Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kecemasan yang mendalam!


__ADS_3

Tak ada yang berani bergerak sedikit-pun dari tempatnya. tatapan mata kosong itu di hantarkan menuju kobaran api yang menyala terang membakar habis sekitar hutan belantara ini.


Pepohonan yang tadinya tumbang seketika terbakar bersama para ular-ular yang bergerak bak cacing kepanasan di panggang hidup-hidup.


"S..Sel!" lirih Sandra memucat. ia tengah duduk di atas batang pohon tumbang yang memapah tubuhnya.


Manik hitam itu seakan memandang penuh kekosongan pada seseorang yang terlihat masih saja mengoyak-ngoyak sesuatu di dalam kepulan asap itu.


"K..kenapa..."


"Ketua memang seperti itu." gumam Simob tahu akan keterkejutan Sandra. ia-pun tak pernah melihat Ketuanya semarah ini sampai menghancurkan tempat di sekelilingnya.


"Dia spesial!"


"I..ini.."


Nyonya Tantri tak bisa menahan keterkejutan itu. kepalanya berdenyut pusing menatap dari kejahuan Rusel dengan santainya mengeluarkan setiap isi perut Aleno terutama jantung yang di bawa para Serigala itu ke api yang memanggang habis tubuh pria itu.


"Bagaimana ini? apinya terus membesar. Ketua akan asik dengan itu semua." cemas Guren yang tadi mengurus mayat-mayat Bawahan Aleno yang sudah di seret kawanan Serigala itu ke arah kobaran api.


Semilir angin yang cukup ganas ini semakin membuat mereka khawatir jika Ketuanya tak akan berhenti maka semua hutan ini bisa hangus.


"Ketua!!!" panggil anggota mereka tapi Rusel tak bergeming. ia masih memanggang dengan asiknya menguarkan aroma daging yang kuat.


"Ketua!!!"


"Percuma." jawab Simob menghela nafas. ia tak bisa berbuat banyak selain memerintahkan anggota mereka untuk berjaga disini.


"Kalian jaga tempat ini. aku akan membawa Nona ke Rumah Sakit."


Simob beralih menatap Sandra yang tampak memucat di tempat. matanya sayu-sayu terbuka menerobos kegelapan yang tengah di telan cahaya itu.


"..sss...sakitt.. hm.."


"Nona!" Simob berjongkok cemas memeggang bahu Sandra yang mencengkram lengannya kuat. mata Simob melebar melihat darah yang mengalir di sela betis Sandra.


"K..kau.."


"S..Sakit. hiks! p..perutku."


Suara isak kesakitan Sandra sampai ke telinga Rusel yang tersadar. Ia menatap bangkai tubuh Aleno yang sudah seperti Kangguru di kuliti.


"S..Sakitt!!"


"S..Sandra." gumamnya dengan wajah kelam yang menyimpan kecemasan. Rusel berdiri menatap para Serigala di sekitarnya.


"Kalian urus ini!"


Seakan tahu dan faham hewan-hewan itu mengangguk memandangi Rusel yang tengah berlari melompati beberapa batang yang terbakar di hadapannya.


"Ketua!!"

__ADS_1


Rusel mengacuhkan panggilan anggotanya. Ia melesat mendekati Sandra dengan jaket ia lepas mengusap tanganya yang berlumuran darah.


"S..Sakitt. hiks! i..ini sakit."


"Ketua! ada darah yang keluar." ucap Simob menyingkir membiarkan Rusel mendekat. tatapan manik kehijauan itu tampak kelut melihat wajah pucat dan keadaan Istrinya.


"Bertahanlah!"


"S..Sel." geraman Sandra segera mencengkram bahu Rusel yang mengangangkat tubuhnya ringan masuk ke dalam dekapan hangat itu.


Tanpa banyak bicara. Rusel membawa Sandra ke arah jalan yang menuntun menuju Mobil yang tak jauh dari sini.


Jantung Rusel serasa di tarik dari tempatnya dikala merasakan tetesan darah itu melewati lengan yang membelit paha Sandra.


"S..Sakitt.."


"Bertahanlah. aku mohon." gumam Rusel mempercepat langkahnya yang segera sampai ke mobil.


Simob membuka pintu baja mahal ini membiarkan Rusel masuk dengan deruan para anggota lainnya menjaga.


"Cepatlah!!!" suara Rusel menggelegar menarik ketakutan di jiwa mereka semua. wajahnya mendingin tak terhitung seberapa bekunya jantung itu melihat keadaan Sandra.


