Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kekacauan Sandra!


__ADS_3

Mentari pagi hari ini cukup menyengat. laksana kekuningan itu agak melaju dan tergesa-gesa menyambar kemana tempat yang di sukai membawa langit cerah bersamanya.


Rembesan cahaya itu menerobos di sela Balkon kamar seorang wanita yang tengah tertidur lelap di atas peraduannya.


"Emm.. Sel!" lirihnya menarik selimut sampai ujung kepala menghalangi cahaya yang tengah menyengat mata.


Ia masih merasa mengantuk hingga beberapa saat kemudian barulah tangannya meraba tempat di sampingnya.


"Sel!!" gumamnya lagi tanpa membuka mata. merasa tempat di sampingnya dingin dan tak ada aroma mind itu menarik kesadaran Sandra ke permukaan.


"Sel!!"


Menyibak selimut dan menatap ke sampingnya. tak ada pria itu sama sekali.


"Sel!! kau..."


Sandra terdiam sesaat. ia tertegun dikala merasakan tubuhnya sakit dan sangat lemah.


"S..Semalam! aku..ini.."


Bukankah semalam aku di Club. dan ada Rusel disana, kami..


Sandra segera menyibak selimut dan melihat baju kaos yang ia pakai itu kebesaran. tentu daleman yang ia pakai sudah berganti karna semalam sempat robek.


"D..dia..dia semalam sangat berbeda dan mengatakan semuanya. tapi..."


"Non!"


Sandra menoleh ke arah pintu menatap datar Bibik Iyem yang membawakan nampan makanan serta segelas susu kedelai kesukaannya.


"Nona sudah bangun?"


"Dimana Rusel?" tanya Sandra spontan dengan intonasi yang labil dan ciut.


"Saya tak tahu. Nona!"


Sandra terdiam. hatinya merasa sangat kacau mengingat ucapan Rusel semalam yang terlihat marah dan terluka akan sikapnya. tapi, ia masih tak menyangka Rusel adalah ayah biologis bayinya.


"Apa dia pergi karna marah padaku?!"


"Non! tadi Tuan Tampan meminta Nona memerikaa ponselmu kalau sudah bangun."


"P..ponsel?"

__ADS_1


Bibik Iyem mengangguk hingga Sandra langsung mencari ponselnya. wajah yang cemas itu bertambah mendingin dikala tak menemukan benda itu.


"Mana ponselku. Bik?"


"Di atas meja. Non!"


Sandra segera meraihnya sigap lalu memeriksa benda pipih ini. jantungnya terasa di hentak di dalam sana untuk membuka pesannya.


Jaga dirimu baik-baik. aku tak bisa menunggu kau bangun karna ada urusan penting di Kulfun. masalah semalam, aku minta maaf. terserah kau mau membenciku atau tidak tapi jagalah dirimu. dengan begitu aku bisa tenang disini.


Mata Sandra langsung berkaca-kaca. jadi, Rusel pergi dan pasti akan sangat lama disana. sedangkan ia disini sudah sangat merindukannya.


"Non!"


"B..Bik! a..aku..aku semalam memakinya, aku marah padanya. aku.."


Bibik Iyem meletakan nampannya diatas ranjang lalu duduk di samping Sandra yang merasa bersalah sekaligus marah pada semua yang telah terjadi.


"Non!"


"K..kenapa dia pergi. Bik, hiks! kenapa dia tak menjelaskan padaku selama ini. aku.."


"Apa Nona akan mengerti?"


"M..maksudnya?"


"Non! bibik tak tahu betul masalah kalian apa, tapi. di lihat dari situasi ini sangat besar dan rumit."


Sandra mengangguk mengusap perutnya. walau ia masih marah pada Rusel tapi rasa ketergantungan itu telah membuat pikirannya kacau.


"D..dia..dia tak jujur padaku. Bik! dia..dia seakan tak tahu apapun selama ini. membiarkan aku mencari padahal dia.."


"Non! Bibik tak tahu alasan Tuan Tampan. tapi, jika masalah mengatakan kebenaran. pasti Tuan Tampan punya alasan yang kuat tak mengatakannya." ujar Bibik Iyem bijak.


