
Setelah menemaninya di luar dan menikmati pemandangan malam hari semalam. Rusel tiba-tiba tak lagi terlihat di mata Sandra yang keheranan bukan main. pagi-pagi begini hampir setiap pelayan sibuk menyiapkan makanan dan bebersih halaman belakang tapi ia sibuk mengelilingi Kediamannya sendiri.
"Nona!" sapa beberapa pelayan melihat Sandra berjalan ke arah teras di belakang tapi tak menemukan pria itu. hanya ada beberapa pekerja yang tengah memperbaiki selokan samping.
"Dimana dia?" gumam Sandra pada dirinya sendiri. tak terasa semalam Rusel sangat irit bicara, walau pria itu memang terkesan dingin tapi tak pernah sehemat itu.
"Kau mencari apa?"
Sandra berbalik dengan pandangan pada Tuan Hatomo yang berdiri di hadapannya. Pria paruh baya bertubuh tegap ini benar-benar terlihat tenang.
"Pa! apa kau melihat Rusel?"
"Memangnya kenapa?"
Sandra menghela nafas lalu berkacak pinggang. Ia tengah memakai rok jeans kebiruan diatas lutut dengan kaos pendek sepusatnya. tampak begitu manis dan sangat cantik.
"Rencananya aku mau mengajak dia keluar! tapi dia sudah tak ada pagi ini?!"
"Mungkin dia ada urusan penting!" jawab Tuan Hatomo lalu melangkah pergi di susul Sandra yang masih celingukan. tapi, ia segera sadar saat terfikir soal Ponselnya.
"Papa!!"
Langkah Tuan Hatomo terhenti saat Sandra menyalip ke hadapannya. Rambut panjang lurus hitam legam itu terurai cantik berkibar indah.
"Ada apa?"
"Ponselku!" mengadakan tangannya. Tuan Hatomo tak segera bicara melainkan ia memandang Sandra dengan intens.
"Untuk apa?"
"Pa! ayolah, aku tak akan berbuat aneh-aneh." decah Sandra sungguh jengkel. bibirnya mengerucut dengan alis hampir bertaut.
"Untuk apa?" tegasnya lagi. Sandra sudah tahu ini akan terjadi hingga ia sungguh merasa ingin membeli ponsel baru tapi uangnya tak ada.
"Aku mau menelfon Rusel! kalau aku punya ponsel-kan mudah menghubunginya."
"Kau yakin hanya itu?"
Sandra mengangguk membuat Tuan Hatomo pergi ke arah kamarnya. tentu Sandra berjingkrak kegirangan akan menerima ponsel lamanya.
"Yess! kalau begini aku bisa melakukan apapun." gumam Sandra menyeringai. ia sudah kepalang geram dengan aksi manja Erina disini dan tunggu saja pembalasannya.
Setelah beberapa lama menunggu. akhirnya Tuan Hatomo kembali turun membawa benda pipih dengan tampilan kasual itu.
"Pa!"
"Ini!"
Tuan Hatomo memberikannya pada Sandra yang dengan cepat ingin mengambil tapi Ponsel itu di alihkan lagi.
"Pa!" panggil Sandra jengkel.
"Jika kau berbuat yang macam-macam. ini tak akan kembali padamu."
"Aku tahu. aku hanya akan melakukan satu macam, janji!" ucap Sandra membentuk jarinya V. Tuan Hatomo menghela nafas lalu kembali memberikannya pada Sandra yang seakan mendapat berlian mengambilnya.
"Ouhh. Papa sangat baik, berbeda dengan Mama!"
"Jangan mengusik kakakmu!" tegas Tuan Hatomo lalu melangkah pergi kearah ruang kerjanya. Sandra mengumpat kesal lagi-lagi ini hanya karna Kakaknya.
"Ku cabut kembali perkataanku!"
"San!" suara Erina dari atas tangga membuat Sandra membuang muka kesal dengan tatapan merotasi jengah.
"San! apa kau tak ada pekerjaan hari ini?"
Sandra hanya diam mengibaskan rambut panjangnya yang di tata indah. wajah juteknya terlihat semakin menarik dan mempesona.
"San! kau mau tidak ikut Forum bersamaku?"