"S..Selmmn!"


"Sebentar lagi. tahanlah sebentar. hm?" Rusel mengecup lama kening Sandra yang sudah berkeringat ingin. desisan sakit itu terus melantun membuat Rusel tak tahan.


Jika memang bisa. biarkan aku yang merasakannya, aku tak sanggup melihatmu begini.


"S..Sel! a..aku... aku t..tak kuat."


"Jangan! jangan katakan itu." tekan Rusel mengusap pipi Sandra yang menangis. sumpah demi apapun ia takut dan sangat takut.


Rasa sakit itu seakan membuat pinggangnya terlepas dari tempatnya. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada bayiku? aku..aku mohon jangan renggut dia.


"S..Sel!"


"Hm? jangan banyak bicara. kau akan baik-baik saja." ucap Rusel yang berusaha setengah mati agar tetap tenang. debaran jantungnya bisa di rasakan dan di dengar Sandra dengan jelas.


"K..kalau aku.. aku t..tak bisa. kau.."


"Diam! kau bisa diam. ha??"


Bibir Sandra bergetar membenamkan wajah lebamnya ke ceruk leher kekar Rusel yang terus mengusap perut Sandra yang terasa dingin.


"A..aku takut."


"Tak ada yang perlu kau takutkan. Kau akan baik-baik saja begitu juga bayi kita. Sayang!" bisik Rusel menenagkan Sandra yang terus mencengkram bahunya kuat menahan sakit yang teramat.


Beberapa kali Rusel membentak Simob yang tahu dan mengerti perasaan Ketuanya. Ia tak lagi membatasi laju mobil yang benar-benar cepat membawa mereka ke jalur utama Aspal Kota.


"Sandra!" panggil Rusel saat tangan Sandra berhenti meremas bahunya. Wajah Rusel memucat bahkan terlihat benar-benar tenggelam dalam rasa cemasnya.

__ADS_1


"S..Sayang.. Sandra." gumam Rusel terkejut dikala Sandra tak lagi sadar membuat Rusel menggila di tempatnya.


"Sandra! hey.. bagun. kau.."


Ia segera memeriksa denyut nadi dan nafas Sandra yang lemah. Ia menatap Simob yang terus berusaha cepat berselancar diantara mobil-mobil yang keluar masuk Tol.


"Sayang! aku mohon."


"Ketua! kau tenang saja. Nona hanya pingsan."


Ucap Simob menenangkan Rusel yang sama sekali tak bisa bernafas lega. Ia terus berusaha membangunkan Sandra yang sepertinya telah tenggelam dalam alam bawah sadarnya.


Setelah beberapa lama. Simob akhirnya lega dikala melihat Gerbang besar Rumah Sakit yang sudah dekat.


"Cepatlah!!"


"Kita sudah masuk. Ketua!"


Simob memasukan mobil melalui Gerbang. di depan sana sudah ada Tuan Hatomo yang telah mengurus tentang Rumah Sakit.


Wajah pria paruh baya itu terlihat benar-benar cemas mendesak Team medis membawa bangkar menjemput arah Mobil yang di hentikan Simob.


"Sandra!" Tuan Hatomo syok melihat keadaan Sandra yang tak bisa di katakan baik-baik saja. tubuh Rusel di bagian lengan dan paha pria itu di penuhi darah yang mengalir di sela betis Sandra.


"Cepat!! tangani dia!"


"Kami akan berusaha. Tuan!"


"Aku tak ingin tahu apapun. lakukan yang terbaik." jawab Rusel tergesa-gesa meletakan tubuh Sandra ke atas bangkar itu.


Ia ikut mendorong benda itu membantu Team medis yang terlihat ikut cemas karna wajah Sandra sudah pucat. apalagi kondisinya tengah hamil.


"Sayang! kau..kau dengar aku-kan? kau akan baik-baik saja."


"Ketua!"


Simob menahan bahu Rusel yang ingin masuk ke arah ruang Operasi.


"Biarkan mereka bekerja. Ketua!"


"Shitt!"


Rusel mengumpat hanya bisa memandangi bangkar istrinya yang telah di bawa. sungguh jantungnya terpacu memberontak di dalam sana.


"Ketua!"


"K..kalau saja..kalau saja aku datang lebih cepat!!!" geram Rusel meninju dinding di sampingnya beberapa kali meluapkan amarah dan rasa bersalah yang tengah bersarang di dadanya.


Rusel tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang akan merenggut dua mahluk penghuni hatinya itu. sungguh ini tak akan termaafkan.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2