
Mereka semua sudah menunggu sedari tadi. Erina terlihat masih terbaring di dalam kamarnya dengan Tuan Hatomo dan Nyonya Tantri duduk diatas sofa di sudut ruangan.
Sedari tadi Erina terus bertanya, kapan Sandra sampai? dan Tuan Hatomo menjawab dengan kalimat penenang walau Nyonya Tantri terus mendesaknya untuk menghubungi Sandra.
"Suamiku!" lirih Nyonya Tantri kasihan melihat Erina yang sedari tadi terus melihat ke arah pintu kamar. Dari raut wajahnya saja sudah terlihat seperti begitu menantikan sang adik.
"Ma. Pa! kalian bilang dia sudah dekat?" keluh Erina serak karna ia mengalami radang tenggorokan.
"Nak! sebaiknya kau istirahat dulu, saat sudah datang nanti akan Mama bangunkan." bujuk Nyonya Tantri lembut tapi Erina diam dengan murung melanda.
"Lihat! apa salahnya dia datang lebih awal? Kakaknya sedang sakit dan sekarang dia.." Nyonya Tantri menjeda ucapannya karna Tuan Hatomo menepuk bahunya.
"Jaga ucapanmu! mungkin saja mereka ada masalah di jalan." ucap Tuan Hatomo tenang. ia tahu jika istrinya sudah terlalu muak dengan sikap Sandra tapi di balik itu dia juga seorang ibu dari 3 putrinya.
"Kau seperti tak tahu Sandra saja! dia itu akan melakukan berbagai cara untuk mengganggu saudarinya." decah Nyonya Tantri yang sangat tahu jika Sandra memiliki sifat iri pada Delina dan Erina. wanita itu sering mengacaukan setiap pekerjaan mereka.
"Ma! sebaiknya kalian istirahat saja. ini sudah mau malam."
Mereka menatap Erina yang merasa tak enak hati. jam sudah menunjukan pukul 5 sore apalagi sudah sedari pagi kedua orang tuanya menemani.
"Erin! kau jangan marah pada Sandra!" ucap Nyonya Tantri tapi Erina tersenyum.
"Ma! aku tahu Sandra itu bagaimana?! aku sudah biasa." jawab Erina terlihat biasa saja. Nyonya Tantri merasa lega karna Erina memang lebih paham soal itu.
"Baiklah. kalau begitu kau tidur saja, nanti .."
"Nyonya! Tuan!"
Bibik Iyem tiba-tiba datang dari arah pintu kamar. wanita tua itu menunduk dikala melihat pandangan majikannya tertuju padanya.
"Ada apa?"
"Nona Sandra sudah tiba di Kediaman!"
"Benarkah?" tanya Erina berbinar ingin segera turun tapi Nyonya Tantri segera menghentikannya.
"Jangan turun!"
"Ma!! Sandra sudah tiba, sudah lama aku tak melihatnya." jawab Erina begitu terlihat menahan rindu.
"Biarkan kami memanggilnya. kau berbaring saja di tempatmu!"
Erina mau tak mau menganggukinya hingga Nyonya Tantri dan Tuan Hatomo melangkah keluar dari kamar.
Bibik Iyem juga terlihat tak sabaran berjalan di belakang menuruni tangga utama ke lantai dasar.
"Non!!"
Bik Iyem tak bisa menahan rasa senangnya di kala melihat Sandra yang sudah berdiri di anak tangga bawah terlihat baru ingin naik ke atas.
"Kenapa kau sangat lama?" tanya Nyonya Tantri berjalan menghampiri Sandra yang berdiri sendirian. pria siluman itu ntah kemana perginya?!
__ADS_1
"Bik!" Sandra tak menjawab. ia malah melewati Nyonya Tantri dan lebih memilih memeluk Bik Iyem yang sungkan saat melihat tatapan tajam Nyonya Tantri.
"Non!"
"Bibik apa kabar?" tanya Sandra melepas pelukannya. wajah cantik dengan pesona netra hitam itu membuat Bibik Iyem merasa sangat bahagia.
"Baik. Nona.. Nona bagaimana? apa ada masalah?"
"Tidak! aku baik, buktinya aku masih berdiri disini!" jawab Sandra bersemangat mengibaskan rambut lurusnya begitu angkuh tak menghiraukan dua sosok di belakangnya.
"Sandra!" panggil Tuan Hatomo
"Hm? apa Pa?"
"Kau sedang bicara dengan orang tua. apa tak bisa sopan sedikit?" sambar Nyonya Tantri begitu kesal tapi Sandra tak marah, ia bahkan tersenyum simpul menatap Mamanya.
