Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Jaga Dirimu Baik-Baik!


__ADS_3

Setelah pertempuran panas yang menggelora tadi sekarang di dalam kamar itu sudah ada Dokter Nita yang di panggil khusus oleh Rusel yang tengah panik dan sangat cemas.


Tadi di tengah-tengah penyatuan mereka tiba-tiba Sandra mengalami pendarahan. Rusel sungguh panik setengah mati melihat darah yang keluar di bagian inti Sandra terlihat segar.


"Bagaimana? apa dia baik-baik saja?" tanya Rusel berdiri di samping ranjang menatap wajah pucat Sandra yang tak sadarkan diri.


Ia memakaikan baju kaosnya ke tubuh wanita itu sedangkan ia kembali memakai celananya dengan jaket menutupi tubuh atasnya.


"Tuan! Nona mengalami pendarahan kecil, ini di sebabkan oleh depresi dan guncangan yang kuat."


"Shitt!" umpat Rusel benar-benar merasa begitu jijik dengan perlakuannya. ia sampai hilang kendali membuat keadaan Sandra dalam bahaya.


"Tapi, anda tenang saja. ini bisa di hentikan. untung darahnya tak terlalu banyak."


"Lakukan apapun agar dia baik-baik saja." pinta Rusel mengusap keringat di kening Sandra. ia tahu Sandra pasti kelelahan karna ia sempat mendengar ringisan sakit wanita itu tadi.


Dokter Nita yang semula terkejut melihat wajah Sandra yang tak asing baginya tadi segera berangsur mengerti kenapa bisa hari itu Sandra datang sendiri.


"Tuan! dia pernah datang sendirian ke Rumah Sakit hanya untuk memeriksa kehamilannya."


Rusel diam menatap wajah Sandra penuh rasa bersalah. ia sudah keterlaluan sampai membuat semuanya semakin rumit.


"Saya melihat jelas jika dia tak menerima kenyataan sama sekali. tapi, saya sangat bahagia jika anda mau bertanggung jawab." timpalnya dengan penuh rasa lega.


"Hm."


"Lain kali cobalah mengatur ritme berhubungan. jangan terlalu memaksakan hingga bisa saja nanti akan berakibat lebih parah. Tuan!"


"Aku mengerti!"


Dokter Nita mengangguk lalu mengemas peralatannya. Ia pamit pergi diiring Simob yang mengantar sampai keluar sana.


Tinggalah Rusel yang terdiam terpaku dengan visual lemah ini. kepalan tangan Rusel menguat di kala melihat bahu Sandra tergores tali Bera yang ia lepas kasar tadi.


Belum lagi paha wanita itu merah karna tekanan celana yang ia tarik tadi. sungguh, rasanya ia begitu tak berguna.


"Maafkan aku! aku tak seharusnya menakutimu." lirih Rusel mengusap pipi pucat Sandra dengan tangannya. bayangan isak tangis wanita itu tadi membuat Rusel mengutuk dirinya sendiri.


"Aku tak seharusnya memperlakukanmu begini, kau benar. aku bukan pria yang baik." jawab Rusel mengecup lama kening Sandra dengan lembut. sekuat tenaga ia mencoba menahan diri tapi sungguh Rusel tak mampu melihat kedekatan Sandra dan Daniel.


"Aku ingin jujur padamu saat itu. tapi aku cemas saat melihat kau marah dan aku .."


Rusel menjeda ucapannya dengan meletakan tangan Sandra ke dada bidangnya yang lengket karna keringat yang bercampur tadi.


"Aku merasa sakit setiap kau menyebut namanya." sambung Rusel baru kali ini mengatakan apa yang ia rasakan. Saat Sandra sadar ia tak bicara karna Sandra tak pernah bisa mendengarkannya.

__ADS_1


"Bukan karna aku tak ingin bersaing tapi, dia pernah menjadi orang spesial di hatimu. hanya itu, tapi kau..kenapa.."


Rusel terdiam sejenak terlihat mulai merasa khawatir dikala wanita ini mulai menjauh darinya.


"Kenapa kau tak mengerti? aku bisa saja membunuhnya tapi aku ingin kau melihatku. bukan dia."


Simob yang melihat dari depan pintu kamar sana hanya diam baru pertama kali melihat sesosok penerus tahta Kerajaan itu kacau hanya karna seorang wanita yang sudah mampu menampung benihnya.


