
"Ada apa sayang?" tanya tuan Nan ketika Jeffy sudah mulai melajukan mobilnya. Anitha menceritakan apa yang mereka bahas dan justru menutup pembahasan yang sempat didengar tuan Nan.
"Ohhh, benar Bu. Ibu jangan pikirkan masalah itu. Aku juga tidak akan malu mengatakan pada relasi bisnisku, Ibu adalah ibu dari wanita yang sangat aku puja dan cintai." Tuan Nan berkata serius dan penuh cinta. Membuat hati Anitha bergetar dan merasakan pilu karena rasa bersalah.
Ibu Anitha sangat terharu. Hati kecilnya secara tidak sadar langsung membandingkan saat Anitha bersama Sahrul. Ibunya merasa sangat jauh dari anaknya. Dia sempat merasa kehilangan sosok anaknya.
Bulir air mata kembali mengalir dari pipi sang ibu. Wajah tuanya terlihat tidak begitu penuh beban hidup karena selalu merasa bersyukur.
"Jangan menangis Bu, aku akan menjadikan anak Ibu ratu hatiku. Percayalah padaku dan mulai kini ibu harus tersenyum bersama kami. Kita akan menghadapi apapun bersama-sama." Janji tuan Nan yang menusuk ke jantung hati Anitha.
"Iya ... iya, ini air mata haru ibu."
***
Hari ini orang tua tuan Nan dan beberapa orang keluarga ayahnya, telah mendarat di Indonesia. Mereka hanya di jemput para orang-orang tuan Nan. Mereka diantar ke hotel untuk beristirahat. Acara melamar akan diadakan besok.
Begitu juga beberapa keluarga Anitha yang dari kampung. Mereka telah tiba dua hari yang lalu. Anitha dan tuan Nan sengaja memberi fasilitas kamar hotel pada mereka.
Kini semua telah berkumpul di rumah besar tuan Nan. Termasuk beberapa pihak keluarga ibu tuan Nan. Tuan Nan sendiri telah sampai di rumah mereka.
"Hallo Mom," sambut tuan Nan di rumah mereka.
"Hallo Nak." Mereka saling berpelukan dan sang ayah yang hanya menepuk pundak anaknya. Beliau sangat senang ketika Anitha tidak jadi memutuskan dua tahun lagi untuk menikah.
__ADS_1
"Hallo menantu kesayangan mom, bisakah kini menerima mommy jadi mertua?" tanya ibu tuan Nan saat melepaskan pelukannya. Beliau sengaja mengucapkan dalam bahasa inggris. Sehingga keluarga suaminya mendengar jelas.
Mereka tidak paham ada apa antara Anitha dan ibunya tuan Nan. Hanya sebagian orang yang ikut makan malam saat Anitha di Swedia yang tahu ada apa antara mereka.
"Bisa, jika Nyonya meminta aku memanggil mommy pada anda di tengah keluarga besar ini," ucap Anitha setengah bercanda.
"Baiklah sayang, maafkan aku yang tidak mengakui berapa hebatnya CEO wanita ini yang menaklukkan pria datar ini," ucap ibu tuan Nan mengejutkan sebagian orang. Mereka tak menyangka wanita yang terlihat manja ini seorang CEO. Anitha juga terkejut, dia tidak menyangka ibu tuan Nan akan mengangkat namanya melalui jabatan yang belum di sandangnya. Ketika prosedur pendirian perusahaannya sedang dalam pengurusan.
"Panggil aku Mom. Kata 'nyonya' membuat aku jauh darimu.
"Hahah, baiklah Nyoo ... Mom." Anitha tertawa renyah. Dia melanjutkan perkataannya, "Tetapi aku ingin menunda pernikahan ini sampai dua tahun ke depan Mom."
"Maksud Dinda apa!" tuan Nan berteriak tanpa bisa menutupi kegusaran hatinya. Mereka terkejut melihat kegusaran tuan Nan yang terlihat jelas. Keluarga ayah dan ibunya untuk kali pertama melihat sisi lain tuan Nan. Tuan Nan yang mereka kenal penuh ketenangan. Mereka masih berdiri didekat Anitha dan ibu tuan Nan.
"Kau ingin menolakku di tengah keluarga besar aku?" kata tuan Nan mulai tak bisa mengontrol perasaannya. Jeffy memegang pundaknya dan meremas meminta bersabar. Namun tuan Nan tak bisa lagi berpikir jernih.
