Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Rembulan Malam


__ADS_3

Malam berbisik pada rembulan, meminta rembulan memperlihatkan wajah pada penduduk muka bumi. Rembulan keluar dari peraduan dengan malu-malu. Semalu wanita yang baru menjadi ratu sehari.


Anitha terus digoda oleh tuan Nan. Bisik-bisik selalu memesrai telinga. Mereka berempat menjadi penghuni suatu kafe tak jauh dari hotel. Tidak hanya Harri kena korban titah dari tuan Nan. Jeffy terdengar merutuk kesal, harus jadi korban saat dirinya ingin memanjakan lamunannya.


"Bisa tidak kalau malam ini tidur Tha?" kata Jeffy memang bisa menyampaikan apapun katanya.


"Kok aku saja yang ditanya? Suami tercinta aku ini tidak?" kata Anitha sambil menepuk pundak suaminya.


"Kamu yang membawa Nansen keluar pastinya. Pria kaku ini dulu mana pernah menikmati udara malam."


"Kau harus bayar denda Jeff, aku hanya bilang lapar tapi tuan tampan romantis ini yang mengajak aku. Benarkan Kanda?"


Tuan Nan mengangguk, dan tangannya mengelus sayang puncak kepala Anitha yang telah ditutupi jilbab.


"Sudah Jeff. Kau coba contoh Harri, tak banyak mengeluh ketika kami minta."


"Kau tidak tahu saja, hati siapa tahu?" Lirik Jeffy pada Harri. Harri mendelik tajam pada Jeffy yang membalas dengan terkekeh.


"Dia pria ikhlas Jeff, tidak sepertimu. Pria penuh perhitungan," olok Anitha membuat Jeffy bertambah merutuk.


"Kau wanita menyebalkan Tha. Dari awal aku kenal saja sudah menyebalkan." Balas Jeffy sengit sendiri.


"Aku akui. Tapi bagi suamiku aku wanita menyenangkan, benarkan Kandaaa?" Anitha sengaja memanjangkan panggilannya.


"Tentu iya, mata Nan katarak. Tidak bisa melihat jelas jika kau wanita menyebalkan."


"Terserah, yang penting kau sayang pada kami berdua," hibur Anitha. Anitha tak ingin membuat Jeffy menahan kesal hati lebih lama.


Jika dulu, Jeffy dan Harri melihat perang mulut antara Anitha dan tuan Nan. Sekarang tuan Nan dan Harri yang harus melihat mereka perang mulut.


Bagi tuan Nan, inilah cerita indah dalam hidupnya yang dulu kaku. Allea yang elegan tidak akan seperti Anitha yang ceplosan.


Anitha melahap sepiring mihun goreng lengkap dengan minuman lemon tea. Tuan Nan hanya minum kopi espresso. Tuan Nan memang tidak terbiasa makan larut malam. Jeffy dan Harri juga ikut makan, mie goreng dan mie tiaw.


Tuan Nan asyik melihat istri tercintanya menikmati makannya. Sesekali Anitha menyuapkan mihun tersebut pada tuan Nan. Tuan Nan menerima suapan dengan senang hati.


"Bisa tidak jangan bermesraan di depan orang, tak baik," Jeffy mulai melontarkan bola apinya.


"Memang kau orang Jeff?" tanya Anitha tanpa bersalah saat mulutnya tidak terisi makanan. "Kalau depan Mahkluk tanpa jiwa tak apa unjuk kemesraan, tidak menimbulkan dosa. Karena kau pasti tidak iri," perang kembali di mulai.


"Makhluk tanpa jiwa? Kalau wanita tak berperasaan, ngomong saja mengerihkan apalagi sikapnya nanti Nan." Jeffy mengalihkan ke tuan Nan.


Anitha tak menjawab dia kembali menyuap mihun gorengnya. "Aaak Kanda, biar jiwa Jeffy meronta," katanya meminta tuan Nan buka mulut dan menyuapkan sekali lagi.


Namun sebelum menerima suapan Anitha, tuan Nan berbisik mesra pada Anitha, "Bukan jiwa Jeffy sayang, tetapi jiwa Kanda. Kanda begitu ingin mencicipi milik kanda ini."


Blussshhh .... pencahayaan ruangan kafe cukuo terang. Tidak hanya tuan Nan yang melihat pipi polos Anitha berubah seperti menggunakan pemerah pipi, Jeffy juga melihat. Pemandangan yang baru bagi mereka. Membuat Jeffy bersemangat membalas Anitha. "Apa makananmu pedas Tha? Sehingga pipimu memerah?"