"Tapi, kau pasti akan membenciku. terserah kau ingin memakiku tapi satu... " Rusel mengeggang perut Sandra hangat.


"Jangan sakiti dirimu sendiri, aku tak pernah bisa menahan diri untuk satu itu." gumam Rusel sekali lagi mengecup kening Sandra.


"Ketua!" panggil Simob mendekat karna merasa Ketuanya sudah mengambil keputusan.


"Bagaimana dengan pria itu?" tanya Rusel membuat Simob menarik nafas dalam.


"Dia sudah di larikan ke rumah sakit. tapi, sepertinya dia tak akan menyerah mendekati. Nona!"


"Kirim dua anggota ke sini untuk menjaga. Sandra!"


"Ketua! apa kau..."


"Aku harus kembali!"


"Biarkan dia disini. aku akan melindunginya dari luar!"


"Ketua! pria itu akan.."


Rusel menatap Simob dengan tegas. ia tak bisa terus disini karna ada banyak hal yang harus ia selesaikan, apalagi nanti Sandra juga tak akan percaya lagi padanya.


"Jika dia bisa bersaing dengan baik. aku tak masalah! biarkan Sandra sendiri memilih ingin kemana." jawab Rusel dengan tatapan sangat bijaksana. Ia kembali mengambil ketenangannya yang tadi sempat menghilang.


"Ketua! aku..."


"S..Sakit" lirihan Sandra membuat perhatian mereka tersita. keringat dingin itu keluar membuktikan betapa besar rasa takutnya sebelum ini.


"S..Sakit!"


"Ambilkan aku air hangat dan handuk kecil!" titah Rusel yang diangguki Simob segera keluar.


Rusel merapikan rambut Sandra ke atas agar lebih segar. ia mengelap keringat itu dengan tisu agar tak terlalu lembab.


"S..Sakit, p..perutku.. emm."


"Maaf. maafkan aku!" lirih Rusel mengusap perut Sandra. yang masih belum membuka matanya. hanya igauan yang biasa keluar ketika ia demam.

__ADS_1


"Tubuhmu panas. bertahanlah sebentar. hm?"


"Ini Ketua!"


Simob datang membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil yang di minta Rusel. tentu pria bermanik ke hijauan itu segera melakukan tugasnya dengan telaten.


"Ganti tisunya dengan tisu basah!"


"Baik!"


Simob dengan cepat melangkah keluar mencari tisu basah. Rusel ingin membersihkan bagian bawah Sandra yang tadi agak lengket.


"S..Sakit!"


"Sebentar! kau tahanlah sebentar." gumam Rusel mengompres perut Sandra yang keram. Dokter Nita tadi berhasil menghentikan pendarahan hingga Rusel bisa lega.


"Ketua! ini tisunya!"


"Pergi keluar!"


Simob mengerti memberikan tisu itu lalu melangkah pergi menutup pintu kamar memberikan ruang bagi Rusel untuk merawat Sandra sebelum penerbangan nanti subuh.


"Apa aku terlalu kasar?" lirih Rusel melihat bagian inti Sandra bengkak. ia mengumpat membayangkan betapa terkejutnya wanita ini menerima pelayanan darinya.


Ia mengelap sisa darah di bagian sana karna khawatir terjadi infeksi. Apalagi Sandra tengah hamil jadi rentan terkena berbagai penyakit.


Sandra sedikit mendesis saat Rusel menyentuh bagian bengkak itu. tentu rasanya masih perih karna penyatuan kali ini agak kasar baginya.


"Kau makanlah yang teratur. istirahat yang cukup dan jangan lagi seenaknya keluar malam. itu tak baik bagi kesehatan." ucap Rusel menitipkan pesan. ia mungkin akan jarang kesini apalagi keadaanya juga tak mendukung.


"Aku pamit. hm?"


Wajah Sandra langsung bergurat cemas seakan merasakan hawa sesak yang tengah Rusel katakan.


"Jaga dirimu baik-baik. berhentilah membangkang. sesekali penurut itu lebih baik." timpal Rusel langsung menyelimuti Sandra. ia membereskan segalanya agar nanti saat bangun Sandra tak terlalu terkejut.


"Tidur yang nyenyak. Baby!"


Rusel mengusap perut Sandra lalu melangkah pergi. sesekali ia melihat kebelakang seakan mengenang wajah lelap wanita itu di benaknya.


"Jaga dirimu baik-baik!"


........


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2