"Ma! apa kau tak kenal aku atau bagaimana?!"
"Kauu!!"
"Sudah!" tegas Tuan Hatomo menengahi. jika Sandra dan Mamanya sudah bertemu maka tak ada hal yang akan terjadi selain perdebatan.
"Apa ada kendala di perjalanan?" tanyanya lagi.
"Aku ketiduran!" jawab Sandra enteng tapi Tuan Hatomo mengerti tak mau membuat keriuhan lagi.
"Temui Kakakmu di kamar atas! dia sudah menunggu."
"Temui dulu Kakakmu. kau bisa makan setelahnya!"
"Ma! aku tak mau ke atas kalau tak makan." bantah Sandra langsung turun tangga lalu melangkah ke arah dapur utama.
"Biiii!!"
"Iya. Non!" Bibik Iyem mau tak mau pamit pergi menyusul Sandra.
"Bisa buatkan aku susu kedelai?"
"Bisa! tunggu sebentar, Non!" Bibik Iyem bersemangat menjalankan keinginan Sandra yang duduk diatas meja makan sama seperti hal biasa yang ia lakukan.
Semua itu memancing rasa marah Nyonya Tantri melihat sikap Sandra yang tak berubah.
"Suamiku! apa lagi yang akan kita lakukan pada Sandra?!"
"Sudahlah. biarkan saja!" jawab Tuan Hatomo melangkah mendekati Sandra yang mencomot buah apel di keranjang buah.
"Pa! ternyata sudah beberapa minggu aku pergi Kediaman ini masih sama." ucap Sandra dengan mulut penuh.
"Tak ada yang berubah. termasuk kau!" sindir Nyonya Tantri menatap heran Sandra yang semakin hari-semakin keterlaluan.
"Benarkah? apa aku masih tetap cantik?"
__ADS_1
"Tentu saja?"
Suara Erina menyambar membuat Sandra berhenti mengunyah. tatapan Sandra berubah datar melihat wajah agak pucat Erina yang turun dari tangga.
"Erin! kenapa kau turun?" Nyonya Tantri cemas.
"Ma! aku tak bisa menunggu lebih lama."
Erina mendekati Sandra yang tak berselera memakan apelnya. ia meletakan sisa yang ia makan di keranjang itu lagi membuat Erina tersenyum geli.
"Kau masih saja suka bersikap sembarangan. San!"
"Memangnya kenapa?" tanya Sandra jutek tak berniat untuk berbaik lidah.
"Sandra! berlakulah dengan baik, Erin sedang sakit."
"Dia bisa berjalan dari atas kesini bisa." jawab Sandra pada Nyonya Tantri yang sungguh merasa frustasi tak lagi bicara.
"San! apa kabarmu?"
"Kau tak lihat atau buta?"
Erina hanya tersenyum saja berdiri di hadapan Sandra yang menunggu Susu kedelainya jadi.
"Papa bilang kau pergi dari Kediaman. apa ada masalah?"
"Bik! apa sudah selesai?" tanya Sandra turun dari meja lalu pergi menghampiri Bibik Iyem membuat Erina diam.
"Sandra hanya berlibur! tak terjadi apapun padanya."
"Tapi, kenapa aku melihat ada yang aneh dengan wajah Sandra?" gumam Erina mengejutkan Nyonya Tantri. Erina seorang dokter. mustahil ia tak tahu bagaimana ciri-ciri umum wanita hamil.
"Nak! Sandra hanya lelah, dia itu suka keluar malam. itu karnanya wajahnya agak pucat."
"Begitu ya? haiss.. dia itu masih saja mau ke Club." decah Erina menarik rasa lega Nyonya Tantri tapi Tuan Hatomo merasa rahasia Sandra ini akan mengejutkan Erina.
"Ma! aku mau nanti malam tidur dengan Sandra. ya?"
"Nak! kau..."
"Tuan!"
Suara berat dari belakang menghentikan ucapan Nyonya Tantri. mereka menoleh ke belakang dengan tatapan beraggam tapi Erina malah terpaku bak patung.
"Kau dari mana?"tanya Tuan Hatomo menatap wajah datar mempesona itu. manik gradasi hijau tajam itu membuat Erina merasa merinding.
"Pesanan Sandra!" jawab Rusel tegas dan begitu berwibawah membuat Nyonya Tantri bungkam memperhatikannya. Ia belum tahu kalau Sandra sudah menikah dengan sosok gagah ini.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1