Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Aku tak Mengerti!


__ADS_3

Setelah pemberitaan baru itu di publikasikan, gejolak Media semakin merebak terbagi menjadi 3 Kubu. ada yang mengatakan jika peristiwa pembunuhan ini sudah di rekayasa sebelumnya dan ada juga yang menganggap jika Sandra tak bersalah karna sejak pertama Karina dan Anjulah yang mencari masalah.


Anggota IT Rusel terus mengirim berbagai Vidio dimana dulu Karina dan Anju juga ingin merencanakan pembunuhan pada Sandra. semua itu membuat aparat Pemerintah mulai mengambil tindakan yang sangat serius.


"B..Bagaimana bisa?" geram pria yang tengah mengamati layar Laptopnya. dalam beberapa jam saja eksistensi topik panas pembunuhan itu di gantikan oleh bukti-bukti kejahatan Anju dan Karina selama ini.


"Tuan! sekarang persepsi mereka mulai menurun, kita harus mengambil tindakan."


"Sial!!! dia memang benar-benar ingin berperang denganku." umpat pria bertato ular itu berusaha berfikir tenang. Rusel tak terlihat bergerak tapi dalam satu rencana inti pria keturunan Rusia itu mampu meredamnya.


"Tuan! dua sekutu anda juga tak bisa di hubungi. kemungkinan mereka sudah tertangkap." ucap Oblin membuat wajah pria itu mengeras. bekas luka yang mewarnai rahang dan pipinya semakin menekan amarah.


"Rusel! kau akan menangis darah karna ini."


Geramnya begitu naik darah. selama ini ia tak ada cela untuk menghabisi nyawa pria itu tapi kali ini ia tak akan mundur lagi selangkah-pun.


........


Sedari tadi Sandra merasa bosan berbaring di kamarnya. ini sudah menjelang siang tapi Rusel juga belum kembali, ia jadi merindukan suaminya.


Tadi memang Anya ada disini tapi ia meminta wanita itu beristirahat karna alasan Sandra memang ingin tidur siang.


"Aneh! kenapa aku tak boleh main ponsel dan menghidupkan Televisi?" gumam Sandra melihat tak ada barang elektronik disini. apalagi kesibukan Rusel membuatnya jadi tak bisa tenang.


"Apa sudah terjadi sesuatu. tapi apa?"


Sandra sungguh kebingungan. wajah cantiknya semakin di tekuk masam lalu bangkit dari ranjangnya.


"Aku harus mencari tahu sendiri." gumam Sandra lalu berdiri di depan pintu kamar. ia menghela nafas dalam dan mendorong pelan benda ini.


Sangat hati-hati Sandra melakukannya tapi ia tersenyum di kala dua anggota Rusel tengah berjaga di depan sana.


"Ada yang anda butuhkan. Nona?"


"A.. itu, aku mau ke Taman!"


"Kami akan menemani." tawar mereka mempersilahkan untuk berjalan lebih dulu.


"Aku mau sendiri. kalian-kan laki-laki. suamiku pasti tak akan menyukainya."


"Nona! kami akan menjaga jarak sesuai batasan yang di tetapkan, Ketua." bantah mereka sopan.


Sekarang pupus sudah harapan Sandra untuk mengkibulinya tapi tak akan berhenti disini. ia masih punya ribuan cara di benaknya.


"Baiklah. kita ke taman."


"Siap!"


Mereka mengikuti Sandra dari belakang. mata itu tak berani melihat tampilan indah tubuh seksi Sandra yang semok dan bergairah. wanita ini memakai Mini Dress maron lengan pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya.


Di perjalanan ke bawah sana. Sandra terus mencari cara agar bisa keluar dari sini. di setiap sudut aja penjaga membuat Sandra keheranan.


"Ada apa sebenarnya?!"


"Nona! perhatikan langkah anda." tegur para anggota saat melihat Sandra melamun.


"Hm. tapi, aku mau menelfon suamiku. pinjam dulu ponselmu." pinta Sandra menatap kilas tapi masih berjalan menuruni tangga.


"Nona! Ketua baik-baik saja, dia memang sibuk karna desa tengah bermasalah."


"Masalahnya apa?"


