
Malam ini cukup mendebarkan bagi Presiden Argentina yang menggelar pertemuan dengan Raja Mikes dan Rusel. mereka telah duduk berhadapan di meja ruang pertemuan di dalam Istana Dezon untuk menyambut kunjungan khusus Presiden Fernandez malam ini.
"Good evening Crown Prince and King Mikes!" ucap Presiden Fernandez dengan perawakan tinggi dan rambut hampir memutih tapi masih terlihat segar. ada 4 pengawal di belakang kursinya belum lagi yang berjaga di luar sana.
Raja Mikes dan Rusel hanya menanggapi dengan anggukan yang begitu berwibawah. keduanya terlihat memiliki aura yang setara.
"Pasti kalian bertanya-tanya kenapa aku tiba-tiba berkunjung ke Kerajaan kalian. bukan?" tanya-nya dengan senyum culas.
"Tentu! karna tak biasanya kau datang tanpa ada keuntungan." sindir Raja Mikes dengan gayanya yang datar dan tak terlalu emosi.
Presiden Fernandez tersenyum melihat bagaimana pedasnya ucapan Pria ini. tapi, ia tak takut lagi karna sekarang ia tahu kondisi Kerajaan bagaimana.
"Aku sudah mendengar isu tentang pemberontakan di wilayahmu. Yang Mulia! dan kedengarannya itu mulai sangat berbahaya."
"Maksudmu?" tanya Rusel setenang air tapi tatapan matanya seakan menguliti pria ini. alisnya datar dan rahang tegas mengetat menciptakan kesan sempurna.
"Kami mendapat kabar jika data Kerajaan hilang. apa benar?"
"Tidak! itu hanya berita palsu." jawab Mentri Cerres langsung meneggaskan. walau memang iya tapi mereka tak bisa membicarakan hal seintens ini dengan orang lain.
"Benarkah? tapi tak mungkin orang-orangku salah." timpalnya meraggukan.
Rusel menghela nafas halus mempertimbangkan ini. sepertinya Presiden Fernandez sudah tahu bahkan pasti pria ini ingin membuat penawaran dengan mereka.
"Katakan apa maumu!"
"Kau sangat cerdas. Putra Mahkota!" ujar Presiden Fernandez menarik sudut bibirnya menatap Rusel dengan pandangan berani. jika tak punya senjata, ia tak akan mampu berhadapan begini.
"Aku akan membantu kalian mengatasi Perang jika kalian mau bekerja sama denganku." imbuhnya lagi sangat licik.
Tak ada respon berlebih dari dua penguasa ini selain manik datar yang sama bahkan terkesan sangat dingin.
"Data Kerajaan Kalian tak hanya tersebar di Negaraku tapi, setiap wilayah sudah tahu kebocoran IT ini. mau atau tidak mereka akan membentuk Aliansi untuk menyerang mengambil alih Kerajaan." jelasnya seakan ingin memojokan dan mempengaruhi Raja Mikes yang tengah diam berfikir tenang.
"Itu hanya data kecil. tak akan berpengaruh untuk apapun." geram Mentri Cerres emosi. tapi, dari raut wajah berani Presiden Fernandez yang selama ini tak mampu buka suara sudah pasti bahaya itu sangat besar.
"Kecil? kau jangan terlalu meremehkan. Mentri! mereka tak akan perduli kecil atau besar yang penting bisa menghancurkan." jawabnya penuh lirikan menukik tajam.
"Apa maumu?" tanya Raja Mikes membuat senyumnya mengembang.
"Jika kami bisa membantu meredam Perang. maka, imbalannya harus setimpal." ia menjeda ucapannya lalu mengadahkan tangan sehingga salah satu pengawalnya memberikan Dokumen.
"Serahkan separuh wilayah Dezon padaku!"
Brakk....
__ADS_1
Para pengawal itu terkejut saat Kursi Presiden Fernandez terlempar ke dinding sana bersama dengan pria itu.
"Sir!!!" mereka berlarian masuk mengamankan sang pimpinan. pasukan penjaga Presiden mengacungkan senjata kearah mereka tapi wajah kedua penguasa itu tak gentar bahkan masih duduk dengan begitu berwibawah.
"Kami datang dengan maksud baik! begini penyambutan kalian??" bentak mereka menghakimi tapi tak berselang lama pria itu muntah darah di tempat membuat mata mereka terbelalak terutama Presiden Fernandez yang memucat.
Tatapan Rusel berubah kelam membekukan suasana dan tiba-tiba hembusan angin disini menguat menerbangkan tirai ruangan sampai mencekik leher mereka.