"Mulutmu yang pedas Jeff," balas Anitha. Tuan Nan tergelak. Karena mulutnya masih berisi, dia tersedak.


Anitha cepat menggosok punggung suaminya dan memberikan air mineral. "Makanya, Kanda kalau lagi ada makanan dalam mulut, jangan tertawa." Anitha mengomel. Tuan Nan meneguk.

__ADS_1


"Sudah gak apa sayang?" tanya Anitha penuh perhatian. Tuan Nan tidak sabar rasanya ingin menerkam istri uniknya ini.


Tuan Nan kembali berbisik dengan sensual, "Tak apa sayang, tapi perasaan kanda apa-apa sayang."


Buuughh .... Anitha memukul punggung suaminya. "Ngomong lagi? Dinda potong kesenangan Kanda nanti di kamar hotel!" Walau dia berbisik, nadanya begitu tegas dan penuh ancaman.


Bukan Anitha namanya, jika harus ditindas dan diusili lama-lama. Ancaman mautnya bisa memberhentikan gangguan tuan Nan.


"Okelah sayang, Kanda mengalah." Tuan Nan berkata dengan nada memelas. Anitha tersenyum penuh kemenangan. Anitha sangat pandai membaca situasi. Kelebihan suaminya dia jadikan sekaligus sebagai kelemahan suaminya.


Jeffy dan Harri tersenyum penuh arti. Inilah yang membuat mereka senang. Banyak kesenangan saat bersama tuan Nan dan Anitha di luar kantor. Bagi Harri yang yatim piatu dia merasa seperti di tengah keluarga. Harri juga bisa melihat bos besar yang di hormatinya, tak berdaya di samping Anitha.


"Ayo kita pulang, hari makin larut. Titik embun sudah mulai banyak turun," ajak tuan Nan. Bukan titik embun saja yang mulai terbit, titik gairah tuan Nan juga semakin terbit seiring bertambah dinginnya udara.


Di kamar hotel ....


Anitha mencuci mukanya, mencuci tangan dan kakinya. "Kanda cuci mukanya dulu ya, tangan sama kaki juga."


"Oke," tak ada bantahan. Demi memiliki cintanya dan cinta Anitha.


Sepasang insan berlainan jenis itu, dengan perasaan sama, tujuan sama dan keinginan sama kuat, masuk ke dalam selimut.


Hanya mereka berdua apa yang tahu terjadi di dalam sana. Tidak hanya hati dan jiwa yang menyatu, tetapi apa yang harus bersatu kini telah bersatu pada tempatnya. Membuat suhu yang dingin menjadi panas. Menciptakan titik peluh dan menghilangkan titik gairah pasangan sah ini.


"Terima kasih sayang," ucap tuan Nan.Suaminya tidak langsung melepaskan pelukan. Walau suhu udara meningkat dan dia merasa panas.


Anitha merasa terharu. Anitha merasa sangat dipuja. Tuan Nan tidak melepas pelukan dia begitu saja, setelah Anitha memberikan hak tuan Nan sebagai suami Anitha.


Tuan Nan tak bisa menahan tawanya, dia ingin menahan, akan tetapi bahasa Anitha dan cara Anitha mengatakan, selalu menggelitik hati tuan Nan.


"Dinda serius, Kanda malah tertawa."


"Maaf sayang. Kanda tidak tahan dengar bahasa dan cara penyampaianmu itu. Hati kanda selalu seperti Dinda gelitik."


"Ohhhh."


"Kalau Kanda tuangkan lagi dahaga kanda, Dinda mau tidak?"


"Demi Kanda, cinta kasih Kanda ... dinda mau ... tapi mau pingsan," ucap Anitha cemberut.


Tuan Nan tergelak di tengah malam sunyi, bahunya ikut berguncang yang dijadikan Anitha bantal kepalanya.


"Okelah, kita sampai di sini saja ya sayang."


"Iya, tapi ayo kita mandi atau setidaknya berwudhu," ajak Anitha. Anitha memang selalu melakukan rutinitas itu dulu saat bersama Sahrul.


"Mandi malam gini sayang?" tuan Nan seperti keberatan.


"Iya, kenapa sayang?" tanya Anitha.


"Nanti kena penyakit mandi malam."

__ADS_1


"Ini sudah jam dua malam sayang, justru bagus untuk badan. Badan bisa segar dan awet muda," jelas Anitha.


