
Malam harinya, Anitha mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya. Mereka duduk di sofa kamar. Memandang gelapnya malam di luar sana.
Hujan turun dengan derasnya. Mendinginkan bumi dari rasa panas setelah seharian sinar matahari memancar dengan garangnya.
"Kanda, ada yang ingin dinda katakan. Hal ini selalu menimbulkan resah di hati."
"Tentang apa?"
"Kita sudah sering berusaha. Mulai dari awal nikah, sampai setelah kita kembali sadar dari koma. Tetapi tanda-tanda dinda hamil belum ada Kanda."
"Sabar sayang. Percayalah, jika kita ada reseki di sini, maka kita akan memilikinya."
"Bagaimana jika tidak. Dulu tiga tahun pernikahan pertama, dinda juga tak kunjung hamil."
"Kalau itu yang Dinda katakan, bagaimana dengan Allea dulu? Lima tahun usia pernikahannya. Anggaplah tiga tahun juga kanda yang bersamanya. Namun hanya hitungan bulan, dia sudah mendapatkan dengan Liam."
"Iya dinda tahu. Tetapi hati ini resah."
"Apa yang diresahkan?
"Bagaimana kalau Kanda kecewa dan berpaling?
"Yakin kanda berpaling?"
"Bisa jadi."
"Lupa? Sama Allea saja kanda tak pernah cinta. Tak ada niat kanda berpaling, jika dia tetap setia. Apalagi dengan Dinda, ya tidak mungkin."
"Iya juga ya."
"Makanya, jangan pikir aneh-aneh. Kita selesaikan satu-satu apa tujuan kita. Semoga setelah ini kita mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Kanda sudah ada rencana untuk Sahrul dan keluarganya?"
"Sudah."
***
Jika bukan karena ingin membahagiakan Anitha, tuan Nan tak ingin repot untuk hanya sekedar datang pada ibunya Sahrul. Namun perasaan menyesal Anitha, tidak bisa dibiarkan dan dibawa angin lalu.
Tuan Nan bisa saja membantu diam-diam keluarga tersebut. Akan tetapi, tujuan utama Anitha ingin minta maaf.
Sabtu siang ini, mereka hanya berempat dan telah berdiri di depan rumah ibu Sahrul.
Jeffy telah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Adik Sahrul yang berdiri di depan pintu rumahnya merasa heran sesaat. Dia hampir tak mengenali Anitha yang telah berhijab.
"Ada apa?" katanya sinis.
"Bisa bicara dengan ibu?" tanya Anitha lembut. Tak ada aura permusuhan lagi. Namun tidak dengan adik Sahrul.
__ADS_1
"Untuk apa? Apa kau mau mengasihani kami." Ketus mantan iparnya.
"Sudahlah, aku ke sini dengan niat baik. Sekaligus ingin meminta maaf." Anitha masih menjawab dengan sabar.
"Aku tak sudi!" Adiknya Sahrul berkeras tidak terima.
"Jika kau tidak sudi, aku tidak bisa memaksa." Anitha malas berdebat. Jika niat baiknya tidak dianggap, dia bisa apa.
"Sudahlah Kanda, dinda sudah berusaha. Ayo, kita selesaikan masalah satunya." Anitha mengajak suaminya menyudahi pembicaraan dengan mantan iparnya. Anitha merasa lelah.
"Jangan keras hati! Aku bisa menghancurkan kalian lebih dari ini, sehingga kalian menyesal untuk berlama-lama di dunia ini. Kalian akan lebih senang memilih kematian!" ucap tuan Nan dengan nada mengancam yang kental dan raut wajahnya begitu sangar. Hatinya tidak terima mamtan ipar Anitha tidak menerima uluran niat baik Anitha.
Anitha terdiam, dia memilih menyerahkan pada tuan Nan. Anitha hanya ingin bersimpuh sekali saja meminta maaf pada ibu dari mantan suaminya.
"Apa kau ingin abangmu semakin menderita dan babak belur di dalam tahanan? Apa kau tahu abangmu dirawat di rumah sakit penjara!" tegas tuan Nan membuat adik Sahrul menangis.
Bagaimanapun dia merindukan abangnya. Keadaan sangat tidak berpihak pada mereka. Mereka menganggap ini buah dari perbuatan kejam pada Anitha. Sejak abangnya masuk penjara hidup mereka makin terpuruk.
Ibunya Sahrul berdiri di depan pintu kamarnya, dia mendengar semua percakapan itu. Pikiran dan derita telah begitu berat. Ancaman tuan Nan semakin membuat dia tertekan. Hingga terdengar bunyi berdebum orang jatuh.
Adik Sahrul langsung mengejar ibunya.
"Ibuuu, ibuuu ...." teriaknya histeris. Dia mengangkat dan meletakan kepala ibunya dipangkuan.
Tuan Nan, Anitha dan orang-orangnya, tanpa memikirkan etika langsung merangsek masuk. Betapa penyesalan semakin dalam dirasa Anitha, melihat wajah lelah dan badan kurus ibu mantan suaminya.
"Bawa ke rumah sakit!" tuan Nan memerintah tegas.
