
Langkah keduanya terhenti mendadak dikala melihat pergerakan sesuatu di balik dedaunan yang di pijaki. Tanah lembab dengan aroma tiba-tiba amis ini membuat rasa mual menyeruk di perut Sandra.
"Hoeeekmm!"
"S..Sandra!" Nyonya Tantri cemas memeggang bahu Sandra yang sungguh mau muntah. Ia tak lagi mampu berdiri hingga menyandarkan dirinya ke pepohonan yang tepat di belakang.
"M..Maa.."
"Perutmu sakit?"
Sandra mengangguk mengigit bibir bawahnya menahan denyutan di perutnya. kaki itu sudah pucat dengan goresan-goresan luka yang sangat perih.
Namun. saat Nyonya Tantri ingin berjongkok tiba-tiba saja matanya terbelalak melihat sesuatu yang melingkar di pohon tepat di atas kepala Sandra.
"I..itu..."
"Ada apa?" gumam Sandra lemah dan nafas tersendat. Ia melihat wajah Nyonya Tantri memucat bahkan terlihat terkejut.
"Ma!"
"K..kau jangan bergerak." ujar Nyonya Tantri seraya meraih kayu yang ada di sampingnya. Tatapan mata itu tak teralihkan ke hewan melata satu ini.
"Ma!"
"Awas!!!"
Nyonya Tantri menarik lengan Sandra lalu memukulkan kayu di tangannya ke arah ular hitam yang tadi melingkar di pohon itu sekarang terjatuh ke tanah.
Sandra syok melihat Ular seukuran pergelangan tangan yang tengah mengangkat separuh tubuhnya menatap mereka dengan ganas di balik remang-remang gelap ini.
"M..Maa.."
"Pergi!! pergi!! kami..kami tak mengusikmu." ucap Nyonya Tantri mengacungkan ranting kayu di tangannya.
Sandra melihat tempat di sekelilingnya yang tak begitu jauh dari daerah rumah tua tadi. Bahkan, Sandra masih mendengar suara perkelahian di sana.
"M..maa.. kau..kau pergilah!"
"Kau gila. ha? kau mau mati disini?!" geram Nyonya Tantri tapi Sandra hanya tak mau terjadi sesuatu hal yang buruk pada Mamanya. Walau mereka tak dekat tapi Sandra tak setega itu.
Nyonya Tantri menarik lengan Sandra bersembunyi di balik pohon di sampingnya lagi. ia melempar kayunya agar Ular itu teralihkan.
"Ma! aku tak bisa lagi berjalan." gumam Sandra menatap kakinya yang terlihat membiru di bagian betisnya.
Matanya berair dengan rasa sesak dan takut menyatu di dadanya. Aku takut.. takut jika aku tak bisa menyelamatkan bayiku. a..aku hanya takut jika aku berakhir disini bagaimana dengan anakku?
Tanya sadar air mata Sandra kembali menetes membuat tatapan Nyonya Tantri berubah sendu.
"M..maa.."
"K..kau..."
"Maafkan aku." gumam Sandra merendahkan egonya. manik hitam berair itu menatap mata Nyonya Tantri yang juga terlihat mengembun.
"J..jika hari ini aku..aku tiada. aku.."
"Tengil!" sela Nyonya Tantri menepuk mulut Sandra yang terdiam menatap intens penuh perasaan. baru kali ini Nyonya Tantri melihat keangkuhan dari diri putrinya keras kepalanya merendah. sungguh ini terasa sangat sesak.
"M..maafkan aku."
"K..kau..."
"Jika..jika aku tiada t..tolong jaga bayiku. aku.. aku tak mau dia sendirian." pinta Sandra bergetar memeggang lengan Nyonya Tantri yang terdiam dengan tetesan air mata keluar tanpa permisi.
"A..aku.. aku ingin dia punya Nenek. aku..aku ingin dia di sayangi siapapun. aku mohon, maafkan aku!"
"Kau bicara apa. ha? ini bukan kau. Sandra!" tekan Nyonya Tantri tapi Sandra menggeleng. Ia beralih menggenggam tangan Nyonya Tantri yang sumpah demi apapun ia tak tahan melihatnya..
"I..ini aku yang selama ini membuatmu terluka. Maa! pergilah, aku ..aku akan mengalihkan perhatiannya."
"Tidak!" tolak tegas Nyonya Tantri melepas genggaman Sandra.
"M..maa.."
"Permusuhan ini akan terus berlanjut. kau harus keluar dari hutan ini dan baru kita saling berhadapan." tekan Nyonya Tantri membuat bibir Sandra bergetar menatapnya berkaca-kaca.
"Berhenti menangis. aku muak melihatnya."
"M..maa. hiks!"
Sandra memeluk Nyonya Tantri Nyonya Tantri yang menolehkan wajahnya ke arah lain dengan air mata terus turun.
__ADS_1
"M..maa. hiks! maafkan aku. maaf!"
"K..kau..."
"Maaf. hiks! Maaf!"