__ADS_1
"Tidak!" ketus Sandra lalu ingin melangkah pergi. tapi, suara Nyonya Tantri menghentikan langkahnya.
"Pergilah bersamanya!"
"Ma!" Erin menyapa Nyonya Tantri yang turun ke bawah mendekati dirinya yang sudah rapi dengan Dress selutut toska itu dibaluti Mantel ringan musim panas. rambutnya di gulung bergelombang menampilkan kedewasaan.
"Kau tak bisa pergi sendirian. kau masih belum begitu sehat."
"Tapi, aku mengajak Sandra karna ingin mengenalkannya dengan teman-temanku." jawab Erina terlihat sangat tulus.
"Aku tak mau kenal dengan para jas putih itu! membosankan." gerutu Sandra tak bisa bersikap santai sedikit saja.
"Jika ke Club kau selalu bersemangat. apa tak bisa otakmu di bawa bekerja keras?"
Deg...
Bagaikan bongkeman bagi Sandra. ucapan Nyonya Tantri begitu menusuk dadanya. wajah Sandra terdiam terpaku kosong menatap ke depan.
"Sedari kecil kau selalu saja membuat masalah. tak ada prestasi yang bisa kau tunjukan selain pembuat onar, tak bisa kau menghargai Kakakmu sedikit saja. ha?" marah Nyonya Tantri memaki Sandra yang kelewat batas.
"Apa Mama pernah menghargai-ku?" tanya Sandra berbalik menatap sinis Nyonya Tantri yang sungguh sudah tak sanggup.
"Kau bersikaplah dewasa Sandra! hormati Saudari-saudarimu, mereka tak berniat jahat padamu."
"Baiklah! Kakak ayo aku temani!" sambar Sandra langsung menarik tangan Erina yang tersentak tapi berusaha mengimbangi.
"Aku pergi. Ma!!"
"Hati-hati dengannya!!"
Erina mengangguk melangkah pergi keluar. para pengawal Kediaman sudah mengeluarkan Mobil dari Garasi hingga sudah terparkir di dekat halaman luas ini.
"Aku yang menyetir!"
"Baiklah!"
Erina menyerahkan kuncinya hingga keduanya masuk ke dalam Mobil Lamborghini keluaran terbaru itu. Sandra duduk di kursi kemudi dan Erina duduk tepat di sampingnya.
"San! Mama bisa marah jika kau membunyikannya sekeras i.."
Brummm...
"Saan!!!" teriak Erina berpeggangan ke kursinya saat Sandra melajukan mobil dengan sangat cepat. para pengawal sana juga terkejut sampai saling pandang tak bisa bernafas lega.
"Ini sangat menyenangkan!!!"
"Saan!! kau jangan mengebut!!" pekik Erina tak bisa tenang melihat jalan yang hanya dilalui dalam beberapa detik dengan kecepatan hampir mendekati Full.
Sandra begitu suka meliukkan stir mobilnya lincah melewati area jalan yang di padati beberapa orang.
Ia melesat begitu saja disela teriakan klakson para pengemudi lain menjerit memakinya. Ntahlah, hal seperti ini sangat lumrah bagi Sandra tapi tidak dengan Erina.
"S..San!" gugup Erina melihat ada mobil polisi di belakang mereka. jalan ini sudah memasuki Tol yang benar-benar membawa kematian mendadak bagi Erina.
"Kau rasakan sensasinya. jangan terlalu membosankan." ejek Sandra menambah laju mobil menyalip beberapa kendaraan baja didepan mengkibuli Polisi yang mengejarnya.
Erina memejamkan matanya dengan wajah pucat pasih. berbeda dengan Sandra yang terlihat bahagia dengan mata hitam lincahnya bergerak liar memperhatikan jalan.
"Kau mau aku menabrakkan ini ke arah mana?"
"K..kau jangan gila. Sandra!" gugup Erina gemetar takut. mendengar suara kencang mobil ini saja sudah membuatnya ingin lari secepat mungkin.
"Aku tabrakan ke trotoar bagaimana?"
"Saan! please, aku tak tahan lagi!!" jerit Erina sungguh mau muntah. Sandra menyeringai licik lalu segera mengerem mendadak membanting setir melakukan perputaran diarea sepi jalan dengan suara decipan Ban mobil beradu kencang dengan aspal.