"Ayo, kita ikut," ajak Anitha lembut. Anitha menariknya berdiri.
Dia menatap Anitha dan melihat kelembutan tatapan mantan kakak iparnya seperti dulu. Anitha mengangguk meyakini.
Anitha merengkuh bahu mantan adik iparnya dan membawa masuk ke dalam mobil. Ibunya telah di bawa ke dalam mobil dan telah di dudukkan di bangku tengah.
Mobil mulai menuju rumah sakit di kota Padang. Ibu Sahrul yang bernama Marleni telah di ruang UGD. Mereka menunggu di luar. Dokter sedang memeriksa.
Setengah jam mereka menunggu dengan pemikiran berlainan. Akhirnya seorang perawat berkata, "Keluarga pasien atas nama ibu Marleni ...."
"Ya saya, ada apa?" tanya tuan Nan tenang dan berwibawa.
"Dokter memanggil Pak."
Tuan Nan langsung bergerak mengikuti perawat setelah pamit pada Anitha. "Dinda tunggu di sini ya. Apapun akan kanda usahakan untuk wanita yang masih menjadi ibumu."
"Terima kasih Kanda," ucapnya. Air matanya kembali meleleh. Anitha begitu sensitif kini.
Raya sang mantan ipar hanya bisa tertegun melihat pemandangan ini. Bagaimanapun rasa ketusnya pada Anitha sirna begitu saja melihat Anitha dan mendengar perkataan tuan Nan pada Anitha.
"Uni ...." panggilnya ragu. Anitha menoleh dari memandang ruang UGD tempat tuan Nan masuk menyusul perawat.
__ADS_1
"Ya, ada apa Ray?"
"Apa Uni masih menganggap ibu, setelah apa yang ibu dan aku lakukan pada Uni?" tanya Raya pelan. Jeffy dan Harri menyimak dengan jelas.
"Awalnya tidak. Aku sangat dendam pada kalian semua." Anitha jujur tentang apa yang dirasanya dulu kala.
"Lalu apa yang membuat Uni berubah? Uni sekarang aku lihat telah punya segalanya. Bahkan suami yang jauh lebih baik dari uda." Raya menanyakan rasa herannya.
"Karena aku sudah punya segalanya itulah. Aku mendapat kabar tentang kalian. Sejak itu, aku tidak bisa mengabaikannya. Walau aku ingin dan tidak berniat mau ikut campur. Aku mengatakan terus terang pada suamiku. Aku bersyukur dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri."
"Ohhh, terima kasih Uni. Hanya ibu temanku sekarang, dan maafi aku dan ibu, Uni."
"Sudah, aku datang tanda aku telah memaafkan. Aku datang juga ingin meminta maaf. Aku telah gelap mata kemarin."
"Setelah Uni membalas dengan cara yang sama. Aku pada pertamanya tidak terima, namun seiring waktu aku bisa merasakan apa yang Uni rasa. Aku dan ibu tidak pernah lagi menyalahkan Uni."
"Lalu kenapa tadi kau begitu ketus padaku?"
"Aku minder saat tahu Uni yang datang. Aku malu dengan keadaan kami."
"Tak perlu merasa begitu. Kau tahu, aku hanya anak tunggal. Tak punya kakak dan adik tempat berbagi. Aku masih menganggap kau adik jika kau tak menolakku."
"Terima kasih Uni. Jika aku pantas menurutmu."
"Nanti kita bahas, sekarang kita tunggu apa kata dokter pada suamiku."
Mereka menanti. Sampai tuan Nan terlihat keluar. Anitha dan Raya langsung berjalan mendekati. "Bagaimana Kanda?" tanya Anitha lebih cepat dari Raya.
"Ibu kalian hanya kekurangan asupan nutrisi dan membuat tubuhnya lemah. Ditambah beban pikiran."
"Hanya itu?" tanya Anitha kembali.
"Iya, tadi dokter memanggil apa mau di rawat jalan atau rawat inap. Kanda memutuskan meminta rawat inap biar lebih baik."
"Maaf Pak, tapi__" Raya menyela dan Anitha langsung memotong.
"Tentang biaya jangan pikirkan. Suamiku akan bertanggung jawab." Anitha langsung menenangkan Raya.
"Terima kasih Uni."
Kata penuh ketulusan dari mulut Raya, membuat rasa marah di hati tuan Nan meredup melihat Raya. Apalagi Raya memanggil istrinya dengan sopan.
"Kamu bisa jaga ibumu sebentarkan? Kami ada urusan lain." Tuan Nan berkata dengan datar pada Raya.
"Bisa Pak. Terima kasih atas bantuannya pada ibu." Raya menundukkan kepalanya kecil lalu mengangkat kembali, tanda hormatnya.
"Harri, kamu tolong bantu di sini ya. Tak lama lagi, beliau akan di pindahkan ke ruang rawat inap." Perintah tuan Nan.
"Ayo, kita urus ke lapas," ajak tuan Nan lembut pada istrinya. Raya bisa melihat sikap yang berbeda terhadap Anitha.
__ADS_1
***/