
Tubuh Sandra panas dingin di kala berhadapan dengan sesosok pria paruh baya yang bermata sama seperti Rusel bahkan wajah mereka sedikit mirip. Raut datar bahkan terkesan sangat kejam membuat ia mengurungkan niat untuk bersalaman.
"Kau begitu serius." suara bariton berat keluar dari bibir pria berewokan ini hingga kharismanya benar-benar kuat. Stelan Jas hitam itu membalut tubuh gagahnya yang masih sangat segar.
"Yang Mulia!" sapa Rusel membungkuk memberi hormat hingga Sandra mengikut.
Anggota Keluarga lain tengah menatap Sandra dengan beragam pandangan. ada yang terlihat kagum dan ada yang sepertinya melapisi kebencian dengan senyuman.
"Sepertinya kau tak mengindahkan ucapan. Ayahmu, Prince." sapa sosok wanita paruh baya dengan rambut pirang dan hidung mancung itu.
"Ini urusanku. tak ada yang bisa memerintahku." jawab Rusel tegas membuat wanita itu diam dengan pandangan berapi-api.
"Hormatilah Bibikmu!" sela Raja Mikes yang begitu menahan diri.
"Yang Mulia! apa ucapanku begitu menyinggung?!"
Ratu Bellarosa yang sedari tadi melihat perang dingin ini sampai menghela nafas. Adik iparnya Loure terlihat memang memancing keadaan keruh kembali.
"Sapalah sebentar mereka. lalu ayo ke dalam, disini sudah mulai beku." ucapnya menengahi.
"Baik. Ibu!"
Rusel berbalik menatap para rakyatnya yang sudah menunggu untuk di beri sapaan. semua mata tertuju padanya dan Sandra bersama Media yang benar-benar tak mampu untuk mendekat.
"Selamat menyambut musim dingin!!!"
"Terimakasih. Yang Mulia Prince Feliks!!" jawab mereka serentak membungkuk. Sandra sampai terperangah ribuan orang di luar sana menjawab dengan barisan rapi. sangat tak bisa di bantah.
"Terimakasih atas penyambutan kalian! bersiaplah untuk hadir di Resepsi Pernikahanku!!"
"Feliks!" suara Ibu Bellarosa terkejut. ia tak lagi mampu menahan dinginnya wajah Raja Mikes yang tengah mengepalkan tangannya dengan kuat.
Perdana Mentri Cerres yang sedari tadi melihat ketidak ramahan Rajanya hanya diam tak ingin membuat suasana semakin runyam.
"Sel! mereka diam." lirih Sandra takut-takut.
"Biarkan saja. yang penting aku sudah meneggaskannya." jawab Rusel lalu berbalik kembali menatap Raja Mikes yang tanpa bicara segera turun dari Aula kembali melangkah menuju Gerbang satunya yang ada di depan.
"Kau sudah keterlaluan. Prince." ketus Loure melangkah pergi juga bersama dua pelayannya. Tak lupa para pengawal yang menjaga mereka agar aman.
Sekarang. tinggallah Ratu Bellarosa yang tersenyum melihat Sandra sepertinya tak enak hati melihat keadaan seperti ini hanya karna dia.
"Namamu Sandra. bukan?"
"A.. Iya. Yang Mulia!" jawab Sandra kikuk tersenyum membuat Ratu Bella ikut menghangat. pembawaanya sangat keibuan membuat Sandra nyaman.
"Kau sangat cantik, lebih cantik dari yang ku lihat di Media."
"Anda juga. Yang Mulia! pantas jika anda menjadi Ratu disini." puji Sandra agak segan karna kharismanya bisa ia rasakan jelas.
"Kau sangat manis, tapi. apa kau yakin Feliksku benar mencintaimu?"
"Ibu!" sela Rusel dengan pandangan yang agak tak bersahabat membuat kekehan wanita anggun ini muncul. tangan putih lembutnya mengusap rahang tegas Rusel selayaknya seorang Ibu.
"Pantas Ibu menanyakan ini. karna selama ini Feliks kami tak pernah berminat dengan yang namanya wanita."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Sandra menyipitkan matanya seakan tak percaya.
"Hm. yah! jadi berhati-hatilah, mungkin saja dia hanya penasaran padamu. hm?"
"Ibu! jangan menganggunya lagi."
Ratu Bella menaikan bahunya acuh lalu menggandeng Sandra yang tersentak menurut di kala Ratu Bella melangkah turun ke bawah.
"Y..Yang Mulia. anda.."
"Jangan canggung. semua orang tengah melihat kita." ucap tegas Ratu Bella masih tersenyum membuat Sandra mengerti. ternyata begitu sulit menjadi orang penting begini.
Mau tak mau Sandra menurut saja. ia berdecah kagum di setiap bujuran Karpet ini di kala melihat pemandangan indah saat kakinya sudah melewati Gerbang Kedua.
"Wowww!" decak Sandra kagum melihat bangunan luas di ujung sana. ia baru pertama kali melihat Bangunan Megah seperti Kerajaan Roma ini hingga benar-benar takjub.
