
Keringat dingin itu keluar di kening Nyonya Loure di kala tatapan Ratu Bellarosa begitu penuh tanya dan terkesan menekan. Sandra memang begitu licik sampai bermain api dengannya.
"Mayat apa?"
"K.. Kak! tak ada apa-apa. aku tadi hanya sedikit pusing dan berfikir yang tidak-tidak." jawabnya sedikit memijat pelipis.
"Nyonya! sebaiknya sekarang biar kami periksa, siapa tahu ada yang berniat jahat padamu." Sandra membumbui suasana. pandangan cerdiknya membangkitkan emosi Nyonya Loure yang berusaha tetap tenang.
"Tak perlu repot begitu. aku akan membawa satu pengawal untuk mengecek."
"Guren! sebaiknya kau temani Nyonya Loure! "
"T.. tidak perlu. " sela Nyonya Loure bertambah membuat dahi mereka mengkerut terutama Ratu Christina yang merasa ada yang aneh.
"Nyonya! jika memang kau tengah sakit atau tengah berhalusinasi, apa salahnya menerima bantuan dari Nona Sandra."
"Bukan begitu. Yang Mulia! saya hanya tak ingin merepotkan, apalagi Nona Sandra tengah hamil."
"Tak apa. bayiku butuh olahraga kecil." timpal Sandra lalu mempersilahkan Nyonya Loure untuk berjalan lebih dulu. tentu mau tak mau wanita paruh baya ini menurut. lalu pamit pada dua Ibu Kerajaan ini.
Di sepanjang perjalanan Sandra hanya diam tak memutus tatapan matanya dari Nyonya Loure yang terlihat mencari-cari alasan untuk menghindar.
"Kau tak cemas jika suamimu beralih hati?"
"Tidak."
"Cih! jangan terlalu percaya pada pria. apalagi kau tak ada gunanya bagi Putra Mahkota. " remeh Nyonya Loure tapi ia tersentak saat Sandra terkekeh kecil berjalan beriringan dengannya.
"Aku sangat percaya pada suamiku. mungkin orang sepertimu tak bisa memahaminya. "
"Nona! " gumam Guren merasa wajah Nyonya Loure sudah mendidih marah. wanita ini mengepalkan tangannya seperti ingin menyerang Sandra tapi Guren juga sigap menarik lengan Sandra kebelakang.
"Jangan terlalu dekat dengannya. Nona!"
"Aku tahu. kali ini jangan biarkan dia lolos." tekan Sandra yang ingin Nyonya Loure segera di hukum berat. ia yakin tak hanya satu saja kejahatan wanita ini.
Setelah beberapa lama. mereka sudah sampai ke depan pintu kamar Nyonya Loure yang terlihat gugup. bisa habis nyawanya kalau sampai Sandra membongkar ini.
"Bukalah kamar-mu. Nyonya! "
"Bagaimana kalau mayat itu masih di atas langit kamarku? disini ada pria sialan ini."
"Nyonya!" tegur Sandra menyadarkan Nyonya Loure dari lamunannya. Tangan wanita itu perlahan menekan gagang pintu dengan jantung penuh waspada.
"Cepat buka!"
Kret...
Pintu terbuka lebar dengan mata Nyonya Loure terpejam karna masih takut melihat mayat itu. tetapi, ia tak merasakan tanggapan dari Sandra yang diam di tempat melihat keadaan kamar ini.
"Mana mayatnya. Nyonya?" tanya pengawal tadi.
"Ha?" gumam Nyonya Loure dengan mata membulat tak melihat mayat itu lagi diatas langit megah kamarnya. ia masuk dengan pandangan mencari membuat Sandra jengah.
"Anda bilang ada mayat. di mana? "
"A.. benar. ternyata aku hanya halusinasi." decah Nyonya Loure mengusap wajahnya seperti kesal sendiri. Sandra juga heran menatap Guren yang menggeleng. sepertinya sudah ada yang menyingkirkan mayat itu dari sini.
"Kau puas sekarang?" membentak Sandra.
"Kau lihat? di kamarku tak ada mayat apapun. kau sedari tadi melotot menyalahkan-ku. aku bisa saja melaporkanmu ke Yang Mulia Raja." tukasnya lagi menghakimi Sandra yang melihat kesemua penjuru kamar.
Banyak barang-barang mewah seperti lemari kaca dan Guchi emas tapi yang jadi objek perhatian adalah salah satu foto yang membuat Sandra menyeringit.
