu hal penting yang terpendam dan mengganjal kemajuan hubungan mereka telah dapat gambaran bagi Anitha.
Mereka kembali bergabung di ruang tamu bersama para prianya.
"Mas, maaf bukan aku ikut campur. Sebaiknya kamu mulai mengenalkan Anitha pada orang tuamu, biar kamu bisa memiliki Anitha seutuhnya." Allea sengaja melakukan itu.
"Anitha yang belum mau," jawab tuan Nan. Tuan Nan memang pernah mengajak Anitha, namun Anitha selalu mengelak dengan halus. Tuan Nan tak mau Anitha terbeban makanya dia tak pernah lagi mengajak Anitha sampai Anitha yang siap.
"Mudahan besok sudah mau itu, yakan Anitha?" Anitha hanya tersenyum. Mereka lalu pamit pulang. Tuan Nan mengajak Anitha mengelilingi pusat kota Singapura.
Sepulang dari Singapura, pembahasan hubungan mereka ada kemajuan. Anitha bersedia di perkenalan setelah dia menyelesaikan ujian kuliahnya di akhir semester ini.
Apalagi sejak Anitha telah menyelesaikan sidang perceraiannya dengan Sahrul. Sahrul tak bisa menolak ketika tuan Nan menekan dengan berjanji tidak akan memperpanjang dan melalui jalur hukum masalah kecurangan yang dilakukan bawahannya adalah menjadi tanggung jawabnya.
Sahrul akhirnya mengalah dan melepaskan Anitha dengan berat hati. Tuan Nan membuat seolah-olah Anitha terpaksa menerima tuan Nan demi melepaskan Sahrul.
Sahrul juga telah tahu bagaimana Anitha membalas sakit hatinya pada Ajeng dan adiknya sendiri. Sahrul tak menyalahkan Anitha. Sahrul benar-benar telah berubah. Cintanya buat Anitha selalu ada. Apalagi dia tahunya Anitha menyelamatkan dia dari jeratan hukum. Namun Sahrul tetaplah Sahrul dengan gelar lelaki sangat egois. Sahrul secinta apapun dia pada Anitha, namun rela menukar cintanya demi tidak masuk penjara. Tanpa dia sadari, semua hanya rekayasa tuan Nan.
@@@
Gedung Utama PT NAS ....
Tuan Nan sedang memperhatikan laporan yang dikirim oleh manager pemasaran. Perhatian tersita saat mendengar pintu diketuk dan belum sempat dia menjawab seraut wajah yang selalu dirindukannya masuk. Hanya dia dan Jeffy yang berani masuk tanpa menunggu jawaban.
"Kenapa wajahnya seperti gunung api yang mau meletus gitu?" tanya tuan Nan pada Anitha yang menahan emosi. Tuan Nan berdiri dari singasananya.
Dengan langkah tenang dia menyusul Anitha yang telah duduk di sofa. Dia ikut menghempaskan bokongnya di samping Anitha. Anitha memang meminta izin untuk urusan kampusnya.
__ADS_1
"Aku kesal, sakit hati." Anitha mulai mengadu pada kekasihnya. Semakin ke sini sikapnya lebih terbuka pada tuan Nan.
"Sama siapa?" tanya tuan Nan dengan sabar dan memegang lama dahi Anitha. Tuan Nan suka melakukan itu jika Anitha mulai uring-uringan. Dia sebenarnya mengolok Anitha, mengatakan jika panas hati Anitha telah menjalar sampai ke kepalanya.
Tuan Nan tahu, Anitha akan semakin kesal dan naik darah. Namun dia tetap suka mengganggu Anitha. Nansen yang dulu seakan hilang di balik perceraiannya dengan Allea. Tak ada Nansen berwajah datar dan kaku pada pasangannya.
"Apaan lagi nih!" Anitha berniat menepiskan tangan kokoh tuan Nan.
"Apa ada yang harus kanda singkirkan?" tanya tuan Nan dengan bergurau.
"Iya, aku ingin dosen menyebalkan itu membayar waktuku yang dia persulit." Tuan Nan mulai ikut terpancing emosi. Dia tahu yang dimaksud Anitha adalah dosen yang menaruh hati pada Anitha.
Anitha jujur pada tuan Nan saat dosen tersebut menyatakan perasaannya dan Anitha menolak tegas. Sejak itu setiap tugas mata kuliahnya, Anitha selalu dipersulit. Anitha bisa saja mengganti dengan mata kuliah lain, tetapi menurutnya itu membuang waktunya. Anitha bertekad merampungkan tesisnya dalam waktu dekat. Anitha ingin bertemu calon mertuanya.
"Aku sebenarnya ingin jadi wanita yang lembut,namun mereka semua seolah tak senang jika aku jadi wanita baik-baik. Aku tak pernah mengganggu hidup mereka, mereka selalu mengganggu hidupku. Aku tak ingin menggunakan kekuasaan, tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan supaya mereka tak menghambat langkahku." Akhirnya gunung itu memuntahkan laharnya juga.
Hari yang panas dan cuaca yang panas, membuat seorang Anitha Putri terbakar. Hati tuan Nan yang tadinya mulai terbakar emosi malah redam melihat kekasihnya mengomel layaknya emak yang lagi marah. Dia menahan agar tak tersenyum. Anitha bisa salah paham jika dia memberikan senyum manisnya.
"Kita suruh Jeffy yang urus?" tanyanya serius.
"Iya suruh Jeffy saja yang urus, aku capek dan bosan diganggu!"
Tuan Nan memanggil Jeffy ke kantor. Menjelang menunggu Jeffy sampai di kantor, tuan Nan berusaha melembutkan hati Anitha.
"Apa kita makan siang dulu?" tanya tuan Nan sambil memegang bahu Anitha.
"Aku tidak selera sebelum nilai tugasku dikeluarkan dosen ganjen itu," Anitha masih saja tidak puas hati.
"Dinda tak percaya untuk hal sepele begini? Masalah kecil itu cuma. Jangankan hanya nilai yang keluar, nyawa dia bisa kanda buat keluar dari badannya!" Tuan Nan berkata serius.
"Jika boleh membunuh satu hari satu orang, maka aku akan menyuruh kanda membunuh dia yang pertama." Anitha bedecak kesal.
"Ayolah kita kencan buta di siang hari Kanda, biarin Jeffy yang kesal menanti kita di sini," ajak Anitha tiba-tiba berubah jahil. Tuan Nan hanya bisa menahan gemas hatinya. Namun tak urung dia mengikuti kemauan Anitha.
"Boleh, tapi setelah itu, bantu kanda memeriksa berkas laporan-laporan itu ya." Tuan Nan menunjuk berkas yang masih terlampar di atas mejanya.
"Oke, nanti kita lembur." Anitha telah lupa pada rasa kesalnya. Merekapun melangkah beriringan setelah tuan Nan menitip amanat pada sekretarisnya.
__ADS_1
@@@
Ayoo siapa yang bisa membayangkan wajah kesal Jeffy saat buru-buru diminta datang, malah yang minta pergi kencan mesra. 😤😤😂