
Seakan tak melihat sama sekali. Sandra memilih acuh asik mengusap kaki mungil Baby Ruslan yang tak melepas pandangan dari wajah kikuk Momynya.
Sandra tak memperdulikan kehadiran wanita berambut pendek dan bertubuh tinggi tegap ini. perawakannya sangatlah jauh dari kata feminim dengan pandangan datar dan sangat tegas.
"Kau tak mau bicara?"
"Ada suara tapi tak ada orang." gumam Sandra namun. ia segera meringis saat kakinya di injak.
"Aaa.. kau mau membunuhku. ha?" ketus Sandra menatap tajam Delina yang hanya memandang jengah. sudah bertahun-tahun berlalu tapi Sandra si cantik mulut pedas ini masih saja terlihat menjengkelkan.
"Kau berjudi lagi?"
"Bukan urusanmu!"
Delina menguatkan injakannya membuat Sandra kembali menggeram menarik kakinya dari bawah kendali wanita ini. rasanya masih nyeri karna ia sempat mengalami retak pada tulang saat itu.
"Kakiku sakit tapi kau menginjaknya. aku akan katakan ini pada. Papa!"
"Yang retak tulang betismu. bukan ibu jari." jawabnya santai.
"Kauu..." Sandra ingin memaki tapi segera di urungkan karna percuma. Delina juga tak akan mau kalah berbeda dengan Erina.
"Kenapa pulang? lebih baik kau di sana saja. merusak hidupku setiap saat." decak Sandra emosi.
Delina menghembuskan nafas ringan. Tatapan mata embernya beralih pada Baby Ruslan yang begitu tampan dengan kharisma Ayahnya.
"Anakmu?"
"Hm."
"Anakmu?"
"Iya!! memangnya kenapa?" tanya Sandra kesal mendelik gerah. ia tak habis pikir dengan wanita berwatak laki-laki ini, bisa-bisanya selalu mendesak agar mendapat keinginanya.
"Dia tampan!"
"Jelas. kau pikir siapa Ibunya?" sinis Sandra bangga.
"Ayahnya yang tampan."
"Dia suamiku. kau mau apa?"
Delina mengangkat bahunya acuh beralih duduk di samping Sandra yang menekuk wajah cantiknya. ntahlah, Ibu satu anak ini sama sekali tak pernah mau di ajak bicara.
Tangan Delina terulur memeggang kaki mungil Baby Ruslan. ia mengusap telapak kaki halus dan lembut itu seakan tak terbiasa dengan mahluk ini.
"Ku dengar namamu agung di langit Dezon."
Ucap Delina membuat Sandra terdiam menatap wajah mungil halus ini. ia juga tak menyangka akan ada di situasi ini.
"Ada banyak orang yang berperan di balik itu. aku hanya berjalan di tempat yang di sediakan."
__ADS_1
"Aku rasa itu usahamu."
Sandra menggeleng menarik tatapan intens Delina yang melihat jelas tak ada lagi sikap kekanak-kanakan Sandra yang selalu membuat dirinya tak percaya akan apa yang wanita ini kerjakan.
"Banyak yang sudah berkorban. ratusan prajurit Dezon tewas melindungi Kerajaan, mereka lebih berjasa dari apapun yang ada."
"Cih." decah Delina merasa berbicara dengan orang yang berbeda jika begini. Ntah apa yang telah Sandra lewati sampai bisa di tahap sekarang.
Tak ingin berada di situasi canggung dan aneh ini. Sandra berusaha mencari pokok bahasan agar Delina tak menempel terus padanya.
"Ini sudah malam. pergilah dari kamarku!"
"Besok keluarga mertua-mu datangkan?" tanya Delina. Sandra menautkan alisnya melihat Delina yang tiba-tiba saja tertarik mengetahui itu. padahal jelas ia tahu jika wanita ini tak pernah mau berterus terang begini.
"Maksudmu apa?"
"Aku hanya bertanya. siapa tahu aku bisa membantu." jawab Delina dengan tatapan penuh arti.
"Kau jangan ikut campur urusan politik Kerajaan. Delina."
"Banyak hal yang tak kau mengerti."
"Delina." geram Sandra tapi Delina hanya tersenyum menepuk bahu Sandra yang sulit menebak arti tatapan ini.
Ada rasa cemas di hati Sandra dikala mengingat Delina bukan orang yang terbuka. ia tak takut jika Delina akan membahayakan Kerajaan tapi, ia khawatir jika Delina akan bernasib sama seperti Nyonya Loure.
