
Kedatangan pria dengan tatapan ramah dan lembut itu menyita seluruh perhatian di Kerajaan. Rombongannya pulang setelah berkelana beberapa minggu ini menyelesaikan tugas yang syukurlah bisa ia tuntaskan walau tak semuanya.
"Yang Mulia!"
Pria bertubuh tegap itu menundukan tubuhnya kecil dikala berhadapan dengan sosok pemimpin Kerajaan ini. tatapan tajam mengerikan itu tetap mengayominya untuk kembali meneggakan tubuh.
"Kedatanganmu begitu cepat. Lucas!"
"Aku dengar Prince Feliks sudah kembali. jadi, semangatku untuk pulang bertambah kian harinya." jawab Lucas melempar tatapan teduhnya pada Rusel yang juga hadir terpaksa disini.
Aura keberadaan pria itu memang membuat Lucas tertarik. sosok yang hanya ia yang bisa menyamai aura Raja Mikes yang begitu berwibawah dan tak terbantah ini seperti biasa sedia dengan wajah datarnya.
"Yang Mulia. Prince! selamat atas kepulangan anda."
"Hm."
Rusel hanya menjawab seadanya. Lucas tersenyum kecil menatap semua orang yang seperti biasa selalu membuatnya tetap tenang.
"Yang Mulia. Ratu Bellarosa!"
"Nak! kau sudah begitu lelah bekerja beberapa minggu ini. pergilah istirahat." ucap Ratu Bella membuat senyuman tercipta di bibir Bibik Loure yang merasa senang bukan main.
"Istriku benar! istirahatlah lebih dulu, setelah itu kita bicara di ruangan pertemuan."
"Baik. Yang Mulia!" jawab Lucas pada Raja Mikes yang segera pergi dari ruang tamu Kerajaan ini. begitu juga yang lainnya tapi saat Rusel ingin pergi Lucas mencegat langkah tegasnya.
"Kak!"
"Lucas!" sela Nyonya Loure di kala melihat raut wajah Rusel sama sekali tak bisa siajak bicara.
"Nak! sudahlah, Prince tengah banyak masalah. dia tak akan sempat bicara denganmu. benar bukan? Yang Mulia!"
Rusel tak terpancing sedikit-pun. sikapnya yang selalu mengendalikan diri itulah yang akan menjadi ancaman terbesar bagi siapapun.
"Semua orang punya masalah. tapi, hanya kau yang mengurusi masalah orang lain."
Glek..
Nyonya Loure menelan bulat ludahnya mendengar jawaban Rusel yang terlihat biasa saja. senyum remeh Simob-pun tak bisa di hindarkan.
"Aku rasa Yang Mulia terlalu berlebihan." ucapnya sopan menyindir.
"Mom!" sela Lucas tak ingin berdebat.
"Bicaralah dengan Putra Mahkota! bukankah kau sudah menyelesaikan semua masalahnya. hm?"
Lucas membisu mendengar ucapan Momynya yang langsung pergi setelah menyindir Rusel yang hanya diam di tempat dengan pandangan lurus kedepan.
"Kak! apa kabarmu?"
"Aku rasa, kau masih bisa melihat." jawab Rusel datar tapi Lucas hanya tersenyum mendekat. terkadang Simob sungguh tak bisa mengerti kenapa bisa Lucas seramah ini.
"Aku dengar kau sudah menikah. dimana istrimu?"
Rusel langsung menatap membunuh Lucas yang agak terperanjat merinding. baru kali ini ia lihat tatapan kelam untuk seorang wanita.
"Kak! aku hanya bertanya, dimana dia? aku ingin berkenalan."
Imbuh Lucas lagi. Namun, ia mulai merasakan sesak disini seakan udara yang masuk ke hidungnya itu mencekik lehernya.
"Sial!! kenapa dia semarah ini?"
Batin Lucas berusaha menormalkan pernafasannya. ia ingin melawan tapi kekuatan Rusel memang tak bisa ia tandingi. pria ini selalu bisa mengendalikan suasana bahkan membuat tubuhnya kaku bak patung.
"K..kak.."
Lucas memejamkan matanya dengan kedua tangan mengepal. ia berusaha lepas dari semua sugesti yang Rusel berikan padanya tapi ini sulit ia patahkan.