"Dinda sering melakukan ini?"


"Hemm, begitulah. Tidakpun Dinda punya suami, dinda selalu usahakan mandi sebelum camar melayang."


"Ohhh ya? kira kanda saat bersama dia saja," ucap tuan Nan. Ada nada cemburu terselip di hatinya. Dia lupa jika juga punya masa lalu sendiri.


"Tidak, dulu ayah sering berkata, jika ingin pikiran cerdas hati terbuka dan badan segar maka mandi sebelum camar melayang."


"Ohhh ...."


"Dinda seperti mencium bau sesuatu Kanda."


Tuan Nan yang merasa siap berkeringat, mencium lengan yang tidak di tindih Anitha. "Walau badan kanda siap berkeringat, kanda tidak mencium bau lain selai bau cologne kita yang bercampur," ujar tuan Nan serius.


Anitha memutar posisinya, tadinya menelentang, kini dia membalik menghadap tuan Nan dan berbisik di telinga tuan Nan, "Dinda mencium bau cemburu."


Tuan Nan sadar jika dia di kerjai Anitha. Dia bangkit, Anitha kembali ke posisi semula dan tuan Nan langsung memerangkap istri manjanya. Mata tajam tuan Nan menyapu lembut wajah dan manik mata Anitha. Anitha tiba-tiba dilanda kabut gairah. Anitha merasa aliran darahnya tersengat listrik.


Tuan Nan bukan saja lelaki dewasa, tuan Nan juga lelaki berpengalaman. Walau Anitha juga berpengalaman, namun Anitha kalah pengalaman dengan tuan Nan. Tuan Nan tahu apa yang diminta oleh bahasa tubuh istrinya.


"Sepertinya kita harus berolahraga dan menciptakan sumber air sekali lagi untuk memadamkan api ini sayang," ucap tuan Nan tidak lagi meminta persetujuan istrinya. Baginya cukup bahasa tubuh dari pada bahasa verbal istrinya yang bisa saja berkelit.


"Jangaan lupa doa berikutnya," bisik Anitha saat misi hampir mendekati target. Anitha tak ingin ladangnya ditaburi benih tanpa doa. Anitha tak ingin setan berpesta pora menempeli benih yang akan ditanam. Ini doa ke tiga ketika mereka mulai mengulang lagi menjalankan misi keduanya.


"Iya sayang, kanda tidak lupa," bisik tuan Nan tanpa mengentikan aktifitasnya.


Tuan Nan kembali mendapatkan perbedaan dari pernikahan pertamanya. Dulu Allea hanya menerima tanpa banyak protes dan diam saat tuan Nan menyelesaikan kewajiban. Allea juga tak pernah meminta tuan Nan membaca doa ini-itu.


"Ahhh ... sayang, kau memang makhluk terindah hadir dalam hidupku," batin tuan Nan setelah menjatuhkan tubuhnya.


"Panas Kanda, aku bisa pingsan kalau Kanda tetap tidak melepaskanku," bisik parau Anitha. Anitha juga merasakan kepuasan yang sama seperti tuan Nan. Dia bisa merasakan cinta tuan Nan yang besar.


"Hahaha, maafkan sayang. Ayo kita mandi."


"Gendong," kata Anitha manja.


"Dasar istri manja," bisik tuan Nan kembali mengecup pipi istrinya.


"Aku bukan manja, tetapi kehabisan energi," Anitha berkilah.


Tuan Nan menyibakkan selimut yang menutupi aktivitas mereka dari jin yang hendak mengintip kegiatan mereka. Tuan Nan turun dari tempat tidur. Dia merengkuh Anitha dan membopong ke kamar mandi.


Tuan Nan menurunkan Anitha di bawah shower. Dia menghidupkan shower dan mengguyur tubuh mereka berdua. Tidak lama.


Anitha hanya memakai bathrobe. Membuat tuan Nan teringat pertama kali mengenalnya. Anitha tidur dengan bathrobe yang berantakan dan berhasil membuat tuan Nan berlama-lama dibawah guyuran air dingin.


"Kamu ingin menggodaku kembali sayang, dengan hanya menggunakan ini?" tanya tuan Nan di samping Anitha.


"Aku tak pernah berniat menggoda Kanda. Baik dulu dan sekarang, entah kalau besok," Anitha tersenyum lebar. Senyum yang mengundang banyak maksud.

__ADS_1


"Tidurlah, sebelum kanda tiduri kembali." Anitha hanya menanggapi dengan cibiran.


__ADS_2