Akhirnya Nyonya Tantri tak bisa mengendalikan dirinya. Ia segera membalas pelukan Sandra yang semakin terisak pilu merasakan kehangatan ini.
"J..jangan begini."
"Maaf! aku..aku salah." isak Sandra dengan nafas sendatnya. Nyonya Tantri menggeleng mengusap pipi Sandra yang sembab dan di penuhi lebam.
"Jangan salahkan dirimu. kau tak pantas mengatakan ini."
"Tapi..."
Kalimat Sandra terhenti saat mendengar suara tepukan tangan dari arah depan. mata keduanya melebar melihat Aleno sudah berdiri di sana membawa obor yang menyala.
"Pertunjukan yang luar biasa."
"M..ma.." gumam Sandra merapat pelukan keduanya. Kegelapan ini memang begitu pekat tapi untung saja terang bulan mempermudah penglihatan mereka.
"Si cantikku yang angkuh sudah melunak rupanya."
Aleno melangkah ke arah pohon yang ada di dekatnya. Ia menyodorkan obor itu ke akar pohon yang mati dan kering hingga apinya menjalar ke sana.
"Bhuwss!!" gumam Aleno melihat api dengan cepat menyulut ke atas membuat penerangan yang besar.
Lingkungan di sekitar ini bisa terlihat dari kobaran api itu. bahkan, Sandra dan Nyonya Tantri terkejut melihat segerombolan ular yang tiba-tiba muncul di belakang Aleno.
"Kau terkejut. hm?"
"S..Sandra!" Nyonya Tantri cemas memeluk erat tubuh Sandra yang pasti akan jadi sasaran kegilaan Aleno.
"Hey!! kau berani membakar wajahku. apa kau yakin akan lolos begitu saja?"
"Jangan mengusik Putriku!!" bantah Nyonya Tantri membuat Sandra tertegun. hatinya tiba-tiba mendesir mendengar kata itu.
"Wanita tua! kau jangan ikut campur."
"Jelas aku ikut campur. aku tak sudi anakku di sentuh pria buruk sepertimu!" maki Nyonya Tantri membuat tawa Aleno pecah tapi Sandra masih melihat wajah Ibunya dari bayang-bayang kegelapan ini.
"Ibu dan anak ternyata sama saja!" desis Aleno menjilati bibirnya sendiri. Suara desisan ular itu semakin terdengar nyaring membuat Aleno bertambah puas.
"Kau yang pantas mati!!" geram Sandra menarik seringaian dari Aleno yang mendekat membawa obor di tangannya.
Sandra memelas pada Nyonya Tantri agar segera pergi. Tapi, wanita itu tak bergerak. ia masih memeluk Sandra yang tak bisa berjalan lagi.
"Jika memang tak bisa selamat. kita bisa mati bersama."
"M..maa.."
Gumam Sandra tak tahan. Ia menyesal melakukan hal jahat pada wanita ini begitu juga Nyonya Tantri yang bahkan lebih terluka mengingat apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Kalau ku bakar kalian berdua. sepertinya sangat menyenangkan."
"J..jangan. kau..kau bisa membunuhku tapi..tapi jangan. Mamaku." ucap Sandra menggeleng kuat tapi Aleno tak perduli. Ia dengan kejamnya melempar obor di tangannya ke arah tubuh Sandra.
"Maaaaa!!!"
Gret...
Teriakan Sandra tercekat dikala ada kilatan tubuh seseorang yang melesat ke hadapannya menyambut lemparan obor yang langsung jatuh ke genggaman tangan kekarnya.
Mata mereka tertuju pada sosok gagah yang datang membawa desiran angin disini. cahaya obor yang tengah ia peggang menerangi wajah penuh lebam Sandra yang menatap kosong netra kehijauan yang terlihat membawa kemurkaan itu.
"S.. Sel!" lirih Sandra dengan bibir bergetar dan air mata merembes keluar. luka lebam dan darah di kening Sandra terlihat jelas menarik suasana membeku yang mengerikan di tempat ini.
"Woww! akhirnya kau datang." suara Aleno di belakang sana. Ia berusaha tetap berdiri disini walau ia akui aura yang di keluarkan Rusel tak lagi bisa di katakan baik.
"Dia menakuti peliharaan-ku."
Batin Aleno mengepal melihat ular-ular di belakangnya menjauh. bagaimana tidak? Rusel tengah mengepal dengan mata mengigil dan gigi bertaut rapat melihat bagaimana keadaan wanita yang telah menyatu dengan jiwanya ini.
"S..Sel!"
"Nona!" Simob datang mendekat dengan nafas tersendat melihat keadaan Sandra yang dipenuhi luka.
Ia menelan ludahnya kasar melihat tatapan Ketuanya yang sudah tak bisa menahan emosi dan luapan angkara murka itu.
"S..Sel! kau.."
__ADS_1
"Nona! ayo pergi." Simob segera membopong Sandra yang langsung meringis dikala kakinya tertekan ke tanah.
