
Deru pesawat itu terdengar mendarat di Bandara khusus yang tengah di jaga banyak manusia. lapangan luas beraspal ini menunjukan banyak rambu dan dikelilingi oleh gedung-gedung yang begitu mewah dengan cuaca mendung dan sejuk.
"Yang Mulia!"
Mereka semua membungkuk hormat di kala melihat sosok gagah bermantel itu tengah menggendong seseorang di didalam rengkuhan hangatnya.
Tatapan mereka bergulir satu sama lain tapi tak berani bertanya. mungkinkah itu Istri Putra Mahkotanya yang menjadi bualan di Kerajaan?
"Yang Mulia!"
"Hm." jawab Rusel seadanya melewati mereka yang berusaha melihat wajah Sandra yang tertutup oleh topi Mantel tebal yang di pasangkan Rusel karna disini memang memasuki musim dingin.
Simob yang tengah bicara dengan pria berambut Blonde sana terlihat tergesa-gesa ke arah Mobil yang di siapkan khusus menjemput.
"Tuan! apa yang terjadi pada Yang Mulia Prince?"
"Aku tak tahu." jawab tegas Simob pada Ivan yang merupakan kepala pengawal Istana.
Ivan diam. ia mengibas rambut keemasan agak panjang itu untuk menetralkan suasana. Jika melihat dari raut wajah Putra Mahkota, sepertinya baik-baik saja tetapi baru kali ini ia terlihat menentang Kerajaan.
"Ketua!"
Simob membukakan pintu mobil hingga Rusel membawa Sandra pelan masuk ke dalam. begitu hati-hati seakan yang tengah ada di dekapannya itu adalah Guchi mahal yang mudah retak.
"Apa yang kalian tunggu. ha??" suara Simob geram di kala semuanya mematung diam.
"Cepat jalankan tugas kalian!" imbuhnya lagi menggerakan semuanya. Simob masuk ke pintu kemudi lalu melirik Rusel yang tengah mengatur posisi kepala Sandra dengan hati-hati.
"Nona belum bangun? Ketua!"
"Hm. dia masih ngantuk." jawab Rusel saat melihat Sandra menggeliat mengeratkan pelukan ke perut kerasnya. kepala wanita ini beralih ia pangku dengan tubuh berbaring di kursi mobil empuk ini.
Saat Mobil di jalankan maka begitu juga para kawalan di belakang. Rusel melihat keluar jendela di kala pemandangan Kota maju ini kembali ia lihat.
"Ada Media?"
"Sepertinya di luar Istana. Ketua!"
Rusel mengambil nafas dalam. ini tak bisa ia hindarkan, jika sudah kembali ke Negerinya maka semua akan terasa berbeda setiap langkah dan gerak-geriknya akan di pantau terus.
"Ketua! Yang Mulia Raja Mikes masih belum terlihat bergerak. hanya saja keadaan di Istana tengah tak stabil karna mendengar pernyataan Ketua kemaren."
Ucapan Simob membuat Rusel terdiam sejenak. Ayahnya pasti akan mengambil keputusan tegas atas semua ini apalagi isu di luar sana akan mengancam kedudukan Tahta kerajaan.
"Mungkin, yang di khawatirkan Ratu Bellarosa hanya tentang kedudukanmu, Ketua."
"Persaingan itu membuatku jengah." umpat Rusel merasa muak dengan kelicikan dan taktik murahan disana. itulah mengapa ia lebih suka mengembara ke berbagai tempat untuk menghindari konflik internal Kerajaan.
Lama Mobil ini berjalan stabil di kawal penjaga di belakang sana hingga mereka menjadi objek perhatian. para masyarakat Kota ini berjejer di sepanjang jalan melihat Mobil putra mahkota Dezon itu melewati.
"Kita sudah mendekati Gerbang. Ketua!"
Rusel melihat banyak manusia disini. bahkan memenuhi jalan di depan Gerbang dengan para pengawal istana berjas hitam itu juga tengah mengamankan gejolak masyarakat.
