
Deretan kursi meja makan itu sudah di duduki oleh masing-masing anggota dua Kerajaan. Mereka terlihat menunggu anak-anaknya kembali apalagi sudah pergi cukup lama.
Ratu Christina sedari tadi melihat ke arah pintu masuk ruang makan megah ini. Raja Wilson yang sedari tadi menunggu kedatangan Rusel dan Putrinya merasa tak lagi bisa menahan.
"Raja Mikes! apa jarak Paviliun-mu sangat jauh?"
"Tidak." jawaban tegas Raja Mikes membuat helaan nafas Raja Wilson yang saling pandang dengan istrinya.
"Yang Mulia Raja Dezon! aku ingin memperjelas ucapanmu."
"Apa itu tak cukup?" tanya Raja Mikes terkesan menekan. Ratu Christina bisa merasakan jika aura disini cukup membuatnya sulit bernafas. apalagi raut wajah Ratu Bellarosa yang sedari tadi tak bersahabat.
"Aku ingin pernikahan ini secepatnya di lakukan! aku tak mau putriku terus menunggu dengan harapan."
"Hm. terserah kemauanmu." ujar Raja Mikes hanya terlihat tenang tapi penuh intonasi mengancam. ia melirik Ratu Bellarosa yang sama sekali tak bicara sedari tadi.
"Yang Mulia!"
"Nak!" gumam Ratu Christina berbinar melihat Putrinya datang kembali ke ruang makan Istana. senyumnya juga mereka melihat Rusel yang datang dari ambang pintu sana tapi, segera terpaku dengan objek yang tengah di gandengnya.
"Ana!"
"Bu!" gumam Putri Anatasnya terlihat kecewa mendekatinya. Ia melirik penuh kebencian pada Sandra yang juga datang dengan tangan saling menggenggam dengan suaminya.
"Yang Mulia!" sapa keduanya penuh hormat. Sandra juga memberi salam para Raja Wilson yang mengangguk tapi tidak dengan Ratu Christina terlihat jutek duduk di kursinya.
"Duduklah disini!" Rusel membuka kursi di samping Ibunya. Sandra mengangguk perlahan duduk di sana dengan pandangan tenang ke arah tatanan makanan ini.
Ibu dan anak itu mengepalkan tangannya kuat melihat perlakuan Rusel pada Sandra itu sangat manis.
"Aku disini tak duduk untuk melihat kemesraan calon suami putriku dengan wanita lain." sindirnya pedas.
"Aku hanya melayani Istriku." tegas Rusel mengambilkan makanan untuk Sandra yang tak bersuara.
"Bukankah kau sudah sepakat akan perjanjian ini?"
"Yah!"
Jawab Rusel enggan berlebih. Ratu Christina berfikir banyak cara agar Rusel bisa melayani putrinya juga hingga wanita ini bisa tahu diri.
"Duduklah di samping Calon istrimu. Putra Mahkota!"
"Iya. Feliks!" imbuh Putri Anatasnya sudah terlihat malu sendiri. Rusel diam melempar pandangan pada Raja Mikes yang begitu tenang dan hanyut.
"Cepatlah! kalian akan menikah dan jalinlah kebiasaan ini setiap saat." imbuh Ratu Christina lagi.
Sandra melepas genggamannya ke lengan Rusel yang tahu bagaimana perasaan Sandra bagaimana. Tapi, ia sudah tetap dengan pilihanya.
"Pergilah!" lirih Sandra menguatkan hatinya. Ia tetap berwajah dingin sesuai perkataan Ratu Bellarosa yang ia mengerti setelah lama mencernanya.
"Feliks! ayolah. bukankah kita sudah kenal dari dulu? bahkan. kau sering menemaniku berkeliling Istana. bukan?"
__ADS_1
"Benar. Prince!" sambung Ratu Christina membuat suasana sesak bagi Sandra. kalau ia tak memikirkan soal kehormatan dan kartabat Kerajaan, sudah sedari tadi ia lempar piring ini ke wajah keduanya.
"Duduklah disana!"
Rusel duduk di samping Sandra membuat mereka saling pandang dengan tatapan emosi. Raja Wilson merasa semua ini hanya lulucon bagi Kerajaan Dezon.
"Aku tak terima ini. Raja Mikes!"
"Kenapa?"
"Kau menyetujui pernikahan ini. lalu kenapa sikap Putramu masih begini pada putriku?" tanyanya merasa tak punya harga diri. Ia tak memperdulikan kehadiran Sandra yang seharusnya di hargai.
"Aku setuju dan mereka akan menikah!"
Sandra memejamkan matanya. Ia berusaha tenang dan santai walau ia tak sanggup membayangkan itu.
"Tapi, aku tak bisa menyerahkan putriku pada orang yang tak bisa mencintainya."
"Mereka akan menikah!" sambar Sandra angkat bicara. tatapan manik hitam itu mengalun tegas dan angkuh menutupi luka di hatinya.
