
Tatapan pemantau Guren terus di layangkan ke arah satu meja Resto yang sekarang tengah di jadikan tempat makan kedua manusia itu. Sedari tadi tak ada pergerakan yang begitu dominan dari Arnol yang tampak baik-baik saja seperti pria dungu pada umumnya.
Makanan yang di sajikan itu-pun tak mengandung bahan berbahaya telah di periksa para anggota mereka.
"Sebenarnya apa yang dia rencanakan?!" gumam Guren tetap tenang duduk di kursi tak jauh dari Sandra yang asik mengobrol renyah.
"Stik disini enak. Pamanmu sangat pandai meracik bumbunya."
"Benarkah? terimakasih." jawab Arnol lugu tertunduk malu.
"Aku memuji pamanmu. bukan kau!"
"Itu sama saja. Nona!"
Sandra menggeleng keras menyatakan perbedaan yang sangat jauh membuat wajah Arnol berubah murung.
"Tidak! Pamanmu sangat cekatan berbeda dengan kau yang lamban."
"Begitu, ya?"
"Hm. tapi kau cukup baik." jawaban Sandra membuat Arnol kembali cerah dengan rasa bahagia yang tak terjabarkan di hatinya.
Tapi, ia sadar kalau Sandra belum menyebutkan tentang namanya.
"Em.. Namamu, siapa?"
"Ha?"
"Namamu!"
Sandra diam dengan mulut masih mengunyah makananya. rasanya ia agak kejam jika lagi-lagi mengkibuli si idiot ini.
"Sandra!"
"Sandra?"
"Iya. Sandra Avilla." jawab Sandra serius membuat Arnol terdiam seperti menghafal nama itu. tiba-tiba saja Arnol berdiri membuat Sandra terheran dengan Guren yang langsung mengeluarkan pistolnya dari balik jaket miliknya.
"A..ada apa?"
"Aku ke belakang dulu!" ucap Arnol lalu pergi ke arah Dapur Koki. Sandra yang acuh hanya menaikan bahunya tak perduli lalu lanjut makan.
Tapi, ia tersentak saat ada yang berdiri di sampingnya.
"Kau??"
"Ikutlah denganku!" tegas Guren tak bisa lagi diam disini. ia merasa sedari tadi Arnol sangat hati-hati.
"Kau siapa?" Sandra tak kenal karna Guren memakai masker.
"Cepatlah. Nona!"
"Tidak! aku masih mau makan." jawab Sandra kekeh membuat Guren geram melihat situasi Resto yang tak terlalu ramai.
"Arnol! kau cepatlah aku.."
Kaliman Sandra tecekat saat Guren menarik tangannya cepat bangkit dari kursi dan menyeretnya keluar pintu Resto.
"Kau!! apa-apaan. ha??"
"Cepatlah. Nona!"
"Lepas!!!"
__ADS_1
Guren tak mendengarkan penolakan Sandra yang berusaha ingin lepas membuat Guren tak begitu sabar seperti Ketuanya. Ia menarik wanita itu ke arah mobilnya yang telah di jaga dua anggota mereka.
"Kau!! Kau siapa? jangan-jangan kau mau menculikku!!"
"Masuk!"
Tekan Guren membuka pintu mobil tapi Sandra tak mau. ia menginjak kaki Guren kuat membuat cengkraman pria itu terlepas dan barulah Sandra berlari pergi.
"Nona!!" umpat Guren segera mengejar Sandra begitu juga yang lainnya. mereka berpencar dengan pergerakan halus karna menjaga Privasi anggotanya.
"Mereka mau menculikku. aku tak akan semudah itu tertangkap." gumam Sandra terus berlari melewati beberapa orang yang keheranan melihatnya.
Ia sesekali menoleh kebelakang di mana tak ada lagi yang mengejarnya membuat Sandra terhenti tepat di belakang Gedung Hotel lama yang ada di pinggir jalan kota ini.
"Syukurlah! mereka tak mengejarku ke sini." gumam Sandra menghela nafas dalam tersandar ke dinding sana. Ia terlihat lebih lega walau perutnya terasa nyeri setelah berlari tadi.
Sandra meliarkan pandangannya ke sekeliling tempat di dekatnya. Dinding Gedung ini sedikit berlumut menjabarkan bagaimana keterlantaran yang terjadi.
"Haiss!! disini sangat sunyi." gumam Sandra bergidik ngeri. ia mulai melangkah pergi ke arah samping Gedung untuk keluar dari sini.
"Ini kemana tembusnya?" gumam Sandra mengeratkan tali tasnya. jalan di tanah ini juga becek dan susah untuk di lalui.
"Sel! kau memang siluam maniak yang jahat!" gumam Sandra tak bisa melewati jalan becek ini. ia memang sangat susah untuk beradaptasi dengan lingkuan yang jauh dari gaya hidupnya.
