Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Apa dia hamil?


__ADS_3

Perkataan Tuan Hatomo membuat Sandra bungkam. Ia tak bicara sama sekali selain duduk diatas jendelanya dengan Rusel masih menopang pinggangnya agar tak jatuh.


Sandra tak bisa berfikir jernih dengan perintah Papanya yang membingungkan.


"Apa lagi yang kau tunggu? kau masih mengharapkan pria itu?"


"Pa!" lirih Sandra tak mau membahas soal Daniel. tapi, Tuan Hatomo begitu menatapnya tegas dan menekan.


"Kau tak punya pilihan lain!"


"Pa! ini tak adil bagi Rusel, kau tak bisa mengatur seenaknya saja." bantah Sandra keras.


"Lalu kau mau dia yang bersamamu begitu?"


Sandra diam. ia tak tahu bagaimana perasaanya sekarang tapi yang jelas ia tak pernah ingin bersama Daniel tapi, rasanya terlalu egois jika ia menginginkan Rusel.


"Kakakmu Erina sudah pulang dan dia tengah sakit. saat tahu jika kau hamil tanpa suami, dia akan bertambah sedih akan hal itu."


"Pa! aku.."


"Sandra! kau jangan terlalu keras kepala, kau tak perduli pada Kakakmu. ha?"


Sandra diam tak bersuara. Ia menatap Rusel yang menggenggam tangannya menyatakan keberadaan dan selalu mendukung apapun keputusan yang dia ambil.


"Kau tak keberatan?" tanya Sandra yang di jawab gelengan oleh Rusel.


"Tidak! aku bersedia." jawab Rusel tegas tapi Tuan Hatomo tak banyak menyela. Ia menatap Rusel yang terlihat memandangnya penuh wibawa dan kekuasaan.


"Tapi. nanti kita akan terus bertemu, aku akan selalu menyusahkan-mu dan.."


"Tak apa. kita jalani saja apa adanya, tak perlu saling mencintai . hm?"


Sandra lega dengan jawaban Rusel barusan. Ia mengangguk yakin menarik senyuman Tetua Herdan yang sangat lega jika masalah Sandra bisa di atasi segera.


"Kalian akan menikah nanti malam!"


"A..apa tak terlalu cepat?" tanya Sandra agak kikuk. ia masih belum paham soal ritual sakral itu tapi Rusel tak mau membuang waktu.


"Tidak! waktu untuk ini sangat singkat, jika semua orang tahu maka kau dalam masalah."


Sandra mengangguk menurut saja. asal ini baik kedepannya ia tak akan menentang lagi. lagi pula Rusel juga setuju untuk menikahinya.


Namun, Sandra heran karna Kedua orang tua Rusel belum tahu apapun soal ini.


"Sel!"


"Hm."


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?" tanya Sandra bingung tapi Tuan Hatomo menatap Rusel yang tampan diam sejenak.


"Untuk itu aku belum bisa memberi tahu mereka. lagi pula tujuan awal ku hanya untuk melindungimu."

__ADS_1


"Apa mereka tak akan marah? bagaimana kalau mereka menentang karna aku.."


"Asal kau jangan terpengaruh. itu saja." tegas Rusel membuat Sandra berfikir. rasanya agak aneh jika orang tua Rusel tak tahu soal mereka.


"Biarkan pengawal yang menyiapkannya! kalian menikah di Rumahku karna disana tak akan ada yang tahu." Tetua Herdan memantapkan keputusan.


"Hm. baiklah! aku setuju, kalian berdua bersiaplah."


Tuan Hatomo melangkah pergi bersama Tetua Herdan meninggalkan Rusel dan Sandra yang masih diam di tempat mereka.


Sandra masih terfikir soal kedua orang tua Rusel tadi. setiap ia ingin mengungkitnya pasti Rusel akan menutupinya. apa karna kondisi kedua orang tuanya begitu melarat sampai menyembunyikannya?


"Sel!"


"Hm?" Rusel tampak asik melihat luka di pergelangan tangannya.


"Kau tak boleh begitu!"


"Maksudnya?" tanya Rusel heran. Sandra menghela nafas menepuk bahu Rusel tampak menenagkan.


"Kau harus janji. suatu saat nanti kau akan ajak aku ke hadapan orang tuamu."


Rusel bungkam tak menjawab sama sekali membuat kecurigaan Sandra semakin kuat.


"Aneh! apa benar kedua orang tuanya ada masalah?! tapi seharusnya tak begini." batin Sandra menduga-duga kondisi keluarga Rusel.


"Kau istirahatlah. aku harus pergi keluar!"


"Janji!"


"Sel!!"


"Hm."


"Jawab pertanyaan-ku." paksa Sandra tapi Rusel malah membaringkannya lalu memasangkan selimut. siang-siang begini ia di suruh tidur, yang benar saja.


"Aku akan sibuk. jaga diri baik-baik."


"Kau sangat menyebalkan." umpat Sandra memunggungi Rusel yang hanya menggeleng lalu melangkah pergi menutup kembali pintu kamar.


Mendengar suara pintu tertutup itu menarik diri Sandra untuk bangkit. Wajah kesalnya meruak melihat ke arah pintu sana membawa tatapan jengkel.


"Selalu saja begitu. apa tak bisa di ceritakan sedikit saja." gumam Sandra mendecah menutupi dirinya dengan selimut.


Di luar sana seorang gadis muda berwajah licik itu tengah datang bersama kedua temannya. mereka membawa keranjang bunga pepaya muda yang tadi diambil dari kebun untuk di olah. tadi, melihat Tetua dan Seorang pria paruh baya yang datang kesini.


"Sebenarnya siapa si Sandra itu?"


"Sepertinya dia bukan orang sembarangan. Zira!" gumam kedua temannya pada Zira yang bersembunyi di balik dinding rumah.


Ia tadi juga melihat Ketua Rusel keluar dari sini dan kemungkinan besar Sandra memang telah membuat sebuah rencana besar untuk mengambil alih kekuasaan Desa.

__ADS_1


"Apa dia membuat masalah lagi?"


"Aku rasa dia ketahuan mencuri hingga Tetua datang kesini."


Ide-ide konyol itu semakin membuat kepala Zira pusing. ia memilih melangkah ke depan pintu kamar Sandra tapi kedua temannya tak berani.


"Zir! kau jangan kesana."


"Sutt!!"


Zira mendekatkan telinganya ke pintu itu. Ia tak mendengar apapun dari dalam sana tapi ia yakin Sandra itu menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Zir! ayo pergi dari sini. kalau Ketua melihat, kita bisa habis." bisik kedua temannya tapi Zira enggan.


"Diamlah! aku tak akan melewatkan kesempatan ini."


"Tapi. Zir! kalau kita di lihat orang lain maka..."


"Kau bisa diam tidak? aku.."


Brugh...


Zira tersungkur ke depan sana karna pintu itu di buka membuatnya terjerumus na'as. kedua temannya memucat melihat siapa yang sudah berdiri di depan mereka.


"Kalian?" Sandra menyeringit heran melihat 3 cecunguk ini. apalagi Zira yang sudah berdiri dan langsung menatap Sandra angkuh.


"Apa? aku hanya lewat disini."


"Siapa yang mengatakan kau mengintip?"


Mereka tersentak mendengar ucapan Sandra barusan. Zira dan dua temannya saling pandang terlihat memucat dan kelagapan.


"K..kami..."


"Kau pasti ingin mencelakaiku lagi. kan?" geram Sandra menunjuk ganas Zira yang menelan ludahnya kasar. Ia mundur saat Sandra mendekat dengan keranjang bunga yang tetap ia peggang.


"Kau..kau jangan menuduh sembarangan!"


"Aku tak menuduh! buktinya telingamu merapat ke pintu kamarku. apa kau memang ingin me..."


Sandra langsung berhenti bicara saat aroma pahit dan aneh dari bunga pepaya muda di keranjang Zira menyeruk ke hidungnya.


"Hoeekmm!" perutnya terasa di aduk-aduk.


Mereka terkejut saat Sandra mual dan berlari ke dalam kamar mandinya membuat Zira terdiam. Suara muntahan Sandra begitu jelas mengalun membuat tanda tanya besar di benak mereka.


"Dia kenapa?" gumam dua teman Zira yang heran.


"Apa dia hamil?" tanya Zira menduga-duga melihat wajah Sandra pucat dari sini. Ia yakin Sandra muntah karna bunga pepaya ini.


"Aku harus mencari tahu." gumam Zira lalu melangkah pergi ingin mengabarkan berita ini pada Ikana sekutunya. bisa saja nanti Sandra benar-benar hamil dan akan jadi berita besar untuk di publiskan.

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2