Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Memulai Program


__ADS_3

Jika ayah dan ibu tuan Nan telah bertolak ke negaranya, Anitha, tuan Nan dan Jeffy serta istrinya bertolak ke Singapura. Mereka ingin memulai program bayi tabung.


Awalnya Jeffy menolak diajak untuk berobat atau hanya sekedar menjalani pemeriksaan kesehatan dia dan istrinya.


Anitha berkeras dengan meminta tidak menunda lagi. Semenjak tuan Nan tertembak, Jeffy hampir tidak membiarkan tuan Nan ataupun Anitha tanpanya. Oleh sebab alasan itulah, Anitha mengajak. Akan sulit mencari waktu jika Jeffy ingin pergi sendiri.


Anitha memang jagonya memaksa dengan halus. Dia beralasan akan merasa bersalah sepanjang hidupnya, karena dia dan tuan Nan merenggut kehidupan istrinya Jeffy secara tidak langsung.


Kini mereka berempat telah di ruang tunggu dokter spesialis kandungan. Harri menunggu di lobi rumah sakit.


"Silahkan Nyonya," sapa seorang perawat dalam bahasa melayu ketika dokter telah datang. Anitha mendapat giliran pertama karena telah membuat temu janji dan istri Jeffy giliran kedua.


Setelah berbasa-basi, dokter meminta anitha berbaring untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum menjadwalkan program kehamilan.


Dokter mulai memeriksa dan tersenyum hangat pada Anitha. Tuan Nan melihat itu merasa cemburu. Padahal dia yang memilih dokter. Dia lebih percaya pada dokter pria untuk program kehamilan kali ini.


Dokter berkata, "Ok." Lalu kembali ke meja kerjanya. Setelah Anitha menyusul, dokterpun berkata, "Selamat Bu, Pak. Ibu tidak jadi untuk program bayi tabung. Ibu lagi hamil 8 minggu."


"Benarkah Dok?" tanya Anitha tak percaya.


"Iya, apa Ibu tidak ada merasakan tanda-tandanya?"


"Tidak Dok. Hanya saja, karena sesuatu hal, saya melupakan jika saya belum mendapatkan siklus bulanan."


Anitha karena larut dalam kesedihan kemarin, tidak mengingat jika dia belum mendapat siklus bulanannya.


"Jadi Dinda sudah hamil saat kita mengajak ibu ke sini kemarin Kanda." Anitha penuh haru.


Tuan Nan hanya mengangguk juga penuh haru. Apa yang dinantikan akhirnya dia mendapatkan.


Dokterpun meresapkan vitamin. Anitha keluar setelah mengucapkan banyak terima kasih pada dokter. Anitha mengucapkan syukur yang dalam.


Jeffy tak sempat menanyakan, karena kini giliran dia dan istrinya.


Tuan Nan dan Anitha menunggu Jeffy di lobi rumah sakit. Pembayaran akan dilakukan oleh Jeffy.


"Sayang, Kanda seperti mimpi," ucap tuan Nan penuh kebahagiaan. "Aduh sakit Dinda." Lanjutnya kembali bersuara.


"Nah, jadi tidak merasa mimpi lagikan?" kata Anitha usai mencubit pinggang suaminya.


Tuan Nan tak henti-henti mengucapkan syukur dan berulang kali mengecup pipi istrinya. Hingga satu suara menganggu mereka. "Sudah tua, baru tidak tahu malu kamu Mas!"


Anitha dan tuan Nan serempak menoleh mendengar suara yang mereka kenal. "Heeii Mbak, apa kau cemburu padaku?" kata Anitha bercanda. Anitha juga melihat Liam di samping Allea sambil menggendong balita lelaki mereka.


"Kenapa tidak ada kabar setelah berita duka itu?" tanya Allea pada Anitha.

__ADS_1


"Aku kemarin sempat terpuruk Mbak bahkan merasa seperti putus asa. Aku tidak peduli dengan lingkunganku sebulan lebih."


"Ohh, lalu ... apa ada kabar bagus?"


"Iya Mbak, aku ingin program bayi tabung. Alhamdulillah Allah kasih kebahagiaan dibalik kesedihan ini."


"Alhamdulillah. Mbak tak mau tanya dulu berapa bulannya. Takut pamali kata orang kami."


"Ohhh, aku sebenarnya tidak percaya begituan Mbak, namun bagusnya kita rahasiakan saja dulu," senyum bahagia mereka saling tercipta.


"Mbak ke sana dulu ya, mbak mau periksa buah hati kami yang kedua." Tunjuk Allea pada perutnya yang masih terlihat datar.


"Wah lancar produksi kelihatannya."


"Mbak doakan, kau juga lancar setelah ini."


Ketika para wanita ini berbincang, Liam dan Tuan Nan juga berbincang. Mereka berbicara tentang bisnis.


Hingga satu suara masuk ke gendang telinga masing-masing. "Akhirnya pasangan sakit ini reunian di rumah sakit."


Tuan Nan memukul bahu Jeffy. Tuan Nan merasa sungkan pada Liam.


"Tidak usah di dengar Ko Liam, manusia monokotil ini yang sakit. Untung masih ada gadis cantik yang mau dengannya." Anitha membalas sindiran Jeffy. Semua hanya memasang senyum manis.