"Kau jangan membual. sebenarnya kau yang melarang Feliks menikah denganku. bukan?" Putri Anatasny emosi terbukti dengan wajah kerasnya.
"Apa hakku untuk melarang?"
Degg...
Seketika Raja Mikes terasa terbongkem. Rusel juga diam membiarkan Sandra bicara walau ia berulang kali minta maaf atas apa yang akan ia lakukan nanti.
Rusel perlahan meraih tangan lentik Sandra di bawah meja lalu menggenggamnya erat menguatkan wanita itu.
"Benar kau merelakannya?" tanya Putri Anatasnya menyeringai. ia ingin sekali melihat Sandra menangis memohon padanya agar membatalkan pernikahan ini.
"Aku tak pernah rela!"
"Kauu..."
"Aku tak pernah sudi untuk berbagi. dan jika sampai itu terjadi maka lebih baik aku mundur."
"Sandra!" lirih Rusel karna ini di luar duggaanya. Mendengarnya saja sudah membuat nafas Rusel tercekat apalagi itu benar-benar terjadi.
"Aku belajar dari seseorang! aku tak ingin menderita seumur hidup sepertinya." Sandra melirik Ratu Bellarosa yang terlihat diam tak menyela apapun.
"Aku membolehkan dia menikah bukan berarti aku menyerahkannya pada wanita lain!" imbuh Sandra membuat tatapan putri Anastasya bertambah tajam.
"Kau hanya berhak atas status dan kekuasaannya! kau tak berhak mengambil hakku dan anakku."
"Sandra!!!" bentak Putri Anatasnya menggebrak meja karna tak bisa menahan lagi. Ucapan Sandra seakan menekankan jika ia tak berhak atas semua yang ada pada diri Feliks.
"Kau sadar diri. kau itu hanya istri gelapnya. Putra Mahkota!"
"Apa aku perduli?" tanya Sandra menatap kasihan Putri Anatasnya yang merasa di permalukan.
__ADS_1
"Aku tak mau tahu. aku ingin wanita ini menjauh dari Calon suamiku!"
Putri Anastasya terkesan memerintah karna mereka punya kunci Kerajaan Dezon. jika sampai Raja Mikes menolak maka mereka tak akan segan lagi membentuk Aliansi gabungan.
"Yang Mulia! aku ingin sekamar dengan Feliks."
"Kalian belum menikah. Putriku!" sela Raja Wilson agak merasa ini terlalu kejam bagi Sandra yang tengah hamil. seharusnya wanita itu tak mengalami ini.
"Aku tak mau tahu. besok kami akan menikah dan aku mau sekamar dengannya malam ini." angkuhnya egois.
Rusel diam dengan guratan penuh ketenagan. Sandra memejamkan matanya berharap Rusel jangan mengiyakan atau ia benar-benar akan tak tahan lagi.
"Kau tak bisa menolak. Prince!" imbuh Ratu Chrsitina menyeringai.
"Aku terima!"
Duarr...
Sandra langsung terkejut menatap nanar wajah datar tenang Rusel yang terlihat serius. Tentu Sandra tak menyangka jawaban ini yang keluar dari mulut sosok yang begitu ia pertahankan.
"Benarkah?" Putri Anatasnya syok hebat.
"Apapun untuk Rakyatku!"
Jawaban itu sukses membuat goresan di hati Sandra yang langsung melepas genggaman Rusel ke tangannya. Matanya mulai berair tapi sekuat tenaga ia tahan.
"Feliks! terimakasih. Sayang!"
"Hm."
Ratu Bellarosa melirik Sandra dari ekor matanya. Kedua tangan Sandra terlihat saling bertaut mencengkram satu sama lain membuktikan betapa sakitnya mendengar itu.
"Sekarang ayo makan! malam ini kita persiapkan Pestanya. tak perlu mengundang banyak orang sesuai perjanjian kita." Ratu Christina terlihat bahagia.
Mereka makan dengan obrolan seputar pernikahan. Lalu adakah yang memikirkan perasaan Sandra?
Wanita itu diam sama sekali tak menyentuh makananya. Ia hanya membisu seakan tenggelam dalam larutan kesedihan sendirian.
"Makanlah!" lirih Rusel tapi tak ada jawaban. Sandra merasa Rusel berbohong padanya. ini di luar pembicaraan mereka hari itu.
"Sandra!"
"Ak..aku tak lapar." jawab Sandra lalu perlahan ia berdiri bangkit dari duduknya.
"Bu! aku ngantuk, aku ke kamar dulu!" pamit Sandra yang hanya di angguki Ratu Bella. wanita malang itu terlihat melangkah pelan ke arah tangga dengan punggung terlihat bergetar.
Rusel menatap Guren yang ada di ambang pintu dan tentu pria itu paham segera menyusul Sandra yang terlihat kesusahan berjalan.
"Bersabarlah! aku tahu kau terluka.tapi, aku akan memperbaiki ini nanti."
.......
__ADS_1
Vote and Like Sayang...