"Nona!!!"
"Sial!!" umpat Sandra langsung bersembunyi di balik dinding di samping saat suara Guren terdengar. ia tak bisa melihat jelas wajah Guren yang tengah memakai masker.
"Dimana kau. ha??"
Sandra hanya diam berusaha untuk tenang dan bersembunyi. ia memang merasa suara Guren itu pernah ia dengar tapi rasa waspadanya lebih tinggi.
"Keluar kau!!"
Sandra hanya diam tak bergeming. sungguh ia tengah takut kalau misalnya itu orang jahat yang ingin menculiknya. apalagi mungkin dia akan di perkosa atau di jual.
Ia begitu hati-hati sampai Sandra lega saat ia sudah sampai ke ujung.
"Syukurlah!" gumam Sandra saat sudah melewati jalan sakaratul maut itu.
"Sandra!"
"Kau??"
Sandra tersentak hampir ingin berteriak saat ada yang menepuk bahunya. namun, ia segera membekap mulutnya sendiri ketika melihat siapa pria ini.
"Arnol?"
"San! kenapa?" tanya Arnol melihat-lihat di sekelilingnya dengan aneh dan tak mengerti.
"Kenapa kau disini? aku pikir kau pergi pulang."
"Kenapa kau tahu aku disini?" tanya Sandra dengan dahi menyeringit.
Arnol tersenyum kecil membenarkan letak kacamata di hidungnya. ia terlihat kaku berdiri di depan Sandra dengan malu.
"Tadi aku lewat disini. jadi, aku melihatmu ketakutan. aku pikir kau tengah bermain."
"Hm. terserah kau saja." acuh Sandra tak mau meladeni. bocah idiot ini memang menguji kesabarannya.
"Kau mau pergi kemana?"
"Keluar dari sini."
__ADS_1
"Ikut aku!"
Arnol menarik lengan Sandra untuk pergi ke arah jalan di depan Gedung hotel tua ini. Sandra hanya diam menatap genggaman tangan Arnol kelengannya.
"Disini biasanya memang sunyi! kita lewat depan saja"
"Terserah."
Jawab Sandra hanya mengikut. mereka lewat di aspal depan Gedung Hotel yang sunyi. Sandra merasa ada yang aneh disini tapi ia berusaha tenang.
"Kau sangat tahu jalan ini?"
"Tidak juga. tapi, aku tahu tempat yang aman."
Sandra mengangguk mengikuti Arnol ke arah seberang jalan. tentu Sandra menyentak tangannya agar tak di peggang terlalu lama.
"Kemana?"
"Kita bersembunyi di dalam sana saja."
Arnol menunjuk sebuah mobil tua yang terparkir di tepi jalan sana. disini memang sunyi membuat Sandra keheranan.
"Aku mau pulang!"
"Iya. tapi kita sembunyi di sana."
Sandra terdiam sejenak menatap wajah Arnol yang terlihat memandangnya polos. tak lama setelahnya Sandra tersenyum mengangguk mengikuti Arnol.
"Setelah ini kita kemana?"
Arnol diam tak menjawab pertanyaan Sandra yang mendekati Mobil Jip tua ini. Arnol membuka pintunya seakan mempersilahkan Sandra masuk.
"Masuklah!"
"Kau duluan." jawab Sandra melirik kanan kiri seperti cemas jika nanti penjahat tadi mengejarnya.
"Kau saja. aku akan memantau dari sini."
"Tidak. aku ini pemberani." ucap Sandra mendorong kasar bahu Arnol ke dalam mobil itu. Sandra mengamati intens raut wajah Arnol yang tampak biasa saja dan masih tersenyum.
"Sekarang kau yang masuk!"
"Hm. sebentar aku agak sakit perut." gumam Sandra menutup kembali pintu mobil. Arnol menunggu Sandra yang meringis memeggangi perutnya dengan wajah sangat mules.
"Perutku tiba-tiba saja sakit."
"Kau masuk saja dulu! nanti kita kerumah sakit."
"Ulurkan tanganmu. Arnol!" pinta Sandra membuka sedikit pintu mobil uluran tangan Arnol ingin menggapai pinggangnya.
Brakk...
"Sial!!!!"
"Bweee!!!" ejek Sandra menjulurkan lidahnya lalu berlari pergi setelah menerjang pintu mobil sampai menjepit tangan Arnol yang menahan sakit luar biasa.
Tatapan mata pria itu berubah berapi-api mengisyaratkan anggotanya untuk keluar.
"Tangkap dia!!!!"
"Aaa!!!" teriak Sandra saat ada hujaman peluru kearahnya. ia berlari kuat dengan rasa takut yang menjalar di semua tungkainya.
"S..Sakit." lirih Sandra berlari memeggangi perutnya. ia tak sanggup lagi berlari jauh atau ia akan keguguran disini.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang...