Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kenyataan sebenarnya(Tuan Aryono)


__ADS_3

Setelah pertengkaran di Kediaman tadi. keadaan keluarga Sandra semakin memanas. Nenek Murti sampai datang ke Kediaman menjenguk Erina yang di laporkan kritis oleh Nyonya Tantri.


Tentu saat wanita tua dengan rambut berkonde elegan itu sama judesnya dengan Nyonya Tantri dan bahkan ia lebih mendominasi.


Namun. untung saja saat kedatangan mereka Sandra segera membawa Rusel keluar atas perintah Papanya karna cemas jika pertengkaran akan semakin berlanjut.


"Kau marah?"


Tanya Rusel yang sedari tadi diam duduk di kursi mobil bersama Sandra yang juga bungkam.


"Maaf. kalau sikapku tadi terlalu berlebihan." imbuh Rusel menggenggam tangan Sandra yang tersenyum simpul.


"Tidak. aku tak marah! hanya saja, aku tak tahu lagi menghadapi mereka bagaimana." jawab Sandra menaikan bahunya.


"Tak usah di pikirkan. lagi pula kita juga akan berangkat malam ini."


"Sel!"


"Hm?"


Sandra menimbang-nimbang kecemasannya. Simob yang tengah menyetir hanya diam membiarkan sepasang pasutri ini bicara berdua.


"Apa Ayah dan Ibumu galak?"


"Kau tak tahu Keluargaku?" tanya Rusel dengan pandagan sedikit geli. Sandra-lah satu-satunya orang yang benar-benar acuh dengan kehidupan orang lain di dunia ini.


"Tidak. aku tak pernah dengar, aku jarang membaca."


"Aku tak bisa menjelaskannya."


"Kenapa?" tanya Sandra dengan bibir mengerucut.


"Karna mereka sulit di gambarkan. mungkin, kau hanya bisa mempercayaiku." jawab Rusel menyandarkan kepala Sandra ke dada bidangnya.


"Maksudnya?"


"Disana tak hanya kehidupan normal yang berjalan, Dunia politik juga ikut beriringan. banyak iblis berwajah manusia." jawab Rusel membelai kepala Sandra lembut.


Tentu Sandra membayang penuh. apa Keluarga Rusel ini termasuk orang yang begitu berkicambung di dunia Politik? tapi benar juga. mereka punya Kerajaan jadi mustahil tak ada persaingan.


"Sel!"


"Hm?" Rusel menyandarkan dagunya ke kepala Sandra yang memainkan jemari besar miliknya diatas paha.


"Aku akan berusaha menahan emosi. tapi, terkadang kalau mereka duluan aku bisa apa. nanti kau marah padaku karna aku marah-marah disana." cemas Sandra memikirkan kebiasaan buruknya.


Dengan ringan Rusel membawa tangan Sandra ke bibirnya hingga kecupan kilas itu mendarat dengan lembut ke punggung tangan Sandra membuat pipi Sandra memerah malu.


"Kau ini.."


"Apa?"


"Ada Simob." desis Sandra melotot tapi Simob pura-pura tak tahu. Ketuanya memang sudah benar-benar di mabuk cinta sekarang hingga tak ada waktu selain memanjakan Rumput Liarnya.


"Anggap saja dia tak ada."


"Sebesar itu kau anggap tak ada." gumam Sandra melirik Simob yang tetap menunjukan wajah datarnya. padahal ia mendengar segalanya.


"Jika ada yang mengusikmu. maka, lawan saja."


"Kalau dia adikmu? atau dia Bibikmu?" tanya Sandra menaikan sedikit rasa cemasnya.


"Jika kau salah itu tak masalah. jika tidak, mereka juga pantas di ajari."


"Yang benar?" mata Sandra menyipit memastikan. Rusel mengangguk tegas membuat Sandra agak lega. setidaknya ia bisa bernafas tenang untuk menit ini.


"Ketua!"


"Hm."


"Kita sudah memasuki area Rumah Sakit." ucap Simob memasukan mobil ke dalam Gerbang Rumah Sakit yang terlihat ramai. siapa yang menduga disini menjadi tempat miris bagi Pria tak beruntung itu.