__ADS_1
"Bukankah itu foto Raja Mikes. tapi, kenapa bisa ada disini dan berdiri di samping foto perempuan ini?"
"Kau melihat apa. ha? cepat pergi dari sini!! " mendorong bahu Sandra kuat tapi Guren segera menepisnya. ia membawa Nonanya keluar di tengah tanda tanya di benaknya.
Melihat mereka sudah keluar. Nyonya Loure langsung menutup pintu kamar rapat dengan helaan nafas lega tercipta lepas.
"Syukurlah dia tak melihat itu."
"Mom!"
Nyonya Loure menatap ke arah Balkon hingga ia mendekati sosok pria dengan rambut klimis dan rapi itu.
"Nak! "
"Are you ok?" tanya Lucas cemas karna tadi ia datang kesini dan menemukan mayat pelayan itu. bisa saja Rusel nekat menyakiti Momynya.
"Hm. Momy tak apa, hanya sedikit gugup jika Ratu Bellarosa tahu apa yang tengah terjadi."
Lucas menghela nafas. setidaknya keberuntungan masih berpihak pada mereka.
"Kenapa kau kesini? apa ada masalah?"
"Mom! Feliks dengan cepat meredam pemberontakan di Jerlin dan sekarang dia tengah mengadakan rapat bersama para Mentri soal persemakmuran Negara tetangga."
Nyonya Loure mengepal. ia sudah menduga jika Rusel pasti akan bisa mengatasi ini apalagi pria itu memang sangat berbakat di banding Lucas.
"Mom! apa yang harus kita lakukan?"
"Kau tenang saja. masih banyak wilayah yang akan memberontak saat kita profokasi mereka dengan kedatangan Sandra. Momymu ini sangat cerdik. Lucas."
Lucas hanya diam hanya mengangguk. ia terlihat menyimpan sesuatu yang tak di mengerti oleh Nyonya Loure yang terlihat ambisius.
.......
"Kalian suplei tenaga dari Kerajaan kita ke masyarakat pesisir yang selama ini telah di ambil wilayah lautnya oleh para bandit. kawal mereka dan latih para anak dan pemuda di sana agar segera meningkatkan pertahanan."
"Baik. Prince! " jawab Mentri Cerres yang langsung mengirim surat ajuan. Mentri Ozey juga terlihat bersemangat karna mereka tak perlu pusing-pusing memikirkannya lagi.
"Aku ingin laporan lain sudah ada di mejaku hari ini juga."
"Lalu bagaimana dengan daerah dataran. Yang Mulia?"
Rusel terdiam sejenak lalu menghela nafas. masih banyak yang harus ia selesaikan untuk kesejahteraan masyarakat terpencil di Negara ini.
"Untuk itu akan ku pikirkan nanti. selesaikan ini dulu."
"Baik!" mereka kembali menyusun semua rencana yang Rusel buat tadi. 40% sudah mampu di kendalikan lagi.
Rusel terlihat fokus dan sangat sibuk mengotak-atik Laptopnya melihat sketsa penyerangan yang terjadi semalam di beberapa daerah. Simob-pun tak pernah lepas dari sisi Ketuanya.
Tentu semua itu membuat Sandra segan untuk menganggu. ia hanya bisa melihat dari cela pintu dan dinding tebal ini.
"Nona! aku bisa memanggilkan Ketua untuk.. "
"Tak usah." tegas Sandra menggeleng. ia tak mau menganggu Rusel yang pasti tengah sibuk, terlihat jelas pria itu tengah serius.
"Nona! Ketua tak pernah marah saat kau datang. dia pasti akan mengerti."
"Sudahlah. lagi pula aku tak ingin menganggunya, kau pergilah ambilkan aku Nampan berisi Teh dan Kopi. lalu antar ke dalam."
"Kau tungguh di sini. Nona!"
Sandra mengangguk memandangi kepergian Guren ke arah dapur Istana. Ia melangkah ke dekat pilar emas ini seraya berdiri mengusap perut besarnya.
__ADS_1
"Bersabarlah. nanti Dadymu juga pasti selesai." gumam Sandra bersandar ke pilar di sampingnya. ia menatap ke arah luar jendela besar bertirai ini dengan menerawang. Dress anggun yang ia pakai terlihat cantik di tubuh jenjangnya, tak lupa rambut Sandra yang di gerai menambah kesan feminim dan lembut.