Dindingnya mengkilap seperti terbuat dari emas dengan pilar-pilar kokoh menopang gagah. belum lagi dengan lapangan hijau di penuh bunga-bunga serta rumput yang di petak menjadi beraneka ragam bentuk patung.
"Ini Istana Dezon! tak semudah itu orang bisa masuk kesini."
"Yang Mulia! ini seperti mimpi." gumam Sandra tak berhenti meliarkan pandangannya. beberapa pengawal yang tengah memandangnya-pun ikut merasa sangat miris karna wanita ini terlalu berani.
"Ini bisa saja Mimpi buruk."
"Kenapa? semuanya indah dan mewah. aku tak pernah melihat hal seperti ini kecuali di Film-Film Disney!" jawaban polos Sandra sontak membuat Ratu Bella terdiam.
"Tampak luar itu hanya menyembunyikan yang ada di dalam."
"Maksudnya?"
"Semuanya selalu di pantau. aku memang Ibunya tapi aku tak punya kuasa banyak, berjuanglah untuk hidupmu sendiri."
"M..Maksud anda?"
"Kau datang kesini berarti sudah siap. tak akan ada yang perduli jika kau mengandung atau tidak."
Deg..
Sandra langsung bungkam memandangi kepergian Ratu Bella yang sama sekali tak ia pahami. terkadang wanita paruh baya itu terlihat bersahabat lalu kenapa bicara seperti itu?
"Jadi ini yang telah di nikahi Yang Mulia Prince?"
Sandra langsung menoleh menatap seorang wanita muda dengan rambut pirang ikal dan mata besarnya yang sangat sangar. pakaiannya begitu feminim dengan Dress Toska terbuka itu.
"Kau siapa?"
"Kau tak mengenalku?"
Sandra hanya diam dengan pandangan datarnya. Ia sama sekali tak menundukan kepala karna ia ingat perkataan Rusel di mobil tadi.
"Aku tak punya waktu untuk mengenal seseorang yang tak penting bagiku."
"Ouhh. kau sangat pedas." imbuhnya tersenyum menyeringai berdiri di depan Sandra hingga keduanya terlihat memiliki auranya sendiri. Sandra si keras kepala dan angkuh dan sosok licik yang berubah-ubah.
"Jangan kau pikir jika anak itu akan membawa keberuntungan."
__ADS_1
"Kau tak berhak membahas anakku." tegas Sandra merapatkan giginya geram. sepertinya wanita ini adalah salah satu Putri disini terbukti dengan para pengawal yang tunduk saat ia lewat tadi.
"Kau belum tahu kami seperti apa. bukan? jadi berhati-hatilah." desisnya meraih helaian rambut panjang Sandra dengan liukan jari lentik itu.
"Pastikan besok kau masih bernafas." imbuhnya lagi tersenyum ramah.
Sandra mengepalkan tangannya kuat. sepertinya semua orang di Istana ini mau memusuhinya, terbukti tadi tak ada yang mau menyapa dengan baik-baik.
"Kau mau ku berni nama?"
Dahi wanita ini menyeringit. hingga membuat kerutan di alisnya.
"Maksudmu?"
"Kau begitu ingin aku tahu namamu. bukan?!" gumam Sandra melangkah semakin dekat lalu ia beralih merapikan Dress wanita itu dengan gayanya yang elegan.
"Kau.."
"Putri KEMENYAN!"
Bisik Sandra lalu hampir tertawa sendiri tapi ia menahannya. Putri Anatasya terdiam tak mengerti dengan nama itu dan sangat asing di telinganya.
"Kau meledekku?" geramnya lagi dikala melihat Sandra menahan tawa.
"Tidak Putri Kemenyan! aku hanya merasa agak geli melihat lisptikmu keluar arena."
Glek...
Sontak ucapan Sandra membuat para pengawal yang ada di sekitar mereka ingin menyemburkan suara tawa tapi segera ditahan kuat karna wajah Putri Anatasya sudah merah padam.
"Apa kalian??" bentaknya keras sampai Sandra mengusap dada.
"T. tidak. Putri!"
"Dan kau..."
"Apa?" tanya Sandra menaikan alisnya angkuh. Putri Anatasya terlihat benar-benar emosi sampai hidungnya kembang kempis menahan luapan panas.
"Kau lihat saja. akan ku buat kau menangis darah meminta pergi dari sini."
"Benarkah? kalau begitu lebih cepat lebih baik, tapi tunggu dulu." Sandra menjeda ucapannya lalu mengetuk dagunya berfikir. terlihat sangat menggemaskan.
"Tapi, perbaiki dulu Lipstikmu. ya?"
"Kauu..."
"Baaayy KEMENYAN!!" Teriak Sandra lalu melangkah pergi dengan bahu bergetar sepertinya ia sedang tertawa.
Tatapan membara Putri Anatasya memang benar-benar terlihat membakar habis udara disini. tak ia kira Sandra lebih berani dari yang ia kira.
Namun. seringaian Putri Anastasya meruak dikala banyak yang bisa membantunya menghancurkan wanita ini.
"Raja Mikes tak menyukaimu. aku bisa mengadu domba kalian sampai kau mati dan anakmu tak punya sosok Ibu, dengan begitu. mau tak mau Prince Feliks akan menjadi milikku."
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..