"Tingkatkan dulu tenagamu baru ingin menganggu MILIKKU."
Tekan Rusel lalu melepaskan serangannya dan barulah Lucas bernafas lega mengisi rongga dadanya yang sempat kosong. sungguh, ia harus mampu mengimbanginya.
"Kak! k..kau ini.." nafas terputus-putus.
"Sekali lagi kau mendekatinya. aku tak akan segan dengan statusmu." imbuh Rusel sangat terlihat menekan dan marah.
__ADS_1
Lucas memandangi kepergian Rusel dengan tatapan sulit di mengerti. sepertinya wanita itu memang sangat penting bagi Seorang Putra Mahkota Dezon.
"Apa yang dia pilih dari wanita itu? cantik memang cantik tapi mulutnya. " Lucas menggeleng tapi ia tak akan diam saja. rencana yang di susun Momynya perlahan sudah berjalan.
...........
"Hallo. Guren!" .
"Ada apa. Nona?"
Suara Guren terdengar di seberang telfon sana. ini sudah jam 9 malam tapi wanita itu belum tidur, ia sibuk mencari Lab yang akan ia datangi nanti.
"Kau tahu dimana tempat Lab disini?"
"Lab? memangnya Nona mau apa?"
Sandra menghela nafas halus duduk di tepi ranjang seraya mengeringkan rambutnya. ia baru saja selesai mandi hingga hanya di baluti Bathrobe.
"Nanti ku beri tahu. kau temui aku besok jam 10 pagi."
"Apa Ketua sudah di beritahu?"
"Nantiku beri tahu. yang penting kau cari saja dulu."
"Baik. Nona!"
Sandra mematikan sambungan lalu berdiri mengeringkan rambutnya dengan handuk seraya mengecek ponselnya. di sini ada postingan baru dari Instragram Nyonya Tantri yang memposting foto Pestanya itu.
"Cih! kau menjual anakmu sendiri." umpat Sandra geram langsung berkomentar di bawahnya. Sandra menyindir Nyonya Tantri dengan mengatakan SI KUNO.
"Mereka membalasku" gumam Sandra cekikikan saat melihat banyak orang yang merespon komentarnya. ada yang mencari-cari siapa yang tengah berkata si seperti itu karna Sandra memakai akun palsu.
Ia tak menyadari kalau pintu kamarnya sudah di buka hingga tatapan netra gradasi kehijauan itu terlihat memandangnya intens.
Sandra yang cekikikan sendiri melihat ponsel itu menarik kejengkelan Rusel yang segera mendekat langsung mengambil ponsel Sandra.
"Kau..."
Pekikan Sandra tertahan melihat wajah datar Rusel yang tengah memeriksa ponselnya. dahi pria itu mengkerut lalu menatap Sandra dengan tenang.
"Sudah lama. memangnya kenapa?"
Rusel tak menjawab. ia memeriksa apa Sandra pernah mempublis foto atau sekedar kebiasaan sehari-hari. Namun, yang Rusel temukan hanyalah foto-foto orang lain yang terlihat tengah mencontek, menangis bahkan begitu memalukan.
"Sel! itu Aku palsu, bisanya aku gunakan mengerjai teman kampus."
"Kau ini memang tak punya pekerjaan lain." rutuk Rusel mematikan ponsel Sandra yang hanya diam kembali asik mengerikan rambutnya.
"Kau mandi malam-malam begini?" tanya Rusel melangkah ke Walkcloset seraya melepas jaket dan sepatunya.
"Aku sempat mandi hanya malam ini!"
"Bukankah tadi kau tak keluar?" Rusel muncul di ambang pintu Walkcloset dengan atasan sudah terlepas memaparkan tubuh kekar seksinya.
"Tidak. tapi.."
"Tapi apa?" tanya Rusel seraya menyambar handuknya untuk segera mandi. dari raut wajahnya pria itu terlihat baik-baik saja tapi Sandra agak segan bicara.
"Mandilah dulu. nanti kita bicara."
"Apa ada yang mengusikmu lagi?"
Rusel berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu jawaban Sandra yang tersenyum kecil menggeleng.
