
Sebulan berlalu Anitha kembali ke rutinitas dan fokus pada kariernya. Sahrul tetap menghubunginya dan tuan Nan tak ada kabarnya. Anitha juga tak sempat banyak berfikir. Karier, Sahrul dan ibunya sudah cukup menyita waktunya.
Anitha mulai membaca situasi. Sahrul sangat lambat dalam bergerak. Anitha tak ingin membuang waktu dalam rencana balas dendamnya. Anitha mengambil jalan pintas. Dia ingin hidupnya tenang, tanpa dibayang-bayangi dendamnya.
"Hallo, ada apa?"tanya Jeffy. Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Aku tahu, aku salah dulu membuat kau kesulitan Jeff, maafkan aku." Anitha meminta dengan tulus.
"Lupakan, ada apa?" kata Jeffy tak ingin memperpanjang masalahnya.
"Aku boleh minta bantu Jeff, aku rasa aku tak kuat lagi harus bergerak sendiri. Aku ingin melupakan dan mencoba membangun hidup baru, tapi aku tak bisa lupa, mengingat betapa kejam mereka padaku."
"Ok, apa yang harus aku bantu!"
"Tolong hancurkan rumah tangga adiknya Jeff, dengan cara yang sama dia lakukan padaku. Juga hancurkan Ajeng dari kariernya dan buat dia di tempat hiburan malam." Anitha menceritakan bagaimana cara adiknya Sahrul mengancurkan dirinya.
"Oke, mudah bagiku. Hanya saja semua tidak gratis Tha, ada harga yang harus kau bayar!"
"Apa?"
"Kau harus berhenti dan bekerja untuk Nansen. Aku akan minta Nansen memberikan posisi dan gaji yang tak kalah bagus dari perusahaanmu. Bagaimana?"
"Baiklah Jeff, aku setuju." Anitha langsung menerima, membuat Jeffy curiga.
"Apa yang membuat kau tidak membantah Tha, aku tahu pasti sifatmu. Apa lagi yang kau rencanakan?"
"Tak ada Jeff, percayalah sekali ini padaku. Aku juga sudah salah langkah dengan bermain api pada Sahrul. Aku tak tahu cara mau melepasakan diri darinya. Walau dia memang berubah, aku tak bisa mencintai dia lagi Jeff."
Anitha mulai merasa tak nyaman. Rasa stres mulai menggelayuti hatinya. Sahrul hampir seminggu sekali pulang ke Batam.
"Kalau itu katamu, aku bisa percaya. Namun ingat satu hal Anitha! Jika kau menghianati aku kali ini. Aku tidak peduli se bagaimana aku menganggap kau seperti adikku sendiri, aku pasti melenyapkanmu kali ini!" ucap Jeffy dingin dan tidak main-main. Anitha tak pernah mendengar Jeffy seserius ini.
"Baik, aku tidak akan lagi buat masalah Jeff."
"Aku pegang kata-katamu. Besok aku akan ke kampung suamimu. Kau beri aku alamat dan nomor yang bisa aku hubungi untuk mempersingkat waktu."
"Ya, aku kirim setelah pembicaraan ini selesai."
"Ada yang harus kau tahu Tha, aku tak bisa menjual Ajeng seperti Ajeng yang hendak menjualmu."
"Kenapa? Kau takut karma pada adik perempuanmu?"
"Aku tak punya adik, selain kau yang aku anggap adik. Aku rasa karma tidak berlaku pada orang yang sudah pernah hampir dijual," kekeh Jeffy kembali hangat.
"Lalu?"
"Kau tak tahu, dia sudah berprofesi itu selama dia di sini."
"Waahh, aku baru tahu."
"Kalau gitu ada cara lain Jeff," ucap Anitha langsung.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan padanya?"