"Jika iya, kenapa? Apa aku tak punya hak dan tak pantas menolak Kanda di tengah keramaian ini?" nadanya semakin dingin walau masih menggunakan kata 'kanda'. Semua terkejut dengan nada dinginnya. Hanya Jeffy dan tuan Nan serta ART yang tahu sifat itu ada padanya.
Anitha dengan berani mengambil pertaruhan ini. Dia tak bisa terus menerus tersiksa karena tirai pembatas itu. Dia mengadu nasib cinta tuan Nan di tengah khalayak ramai. Jika tuan Nan gagal di sini. Anitha telah bersiap mengubur cintanya. Jika tuan Nan lulus di sini dia akan menyerahkan diri dan cintanya sepenuh hati.
"Atas dasar apa Dinda menolak aku?" kata-kata tuan Nan mulai terdengar tidak teratur, kadang dia ber-kau lalu ber-dinda, kadang ber-kanda lalu ber-aku. Menandakan hatinya yang kacau balau.
Tak ada yang bisa masuk, semua shock dengan yang terjadi tiba-tiba. Hanya pasrah mendengarkan pembicaraan selanjutnya.
__ADS_1
"Lalu atas dasar apa aku harus menerima Kanda? Apa karena Kanda kaya! Atau karena keturunan bangsawan!" Nadanya terdengar begitu sinis.
"Dinda tahu persis, kanda tidak pernah mengandalkan itu untuk mencintai dan memilikimu."
"Apa rencana Dinda! Kenapa di tengah dua keluarga besar Dinda menolak aku!"
"Karena aku ingin kau dan yang lain tahu. Aku tidak bisa mencintaimu sepenuh hatiku. Aku bukan Anitha yang polos dulu." Suara Anitha bergetar menahan berbagai emosi yang hadir.
Kejujuran, ketakutan, kepasrahan, keinginan dan rasa untuk mencintai hadir di dalam hati Anitha dalam menguji cinta Nansen untuk terakhir kalinya. Ujian yang dia persiapkan untuk kehilangan tuan Nansen selamanya.
Tuan Nan mendapatkan clue dengan pernyataan Anitha terakhir. Dia teringat perkataan Anitha dan ibunya saat di kafe. Tuan Nan juga teringat janjinya untuk membakar tirai pembatas hati Anitha. Tuan Nan mencoba mengambil kesempatan ini.
"Aku tahu, selama ini aku tahu kau separoh hati bersamaku. Bukan karena kau tidak cinta padaku. Akan tetapi, kau takut jatuh kelubang kelam yang sama. Kau takut menyerahkan hatimu. Kau takut, ketika kau menyerahkan hati seutuhnya padaku, aku akan menyakiti hatimu. Kau takut terpuruk atas nama cinta bukan? Makanya kau berjuang agar bisa sejajar denganku."
Anitha terperangah, dia tak menyangka tuan Nan tahu apa yang dia tutupi. Melihat dia diam, tuan Nan meneruskan membakar perlahan tirai kelam hati Anitha.
Tetapi, kau tahu, di sini dari dulu aku yang mengejar cintamu. Aku hampir setengah gila, saat kau melarikan diri dariku dan tak bisa menemukanmu. Kau boleh tanya orang-orang terdekatku. Saat kau koma, aku merasa hancur, bahkan aku sempat membenci ibuku. Menuduh ibuku penyebab semuanya. Ibumu yang selalu melunakkan hatiku agar memaafkan ibuku."
Tangis mulai hadir di sepasang mata ibu Anitha dan ibu tuan Nan. Mereka sangat tersentuh dengan jalan kisah-kasih sepasang anak manusia ini. Anak mereka berdua. Apalagi melihat reaksi tuan Nan.
"Jika memang karena itu Dinda menolak kanda, kanda tidak bisa terima. Karena kanda tahu dan kanda sanggup mencintai Dinda tanpa sarat. Kanda tetap mencintai Dinda sepenuh hati dan tidak akan menyakiti hati Dinda. Jika itu terjadi, Dinda boleh pegang omongan kanda. Mereka semua menjadi saksi, jika kanda menyakiti hatimu, kau boleh membunuh kanda tanpa kau harus terjerat hukum. Kalian tolong pegang omonganku ini."
Anitha yang hanya diam membeku. Perlahan tangisnya hadir. Tangis yang pertama kali di dengar tuan Nan dan orang-orangnya. Tangis yang menyingkapkan banyak kisah dibalik hatinya.
__ADS_1
***/