
Anitha masih terbaring dengan selang infus dan makan, untuk memasukkan obat-obatan dan nutrisi. Anitha juga diberi alat bantu pernapasan untuk mengatur lajunya pernapasan. Monitor denyut jantungpun melengkapi hidup Anitha kini.
Seorang wanita ceria, berambisi dan kembali bisa hangat pada beberapa orang. Kini hanya alat-alat medis yang setia padanya selain tuan Nan dan keluarganya serta ibu Anitha.
Tuan Nan dan ibunya masuk, ibu Anitha berganti menunggu di luar ruangan.
"Jika Mommy ingin bicaranya, cepatlah. Setelah itu, aku minta Mommy tinggalkan ruangan ini," perkataan tuan Nan terdengar begitu frustasi dan lelah, melukai hati ibunya. Namun ibunya bisa terima.
Setelah tuan Nan berkata begitu, belum sempat ibunya menjawab. Terlihat bulir-bulir air mata Anitha mengalir. Tuan Nan dan ibunya terkejut. Pikiran mereka terbang dengan perasaan masing-masing.
Tuan Nan yang berhasil duluan menguasai perasaannya, dia mendekati Anitha dan membungkuk didekat Anitha. "Apa Dinda menangis karena tidak terima perkataanku barusan?"
Kembali terlihat bulir air mata. Tuan Nan menyekanya. Tuan Nan mulai berpikir, jika Anitha tidak terima dia berkata tajam pada ibunya. Tuan Nan sangat paham Anitha anak yang santun pada ibunya. Tuan Nan juga teringat saat Anitha melarang dia untuk mengejar ibunya dengan penuh emosi.
"Tapi, Kanda tidak bisa terima. Jika Mommy tidak menolakmu maka kita akan tidur di rumah nyonya bangsawan ini. Bukan tidur di hotel dan berakhir begini." Tuan Nan masih merasa sesak di hatinya dan menimpahkan kesalahan pada ibunya.
"Bicaralah Mom, setelah itu keluarlah." Tuan Nan masih melampiaskan kekecewanya.
"Maafkan Mommy sayang. Mommy menyesal membuat kau begini. Sungguh menyesal. Bangunlah Nak, Mommy mohon padamu. Tak ada niat Mommy membencimu. Mommy hanya melampiaskan rasa kecewa padamu, karena Nansen menceraikan Allea."
Dokter dan perawat mendengar percakapan anak dan ibu ini. Sejak tubuh Anitha memberikan respon, dokter telah memeriksa dan terus memantau Anitha.
Ibu tuan Nan, tegak di tepi ranjang Anitha. Sambil berkata, beliau mengusap-usap lembut telapak tangan Anitha.
"Pergilah Mom, aku ingin sendiri berbicara pada Anitha," usir tuan Nan.
Ibunya menarik napas sejenak. Sekali lagi beliau memegang jari-jari tangan Anitha. "Mommy menunggumu Nak. Bangunlah. Mommy keluar dulu ya. Izinkan Mommy melihatmu setiap hari." Air mata kesedihan jatuh ke pergelangan tangan Anitha.
Dokter melihat ada pergerakan pelan pada dua jari tangan Anitha. Dokter mengatakan pada ibu dan anak yang terlihat dimusuhi oleh sang anak.
Tuan Nan dan ibunya merasa bersyukur mendengar penjelasan dokter. Allah maha baik pada gadis yang selalu penuh perjuangan dalam hidupnya.
__ADS_1
Dokter mengatakan Anitha diprediksi bisa sembuh total dari komanya tanpa mengalami kecacatan fisik. Respon yang diberikan tubuh Anitha menandakan otaknya masih berfungsi baik.
Tuan Nan dan ibunya tertegun, saat ibu tuan Nan ingin menarik tangannya dari jari Anitha. Anitha menahan dengan mengapit ibu jari dan telunjuknya. Gerakan itu terasa tidak kuat. Ibu tuan Nan melihat penuh arti pada tuan Nan. Melihat pemandangan itu, amarah tuan Nan sedikit mereda kepada ibunya. Tuan Nan beranggapan Anitha saja bisa memaafkan ibunya, mengapa dia harus tidak bisa.
Dokterpun melihat, dokter mendekat dan membuka kelopak mata Anitha dan menyinari dengan senter mini. Dokter ingin melihat respon pupil mata Anitha pada cahaya, sayangnya belum ada respon. Dokter meminta mereka lebih bersabar. Setidaknya Anitha sudah ada kemajuan.
Ibunya keluar dari ruangan, dan tuan Nan tak menghalangi. Masih ada waktu bagi tuan Nan untuk berbicara dengan Anitha.
"Terima kasih sudah mau memaafkan Mommy ya sayang. Jika Dinda bangun, kanda akan ajak Dinda menikah dan kita pergi dengan kapal pesiar. Cepat bangun, kanda tunggu di luar." Tuan Nan mengecup dahi Anitha.
Dia pun melangkah keluar setelah wanti-wanti pada perawat dan dokter untuk fokus pada Anitha. Jika ada keteledoran, tuan Nan telah mengatakan akan membuat perhitungan dengan seluruh anggota keluarga dokter dan perawat yang bertanggung jawab atas perawatan Anitha.
