
"Nona!!"
Sandra tersentak saat satu tembakan dari arah luar Gerbang sana melesat kearahnya. Ia refleks memutar tubuhnya ke samping hingga yang terkena hanya pilar Kediaman.
"Amankan. Nona!"
Ucap para pengawal mengerumuni Sandra yang tak perduli. ia melihat ada yang meloncat dari arah beton samping dan anggota Rusel sudah menggebu mengejar mereka.
"Sandra!"
Rusel menarik Sandra dalam dekapannya. matanya begitu waspada melihat kemana tempat yang sudah tak bisa di katakan aman lagi.
"Sel!"
"Ada yang luka?" cemas Rusel memeriksa tubuh Sandra yang menggeleng.
"Tidak. aku tak apa."
Rusel menghela nafas lega lalu menatap beberapa anggotanya yang datang untuk melaporkan sesuatu.
"Ketua!"
"Kalian bisa kecolongan seperti ini. apa pekerjaan kalian hanya diam menjadi patung. ha??" geram Rusel menggertakan giginya kelam membuat mereka menelan ludah kasar.
"Ketua! kami sudah mengitari semua ini dan tak ada yang mencurigakan, bahkan. anggota musuh tak ada disini."
Rusel terdiam sejenak tetap memberi penjagaan pada Sandra yang melihat kearah penembak tadi beraksi. kenapa dia bisa tahu kalau di dekat pohon mangga sana ada tempat persembunyiannya dan disana ia biasa keluar dari Kediaman ini?
"Orang yang membakar itu tak ada tato ular sama sekali. Ketua!" timpal mereka lagi menunduk patuh.
"Aku tak perduli. mereka sudah hampir saja mencelakai dan kalian tak bisa membuat pembelaan." tekan Rusel tak bersahabat. manik kehijauannya sudah sangat kelam hingga Sandra menghela nafas ringan.
"Sel! aku baik-baik saja, lagi-pula anggotamu pasti tengah mengejar mereka."
"Masuk!"
Rusel menarik Sandra menuju mobil diluar Garasi. mobil yang tak Sandra kenali ini milik siapa dan kenapa sangat mewah?
"Sel! bukankah kita akan naik taksi?"
"Masuk saja!"
Mau tak mau Sandra masuk duduk di dekat kursi kemudi. situasi sekarang tengah tidak menentu, tentu Rusel tak bisa lagi mempercayakan Sandra sendirian lagi.
"Sel!"
"Kau mau kekampus. bukan?" tanya Rusel duduk di kursi kemudi menghidupkan mesin mobil ini dengan fasih. Sandra terdiam melihatnya.
"Iya!"
"Hm."
Rusel melajukan mobil stabil. pandangannya masih datar dan kembali tenang membuat Sandra terasa mau berteriak karna tak tahu harus melakukan apa.
"Apa jalan itu ada yang tahu selain kau?"
"Ha?" tanya Sandra yang tak begitu fokus.
"Jalan!"
__ADS_1
"Ouh. itu! yang tahu hanya aku dan Bibik Iyem, tak ada yang lain."
Rusel tak bersuara lagi membuat Sandra keheranan apa yang tengah di pikirkan otak dingin suaminya ini.
"Sel! memangnya kau mau apa?"
"Tidak ada."
"Tapi.."
Sandra segera menghentikan kalimatnya karna Rusel sudah melayangkan tatapan tegas itu membuatnya kesal bukan main.
"Selalu saja begitu."
"Jauhi Bibik. mu!"
"Ha???" pekik Sandra syok menatap Rusel yang masih fokus mengendara.
"Tapi kenapa?"
"Ku jelaskan nanti!"
"Sel! please, kau jangan menuduh Bibik-ku." bantah Sandra tak terima.
"Disini belum tahu siapa yang ingin membunuhmu. siapapun bisa di curigai."
"Tapi, dia bibik-ku Sel! dia.."
"Mengertilah!" lembut Rusel menggenggam tangan Sandra yang menatapnya dengan rumit. agak aneh memang tapi jika Rusel sudah berkata ia bisa apa.
"Baiklah. tapi, kau jangan macam-macam padanya."
"Hm."
Berbeda dengan Sandra yang melamun. Rusel justru terlihat sangat tenang menatap beberapa orang yang mengawasi mereka di sepanjang jalan, ia tak menunjukan pergerakan apapun hanya menandai dimana tempat yang sudah di awasi.