Cengkraman Rusel ke batang obor ini semakin menguat dikala melihat betis Sandra membiru.
"S..Sandra." lirih Nyonya Tantri merinding melihat wajah kelam yang seakan menelan keberanian mereka semua.
Tak tahan akan gebuan amarah itu. Rusel berbalik menatap membunuh Aleno yang seketika di terpa guncangan angin di sekelilingnya.
"Shitt!" umpat Aleno bertahan. ia tak akan kalah kali ini. Rusel harus mati di tangannya.
"S..Sel! dia..dia itu sangat licik. dia bisa mengendalikan ular di belakangnya." cemas Sandra yang kembali terduduk di tempat.
"Kau tahu. Feliks?" Aleno menyeringai mesum menatap Sandra dari kilapan cahaya api di sampingnya.
"Aku sudah menggauli Istrimu!"
Kalimat itu melantun bagaikan sayatan petir Rusel melempar Obor di tangannya ke wajah Aleno yang sigap menghindar namun sialnya ia kalah cepat hingga bahunya terkena sabetan api.
"Sel!!" teriak Sandra saat ada ular di bawah kaki Rusel yang menginjaknya kuat lalu menendang hewan beracun itu seperti akar biasa baginya.
Sandra benar-benar syok melihat Rusel melesat cepat menerjang tubuh Aleno yang terpental ke arah pepohonan di belakangnya sampai bersuara retakan.
Tak cukup di situ saja. Rusel meninju habis wajah Aleno yang ingin membalas tapi ia kalah cepat. pria ini bagai kilat bisa membaca setiap pergerakannya.
"Sialan!!!" maki Rusel mencekik leher Aleno yang terpadat ke sela pepohonan. Manik kehijauan itu mengigil menahan amarah yang jelas tengah mengubun di benaknya.
"K..kau..."
Rusel tak perduli lagi. ia mencengkram kuat sampai kuku-kuku tangannya menembus kulit leher Aleno yang menggeram sakit.
"K..kau.. m..marah.. i...ist..trimu.. ku.. se..sentuhh.."
Brughhh...
Rusel melempar tubuh Aleno ke kobaran api yang menyala-nyala di sampingnya. Dada pria itu naik turun dengan tatapan membunuh yang nyata
Aleno menahan rasa panas di tubuhnya lalu meloncat keluar. Separuh api itu membakar pakaiannya tapi segera padam di usapnya kasar.
"S..Simob." gumam Sandra memucat melihat Aleno mengeluarkan pisau di balik bajunya yang terlihat separuh hangus.
Tatapan mata Aleno benar-benar seakan menantang maut. walau tubuhnya sudah melepuh ia masih berani berdiri di hadapan malaikat pencabut nyawanya itu.
"Kali ini aku tak akan membiarkan-mu hidup." desis Aleno langsung menyerang Rusel dengan kekuatan yang di keluarkan penuh.
Sandra beberapa kali terpekik saat pisau itu nyaris mengenai perut Suaminya tapi Rusel selalu bisa mengembalikan situasi.
"Rusel!!"
Teriak Sandra melihat Rusel memukul telak lengan Aleno yang berbalik menusuk dirinya sendiri.
"Nona! kau..kau jangan menatapnya."
"M..Mereka.."
Simob meringis melihat Aleno berusaha keras menyerang Ketuanya yang dengan mudah menggunakan amarah Aleno untuk memutar keadaan sampai pisau itu selalu mengenai tubuh tuannya sendiri.
"Sialaaan!!" bentak Aleno yang sudah di penuhi luka sayatan dan tusukan benda itu tetap menyabetkan senjatanya ke arah dada bidang Rusel yang segera meninju telak wajah Aleno hingga pria itu terpental kembali ke arah pepohonan yang langsung terguncang hebat karnanya.
Simob terdiam melihat ada taring kecil di sela bibir Ketuanya. ini yang ia takutkan sedari tadi kesini.
"Nona! kita harus segera keluar dari sini."
"T..tapi.."
"Ketua tak akan mendengar kita lagi. dia hanya akan tenang jika objek kemarahannya sudah benar-benar lenyap."
Ucap Simob segera menggendong Sandra yang masih menatap Rusel. pria itu seakan menggila mencabik tubuh Aleno yang terus melawan walau itu sia-sia.
Anggota lain yang tengah menyaksikan kemarahan Ketuanya itu segera berlarian pergi ke jarak yang lebih aman.
"S..Simob. kenapa..kenapa mereka.." Sandra tercekat melihat kawanan Serigala yang tampak berlumuran darah para anggota Aleno tadi berlari mendekati Rusel dengan suara deritan pepohonan yang semakin terasa mengerikan.
"Cepat! kita tak punya banyak waktu."
"A..ada apa? kalian.."
Kreekk..
Sandra membelalakkan matanya saat semua pepohonan di sekitar Rusel tumbang ke arah api yang tadi di nyalakan Aleno.
"Seeelll!!"
__ADS_1
Vote and Like Sayang..