Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Jangan katakan itu lagi


__ADS_3

Ntah apa yang terjadi pada keduanya. setelah pembicaraan itu Sandra tak lagi melakukan hal lain. Ia hanya diam terus berbaring diatas ranjangnya melihat langit kamar.


Sedangkan Rusel. ntah kemana pria itu pergi Sandra tak tahu harus mengatakan apa atas isi hatinya saat ini.


"Non!"


Bibik Antika masuk membawa makan malam. sudah lama Sandra diam setelah kepergian Rusel tadi.


"Non! makanlah, walaupun sedikit itu baik bagi janin.mu!"


Sandra hanya menatapnya saja tanpa berniat menjawab. ia tengah bimbang dengan dirinya sendiri saat ini. Bibik Antika duduk di samping Sandra seraya meletakan nampan diatas meja.


"Makanlah!"


"Bik!" panggil Sandra seraya beringsut duduk bersandar ke kepala ranjang. ia meremas jari-jarinya membuktikan seberapa besar rasa aneh itu datang.


"Ada apa?"


"Apa aku harus pulang?"


Pertanyaan itu di jawab senyuman oleh Bibik Antika yang merasa sangat malu melihat masalah anak muda ini.


"Kau yang tahu jawaban itu. mau pulang atau tidak hanya kau yang bisa menentukannya. benar?"


"Tapi .."


Sandra menjeda kalimatnya merasa sungguh tak mengerti. Apa yang ia cari disini? tak ada hal yang bisa menahannya tapi kenapa ia enggan?!


"Tapi?'?"


"Aku tak mengerti. aku ingin pulang tapi aku juga tak mau meninggalkan tempat ini."


"Alasannya?"


Sandra langsung diam. Jujur saja ia tak tahu alasannya apa? jika di sebutkan mungkin agak menggelikan di dengar orang lain.


"Hm? katakan. alasannya apa?"


"Ini karna Siluman itu. Bik!" ucap Sandra kesal. ia terlalu terbiasa sampai tak bisa pergi begitu saja.


Melihat wajah jengkel Sandra. Bibik Antika membungkus senyum kecil, Ketua satu itu selalu saja membuat lawannya tepar dengan ketampanan yang di punya.


"Ada apa dengan Ketua?"


"Dia selalu membantuku! dan melindungiku, aku jadi bergantung padanya. Bik!" gumam Sandra menunduk merasa kesal sendiri.


"Kalau begitu temui dia. katakan kalau kau tak akan bergantung padanya lagi. lalu pergi, selesai bukan?"


"Tak semudah itu. Biik!" decah Sandra frustasi mengacak rambutnya sendiri.


Bibik Antika hanya menggeleng saja melihat Sandra pusing begini. tadi ia juga melihat wajah murung Rusel saat keluar kamar dan ternyata ini juga penyebabnya.


"Lalu bagaimana? bukankah kau tak mau bergantung padanya?"


"Hm.. benar! aku tak bisa terus bergantung padanya." jawab Sandra mengangguki itu. Ia harus bicara dengan Rusel tentang unek-uneknya ini.


"Kalau begitu aku pergi temui dia dulu. Bik!" Sandra ingin bangkit menyibak selimutnya.


"Akan ku temani!"


"Baiklah!"


Bibik Antika membantu Sandra berdiri lalu mengiring wanita itu untuk keluar. di luar sudah gelap dan sepertinya ia akan pergi sebentar lagi.


"Kalian mau kemana?" tanya Anya yang baru masuk ke rumah membawa beberapa buah di tangannya.


"Bik! aku pergi dengan Anya saja. kau pasti lelah bekerja seharian."


"A.. iya, Bik! biarkan aku saja." timpal Anya mengerti beralih menggandeng lengan Sandra seraya memberikan satu buah Apel ke tangan wanita itu.