"Kami tak berhak untuk berbicara. Nona!"


Sandra mendengus kesal dengan langkah jengkel turun secepatnya. Hotel ini memang sangat indah tak begitu tinggi tapi seperti penginapan, jadi Sandra bebas kemana saja.


"Sangat susah bicara dengan mereka. sebenarnya apa yang Rusel berikan sampai mereka tak mau bicara?!"


"Nona!"


"Hm."


"Jangan berlari. anda bisa.."


"Aku mau ke toilet." ucap Sandra menghentikan langkahnya di lantai dasar. ada beberapa orang disini termasuk resepsionis yang tersenyum kearahnya.

__ADS_1


"Baiklah. kami akan me.."


"Kau mau menemaniku?" tanya Sandra menajamkan matanya. dua anggota itu saling pandang lalu menggeleng.


"Maaf. Nona!"


"Aku hanya mau ke toilet. kalian tunggu disini."


"Baik!"


Sandra menghela nafas lega seraya melangkah kearah Toilet yang ada di samping. ia melirik beberapa manusia yang cukup ramai di bawah sini dan ada satu tempat yang sepertinya bisa ia jadikan persembunyian.


"Baik. ini sudah cukup."


Gumam Sandra saat ia sudah melangkah ke arah Toilet. dari kaca dinding ini terlihat semua mata tengah memantaunya bak CCTV berjalan semakin menambah jiwa penasaran Sandra.


"Aku bisa mengakali mereka disini."


Sandra bersembunyi di balik pintu Toilet lalu mulai menunggu beberapa menit agar orang-orang di luar sana lengah. berselang beberapa lama Sandra mengintip dan mereka sudah mulai tampak memeriksa keadaan di sekeliling.


"Sekarang waktunya." gumam Sandra lalu mengendap keluar. ia bersembunyi diantara dinding memanfaatkan kelincahan tubuhnya.


Setelah berjuang sangat keras dan lama Sandra bisa menerobos semak di samping dan mulai memanjat di pagar yang cukup rendah dan aman.


"Syukurlah." helaan lega itu keluar di kala ia sudah berada di luar area Hotel.


Disini keadaan jalan begitu sepi seakan sengaja di blokade. sungguh Sandra tak tahan lagi untuk segera pulang ke Kediamannya dan melihat apa Rusel disana atau tidak.


"Kenapa tak ada Taksi. ini sangat menyusahkan."


Umpat Sandra berjalan kaki menyusuri aspal lembab ini. langit disana mendung jadi ia bisa santai berjalan tanpa hambatan.


Lama Sandra melangkah mulai merasakan kejanggalan. beberapa warga disini menatapnya dengan aneh dan terlihat beberapa kali membandingkannya dengan sesuatu di layar ponsel mereka.


"Apa??" ketus Sandra pada salah satu wanita muda yang tampak tengah berjalan bersama kekasihnya di tepi trotoar ini.


"Kau bukannya yang ada di berita itu?"


Dahi Sandra mengkerut bingung tak mengerti. beberapa pengendara lain yang lewat-pun juga ikut memperhatikan Sandra.


"Kenapa dia berkeliaran disini?"


"Apa dia melarikan diri dari penjara?"


Sandra menaikan bahunya acuh. ia tetap melangkah maju tak memperdulikan orang-orang yang mulai berkerumunan karnanya.


"Apa pakaianku terlalu terbuka? tapi. ini sudah bagus." gumamnya keheranan. Sandra berusaha acuh melangkah berkeliling melepas kebosanannya.


Ia melihat-lihat ke beberapa tempat dan satu yang jadi objek perhatian Sandra. ada wartawan yang tiba-tiba turun dari mobil dan langsung berlari ke arahnya.


"Nona!!"


"Nona Sandra!!"


Sandra terlihat kebingungan tak tahu apapun. ia berusaha menghindar tapi di sekelilingnya sudah di padati orang dan Media yang tampak membawa kamera.


"Nona! kemana saja anda selama ini?"


"Yah. apa anda berusaha menghindari prosesi hukum?"


Sandra seperti orang tak waras di tanyai hal yang tak ia mengerti. langkahnya terus menjauh dan berusaha terus menepis beberapa orang yang mendekat ke arahnya.


