Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kabar Bahagia


__ADS_3

Seperti yang mereka rencanakan, kini mereka telah mendarat di kampung halaman kakek Hannan. Tak ada kendala selain tangan Ningsih yang mendingin.


Ningsih memang tidak sampai meneruskan bangku pendidikannya sampai keperguruan tinggi. Biarpun begitu Ningsih bukan gadis yang tidak pintar. Apa yang telah diajarkan oleh sekelilingnya cepat ia serap.


Jeffy tak sengaja menyenggol tangan istrinya saat turun dari mobil jemputan keluarga ayah tuan Nansen. "Sayang, tanganmu dingin sekali. Kamu tak nyaman?" bisik Jeffy. Dia menggenggam erat tangan Ningsih, menyalurkan kehangatan.


"Santai saja Mbak, aku dulu lebih parah. Aku datang ke sini meminta restu." Anitha berbicara pelan sambil menyenggol bahu Ningsih.


Mereka telah di sambut oleh keluarga besar tuan Nan.


"Hallo cucu grannie," ucap ibu tuan Nan setelah memberi senyum manis pada semuanya. Seperti dugaan Anitha, hanya Hannan yang akan jadi objek fokus keluarga besar ini.


Hannan masih menolak, dia belum mempunyai kedekatan emosi dengan keluarga ayahnya. Hannan menolak diambil oleh neneknya.


"Sayang, itu nenekmu. Panggil grannie." Tuan Nansen memberikan pengertian, walau bayi kecil itu tidak akan paham.


Mereka berkumpul masih di ruang tamu. Nenek dan kakek Hannan terus merayu cucunya agar bisa masuk di dalam gendongan mereka.


Tuan Nan tersenyum melihat putranya masih menolak nenek dan kakeknya. Dia hanya melihat dan tidak menggapai kakek dan neneknya.


Narllye akhirnya tergelitik ingin mencoba meraih simpati Hannan bayi. Dia mendekat ke arah tuan Nan.


"Hallo sayang, ini bibi cantikmu. Panggil aku moster, sayang. Pangeran tampan mungilku," ujar Narllye dengan mengerjap-kerjapkan matanya. Hannan memperhatikan, membuat orang gemas dengan cara dia memandang.


Narllye mendekatkan tangannya ke Hannan. Hannan mulai menggerakan dua tangan mungilnya. Dia menggapai Narllye dan sang bibi tidak menyia-nyiakan untuk menggendong.


"Anakmu genit seperti mamanya," ucap Jeffy pelan. Sudah dipastikan mendapat tatapan tajam Anitha. Tuan Nan dan Narllye tertawa.


"Sepertinya, kanda dipihak Jeffy kali ini sayang." Tuan Nan mengusili istrinya.


"Ohhh berani di dalam sarang sendiri?" Anitha langsung mencubit kecil paha tuan Nan.


"Sakit sayang. Lihat Mom, sifat ini turun ke cucu Mom." Tuan Nan mengadu pada ibunya dengan wajah meringis.


"Ohh ya?"


"Kalau Mom tak percaya, coba Mom dekati lalu katakan yang buruk tentangku. Bayiku akan mencubit seperti kepiting menjepit."


Nenek Hannan penasaran, lalu dia duduk di samping Narllye. Dia memegang tangan Hannan yang sedang dalam pangkuan. "Hai sayang, ayahmu ingin grannie hukum karena lama tidak membawamu ke sini."


Bayi yang belum paham itu hanya mengikuti instingnya. Dia memegang tangan neneknya dan mulai menempelkan jepitan kepitingnya dengan dua jarinya, telunjuk dan jari tengah.


Mereka kembali tergelak, melihat ucapan tuan Nan benar adanya.


"Mom percayakan, sedang mamanya saja rela dia cubit jika ingin menggangguku." Rasa bahagia tak bisa ditutupi oleh tuan Nan.


"Mom rasa dia juga menirumu. Waktu kecil kau suka memukul pipi Mom."


"Untung dia sekarang tidak suka memukul ya Mom, kalau iya, aku bisa mati menderita." Anitha memegang pipinya.


Tawa bahagia, senyum-senyum hangat memenuhi rumah besar ini hanya karena seorang bayi kecil. Hannan Adreyan.

__ADS_1


***


Waktu yang memutuskan siapa yang akan kita temui dalam hidup ini, akan tetapi hatilah yang pada akhirnya menjadi pemenang bagi siapa yang kita inginkan dalam hidup. Sikap dan perilaku memutuskan siapa yang akan tinggal dalam hidup kita.


Begitulah akhirnya jalan hidup anak manusia ini berjalan. Seminggu mereka berada di sana. Banyak hal yang dipelajari Ningsih. Mereka lalu kembali ke Indonesia, menjalankan aktivitas kembali.


Tak terasa kini Hannan sudah berusia dua tahun. Anitha tetap bisa membagi tugasnya antara wanita karier, seorang ibu dan juga sebagai seorang istri.


Namanya suatu rumah tangga, dua hati yang berbeda, pemikiran berbeda, jenis yang tidak sama bahkan ada sedikit perbedaan budaya. Perselisihan kecil tetap ada, namun tidak menjadi besar. Mereka saling mengalah, saling introspeksi diri.


"Pagi Bu," sapa Ajeng ketika pagi ini bertemu di lobi kantor.


"Pagi." Anitha sengaja menjawab serius, tidak bercanda seperti biasanya. Ajeng mengerutkan kening.


"Apa aku ada salah An?" tanya Ajeng dia memutuskan mengikuti Anitha. Tidak langsung menuju ruangannya.


