Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Aku Bisa Mencintaimu


__ADS_3

"Jangan kata tuan mau bilang CINTA! Bullshit itu CINTA," jawabnya langsung sinis.


"Kalau saya bilang cinta bagaimana?" kata tuan Nan.


"Anda munafik kalau begitu!" kata Anitha dengan emosi ditahan.


"Maksudmu?" tak ada nada marah. Tuan Nan semakin tertarik ingin mengetahui masa lalu Anitha.


"Anda saja tidak bisa mencintai nyonya Allea yang jelas-jelas dulu sangat mencintai anda bahkan mungkin sampai saat ini," ungkap Anitha menambahkan sampai saat ini. Walau dia tahu nyonya ada pria lain. Hati manusia siapa tahu, lain di mulut lain di hati bisa saja mewarnai jalan hidup anak manusia.


"Allea mungkin tidak bisa saya cintai. Namun wanita lain bisa saya cintai," kata tuan Nan penuh misterius.


"Ya cinta pada ibu! Saya juga masih bisa mencintai. Cinta pada ibu. Ibu kesayanganku. Mutiara hatiku." Nada rindu dan sendu terselip di hati Anitha. Hanya cinta ibu yang bisa Anitha bayangkan.


"Saya bukan membahas cinta pada ibu, tapi cinta pada lawan jenis," ucap tuan Nan sedikit memberikan gambaran isi hati.


"Anda bisa mencintai wanita lain? Hahahaha rasa mimpi sambil tidur berjalan saya Tuan," tanya Anitha tak percaya dan menyelipkan sedikit ejekan.


"Ya saya mencintai wanita lain. Bahkan saya sangat mencintainya. Dulu saya tak percaya cinta pada pandangan pertama. Kini saya tahu artinya." Tuan Nan menjawab dengan lugas.


"Woww ... sungguh tak bisa dipercaya, jika kata-kata ini keluar dari bibir seksi Tuan," ucap Anitha dengan ekspresi takjub


Jika Anitha merasa takjub, tuan Nan malah mengurut dada di dalam hatinya. Bisa-bisanya dia jatuh cinta dengan wanita yang mati rasa. Jika wanita normal, setidaknya ada sedikit kepekaan atau salah sangkanya dengan merasa dirinya yang dibicarakan.


"Ufff ini benar karma untukku," gumam tuan Nan tanpa sadar. Dia sudah selesai makan. Sendok dan garpu sudah diletakkan dengan menyilang di atas piring.


"Karma karena telah menyia-nyiakan ibu Allea?"


"Bisa jadi."


"Kalau boleh saya jujur pada Tuan, saya justru bersyukur adanya kejadian masalah tuan dan nyonya Allea," ucap Anitha santai.


"Karena kamu bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu cepat?"


"Ya Tuan benar!"


"Kamu wanita tidak berperasaan Anitha," ucap tuan Nan. Anitha hanya tertawa renyah. Tawa yang mampu melenakan hati tuan Nan.


"Tuan juga pria tidak berperasaan. Apa Tuan tidak menyadarinya?" tanya Anitha tetap dengan senyum manis.


"Tidak berperasaan bagaimana?"

__ADS_1


"Tuan bukannya dingin pada nyonya Allea!"


"Itu karena ... karena saya tidak bisa mencintainya, tapi saya bisa mencintaimu," ucap Tuan Nan serius. Dia memandang tajam pada bola mata Anitha memperlihatkan kesungguhan hatinya. Tuan Nan lupa mengontrol hati. Dia terlanjur meluahkan perasaan.


"Hahahaha ... Tuan jangan buat saya merinding dengan pernyataan horor Tuan di tengah malam ini. Rasa ada seribu jin didekatku kini." Anitha tanpa perasaan mentertawakan tuan Nan.


Tuan Nan yang sempat menyesal karena kebablasan mengungkapkan perasaan malah bersyukur Anitha menganggap angin lalu. Tuan Nan hampir keluar jalur dari rencananya.


"Hahaha saya ingin kamu kembali di atas angin dan meminta uang satu miliar itu," ejek tuan Nan menutupi perasaan.


"Tuan tidurlah lagi, saya akan membereskan meja makan sebentar," pinta Anitha.


"Besok pagi saja, sudah malam," tuan Nan terang-terangan memberikan perhatian. Namun dalam nada memerintah.


"Saya tidak terbiasa meninggalkan piring kotor di dapur saat malam," tolak Anitha halus.


"Cucilah saya akan menemani di sini," ucap tuan Nan.


"Baik hati sekali anda Tuan," sindir Anitha tak terlalu memperdulikan sambil mengemaskan meja makan dan mencuci piring-gelas yang kotor.


"Saya memang baik hati. Hanya saja tak banyak orang yang tahu. Termasuk kamu wanita yang tak perasaan!"


Tak butuh waktu lama, Anitha sudah siap beberes. "Ayo Tuan, kita kembali ke kamar," ucap Anitha lagi-lagi seperti bermakna ganda. Tuan Nan tahu ke mana maksud Anitha, namun dia ingin mengganggu Anitha.


"Kamu ingin mengundang saya ke kamar kamu?"


"Menghayal Tuan ketinggian!"


"Bagaimana kalau saya yang mengundang kamu ke kamar sepi saya?"


"Undang saja jin saya Tuan!" ucap Anitha dengan nada serius. Tuan Nan ingin tertawa. Jika sudah menyangkut hubungan asmara pembawaan Anitha jadi marah-marah.