"Saaaan!!!" teriak Erina hebat melihat mobil ini berputar kearah mobil polisi yang sudah mengepung mereka.
"Aku berhenti!" jawab Sandra menghentikan mobil di tengah kepungan itu.
__ADS_1
"P..polisi?" lirih Erina gugup antara jantungan didalam sini tapi juga merasa lebih baik menghadapi polisi dari pada kegilaan adik tak beresnya ini.
"Kak! kita di tangkap, lalu bagaimana?"
"A..aku akan bicara dengan mereka."
Erina keluar dari mobil. tungkainya gemetar sampai berpeggangan ke Body benda mewah ini.
"Kau melaju tanpa aturan!"
"M..maaf, Pak! adik saya memang baru belajar menyetir ke jalan utama." jawab Erina sopan walau nafasnya masih terputus-putus.
"Kau ikut ke kantor!"
"Baik. pak!"
Erina hanya menurut kembali masuk ke mobil membuat kepala polantas itu juga masuk ke mobil mereka ingin mengiring ke kantor aparat kerja.
"San! kita harus ikut mereka dulu."
"Kau saja. kalau mau!" gumam Sandra membuat Erina menghela nafas duduk kembali dengan tenang dan anggun.
"Papa adalah orang penting disini. jangan mencemarkan nama baiknya. San!"
"Aku tak perduli!" jawab Sandra lalu kembali melajukan mobil cepat menyalip Mobil Polisi yang ada di hadapannya. Ia sudah paham jalur ini hingga tahu dimana tempat yang tak bisa mereka lalui begitu saja.
"San! kita bisa kena marah Papa!"
"Diamlah! kau mau aku turunkan disini?!"
Erina diam. keputusannya untuk semobil dengan Sandra memang sangat salah. wanita ini berniat mengacaukan segalanya lagi.
.............
Sedari tadi mereka tengah membahas soal masalah penting soal Kulfun. Rusel bertemu dengan salah satu anggotanya di Istana yang melaporkan apa saja yang telah terjadi disana.
Mereka bicara di sebuah penginapan tak jauh dari pusat kota tapi ini lebih tersembunyi mengingat jika banyak kaki tangan Ayahnya di mana tempat.
"Yang Mulia Mike belum ada menyimpan kecurigaan karna sejauh ini masalah di Kulfun masih ia percayakan pada anda. Prince! Istana juga tengah sibuk mengurus tentang masalah Kudeta dari utara." jelas sosok muda yang umurnya di bawah Rusel. dia adalah Mamond kepercayaan Rusel selain Guren dan Simob.
"Bagaimana dengan Ibuku?" tanya Rusel datar dan sangat tenang dalam berfikir.
"Sedikit menjadi masalah. Ibu ratu Bellarosa sekarang sering sakit. dia juga sering meminta anda untuk kembali ke Istana karna para sepupu anda sudah mulai menunjukan sikapnya."
Rusel terdiam sejenak. ia memang sudah lama tak pulang jadi wajar jika Ibunya khawatir, tapi selagi wanita itu baik-baik saja ia bisa tenang disini.
"Kau jaga mereka. jika ada yang berniat busuk, segeralah bertindak."
"Baik!"
Mamond mengangguk menundukkan kepalanya patuh. sementara Guren ia mendapat pesan dari Simob yang di suruh mengawal Sandra dari jauh oleh Rusel tadi.
"Ketua!"
"Hm."
Rusel menautkan dahinya saat melihat Guren cemas membaca pesan yang masuk.
"Ada apa?"
"Nona Sandra bertolak dari Kediaman dengan kecepatan mobil yang tinggi. bahkan, dia mengacaukan satu kota ini."
"Shitt!"
Rusel segera berdiri dengan Mamond ikut dengan hormat. ia melihat kekhawatiran tersembunyi dibalik pahatan tampan Princenya yang tak pernah seperti ini.
"Tak cukup disitu saja. Mobil polisi dari berbagai arah mengepungnya, saya khawatir Nona akan kecelakaan!"
"Dia memang benar-benar!" umpat Rusel lalu berlari keluar dimana anggota lain sudah menyiapkan mobil khusus untuknya.
__ADS_1
........
Vote and Like Sayang..