
Pandangan tak rela Anya terlihat tak berhenti terputus pada Sandra yang sudah di kawal sampai ke landasan Helikopter sini. Sedari tadi ia terus memeluk wanita cantik itu dengan mata berkaca-kaca sungguh tak rela.
"San!"
"Aku tak pergi selamanya! hanya sebentar. Anya!" jengah Sandra menepuk punggung Anya yang menangis mengeratkan pelukan. rambutnya yang dikepang sederhana itu di rapikan Sandra yang mengerti.
"Tetap saja. aku pasti akan kesepian. tak ada lagi yang akan membuat onar disini." gerutu Anya menatap Sandra yang tersenyum kecut. Sandra memang lebih tua darinya karna umur Anya baru memasuki 18 tahun.
"Kau tenang saja. saat aku kembali aku akan mengacaukan desa ini." bisik Sandra membuat keduanya terkekeh mengundang perhatian semua orang yang tengah saling berkomunikasi.
"Semoga Nona Sandra baik-baik saja. Ketua!" ucap Bibik Antika tengah berdiri di belakang Rusel memandangi dua sahabat baru itu.
"Hm. pasti!"
"Ini, Ketua!" Paman Jo memberikan bungkusan plastik berisi dedaunan kering yang biasa ia ramu untuk pengobatan Sandra.
"Terimakasih. Paman!" Rusel mengambilnya dengan penuh sopan. Paman Jo mengangguk melangkah ke pinggir membiarkan Rusel mendekati Sandra yang cekikikan bersama Anya di dekat Helikopter sana.
"Kalau dia mengganggumu, kau panggil saja aku 3 kali maka aku akan datang."
"Kalau begitu kau sama seperti Bebek punya Paman!" sambar Anya tertawa renyah menepuk bahu Sandra yang tersenyum hangat. Jujur ia sangat nyaman bersama Anya dari pada para saudarinya.
"San! kau ini ada-ada saja."
"Kau tak tahu saja. kalau aku ini punya berbagai cara membuat keributan, ikuti saja jejakku!"
"Cih! menjijikan!" Anya bergidik geli lalu segera bungkam saat Rusel sudah mendekat kesini. Ia berdiri di samping Sandra yang diam seribu bahasa.
"Ketua!"
"Jalankan tugasmu dengan baik!"
"Siap!!" Anya memberi hormat dengan sangat yakin menyanggupi titahan mutlak dari Rusel. Dahi Sandra mengkerut bingung di buatnya.
"Tugas apa?"
"Masuk!" Rusel malah tak menjawab. ia menarik lengan Sandra untuk segera masuk ke dalam Helikopter mereka.
"Ada apa? kau mulai main rahasia-rahasia. sekarang?!" geram Sandra menatap tajam Rusel yang tampak tak merespon. Sandra di dorong halus menduduki kursinya dengan Rusel yang juga duduk di sampingnya.
"Pakai!" Rusel memberikan Syal berwarna merah ke pangkuan Sandra yang menekuk wajahnya membuat Simob yang duduk di kursi di samping Pilot Hely sana tersenyum pelit.
"Kau!!!"
"Paman! Bibik, aku titip daerah ini!" sapa Rusel pamit penuh wibawa pada Paman Jo dam Bibik Antika yang mengangguk melambaikan tangannya.
Mau tak mau Sandra menepis rasa kesalnya membalas sapaan mereka diringi Helikopter yang mulai di terbangkan ke atas.
"Daaaaa!!!!" teriak Anya terlihat mengusap air matanya sendiri. Sandra bergeser ke tempat duduk Rusel untuk melihat Anya dan ikut melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Daaaa!!! sampai jumpa!!!" teriak Sandra ingin ke tepi lagi membuat Rusel sigap menahan pinggang wanita pecicilan ini.
"Sudah! kau bisa jatuh!"
"Daaa!!!" teriak Sandra semakin kuat ke telinga Rusel yang terhenyak langsung menatapnya membunuh tapi Sandra malah menjulurkan lidahnya masa bodoh.
"Bweee! dasar Siluman."
"Duduk!" tekan Rusel melotot tapi Sandra enggan. ia memilih mengapit Rusel agar terjun ke bawah, dorongan Sandra begitu kuat tapi tak sebanding dengan tenaga Rusel yang menahan di pintu Helikopter.
"Kau jangan main-main!"
"Kau ini sedari pagi sangat menjengkelkan. tiba-tiba saja mengunciku di dalam kamarmu. maksud-mu apa, ha?" omel Sandra mendongakkan wajahnya tanpa takut.
Simob melirik wajah datar Ketuanya dari arah kaca depan. raut tenang tapi menyimpan kekesalan itu terlihat jelas di wajah tampannya.
"Kembali ketempatmu!" masih mengalun tenang.
"Kenapa? kau takut?" tantang Sandra yang tak sadar kalau dadanya menempel dengan lengan Rusel yang sungguh merasa ingin memaki nasibnya.
Wanita ini memang benar-benar. dia selalu saja memancing tapi tak mau menuntaskan.
Kiranya itulah kata-kata yang tepat dalam posisi Rusel sekarang. Sedari pagi ia menahan dan sedari itulah Sandra seakan tak menganggapnya lelaki normal.
"Kembali ketempatmu!" ucap Rusel dengan sedikit penekanan.