"Mana enak sama jin, tak ada yang bisa saya raba. Semua serasa angin saja," ucap tuan Nan dengan nada geli, tetapi Anitha sudah tersulut emosi sendiri.


"Raba saja tembok kamarmu Tuan!"


"Hahaha, kamu ini lucu," tawa tuan Nan tak bisa dibendung.


"Di mana lucunya!" Anitha terus menjawab dengan ketus.


"Di hati saya," goda tuan Nan membuat Anitha semakin kesal.

__ADS_1


"Terserah Tuan, saya malas meladeni Tuan!"


"Kalau saya memaksa?" Tuan Nan yang tadinya berada di seberang meja dengan Anitha, langsung memutari meja mini bar yang hanya berukuran 60cm x 120cm tersebut.


Kini dia sudah sampai di samping Anitha. "Tuan mau apa!" sentak Anitha kasar. Tiada rasa takut di wajahnya yang membuat tuan Nan sangat gemas melihatnya.


"Menurutmu saya mau apa sayang, di tengah malam buta begini?" kata tuan Nan memakai kata sayang untuk memainkan emosi Anitha.Tuan Nan semakin suka mengganggu Anitha mengisi waktu luang.


Dia semakin merapatkan jarak. Anitha mundur dan tersandar di pinggir dinding keramik wastafel yang telah kering dan mengkilap. Tuan Nan terus mendekat, kini jaraknya hanya tinggal sejengkal jari dari muka Anitha.


Tuan Nan bisa melihat tubuh Anitha bergetar, bukan karena terbakar gairah namun terbakar amarah. Tuan Nan tersenyum di dalam hati. Tuan Nan belum berhenti. Selain dia ingin mengusili Anitha, dia juga ingin membuat Anitha terbiasa dengan aroma tubuhnya. Walau harus menembus ambang marah Anitha.


"Jangan berani macam-macam Tuan! Ingat kulit lenganmu yang terluka!" Anitha mengancam tuan Nan kembali.


"Hanya satu macam sayang, cukup memiliki tubuhmu jika saya tak bisa memiliki hatimu," ucapnya lalu kembali merengkuh Anitha dalam pelukannya. Tuan Nan siap mengambil resiko dengan apa yang akan Anitha lakukan.


"Lepaskan AKU, Tuan." Nada dingin dan tubuh bergetar marah, berpadu di dalamnya. Tuan Nan tetap memeluk Anitha. Jika dulu tuan Nan akan marah jika disentuh perempuan yang bukan istrinya, kini perempuan yang bukan istrinya ini terasa sangat marah dalam pelukannya.


"Saya akan melepaskan dengan satu syarat," bisik tuan Nan sangat sensual di telinga Anitha. Jika itu harusnya menimbulkan gairah pada Anitha, justru tuan Nan sendiri yang tiba-tiba merasa gairah.


"Apa syaratnya!" tanya Anitha masih membeku dalam pelukan tuan Nan.


"Beri saya satu ciuman selamat malam darimu sayang," ucap tuan Nan memandang Anitha penuh godaan dan tanpa sadar tuan Nan semakin bergairah. Sayangnya itu padam saat entah kapan Anitha sudah menekankan ujung pisau dapur yang diraihnya tak jauh dari dekat wastafel.


"Tuan sangat tahu benda apa yang menekan perut Tuan! Jangan membuat AKU menjadi pembunuh di dalam rumah Tuan yang besar ini!" ancam Anitha dengan nada semakin dingin.


Tuan Nan melepaskan pelukan dan mundur mendekati pinggir meja bar mininya. Dia memandang Anitha dengan sorot mata tidak percaya. Tuan Nan tak menyangka jika Anitha begitu serius jika sudah menyangkut sentuhan. Tuan Nan yang dalam keterkejutan karena ujung pisau dapur menekan sisi perutnya, berusaha memasang wajah datar. Rasa cintanya semakin besar hanya dalam hitungan hari. Dia semakin yakin jika Anitha wanita yang pandai menghargai dirinya.


"Maafkan saya, bukan berniat melecehkan kamu Anitha. Hanya ingin menggoda saja, tetapi tubuhmu belum terbiasa dengan tubuhku," ucapnya tulus.


Anitha merasa kalau permintaan maaf tuannya terdengar tulus dan tak ada nada kebohongan di dalamnya. Anitha merasa lebih rileks dan itu tak lepas dari pandangan tuan Nan.


"Tuan kelewatan, saya hampir jadi pembunuh jika Tuan serius tadi," jawab Anitha menghembuskan napas.


"Kamu memang mengerikan sayang, saya menjadi tidak tenang di dalam rumah sendiri," ujar tuan Nan bergurau dan Anitha bisa kembali tertawa normal. Batin tuan Nan langsung mencelos melihat perubahan Anitha yang drastis.


"Ayo kita tidur, sudah semakin dini hari," kata tuan Nan serius. Mereka lalu kembali ke kamar masing-masing.


Di kamar masing-masing mereka saling berbaring telentang memandang dinding plafon kamar. Jika tuan Nan memikirkan apa yang baru saja terjadi dan apa jalan pikiran Anitha sebenarnya. Anitha Putri kembali ke masa lalunya. Merajut secara tidak sadar potongan-potongan masa lalunya.


***

__ADS_1


__ADS_2