"Tidak ada. bersihkan dirimu dulu."
"Kau tidurlah. ini sudah malam."
Sandra hanya mengangguk tapi, Rusel mendekat membuatnya menyeringit.
"Ada apa?"
"Lepas Bathrobemu!"
Wajah Sandra langsung memerah mendengar ucapan Rusel barusan. ntahlah, pria ini terkadang membuat otaknya berkeliaran kemana tempat.
__ADS_1
"S..Sel!"
"Balik badan!"
Sandra membalikan tubuhnya dengan mata tajam Rusel mengukir Visual tubuh tinggi jenjang semok ini dari tampak belakang.
Perlahan tapi pasti Rusel menyibak rambut panjang sandra ke samping bahu wanita itu hingga leher jenjangnya terlihat indah.
"Sel! kau mau apa?"
"Menurutmu?" tanya Rusel mendempetkan tubuh keduanya hingga Sandra mengigit bibir bawahnya dengan wajah bersemu. Apa dia akan mengajakku bercinta lagi? aaaa.. aku juga ingin. pikir Sandra melayang.
Perlahan Rusel mengulur kedua tangannya memeluk Sandra dari belakang. jemari besarnya melepas ikatan tali Bathrobe perlahan hingga terlepas begitu saja.
"Tak usah tidur dengan ini." bisik Rusel mengigit kecil telinga Sandra yang langsung meremang merasakan hembusan nafas Maskulin ini.
"T..tapi dingin, Sel!"
"Aku akan menghangatkanmu."
Pancing Rusel menciumi tengkuk Sandra dengan bibirnya. kedua tangannya mengelus perut berisi ini membuat Sandra menikmati semuanya.
"S..Sel!" Sandra hanyut sampai menggeliat kecil saat satu tangan Rusel sengaja menyentuh segitiga di bawah sana.
"Pejamkan matamu."
Bak kucing yang patuh. Sandra mengikuti perintah Rusel yang terus membuatnya melayang. senyum geli Rusel tak bisa di sembunyikan sampai ia mengigit bibir bawahnya.
"Sel!"
Dengan perlahan Rusel melangkah mundur membiarkan Sandra berdiri di sana terlihat menunggu. tapi, lama Sandra diam tak ada merasakan keberadaan pria itu lagi.
Sandra membuka matanya lalu berbalik dengan syok menatap Rusel yang menyeringai bersandar ke ambang pintu kamar mandi.
"K..kau..."
"Selamat malam!"
"SILUMAN!!!!"
Rusel masuk ke kamar mandi menutup pintunya rapat. terdengar kekehan kecilnya di dalam sana setelah melihat hidung Sandra berapi-api.
"Tidurlah!! aku tak menjamin kau akan bangun pagi besok!!"
"Awas kau . ha?? akan ku balas semuanya!!"
Hanya ada suara kegelian Rusel terbenam pintu kamar mandi. tentu Sandra mendengus kesal karna gagal sudah untuk berbagi malam ini.
"Dia pikir dia siapa. aku juga bisa begitu." umpat Sandra tapi terlihat jelas ia kecewa. bukan tanpa alasan Rusel menolak, ini sudah jam 9 dan jika ia menggempur Sandra maka wanita ini pasti akan kelelahan.
"Cih!"
ia segera mengambil Ponselnya yang tadi Rusel letakan di atas ranjang.
"Aku masih belum puas." gumam Sandra masuk ke dalam selimut tebal ini dan mulai membuka kembali Medianya.
Namun, Sandra tersigap saat ada suara ketukan pintu di luar sana.
"Siapa lagi yang datang malam-malam begini?" umpat Sandra mengacuhkannya. ia sudah kesal bukan main tapi masih saja ada yang ingin menyulut amarahnya.
Seakan tahu apa yang di lakukan Sandra. ketukan itu bertambah menguat membuat Sandra menjatuhkan ponselnya asal di atas ranjang.
"Siapa??"
Suara ketukan itu terhenti saat Sandra berdiri di depan pintu. ia belum membukanya karna memperbaiki penampilan panasnya ini.
"Permisi!!"
"Sebentar!" Sandra menarik gagang pintu lalu menyembulkan kepalanya keluar.
Degg...
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1