"Hati-hati. pakai mantel-mu, diluar itu dingin!" Bibik Antika memakaikan Mantel rajut hangat ke tubuh Sandra yabg pamit langsung ke keluar.

__ADS_1


"San! aku dengar kau akan pulang. apa benar?" tanya Anya sendu tak rela.


"Memangnya kenapa?"


"San! kau itu satu-satunya temanku disini. aku akan kesepian." jawab Anya hanya di diamkan Sandra yang tersenyum santai. Mereka melangkah pergi ke arah depan di mana sudah ada para bawahan Rusel.


"Hey! kalian!!!" panggil Sandra pada Simob yang tengah berbicara dengan anggota lain.


"Iya. Nona!" berjalan mendekat.


"Dimana Ketuamu?"


Simob diam sejenak lalu menggeleng tak tahu kemana perginya Si tampan desa itu.


"Kami tak tahu!"


"Bagaimana bisa? dia kan Ketuamu. kau pasti berbohong, kan?"


Anya mengusap punggung Sandra yang emosi malam-malam begini. Bagaimana tidak? janji Rusel akan mengantarnya malam ini tapi pria itu tak ada.


"Nona! kami akan mengantar anda ke landasan."


"A..apa? tapi.. tapi tak bisa. ini bukan tugasmu." sangkal Sandra yang tak mau di antar anak buah ini saja.


"Ini tugas kami. Nona! Ketua yang memerintahkan kami melakukannya."


"Apa-apaan ini? tak bisa.. dia tak bisa melakukan hal seperti ini. dia bilang dia itu selalu menepati janjinya tapi sekarang dia kemana dan.."


"Kau membangunkan semua orang malam-malam begini!"


Sandra terhenti bicara mendengar suara yang begitu khas berat milik seseorang yang sudah membuatnya frustasi sekarang.


"Kau..."


"Aku akan mengantarmu!" jawab Rusel menarik lengan Sandra merapat kearahnya. satu tangan lentik itu ia masukan ke saku jaketnya agar tak dingin lalu melangkah bersama ke arah Gerbang Kulfun.


Sandra diam berjalan kaku. ia tadi berani bicara tapi saat sudah begini ntah kenapa kalimatnya tertelan ke dalam.


"Kau tadi kemana?" tanya Sandra membuka pembicaraan setelah beberapa lama.


Jawab Rusel masih menatap ke depan. Ia menggenggam tangan lentik Sandra di dalam saku jaket sana hingga rasa hangat dari jemari besar Rusel membuat Sandra nyaman.


"Siapa?"


"Kau juga akan tahu nanti."


Sandra menyipitkan matanya menatap kesal Rusel yang hanya diam sama seperti awal mereka bertemu. pria ini begitu irit bicara dan sangat membosankan.


"Emm.. lain kali kau pergilah ke Kediaman Papa-ku!"


"Kenapa?"


Pertanyaan itu mencegat leher Sandra yang mencari-cari alasan.


"A.. Papa suka pria sepertimu. kau sangat jantan walau membosankan."


"Apa aku harus ke Club agar kau suka?"


Sandra langsung menghentikan langkahnya. kata Club itu membuat ia teringat akan seseorang yang sampai saat ini masih ia kenang bagaimana wajahnya.


Melihat Sandra diam Rusel segera memeggang dagu lancip Sandra yang menatapnya dari remangan Obor.


"Jangan kesana lagi! itu bukan tempat-mu." tegas Rusel membuat Sandra membeku. jantungnya terasa bergetar mendengar kaliman Rusel barusan.


"Turuti ucapan orang tuamu. mengerti?"


"Kau..." Sandra ingin memaki tapi ia langsung memeluk Rusel erat merasa tak rela.


"Kenapa kau sangat tenang? kau keterlaluan."


"Apa aku berlebihan?"

__ADS_1


Sandra menggeleng membenamkan wajahnya ke dada bidang sana. aroma mind dari tubuh Rusel sangat menenagkan pikirannya.