"Kalian mau apa? aku tak mengerti?" Sandra linglung.


"Apa motif dari pembunuhan ini. Nona?"


"Apa karna mereka sering mengusik anda hingga.."


"Aku tak mengerti!! bisa diam tidak. ha???" bentakan Sandra menggelegar membuat mereka tersentak sampai jantungan.


Wajah cantik Sandra merah padam dengan tatapan manik hitamnya menghunus panas. ia sudah susah bernafas di kelilingi begini tapi masih saja di desak.


"N..Nona!"


"Kau diam!!" tekan Sandra emosi. ia mulai merilekskan rasa kesalnya lalu menatap tegas mereka semua.

__ADS_1


"Ada apa? kalau hanya membual aku tak berminat."


"Hey! kau pantas di penjara jika sudah seperti ini." kecam ibu-ibu yang menatap benci Sandra.


"Mulutmu itu memang minta di Setrika. ha!!" suara Sandra meninggi hebat.


"Kami benar. kau sudah melakukan pembunuhan tapi masih saja berkeliaran, apa karna Ayahmu seorang Jendral kau bisa bebas. ha?"


"Yah!!"


Mereka menyoraki Sandra yang mulai habis kesabaran. Dengan kasar Sandra merampas salah satu ponsel wanita yang tadi tengah membanding-bandingkannya.


"Sebenarnya kalian ini tengah melihatku di.."


Duarr...


Mata Sandra terbelalak dengan raut terkejut luar biasa terpancar dari manik hitamnya. foto Karina dan Anju yang sudah tewas bersimbah darah itu menarik jantungnya yang seakan mau terlepas.


"I..ini.."


Sandra tak bisa berkata-kata saat namanya ada disana. dan salinan artikel ini memaparkan kalau ialah yang menjadi dalang pembunuhan.


Ponsel itu tak sengaja ia jatuhkan. sungguh Sandra benar-benar syok.


"Jangan pura-pura terkejut." kecam Media menjiprat wajah Sandra yang pucat.


"A..aku...aku tak tahu. ini.. ini aku.."


"Seret dia ke kantor polisi!"


"Yah!! biarkan dia di adili!!"


"Tapi, belum tentu dia salah. kau tak lihat berita barusan ini." salah satunya mencegah mereka bergerak tapi para Media sana sudah terburu-buru ingin mengambil gambar Sandra yang tampak linglung.


"Nona! apa motif anda melakukan ini?"


"Apa kaena iri atau bagaimana?"


Sandra hanya diam sesekali terdorong ke tengah jalan karna terus di desak. ia masih belum menerima ini dan seakan semuanya menjadi mimpi buruk baginya.


"Nona!! apa ada lagi yang anda sembunyikan dari kami?"


"Kenapa perut anda terlihat lebih berisi?"


Kepala Sandra mulai berdenyut. pandangannya berputar menatap semua orang yang tengah berdebat di hadapannya.


"A..Aku.."


"Nona! berhentilah berpura-pura!"


"Yah!! kau selama ini selalu mempermalukan Keluargamu, apa kali ini juga taktik yang sama."


Sandra menggeleng mencengkram kepalanya yang mau pecah karna denyutan sakit. Ia mundur di kala para Media itu mendesaknya terus ke tengah jalan yang mulai ramai.


"A..aku..."


"Nona! berikan kami jawaban!"


"Kau pasti berpura-pura agar lari dari kami. bukan?"


A..apa ini? apa aku ada di mimpi? tapi, kenapa semuanya nyata. mereka semua menatapku sebagai kriminal dan..


Mata sayu Sandra samar-samar melihat mobil hitam yang melaju cepat ke arahnya. pelupuk netra itu menyipit mencoba menyela diantara debu dan angin di kala ia merasa tak asing dengan pengendara mobil itu.


"I..itu..."


"Ini saat yang ku tunggu." desis pria paruh baya yang tengah melajukan mobilnya ke arah Sandra yang mematung diam seakan tak tahu kalau tubuhnya akan di hantam oleh baja besi itu.


"K..kau..."


Brakk....


.......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2