"Baby! apa yang dia mau sebenarnya?!" gumam Sandra dikala Delina sudah menghilang dari ambang matanya.
"Kita lihat dia mau apa? Sayang!" Sandra keluar pintu kamar lalu melangkah ke arah lorong depan menuju tangga.
Suara berisik dari percakapan di bawah sana membuat Sandra begitu penasaran apalagi Rusel juga menghilang ntah kemana.
"Elina, kau kenapa baru pulang sekarang. ha?" suara Nenek Murti memeggang lengan Delina yang berdiri di antara mereka.
"Kau sudah bertemu dengan Sandra?"
"Sudah. Nek!" jawabnya seadanya. Nyonya Tantri yang tengah menyiapkan makanan bersama Bibik Iyem hanya diam membiarkan wanita tua itu melepas rindu dengan Cucu tahunanya.
"Nak! besok ada Syukuran Cicitku. kau hadirkan?"
Delina mengangguk membuat mereka tersenyum. Erina yang tengah duduk di sofa sana menatap Delina dengan pandangannya sendiri.
Para Saudari itu seakan memiliki batasan dan sangat tak bisa menyatu jika sudah di pertemukan. Delina dengan tampang datarnya, Erina dengan sikap lembut dan Sandra tak mau kalah.
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Aku?" tanya Erina berdiri saat Delina menganggukinya. Mereka melangkah pergi ke arah ruang tamu dengan wajah Delina selalu serius.
Sandra hanya diam mengamati dari atas sini. Ia tak menyadari ke datangan Tuan Hatomo yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Kenapa disini?"
__ADS_1
"Eh!"
Sandra terperanjat. Ia berbalik menatap Tuan Hatomo yang mengulur tangan mengusap kepalanya hangat.
"Ayo turun!"
"Pa! kenapa Delina pulang?"
Tuan Hatomo terdiam sejenak. ia beralih menatap Baby Ruslan yang memejamkan mata karna sudah mengantuk.
"Dia mengambil cuti. hanya 1 bulan!"
"Pa! aku tak ingin Delina ikut campur dalam urusan Kerajaan, bisa saja nanti ia bisa terseret hukum." cemas Sandra tapi Tuan Hatomo hanya menipiskan bibir.
"Jika itu maunya. aku tak bisa mencegah."
"Aku..aku tak mau jika Keluarga kita di permalukan. Pa!" jawab Sandra berfikir ke depan.
Tuan Hatomo mengusap kepala Sandra lembut. jelas terpapar keperdulian itu walau dengan alasan berbeda.
"Kau tahu Delina itu sangat monoton."
"Aku tahu. kenapa dia ingin ikut campur Urusan Istana? aku sangat mengerti watak orang-orang di sana. Pa!"
Ucap Sandra tak bisa diam saja. Ia juga harus bicara pada Rusel soal ini.
"Kau meragukan kemampuan Delina?"
Sandra menggeleng. bukan kemampuan atau apapun itu. yang ia khawatirkan adalah orang-orang di luar sana yang ingin menjatuhkan Delina.
"Pa.. aku.."
"Delina itu sangat gila akan pekerjaan. dia tak akan memperdulikan apapun baik itu kehidupannya sendiri." ujar Tuan Hatomo seraya merapikan Bedong Baby Ruslan.
"apa yang Delina mau?"
"Tak banyak. dia hanya perduli dengan pekerjaanya."
Tak puas akan jawaban itu. Sandra meredam perasaannya. mata tajam Sandra melirik ke semua tempat sampai ia menangkap satu hal aneh.
Ada Simob yang baru masuk dari pintu utama. wajah pria itu terlihat tak bersahabat membuat Sandra menyeringit.
"Aku yakin Rusel tahu sesuatu." gumam Sandra menimbang-nimbang keputusannya. ia lupakan sejenak soal perjudian itu dan sekarang harus menyelidiki soal Delina dan perubahan mood Simob yang terlihat melirik ruang tamu dari ekor matanya.
"Apa mereka pernah bertemu? tapi, tak mungkin dua es ini saling menyapa."
Sandra masih saja pecicilan tak sadar jika sedari tadi ia di pantau manik tajam yang tengah mendiami Rumput liarnya ini.
"Dia memang benar-benar." decah Rusel menghela nafas berat. satu saja sudah membuatnya pusing, jika ada 3 Sandra maka kepalanya akan pecah detik ini juga. Namun, tak bisa di tepis jika rasa cintanya juga membuncah pada wanita itu.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..