"S..Sir!!" pekik mereka tertahan dengan Pistol terlepas karna menahan kekangan di leher masing-masing.
Presiden Fernandez kebingunan dan juga genetar melihat keadaan para pengawalnya yang tak baik-baik saja bahkan, mereka juga mulai memuntahkan darah.
"Y..Yang Mulia!"
"Kau begitu percaya diri." desis Raja Mikes menjentikan jarinya hingga Presiden Fernandez langsung terbelalak merasakan tubuhnya panas.
"I..ini.."
"Sebutir debu di tanahku. tak akan pernah ku serahkan pada Kalian!"
Raja Mikes menggeram murka sampai ingin membunuhnya tapi Rusel segera menghentikan kemarahan Ayahnya dengan menetralkan suasana kembali.
"Bawa mereka pergi secara tak hormat!"
Nafas Raja Mikes memburu melempar Doukemen diatas meja ini ke lantai dingin sana.
"Sial!!! dia memang ingin menghancurkan Istana ini."
"Yang Mulia! seperti yang dia katakan, semuanya sudah tahu kondisi Kerajaan tengah tak stabil apa yang akan kita lakukan?" timpal Mentri Cerres penuh hormat.
"Sekarang! tak ada yang bisa di ajak bekerja sama. mereka hanya akan mengambil keuntungan." desis Raja Mikes muak. tapi itulah hukum rimba, di dunia Politik memang berlaku hukum kejam seperti itu.
"Jika sampai pasukan kita kurang maka Perang tak bisa di elakan. Yang Mulia!" timpal Mentri Cerres membuat Rusel berfikir tenang.
"Aku tak ingin ada Peperangan. Rakyat Dezon bisa menderita bahkan ekonomi juga akan menurun pesat."
Jawab Raja Mikes mengetuk meja ini. rasanya sulit bernafas sedetik saja karna keadaan benar-benar berbalik.
"Yang Mulia!!!"
Suara pengawal si luar membuat mereka berdiri. Raja Mikes melangkah ke pintu ruangan dengan Rusel yang menyusul.
"Yang Mulia!" ia menghadap langsung membungkuk.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Terjadi gencatan senjata di Wilayah Barat dan utara Dezon. mereka tiba-tiba menyerang serentak di 3 tempat."
Rusel langsung mengepal mendengar itu. Ia melangkah keluar menghampiri Panglima Oskar yang tampak tengah berbicara dengan para pengawal yang segera menunduk.
"Prince!"
"Kumpulkan 3 pasukan ke beberapa tempat dan tangkap mereka semua!" titah Rusel tegas.
"Baik. Yang Mulia!"
Mereka segera bergegas dan tampaknya ini akan serius. Rusel beralih menatap Raja Mikes yang terlihat tak punya pilihan lain, hanya Rusel yang ia percaya sekarang.
"Pergilah! bawa anggotamu."
"Baik!"
Rusel langsung melangkah pergi ke arah lantai dasar Istana. disana sudah ada Simob yang langsung mendekat.
"Ketua!"
"Kita pergi sekarang!"
"Semuanya siap!" jawab Simob menyanggupi. Kepala pengawal Yodra juga terlihat memperketat keamanan Istana. mereka menyebar di beberapa tempat sampai membuat Sandra yang tadi sudah turun bersama Ratu Bellarosa terhenyak.
"Sel!" panggil Sandra membuat Rusel menoleh. tatapan netra kehijauan itu terlihat merangkai tubuh Istrinya terutama perut bunci yang di tutupi Daster hamil itu.
"Sel! ada apa? kenapa kalian terlihat cemas?"
"Kau pergilah tidur." jawab Rusel menyongsong Sandra menarik wanita itu untuk ia peluk sejenak.
"Sel! apa ada masalah?"
"Sedikit! kau istirahatlah, jangan keluar kamarmu. hm?" Rusel mengurai pelukan dengan mengecup lama kening Sandra.
Melihat keadaan yang seperti ini. Ratu Bellarosa tentu mengerti akan apa yang baru terjadi.
"Pergilah cepat!" ujar Ratu Bella tegas.
"Dengarkan ucapan Ibuku! jangan berbuat ceroboh." tekan Rusel lalu melangkah pergi bersama Simob. Guren tinggal karna di tugaskan untuk menjaga Sandra disini.
Tentu Sandra tak akan bisa percaya jika semuanya baik-baik saja. sudah jelas tadi ia melihat rombongan Presiden Fernandez di lempar paksa ke luar Istana.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1