"Tidak!" kekeh Sandra merapatkan tubuh mereka membuat Rusel memejamkan matanya menahan rasa panas dan kesal sekaligus.
"Nona! sebaiknya kau turuti perintah Ketua, kau sedang hamil dan tak baik bermain lulucon di dalam sini." Simob memberi arahan membuat Sandra diam.
Simob yakin Sandra mengerti akan ucapannya barusan. ia juga tahu apa yang di rasakan Ketuanya di posisi seperti itu.
"Tidak! aku mau begini."
"Shitt!" umpat Rusel menyandarkan kepalanya ke kursi. ia tetap memeggang pinggang Sandra berjaga jika rumput liar ini bergerak kemana saja dia mau.
Simob menggeleng tak bisa lagi memberi pertolongan. Ia hanya fokus bersama Pilot yang menerbangkan benda seperti capung ini keluar area hutan peggunungan Kulfun.
Setelah beberapa lama. Sandra menyandarkan kepalanya ke dada Rusel yang memejamkan matanya setenang mungkin.
"Apa Papa sudah pergi duluan?" tanya Sandra memainkan kancing jaket Rusel yang diam.
"Kau bilang tadi Papa menungguku. aku pikir dia akan berangkat bersama kita." sambung Sandra lirih memandangi deretan pepohonan dari atas sini. terlihat indah dan menenagkan.
"Dia ada urusan penting tadi, dia sempat menanyakanmu!"
"Itupun pasti hanya untuk Kakak!" gumam Sandra sendu. kapan ia bisa seperti para saudaranya yang memiliki kualitas dari pada popularitas?!
"Kendalikan pikiranmu!"
__ADS_1
"Kenapa? aku tak salah-kan kalau berfikir seperti itu?!" tanya Sandra menatap Rusel yang masih menutup mata.
"Kau selalu menduga-duga!"
"Memangnya kenapa? apa kau juga akan menyakahkanku?!" tanya Sandra terlihat marah. Ia kembali ketempatnya membuang muka ke luar sana.
Terlihat jelas sikapnya masih begitu labil dan kekanakan. tapi, umur Sandra masih 22 tahun. di umur seperti itu dengan keadaan lingkungan yang buruk bisa membentuk sikap egois yang tinggi.
"Kau sama saja dengan mereka! selalu saja menyalahkanku." gumam Sandra tampak merasa sakit sendiri. tak ada yang bisa mengerti dirinya bahkan selalu ia yang dijadikan pelampiasan.
"Tidak! tapi, ..."
"Kalau kau bertemu dengan Saudariku. kau juga pasti akan menyukai mereka!"
"Sandra!" Rusel menatap tajam Sandra yang menunduk dengan rasa takut yang kuat. Takut karna ia sudah lelah di bohongi dan dikhianati.
"Kalian sama saja. kau atau dia tak ada bedanya." gumam Sandra bergetar meremas jari-jemarinya.
Rusel sungguh menatapnya dalam. kepalan tangannya menguat merasakan jika Sandra sudah Trauma untuk mempercayai suatu hal hingga ia selalu merasa curiga.
"Aku berbeda dengannya!"
"K..kau... kau sama saja, lama-lama kau juga akan benci padaku."
Rusel diam membiarkan Sandra menangis di tempatnya sendiri. jika mengajaknya bicara sekarang itu percuma karna watak Sandra memang sangat keras dan melawan.
"Ketua!" lirih Simob tak tega melihat Sandra menangis seperti itu tapi Rusel mengisyaratkan diam. kalau sudah seperti itu Sandra akan tidur kalau sudah lelah.
Isak tertahan Sandra menghadirkan hal yang sama di dada Rusel yang hanya mendengar. ingin sekali ia rengkuh tubuh wanita itu tapi sekarang tengah ada di Helikopter. kalau Sandra memberontak akan bahaya nantinya.
"Kita akan tiba ke landasan ke 2! ada Mobil menunggu di sana." ucap Pilot menyampaikan apa yang baru saja di laporkan padanya. Guren sudah lebih dulu kesana menyiapkan semua kebutuhan.
"Ketua!" panggil Simob saat melihat Sandra yang sudah oleng tapi Rusel segera menghalang kepalanya membentur bagian besi pinggiran Hely.
"Apa Nona.."
Simob segera bungkam melihat Sandra sudah tak sadar. ternyata benar ucapan Ketuanya soal wanita ini.
"Sediakan makanan di sana. dia akan lapar saat sudah bangun."
"B..begitukah?" gumam Simob heran tapi memberi pesan pada anggota yang lain.
Rusel beralih menyandarkan kepala Sandra ke dadanya lalu menyelimuti tubuh Sandra dengan jaket miliknya.
"Ketua! Tuan Hatomo mengabarkan kalau kita harus segera sampai."
"Tetap di tempat!" tegas Rusel tak menuruti itu. Simob mengangguk menatuhi perintah tegas Rusel yang tak ingin diatur seenaknya.
Simob-pun merasa geram. Tuan Hatomo memang tahu jika Rusel bukanlah orang asli Kulfun dan Rusel adalah bagian dari penjaga kekuasaan Bangsawan Rusia, bisa dibilang Rusel mengaku sebagai salah satu pengawal Istana.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..