"Sebenarnya siapa yang tengah mereka ajak bekerja sama?!"
Batin Rusel mengamati segalanya. bisa saja nanti di Kampus Sandra kembali di incar. ia tak bisa membiarkan wanita ini berkeliaran seenaknya.
"Sel!"
"Hm." jawab Rusel membuka kaca jendela miliknya membuat para mata-mata di luar sana melihat wajah tampannya yang di telan hembusan angin.
"Apa aku boleh datang ke Pesta Kampus malam ini?"
"Kalau kau mau. pergilah!"
"Tapi, kau datang, ya?"
Rusel terdiam sejenak lalu beralih mengusap perut Sandra yang sudah tampak berisi membuat ia enggan untuk melepasnya.
"Apapun untuk anakku."
"Hanya anakmu?" tanya Sandra menaikan alisnya dengan bibir mengerucut.
"Lalu?"
"Oh." jawab Sandra acuh membuang muka ke arah jendela. sungguh rasanya begitu menjengkelkan mendengar jawaban Rusel barusan.
__ADS_1
Rusel mengulum senyum samar membelokan kemudi kearah jalan di kampus Sandra. di sepanjang jalan mendekati Gerbang Kampus ada beberapa Mahasiswa yang menatap Mobil mereka penuh decah kagum.
"Tak usah masuk ke Gerbang."
"Kenapa?"
"Nanti kau jadi pusat perhatian." jengah Sandra tak mau berbagai pangeran tampannya.
"Tak apa. aku suka."
"Kauu!!!"
Sandra menepis tangan Rusel dari perutnya lalu langsung turun saat mobil berhenti di dekat Gerbang.
Brak..
Suara pintu mobil di hempas kasar oleh Sandra yang menyelonong gontai melewati beberapa orang yang tengah menatapnya dengan bingung dan penuh kekaguman.
"Kak Sand.."
"Apa??" sambar Sandra galak membuat mereka menciut berlari menjauh, wajah tak bersahabat Sandra membuat mereka enggan mendekat walau kecantikan wanita ini memang alami.
Rusel mengulum senyum melihat semua itu. setidaknya ia lega jika Sandra juga bersikap galak di depan banyak orang.
"Aku tak bisa percaya pada siapapun. semakin kesini mereka begitu berani menunjukan diri."
Rusel melajukan mobilnya stabil kembali kearah jalan. di setiap langkahnya ada saja yang mengawasi membuat Rusel mulai agak menduga jika Anggota Istana mulai curiga dengannya.
............
Sementara Sandra yang ada di lantai dasar sana di buat terdiam saat sosok pria itu datang menemuinya tapi, ia seakan tak tahu apapun.
"San! kenapa kemaren kau pergi? aku mencarimu di Resto." tanya Arnol agak takut-takut saat melihat wajah datar Sandra.
"Kau jangan pura-pura di hadapanku." geram Sandra dingin menyentak Arnol yang syok.
"San! a..apa kau marah padaku? apa kemaren aku berbuat kesalahan?"
"Kau ini memang sialan!! sampai kapan kau akan berpura-pura??" bentak Sandra membuat Arnol terperanjat sampai mundur ke belakang.
"S..San!" lirih Arnol dengan mata berkaca-kaca. tatapan yang benar-benar tulus dan masih begitu polos membuat Sandra diam tak mengerti.
"Kau itu ingin membunuhku. kan??"
"A..apanya? aku...aku tak pernah begitu, aku takut. San!"
Dahi Sandra mengkerut melihat wajah Arnol yang menahan tangis. mata Sandra bergulir ke arah lengan pria cupu ini dan alisnya terangkat kecil.
"Kenapa tak ada tatonya? jelas hari itu aku melihatnya."
Batin Sandra keheranan. dari sikap Arnol juga tak menunjukan kebohongan, aura pria ini juga terasa bersahabat tak sama seperti kemaren.
"S..San! jangan marah padaku, aku minta maaf, apa makanannya tak enak? atau aku melakukan kesalahan."
"Kau benar tak tahu?" tanya Sandra penuh selidik. Arnol menggeleng menjaga jarak dengan Sandra.
Aneh. Arnol memang tak berani menyentuhku seperti awal bertemu, yang kemaren itu lancang memeggang tanganku. jadi mana yang benar?
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..