"Kau tega sekali kalau tak mengunjungiku!"


"Aku tak bisa keluar dari Kulfun!"


Sandra tersentak mendengarnya. Ia mengadah menatap mata bak serigala tajam itu dengan pandangan rumit.


"Aku harap kau baik-baik saja disana. jangan terlalu ceroboh."


Bibir Sandra bergetar mengeratkan pelukannya. Rusel hanya diam mengambil keputusan seperti ini hanya demi kebaikan Sandra yang tengah hamil muda.


"Ingat, jangan pernah lakukan hal yang ku larang saat di hadapan orang lain."


Sandra hanya diam semakin mengeratkan pelukan membuat Rusel tersaa sesak nafas.


"Kau mau membunuhku?"


"Kalau bisa. aku ingin roh mu di masukan ke dalam botol lalu akan terus bersamaku."


Rusel tersenyum pelit mendengarnya. ia melepas Syal yang ada di lehernya lalu memasangkan benda itu ke leher Sandra yang diam.


"Disini semakin dingin. ayo kita pergi!"


"Aku mau di gendong."


Sandra langsung berkoala ke tubuh Rusel yang memaklumi ini. Ia menggendong Sandra ringan dan melanjutkan langkah ke arah Gerbang keluar Kulfun.


Sandra membelit leher dan pinggang Rusel dengan tangan dan kakinya. Ia membenamkan wajahnya ke ceruk leher pria itu sampai terfokus pada jakun jantan ini.


"Kau jangan mulai!" suara berat Rusel saat Sandra menyentuh jakunnya dengan jemari lentik itu.


"Kenapa bentuknya seperti ini? seharusnya bisa di jelekkan sedikit." gumam Sandra asik membelainya membuat nafas Rusel mulai sangat berat. Liur itu beberapa kali ia telan membuat Jakunnya bergerak indah.


Sandra semakin asik dengan dunianya sendiri. remang-remang ia lihat wajah merah Rusel yang menahan hasrat akan posisi ini tapi Sandra bukanlah wanita yang peka.


"Sandra!" serak Rusel dengan dada naik turun mencoba menegur Sandra yang malah tak sadar sendiri mendekatkan bibirnya ke benda itu melabuhkan kecupan lembut membuat tubuh Rusel tersengat.


"K..kau..."


Rusel semakin sulit mengendalikan dirinya. Ia menghentikan langkahnya di dekat bangku di samping pohon tepian jalan.


"Punyamu berbeda dengan punya Daniel!" tanpa sadar Sandra mengatakan itu membuat rahang Rusel mengetat.


"Kau pernah mencobanya?"


Sandra baru sadar dengan ucapannya barusan. ia langsung ingin menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Rusel yang dengan cepat meraub bibirnya.


"Ehmm!!!"


Sandra terpekik hebat memukul bahu kekar itu tapi tak bisa. bibirnya di kuasai penuh bahkan begitu brutal.


"Ruselmm..."


Rusel membaringkan Sandra ke atas tempat duduk di tepi pohon sana seraya terus menjilati benda manis ini dengan penuh rasa panas di dadanya.


Sandra memberontak tapi kedua tangannya di tahan ke atas kepala dengan kedua paha Rusel mengungkungnya.


"Ehmm!!"


Sandra terpekik saat bibirnya di gigit Rusel yang tak bisa membendung antara hasrat dan rasa panas memenuhi jiwanya.


Plup...


Rusel menarik tautannya dengan nafas memburu diantara keduanya. Benang saliva itu terhubung dengan bibir lembab akan hisapan masing-masing.


"K..kau..." Sandra menatap netra tajam itu dengan pandangan terkejut.


"Jangan katakan itu lagi!" tekan Rusel membunuh menarik rasa takut Sandra yang tak pernah melihat ini saat Rusel setenang air padanya.


"I..iya!"

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2