"Sampai kapan kau akan menunggu disini?"
Sandra tersentak saat ada suara di belakangnya. dan ia segera memberi hormat saat tahu siapa ini.
"Yang Mulia!"
Tatapan netra kehijauan itu terkesan sangat menghakiminya. Aura yang sama di keluarkan oleh Rusel ternyata di turunkan oleh pria ini.
Sandra diam tetap berdiri tegap dengan satu tangan memeggang perutnya yang berisi. tentu itu menjadi objek perhatian pria berwibawah ini.
"Ternyata kau begitu bekerja keras."
Degg...
Ucapan datar mematikan itu sangat menusuk batin Sandra yang tahu arti pandangan Raja Mikes ke perutnya. sakit rasanya terus dianggap sebagai pengemis padahal ia juga tak tahu apapun.
"Kau seorang putri yang di buang keluargamu sendiri. dan sekarang kau mau mengemis pada Putra ku?!"
Sekali lagi Sandra terbongkem dengan perkataan Raja Mikes yang merendahkannya. sembilu itu langsung menancap di ulu hatinya yang terdalam.
"Kerajaan ini butuh seorang wanita yang mampu membawa nama kehormatannya. sosok yang mampu di jadikan panutan dan sosok pelindung yang nyata. tapi kau?"
Raja Mikes menjeda ucapannya saat kepalan tangan Sandra menguat dengan mata yang terlihat merah tapi masih begitu kuat bertahan.
"Kau saja tak bisa menjaga kehormatanmu dan Keluargamu. sudah berapa banyak lelaki yang buta hanya karna kecantikan-mu tapi mereka adalah orang bodoh yang nyata." imbihnya tegas dan menusuk. Dua pengawal pribadinya di belakang sana hanya bisa diam membisu.
"Kau tak malu?"
"Tidak!" tegas Sandra mencengkram ke dua sisi Dress nyata menahan rasa sesak di dadanya. Tatapan tajam Raja Mikes tak bisa menundukan kepala Sandra yang terbiasa mendongak angkuh.
"Yang Mulia! mungkin anda harus banyak keluar melihat betapa luasnya dunia ini."
"Kau... "
Raja Mikes melirik tajam satu pengawalnya yang ingin menghentikan Sandra bicara. ke duanya langsung mengangguk diam kembali ke tempat.
"Kau hanya mendengar kebenaran dari bisikan dinding emas Istana yang tebal. apa kau tak berfikir jika di balik dinding yang di bangun dengan pertahanan dan kekokohan ini pasti telah di saring dengan ketat dan bahkan, satu cela-pun tak akan masuk ke telingamu. Yang Mulia!" sambung Sandra lagi dengan maksud yang tak di mengerti para pengawal sana tapi cukup membuat Raja Mikes tertegun.
"Kau begitu mempersiapkan diri." remeh Raja Mikes datar. Sandra menipiskan bibir seksinya secara tak langsung menelak ucapan Raja Mikes.
"Bukankah seseorang yang di hadapkan dengan Lembah kematian harus membuat persiapan?!"
"Yah. tapi, sebesar apapun usahamu. kau akan tetap debu dan anak yang kau kandung itu bisa saja bukan anak putra-ku."
Degg..
Raja Mikes pergi masuk keruang Rapat yang terbuka memperlihatkan Rusel yang menoleh dan mata pria itu terpaku pada mata Sandra yang merah berair menatap ke dalam.
"Yang Mulia!" seisi ruangan megah ini memberi salam hormat atas kedatangan Raja Mikes tapi Rusel perlahan berdiri dengan tatapan kosongnya pada manik hitam milik Sandra yang tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
Saat pandangan keduanya berbenturan Sandra langsung tersenyum mengusap matanya seakan kelikipan. ia seakan mengatakan aku tak apa. ini hanya debu.
Tak kuat akan pandangan Rusel. Sandra langsung pergi dengan menahan semua yang tengah mengoyak hatinya.
"Prince!" panggil mereka pada Rusel yang diam dengan wajah berubah mengeras melempar tatapan membunuhnya pada Raja Mikes yang hanya diam duduk diikursi kekuasannya.
"Prince! apa ada masalah? atau.. "
Rusel langsung melangkah pergi keluar ruangan. kedua tangannya terkepal kuat menunjukan urat-urat kemarahan itu.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..