"Buat tiga orang memperkosa dia di kamar hotel Jeff, dan kirim rekamannya padaku, untuk aku mengganggu hidupanya. Bisa juga buat dia harus bisa menikmati langsung dengan tiga pria," ucap Anitha penuh kesenangan. Jeffy cukup ngeri membayangkan jalan pikiran Anitha yang begitu cepat dapat ide dan begitu sadis untuk ukuran perempuan.
"Baik tepati janjimu padaku!"
"Iyaaaa iyaaaaa KAk JEFFYYYY." Anitha berteriak-teriak membuat Jeffy lega.
Besoknya Jeffy pergi ke kantor tuan Nan. Tuan Nan sedang tidak di kantornya. Tuan Nan meminta dia menunggu di ruangannya. Jeffy berbaring di sofa dan hanya tidur-tidur ayam saja sambil memikirkan cara membuat Ajeng dipecat dari kantornya. Jeffy dulu tahu kerja Ajeng cukup baik di kantornya.
Ceklek ... terdengar bunyi pintu dibuka. Tuan Nan masuk dan berkata, "Ada kabar yang bisa menyenangkan hati?" tanya tuan Nan penuh kemarahan.
"Apa ada masalah? Suasana hatimu kelihatannya tidak secerah hari di luar."
"Ya, anak buahku melapor PT HS melakukan kecurangan. Walau bukan Sahrul yang melakukannya."
"Wah ... wah ... sepertinya penderitaan kau selama tujuh bulan terakhir ini berbuah ranum."
"Tak perlu berpuitis indah, kau tetap makhluk tunggal!"
"Hemmm kau juga sangat kejam mengatai dirimu sendiri." Jeffy berani mengganggu tuan Nan. Kabar yang akan disampaikan kunci pelenyap amarahnya.
"Ada apa!" Tuan Nan tidak begitu mood untuk bercanda.
"Kau harus menyiapkan posisi dan gaji yang baik untuknya. Dia bersedia bekerja di bawah naunganmu."
"Siapa?" Tuan Nan tidak ingin menduga itu adalah Anitha.
Tuan Nan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Namun hanya sepintas, lalu berganti dengan tatapan menuduh pada Jeffy. Seakan tak puas hati diapun berkata, "Kau memaksa dia!"
"Kau bilang aku sesadis itu pada dia. Wanitamu itu yang sadis." Jeffy menceritakan jika Anitha yang mengontak dia duluan dan meminta bantuannya.
"Tidak sia-sia aku punya saudara sepertimu," ucap tuan Nan bersuka cita.
"Aku minta soal karier Ajeng, kau yang mengurusnya. Selebihnya biar aku yang urus," kata Jeffy.
"Aman soal itu, hanya perkara mudah bagiku."
@@@
Tak sampai seminggu ....
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Ajeng pada bos dikantornya pada suatu hari. Tidak lagi melalui bagian personalia, namun bosnya langsung turun tangan.
"Saya minta kamu berhenti dari kantor ini dan saya beri pesangon sesuai dengan hak kamu."
Ajeng jelas tidak terima, karena dia merasa tidak pernah mendapat SP selama bekerja di perusahaan ini. "Apa kesalahan saya Pak?"
"Kesalahan kamu di perusahaan saya memang tidak ada. Namun profesi lain kamu tidak bisa saya terima di perusahaan ini. Saya takut perusahaan saya tercemar begitu orang tahu siapa kamu." Bos Ajeng berkata dingin. Dia tak menyangka karyawan yang berprestasi dan bisa diandalkan mempunyai kerjaan sampingan yang melanggar norma di masyarakat.
Ajeng memang terkejut. "Jangan termakan fitnah Pak." Ajeng masih berusaha mengelak dan membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Fitnah katamu? Bukankah kau yang lebih paham. Saya sengaja memberhentikanmu dengan tangan saya sendiri. Agar nama kamu tidak rusak di mata karyawan lain."
"Pak, apa buktinya. Bapak tak bisa berbuat begini, ini sama saja dengan pencemaran nama baik."