Mereka diam bukan takut pada kekuasaan keluarga tuan Nan. Mereka menganggap keluarga pasien lagi panik dan frustasi. Mereka juga selalu bekerja penuh dedikasi dan profesionalisme.
***
Tiga minggu sudah Anitha terbaring tak punya daya. Selama tiga minggu itu juga tuan Nan tak mau meninggalkan rumah sakit. Tuan Nan meminta ayahnya yang mengurus sementara perusahaan. Helmi juga bisa cukup diandalkan oleh tuan Nan.
Pagi ini semua bersujud syukur. Dokter mengatakan Anitha sudah sadar. Prediksi dokter tepat, Anitha tidak perlu terapi lanjutan. Tidak ada kecacatan otak yang terjadi pada Anitha.
Kini Anitha sudah bisa dipindahkan ke ruang inap. Tuan Nan mengambil kamar terbaik, dia mengambil kamar President Suite. Kamar yang hampir seperti satu rumah Anitha di kampung, bahkan fasilitasnya lebih lengkap. Mulai dari ac, bed, kamar mandi bahkan kulkaspun ada. Tidak hanya itu, kamar ini dilengkapi ruang keluarga, satu set meja makan dan kitchen.
Anitha jelas merasa nyaman, tidak hanya tuan Nan dan ibunya yang ada di kamar tersebut menunggunya. Ibunya tuan Nan seperti tak ingin beranjak meninggalkan Anitha. Meskipun sikap tuan Nan tidak ada hangat-hangatnya pada ibunya.
Anitha di hari ketiga pasca sadarnya, sudah semakin membaik dan lebih terlihat kuat. Walau tuan Nan masih sangat protektif padanya. Tuan Nan menjaga agar Anitha tidak terjatuh dan terbentur di bagian kepalanya. Dokter masih meminta waspada.
Di hari ketiga, ibunya tuan Nan tidak bisa menahan ingin bicara pada Anitha. Dia datang mendekat ke ranjang Anitha.
"Bolehkah Mommy bicara padamu?" tanyanya lembut. Namun tidak dengan anaknya, "Jangan memberatkan pikirannya Mom." Tajam sekali nada dan kata-kata anaknya.
"Jangan begitu Kanda, aku tak suka melihat sikap Kanda seperti itu," ucap Anitha dengan lemah lembut.
__ADS_1
"Tetapi__"
"Alasan apapun yang Mommymu lakukan. Aku tidak suka Kanda seperti itu," Anitha berkata 'Mommymu' membuat perasaan ibu tuan Nan dan tuan Nan sendiri sedikit mengganjal hati.
"Nyonya ingin bicara apa?" tanya Anitha ramah dan penuh kelembutan. Namun kata 'nyonya' yang dia sematkan, membuat keluarga tuan Nan merasa Anitha masih marah atas penolakan calon ibu mertuanya.
"Kamu marah sama Mommy?" tanya ibu tuan Nan lembut.
"Tidak. Kenapa saya harus marah pada anda Nyonya?" ucapan Anitha yang tenang membuat istri bangsawan itu cukup merasa gelisah. Dia menilik raut wajah Anitha. Sebagai ibu, dia bisa melihat tak ada kebencian atau kemarahan di wajah Anitha. Namun respon Anitha jauh dari perkiraannya.
Semua hanya mendengar dan melihat saja interaksi Anitha dan ibu tuan Nan.
"Lalu kenapa kamu tidak memanggil Mommy seperti Nansen memanggilku?" Ibunya tuan Nan menyampaikan keheranannya.
"Bukankah Nyonya belum merestui saya? Atas dasar apa saya bisa memanggil anda 'Mommy'?"
Tidak hanya ibu tuan Nan yang menegang, mendengar ujaran Anitha, tuan Nan lebih jauh merasa tegang. Jika sampai detik tadi dia masih marah pada ibunya, detik ini dia takut jika kekasihnya membalas perbuatan ibunya. Tuan Nan sangat tahu bagaimana sifat pendendam kekasihnya dibalik wajah polos manjanya.
Bagaimanapun tuan Nan tak ingin ibunya di sakiti. Namun dia tahu pasti jika dia membela ibunya, tak akan ada maaf dari Anitha untuknya. Tuan Nan merasa menelan buah simalakama. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Walau ac di kamar ini sangat memadai namun kegelisahan tuan Nan, tak bisa ditutupi.
Tuan Nan, tak bisa gegabah mau ikut campur. Dia memilih melihat sejauh mana interaksi Anitha dan ibunya.
Begitu juga dengan ibu Anitha sendiri, dia mulai tidak mengetahui kemana arah pikiran anaknya. Jika dia marah, tidak mungkin dia bersikap baik dan lembut pada nyonya bangsawan tersebut.
"Jalan pikiranmu dari dulu memang sulit ditebak Nak, tetapi kenapa kini semakin sulit. Ibu hampir tidak mengenali dirimu sekarang." Ibunya membatin sambil terus memperhatikan interaksi anaknya.
***/
Anggap saja ini kamar yang di ambil tuan Nan buat kekasih tercintanya. Readers tersayang bayangkan saja ya, ada Anitha yang terbaring di ranjang, atau kita sendiri yang ada di sana ditemani tuan Nanπππ
__ADS_1