"Yang Mulia!!!"
"Yang Mulia Feliks!!!"
Teriakan itu menyentak Sandra yang langsung terperanjat bangun.
"S..Sel!"
__ADS_1
"Maaf, kau terbangun."
Sandra melihat ke luar kaca jendela dimana semua orang tengah menatap Mobil ini. dan orang-orangnya juga begitu asing dengan kulit putih dan rambut coklat kepirangan itu.
"Yang Mulia!!!"
"Ke..kenapa sebanyak ini?" gugup Sandra benar-benar tak percaya. ia kira hanya akan ada keluarga Rusel tapi nyatanya masyarakat sini juga turun ke jalan.
"Kau cukup tenang dan tunjukan kalau kau bisa berbaur dengan mereka. hm?"
Ucapan Rusel barusan seakan jadi kegelisahan Sandra yang berusaha untuk mengimbangi. Mundur itu sama saja seperti mati baginya.
"Baiklah. tapi, kau jangan jauh-jauh."
"Aku tahu." jawab Rusel tersenyum kecil dikala melihat Sandra memperbaiki penampilannya. Sandra bercermin ke kaca spion depan mobil memoles bedak di wajahnya. tak lupa lipstik Meat itu menambah kesan Elegan dan dewasa.
"Apa aku sudah cantik? lipstikku rapi tidak?" tanya Sandra merapikan rambutnya.
"Siapa bilang kau cantik?!"
"Sel! aku serius, Sayang! kau yang benar saja kalau bicara." kesal Sandra tapi terdengar manis di telinga.
Rusel mengambil tisu di dekat kursi lalu menarik dagu Sandra menghadapnya. visual indah wajah cantik ini memang tak pernah berdusta, manik hitam bening Sandra sangat menggemaskan menyatu dengan porsi wajah tirus agak berisinya.
"Mana yang kurang?"
Tanpa mengucapkan satu patah katapun. Rusel menghapus lipstik di bibir Sandra yang langsung membulatkan matanya.
"Sel! kenapa kau hapus. ha?" marah.
"Kau terlalu jelek." jawab Rusel mengecup kilas bibir Sandra yang sudah merah natural. ia tak suka banyak mata yang melihat kecantikan Rumput Liarnya ini.
"Lebih baik seperti itu." jawab Rusel merapikan rambut Sandra hingga Simob yang memperhatikan dari kaca depan hanya mengulum senyum. apa salahnya mengatakan 'Kau terlalu cantik, aku tak sudi jika kau di lirik lelaki lain.'
Mau tak mau Sandra menurut. saat mobil mereka berhenti di luar Gerbang maka saat itulah jantung Sandra tengah berpesta di dalam sana.
"Fyuhhh. bisa, kau bisa." gumam Sandra melakukan yoga sebentar. sungguh Rusel serasa mau mengurung si Rumput menggemaskan ini di kamarnya saja.
"Ketua!"
"Pergilah!"
Simob mengangguk. ia memasang kacamata hitamnya lalu membuka pintu mobil keluar membuat semua warag disini terdiam untuk sesaat menahan nafas dan menunggu.
"Nona!"
Sandra meneggang saat Simob membuka pintu hingga tampilan nyata di luar sana membuat Sandra mau lari.
"Tak apa. ada aku disini."
"Baiklah."
Sandra membiarkan Rusel keluar duluan hingga gejolak histeris masyarakat sini langsung membuncah hebat.
"Yang Mulia!!!!"
Sapa Mereka serentak membungkuk. Rusel hanya diam dengan tatapan datar penuh kharisma itu mengayomi jiwa mereka selayaknya pemimpin.
Para wanita yang melihat visual sempurna ini hampir saja mau mimisan. Produk Kerajaan Dezon memang tak pernah tertandingi di Negeri ini.
"Sudah lama tak melihat Putra Mahkota dan sekali datang sudah membuat jantungku mau terlepas."