"Apa kau merasa ada salah padaku?" tanya Anitha datar.


Ting ... lift pun berdenting dan pintu terbuka. Anitha masuk dengan tenang dan diikuti oleh Ajeng.


"Aku tidak ada merasa salah An. Tetapi mana tahu aku tidak menyadari. Katakan saja An." Lift terus membawa mereka menuju lantai ruangan Anitha.


Anitha menarik napas berat dan menghembuskan dengan pelan. "Kita bicara di kantorku saja."


"Baiklah." Ajeng akhirnya memilih diam tanpa berpikiran jauh. Dia yakin akan baik-baik saja. Setelah mereka meluruskan kesalahpahaman, tidak pernah mereka terlibat konflik sedikitpun.


"Ayo," ajak Anitha masuk. Dia meletakan tas di atas meja kerjanya, begitu juga Ajeng yang meletakkan di atas meja sofa.


"Apa kau masih trauma dengan kesalahpahaman kita dulu?" tanya Anitha.


"Tidak juga." jawab Ajeng pelan.


"Pakai 'juga'?" tanya Anitha tenang.


"Aku hanya bingung tiba-tiba sikapmu berubah."


"Ohhh."


"Ada apa An?"


"Tidak ada apa-apa," ringan sekali Anitha menjawab.


"Lalu?"


"Aku hanya ingin mengerjai kau. Aku bahagia hari ini." Wajah tanpa dosanya membuat Ajeng gemas alang-kepalang.


"Kau tak pernah berubah sudah jadi ibu satu anakpun masih saja usil. Aku kira kenapa tadi."


"Hahahha maaf sayang, aku tidak punya niat tadi. Ide itu terlintas saat kau menyapaku." Ajeng memukul bahu Anitha.


"Bahagia kenapa?"

__ADS_1


"Kau akan punya keponakan lagi dariku. Aku hamil sudah dua bulan ternyata."


"Kau serius?"


"Hmmhmm."


"Wow, selamat. Semoga Aira punya adik perempuan." Anak Ajeng bernama Aira Rahayu.


"Semoga." Mereka saling peluk dan Ajeng pamit bekerja.


***


Anitha mengetahui baru dua hari yang lalu, saat dia akan sarapan. Dia merasa mual dengan wangian masakan di meja makan. Anitha tidak mencurigai kalau dirinya hamil. Anitha tahu siklus haidnya belum datang, namun dia biasa terlambat. Ada masa siklus haidnya tidak teratur.


Namun tuan Nan mempunyai pemikiran dan perasaan berbeda. Dia yakin Anitha kembali berbadan dua. Tuan Nan merasa Anitha lebih agresif sebulan terakhir saat memadu hati mereka.


Dia bersikeras membawa Anitha ke dokter ketika hari besoknya Anitha kembali tidak menyentuh sarapannya bahkan menutup hidungnya. Kabar bahagia kembali diterima oleh keluarga tuan Nan.


Kehamilan ini terasa lebih berat oleh Anitha. Dia mengalami apa yang dirasa tuan Nan dulu. Tetapi semua bisa dilalui oleh Anitha dengan baik. Tuan Nan dan yang lain selalu ada buat Anitha.


Dia juga lebih rewel kali ini, namun tuan Nan sabar. Dia berharap anaknya perempuan, maka bawaan mamanya rewel.


Tidak hanya Anitha yang menunggu buah hatinya, Jeffy dan Ningsih bahkan sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Ningsih hanya tinggal menunggu hari.


Setelah berlalu tujuh bulan ... di sebuah rumah sakit, dini hari. Titik-titik embun jatuh menetes di muka bumi. Memberi kesejukan pada alam sekitarnya. Banyak insan-insan bernyawa masih bermuara pada mimpinya. Bergelung dalam selimut.


Namun tidak bagi keluarga tuan Nan, terdengar tangis bayi perempuan. Bertambah lengkap kebahagian keluarga ini.


"Dinda ... terima kasih. Kanda tidak akan seperti anak pertama dulu." Tuan Nan langsung menyuarakan isi hatinya. Tuan Nan tidak ingin Anitha kembali seperti dulu.


Ditengah rasa sakit yang masih di rasanya, Anitha tersenyum hangat penuh ringisan. "Tidak Kanda. Aku tidak hanya berpengalaman sebagai istri, tetapi aku juga berpengalaman sebagai ibu."


Tuan Nan mencium kening istrinya yang penuh titik peluh. "Dinda berkeringat Kanda."


"Malam-malam biasanya juga berkeringat," bisik tuan Nan sensual.


Anitha berbisik, "Dasar suami genit." Tuan Nan mengecup pipi Anitha, matanya lalu bibir Anitha.


"Makasih sayang. Mari kita besarkan anak-anak kita dengan penuh cinta kasih."


"Iya Kanda."


Begitulah akhirnya perjalanan hidup wanita desa yang penuh lika-liku. Wanita desa yang tidak mau menyerah dengan kerasnya hidup. Kini dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Anitha kini bisa tersenyum bahagia. Dia tidak lupa bagaimana sakit jalan hidupnya dulu. Namun dia menutupi rasa sakit itu dengan perjuangan dan kebahagiaannya.


Siang ini, Anitha kembali ke rumah bersama tuan Nan dan mengendong bayi mungil mereka. Ibu tuan Nan telah menanti dan menyambut wanita yang telah memberinya banyak kebahagian. Beliau menggantikan tuan Nan menjaga Hannan.


"Hannan ...." Nama itu ke depannya, akan semakin kerap terdengar di dalam rumah besar tuan Nan.


***/


The End

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2