"Mulutmu masih saja tajam sayang. Namun nanti jaga-jaga, mbak khawatir menular ke bayimu," kata Allea membuat Jeffy memandang dalam pada tuan Nan. Tuan Nan mengangguk yakin.


"Apa kata dokter Jeff?" Jeffy kalah cepat dengan Anitha.


"Dokter mengatakan tidak ada apa-apa. Jangan stres dan terlalu capek saja. Intinya tak ada masalah apapun."


"Apa Mbak Ning stres karena Jeffy hampir tak ada waktu untuk Mbak?" tanya Anitha merasa bersalah.


"Tidak kok Bu," jawab pelan wanita lembut tersebut. Ningsih istri Jeffy memang tidak banyak tuntutan. Dia awalnya juga tahu, Jeffy menikahinya karena dia wanita yang tepat untuk Jeffy, dengan profesi Jeffy sebagai bodyguard.


"Jangan panggil Bu, panggil Anitha saja. Aku sudah menganggap Jeffy sebagai kakakku."


"Baiklah Dik Anitha," katanya dengan polos. Dia menukar panggilan pada Anitha.


"Jangan banyak pikir Tha. Kami tak pernah merasa terbebani. Jika aku terbebani, aku bisa saja mundur dari pekerjaan ini dan mencoba membuka usaha."


"Benarkah?"


"Aku sudah terlatih dari kecil menjaga si datar sombong ini. Sehingga mendarah daging di tubuhku."


"Banyak cerita. Ayo kita makan, bayiku pasti lapar." Tuan Nan dengan bangga memamerkan pada Jeffy dan Harri.

__ADS_1


"Bukan bayimu, mak bayimu yang suka kelaparan." Anitha mendelik mendengar kata Jeffy.


"Kanda kira karena sariawan hari itu, ternyata selera Dinda bertukar."


"Sepertinya dia ikut selera papanya."


"Iya, anak siapa dulu. Kandakan sudah bilang buat Nansen junior dulu."


"Sttt jangan pamer kemesraan, nanti mbak Ning iba hati." Anitha berbisik kecil. Tuan Nan spontan melihat Ningsih dan beralih ke Jeffy. Mereka jadi menyadari jika mereka yang jadi objek cerita.


"Ada apa?" tanya Jeffy yang lebih aktif.


"Tak ada," jawab Anitha ragu.


"Jika kalian menimbang perasaan aku atau istriku, jangan risau. Istriku bukan orang perasa seperti kau Tha." Anitha cemberut. Jika tak ada Ningsih ingin dia menyerang Jeffy.


"Jadi sudah berapa usia kehamilanmu?" tanya Jeffy kembali. Mereka telah menuju ke arah restaurants.


"Rahasia ... kata mbak Allea pamali," ucap Anitha hanya ingin membalas Jeffy. Terbukti Jeffy mengedumel.


"Pandai main rahasia sekarang."


"Siapa yang ngajari. Masa bisa Kanda dibohongi bertahun-tahun." Anitha berkelakar memanasi suaminya.


"Usah jadi provokator bisa tidak!" sewot Jeffy. Tuan Nan hanya tersenyum melihat Anitha yang selalu berhasil membuat Jeffy menahan hati kesal.


"Karena ada mbak Ning, bisa deh. Itu artinya mbak Ning pelindungmu. Jadi baik-baik jaga hati mbak Ning, seperti Kandaku jaga hatiku."


Walau dengan nada bercanda, namun tepat menikam hulu hati Jeffy. Jeffy hampir sama acuh dengan Nansen saat bersama Allea. Bedanya Ningsih begitu merasa bersyukur ada yang memberinya perlindungan dan tempat tinggal.


Ketika masuk ke restaurants, tuan Nan berbisik pada Jeffy, "Jangan katakan kau seperti aku saat bersama Allea?"


"Kau banyak bicara sekarang sejak dengan wanita menyebalkan itu!"


"Walau begitu hidupku berwarna. Aku sudah tahu bagaimana rasa hidup dengan wanita penurut dan monoton." Masih dengan berbisik dia mengolok Jeffy. Akhirnya tawa puas hadir di bibir indah tuan Nan.


"Nanti kasih tahu ya apa yang Kanda tertawakan. Aku sangat penasaran."


"Sekarang saja sayang," ucap tuan Nan. Lalu dia berbisik dan Anitha ikut melemparkan pandangan mengejek.


"Terus saja kalian mengolokku. Harri apa kau masih tahan bekerja dengan manusia berdua ini ketika kau menikah nanti." Perkataan Jeffy lebih berupa pernyataan. Dia mengalihkan topik. Harri hanya angkat bahu.


"Kau lihat Ning, makanya aku tak mau mengajak kau sering berdekatan dengan mereka, terutama wanita satu ini. Aku takut kau meniru dia dan menghilangkan sifat polosmu yang aku suka."


Ningsih merasa bersenang hati dengan ucapan Jeffy. Tiga tahun membangun rumah tangga, tidak membuat Ningsih tahu bagaimana perasaan Jeffy sebenarnya.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita makan. Aku tak ingin merusak kepolosan mbak Ning," ajak Anitha dan Sempat-sempatnya dia mengenakkan Jeffy.


***/


__ADS_2