"Pencemaran nama baik katamu? Coba katakan pada saya, apa ini yang kau bilang pencemaran nama baik?" bosnya melihatkan video yang di kirim orang tuan Nansen Adreyan. Muka Ajeng langsung memerah melihatnya. Dia ingat 3 hari yang lalu orang suruhan bosnyanya meminta dia melayani tiga orang dengan bayaran besar.
"Baik Pak, saya akan mengundurkan diri. Saya minta Bapak hapus dan memberi nomor pengirimnya pada saya." Ajeng pasrah.
"Baik saya tahu, ini aib yang tidak boleh diumbar. Saya hanya tak bisa mempertahankan kamu." Bosnya langsung menghapus setelah menerima memberi nomor pengirim.
"Oke di depan mata kamu sudah saya hapus dan bersihkan dari daftar sampah. Saya minta ini ke atas kita tidak ada sangkut paut lagi."
"Baik Pak, terima kasih." Ajeng melangkah dengan gontai.
Ajeng lalu membereskan mejanya dan membuat surat pengunduran diri. Tak ada yang tahu. Ajeng juga tertutup di lingkungan kantornya.
Saat Ajeng membuat surat pengunduran diri, Anitha juga sedang mengajukan surat mengundurkan diri. Dia sudah mantap untuk bekerja di perusahaan tuan Nan. Dia sudah mendapatkan rekaman video Ajeng dua hari lalu.
Sebulan telah berlalu dari saat Anitha mengajukan surat berhenti kerjanya. Dia kini pamit pada rekan-rekan dan bosnya yang sempat menahannya untuk tidak berhenti. Anitha tidak bisa mengatakan dia akan ke perusahaan tuan Nan. Sama seperti Ajeng, Anitha juga tertutup urusan pribadinya.
Malam yang tenang setenang hati Anitha, dia mulai mengemasi bajunya. Anitha memutuskan menelfon tuan Nan. Tiba-tiba dia rindu mengganggu tuan Nan.
"Hallo Tuan, sedang apa?"
Tuan Nan yang sedang di rumah tersenyum dan berhenti mengerjakan pekerjaan di ruangan kerjanya. Dia bangkit dari kursinya dan merebahkan dirinya di sofa.
"Tumben kamu nelfon setelah sebulan tidak ada kabar."
"Aku sibuk mempersiapkan diri untuk berada dalam radius yang sangat dekat padmu."
"Hahaha, apa kau tersiska sayang?"
"Tidak, justru aku tersiksa jauh darimu Tuan. Aku berada dalam kejenuhan tidak bisa mengganggumu." Kekehan lepas Anitha membuat dada tuan Nan penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran.
"Hahaha, hati-hati sayang. Kau bisa jatuh cinta sering menggodaku."
"Aku ingin kau mengobati luka hatiku yang berdarah-darah Tuan. Aku ingin kau yang jatuh cinta duluan padaku. Aku takut jatuh cinta duluan denganmu Tuan." Anitha penuh dengan gurauan, namun entah sejak kapan. Anitha mulai merasa senang berbicara dengan tuan Nan.
"Aku bisa menjadi dokter hatimu. Jika kau percaya untuk aku obati."
"Owww, manis sekali janjimu Tuan."
"Janjiku memang manis, tapi tak semanis mulut suamimu."
"Jangan katakan dia suamiku Tuan, aku mau memanfaatkan kekuasaanmu untuk menambah kata mantan di depan kata 'suamimu'.
Anitha tak punya cara lain setelah dia coba berjuang sendiri. semua terasa buntu bahkan dia menggali lubang yang lebih dalam tak bisa pergi dari Sahrul karena sebuah buku nikah yang menjadi saksi. Hanya dengan meminta pada tuan Nan.
@@@
*Se**bentar lagi Anitha ikutan bucin kelihatannya 😂😍*
__ADS_1