"Tapi.. tapi apa salahnya dia bilang padaku?! dia seakan tak tahu apapun. pantas saja dia mau menikahiku. Bik!" duga Sandra kembali dengan pikiran buruk. Bibik Iyem hanya tersenyum kecil melihat beginilah yang akan di pikirkan Sandra.


"Dia itu memang jahat. aku membencinya." gumam Sandra mengusap air matanya sendiri. ucapan yang tak sejalan dari mata yang tengah mencari-cari pria itu.


"Sekarang dia pergi! dasar tidak bertanggung jawab." sambungnya lagi melihat ke kamar mandi yang biasa Rusel pakai.


"Mona marah padanya?"


"Sangat! bagus kalau dia pergi, sebaiknya jangan pulang kalau begitu." jawab Sandra asal memaki tapi hatinya merasa sesak sampai air mata itu terus keluar.

__ADS_1


Bibik Iyem mengusap punggung Sandra lembut mencoba menenagkan gejolak hati dan pikiran wanita ini. Tadi subuh Rusel sendiri yang membawa Sandra kembali pulang, rencananya mungkin Rusel akan pergi detik itu tapi Rusel merasa cemas jika meninggalkan Sandra di Club hingga kembali berbalik arah.


"Makanlah. Non!"


"Aku tak lapar."


"Non!" lirih Bibik Iyem membuat Sandra mengumpat. ia masih memikirkan Rusel hingga nafsu makannya sangat turun derastis.


"Bik! aku mau ke kampus nanti. jadi ..."


"Nona baru saja sadar. jangan terlalu memaksakan."


"Aku tak bisa disini terus." jawab Sandra memaksakan dirinya untuk berdiri walau tubuhnya sangat remuk. jika disini ia akan selalu terbayang wajah tampan pria itu dan akan semakin menekannya untuk merindu.


Bibik Iyem memandangi Sandra yang berusaha melangkah masuk ke kamar mandi. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar Sandra yang tengah keras kepala.


"Maaf. Non! tapi, Tuan memintaku melakukan ini."


Bibik Iyem mengirim foto itu pada Rusel yang sudah mengatur segalanya. Di Kediaman ia meminta Bibik Iyem menjaga tapi jangan menyebutkan tentangnya.


Di dalam kamar mandi sana. Sandra mengusap wajahnya dengan air agar pikirannya terhindar dari bayang-bayang Siluman Maniak itu.


"Please! pergilah dari pikiranku." gumam Sandra frustasi. baru beberapa menit ia tahu Rusel pergi dari sini dan rasanya sudah tak sabar ingin bertemu.


"Kenapa? kenapa kau harus membuatku terbiasa. aku membencimu. Dasar Siluman!!!!" teriak Sandra sejadi-jadinya tak tahan dengan semua ini.


"Aku benci!!!! kau jangan pulang!! aku tak sudi melihatmu di kamarku!!!"


Jerit Sandra lalu tersandar ke dinding kamar mandi. ia kembali menangis melihat handuk yang biasa Rusel gunakan untuk membalut tubuhnya kalau ketiduran di Bathub.


Belum lagi ingatannya muncul membayangkan kehangatan pria itu disetiap waktunya. tak ada hal yang luput dari perhatian manik kehijauan tajam itu.


"Sel!! hiks!"


Bibik Iyem hanya bisa menghela nafas dalam. Ego Sandra terlalu tinggi mengatakan jika tak berharap suaminya pulang, tapi. sayangnya yang terjadi sangatlah berbeda.


Di luar sana telah berdiri Erina yang sempat syok saat melihat Sandra pulang dengan keadaan tak sadarkan diri semalam. dan ia mengintip jika Rusel juga pergi meninggalkan wanita itu.


"Apa Pria itu bertengkar dengan Sandra?!" gumam Erina merasa penasaran. hari itu ia membuntuti mobil Rusel tapi, ia tak bisa mengikutinya lagi karna kehilangan jejak.


"Aku harus tahu apa yang tengah Sandra sembunyikan! kenapa pria itu begitu menjaganya dan apa hubungan mereka?!" sambung Erina lalu melangkah pergi karna harus ke Rumah Sakit. ia punya janji dengan Dokter spesialis kandungan di tempatnya.


......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2