__ADS_1


"Sel! apa Papa sudah sampai duluan?" tanya Sandra saat melihat Mobil Tuan Hatomo di area Loby.


"Yah. dia punya urusan sendiri."


"Ouh. baiklah."


Rusel memasangkan masker ke wajah Sandra dan dirinya lalu keduanya turun dari mobil berpapasan dengan beberapa orang yang terlihat sibuk tak begitu memperhatikan.


Rusel sangat siaga menautkan jarinya ke sela jari Sandra hingga menggenggam tangan lentik itu masuk ke dalam Rumah Sakit.


"Anggota sudah menjaga disana. Ketua!"


"Jangan sampai ada Paparazi."


Simob mengangguk masuk ke Lift bersama mereka yang masih saja bergandengan. beberapa orang yang melihat sampai terhenti tapi Rusel hanya acuh sampai pintu Lift tertutup.


"Anda butuh makanan. Nona?"


"Emm... Camilan ringan saja. tapi .."


Sandra melirik Rusel dari ekor matanya. Simob memperhatikan Sandra yang dengan pelan menoleh menarik maskernya ke bawah dagu.


"Pedas."


"Ped.."


"Iya. yang rendah lemak juga. ya?" sela Sandra memplototi Simob mengancam. tentu ia tak mau Rusel tahu karna Siluman Maniak ini tak akan membiarkannya makan-makanan pedas.


"A.. baik."


"Good Job." gumam Sandra lalu kembali menaikan maskernya. Rusel terlihat diam tak menyahut sama sekali karna hati Sandra tengah kegirangan.


"Dia memang ingin membunuhku."


Batin Simob ngeri-ngeri sedap dengan kebungkaman Ketuanya. ia paham, itu bukan karna tak tahu tapi punya gayanya sendiri.


Saat pintu Lift terbuka. mereka keluar bersama dengan para anggota di lantai 7 ini mendekat memberi hormat pada Rusel.


"Hm."


Mereka kembali berbaring di sepanjang koridor. Sandra menatap ruangan yang tak terlalu luas ini tapi matanya terhenti di pintu kebiruan sana.


"Tuan Hatomo masih di dalam bersama Dokter. Ketua!"


"Silahkan anda. masuk!"


Rusel membawa Sandra mendorong pintu ruangan dengan pelan hingga pemandangan pertama yang terlihat adalah Tuan Hatomo tengah berdiri di dekat Bangkar seorang pria paruh baya yang di baluti perban bak seorang Mumi.


Satu kakinya terlihat tenggelam di dalam selimut ntah apa yang terjadi Sandra hanya diam melihat dari jauh.


"H..t..tomo." lirihnya di kala melihat wajah tampan kelam Rusel yang masih mengancam jiwanya.


"Kau gemetar seperti melihat binatang buas." jawab Tuan Hatomo melirik Rusel dari ekor matanya.


Letkol Traniaga yang ikut mendampingi hanya diam karna Tuan Aryono sudah di jadikan Pidana kasus percobaan pembunuhan pada Sandra.


"D..dia...d..dia.."


"Jangan terlalu memaksakan diri. kau bisa mati disini."


Tuan Aryono mengepalkan tangan ringkihnya yang gemetar. Ia masih ingat bagaimana pria itu mematahkan kakinya tepat setelah ia di bawa kesini.


Akibatnya ia lumpuh bahkan setengah tubuhnya tak bisa bergerak. Dendam itu semakin membara dikala kembali melihat wajah yang sama.


"D..dia...d..dia mm..matahkan.. k..kaki.."


"Apa benar?" tanya Sandra menatap Rusel dengan pandangan syok. Rusel hanya diam tak menjawab tapi tatapannya sudah membuktikan apa yang terjadi.


"D..dia..dia yang h..harus di..di .."


"Siapa yang menyuruhmu mengusiknya?!"

__ADS_1


Tuan Aryono seketika diam. setiap ia ingin memandang tajam Sandra maka matanya seakan enggan bahkan lebih pada di tekan untuk diam.