__ADS_1
"Yah. tapi, Prince mengatakan dia sudah menikah. masih belum jelas berita ini."
Bisik-bisik itu bisa di dengar Rusel dengan jelas. ia mengulur tangannya ke arah pintu mobil hingga perlahan mereka melihat tangan jenjang putih mulus itu menautkan jemari keduanya.
"Cepatlah keluar!" desak mereka sudah tak mampu menahan rasa gugup. Para Media yang ada di sekitar ini terus menjipratkan kameranya sampai mereka terdiam melihat siapa yang keluar dari baja mewah ini.
"Sel." lirih Sandra keluar berdiri di samping Rusel dengan tubuh jenjang tingginya di baluti mantel bulu berwarna coklat tua senada dengan mantel milik Rusel yang lebih jantan.
"Cantik!" gumam mereka terpesona melihat Sandra yang mulai tersenyum hingga manik hitamnya tenggelam dalam rasa manis itu.
"Ternyata yang di televisi dan yang asli tak beda jauh. cantikan yang asli, senyumnya manis."
"Tapi, jangan percaya dulu. dia itu kan tak secerdas Yang Mulia Prince."
Rusel menguatkan genggamannya ke tangan Sandra yang dingin. ia paham perasaan Sandra bagaimana jika di kelilingi orang-orang asing sebanyak ini bahkan mereka tengah meneliti penampilannya.
"Rileks."bisik Rusel mulai melangkah pelan mengimbangi langkah Sandra yang sesekali menyapa mereka membusungkan percaya diri yang tinggi.
"Aku tak boleh mempermalukan. Rusel."
Batin Sandra berusaha mengambil kembali ketenagan hingga setengah jalan masuk menapaki Karpet merah ini ia langsung berubah santai.
"Hay!!" sapa Sandra ramah memulai duluan hingga beberapa warga disini juga terasa sedikit lebih akrab.
"Salam Yang Mulia!"
"Yang Mulia!"
Mereka terus menyapa Rusel yang hanya mengangguk datar tapi Sandra membalas mereka tak kalah ramah dan elegan. tentu ia bisa membawa diri walau mulutnya sudah pegal tersenyum terus.
"Kenapa disini hanya ada lapangan?" tanya Sandra tak mengerti. disini sangat luas dimana lapangan hijau yang di kombinasikan dengan hiasan bunga-bunga yang cantik. Ia tak menemukan Kerajaan apapun disini selain Gerbang besar tadi.
"Kau tak akan melihatnya disini."
"Lalu dimana?" tanya Sandra sesekali mengusap kepala beberapa anak yang ada di pinggir karpet. tentu itu tanpa Sandra sadari terciprat kamera Media yang selalu mengikuti langkahnya.
"Disini hanya bagian luar. dan persiapkan dirimu karna disana.."
Rusel menatap kearah sebuah aula besar yang memperlihatkan banyak prajurit Kerajaan yang tengah mengawal anggota keluarga Dezon yang menyambut Putra mereka.
Tiba-tiba saja Sandra merasa sulit bernafas terbukti dengan keringat dingin di keningnya. Tentu Rusel tahu siapa yang tengah ingin menyerang istrinya.
"Genggam erat tanganku."
"Sel! aku sesak." lirih Sandra berusaha bernafas normal. Kepalanya mulai berkunang seperti ada aura negatif yang berusaha menjatuhkannya.
Rahang Rusel mengetat merasakan aura ini sangat kental akan kekuasaan. ia mulai beralih membelit pinggang Sandra memberi tepukan kecil hingga barulah Sandra bisa bernafas lega.
"Jangan terlalu menatap mereka. liarkan saja pandanganmu."
"B..Baik."
Sandra kembali rileks menyapa beberapa orang yang tak menyahut dan sepertinya mereka tak suka atas kehadirannya.
"Kenapa mereka seakan mau mengulitiku?!"
Batin Sandra geram. benar juga, ia tak perlu terlalu ramah jika begini terus.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1