"Biarkan dia seperti ini. jika di biarkan sehat-pun, kelakuannya tak akan berubah."


"K..kau..."


Geram Tuan Aryono di kala Tuan Hatomo terdengar memerintahkan bawahannya Letkol Traniaga yang mengangguk. jelas ia juga muak dengan ayah si pidana di dalam penjara ini.


"Kau seharusnya mengerti Aryono!"


"A..Apa? a..anakku d..disana d..dan p..putrimu.."


Sandra hanya diam. ia tahu jika Tuan Aryono sangat menyayangi putranya yang tengah di penjara dan rasa tak adil itu mendorongnya untuk mencelakai orang lain.


"Anakmu di sana karna kesalahannya sendiri."


"P..putrimu.. l..lebih p..parah. H..Hatomo." geram Tuan Aryono dengan mata mengigil marah. Sandra bisa lihat betapa jiwa tua itu menanti anak satu-satunya yang selama ini di kurung bertahun-tahun.


"S..saat a..anakku y..yang terkena masalah. a..aku diam k..karna aturan k..keluarga kita. dan.. saat anakmu yang bermasalah. k..kenapa kau membelanya?" imbuhnya lagi geram.


"Aryono! aku berjanji akan membantu putramu."


Tuan Aryono terkekeh sinis bahkan terkesan mengolok. mereka menjadi pendengar yang setia bagi sosok yang selama ini merasa di khianati.


"J..jangan membual. kau! i..istrimu saja tak bisa k..kau ajari dan kau m..mau membual d..disini. ha?"


Tuan Hatomo menghela nafas dalam. ini memang kesalahan di masa lalu yang ternyata berdampak pada anak-anak mereka. Aturan dari Sang Ibu membuat mereka terpecah belah.


"A..anakku s..sama s..seperti Sandra. t..tapi, k..kalian mencampakkannya."


"Istirahatlah!"


Tuan Hatomo langsung melangkah pergi melewati mereka bersama Letkol Traniaga yang ikut membuntuti.


Sekarang. tinggallah Sandra yang menatap sendu wajah gila Tuan Aryono yang pasti sangat terpukul. ia paham bagaimana rasanya di kecilkan bahkan di anggap tak berguna.


"Paman!"


"Diam!!!!" satu bentakan yang menggelegar membuat Sandra bertambah nyeri. mata sosok rapuh ini mengigil menatapnya dengan marah.


"P..puas? k..kau puas. ha?"


"Maaf." ucap Sandra baru kali ini menghormati Tuan Aryono yang terlihat menatapnya dengan labil.


"Maafkan aku. seandainya aku mengerti dari dulu aku sudah berusaha membantumu."


"P..Persetan d..dengan aturan. C..Cih!"


Tuan Aryono tertawa sendiri lalu ia menangisi nasibnya yang sudah tak berguna. Kakinya patah dan tubuh lumpuh, apa lagi yang bisa ia lakukan untuk menolong putranya di dalam sana.


Ia tak sanggup melihat istrinya selalu menahan kesedihan bertahun-tahun melihat anak-anak Tuan Hatomo sudah meraih kesuksesan kecuali Sandra.


"K..kalian y..yang sudah ada diatas t..tak akan pernah m..memandang ke bawah. i..itu sangat mengerikan bagi kalian."


"Paman! aku.."


Sandra terhenti saat Rusel sedikit menarik dirinya. tatapan netra kehijauan tajam ini mengisyaratkan untuk diam dan mendengarkan.


"S..Sel!"


"Percuma! biarkan dia tenang dulu baru mencari solusi."


Ucapan Rusel terdengar bijaksana dan tentu Sandra mengangguk membiarkan Tuan Aryono meluapkan rasa sakitnya. sisi luka sang ayah dan sisi sakit sang anak bercampur sisi cinta pada istrinya yang membuat dirinya terjun melawan aturan.


"K..kalian sudah bahagia. k..kalian tak akan perduli lagi p..pada orang yang ada di bawah ka..kaki kalian."


.....


Vote and Like Sayang..


Yg nanya Ignya apa ? bisa di lihat ya say🤭

__ADS_1



__ADS_2