Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Keadaan sebenarnya


__ADS_3

Langkah lebar kaki kokoh itu langsung berlari tergesa-gesa masuk ke dalam Istana. matanya bergurat cemas melihat keadaan Istana yang seperti habis di serang.


Ceceran darah di pilar megah ini semakin membuat hatinya di landa kepanikan. apalagi serpihan kaca dan pecahan keramik-keramik mahal Istana tengah berserakan.


"Guren!!"


Panggilnya dengan suara keras membuat para pengawal yang tadi tengah menyisir Istana berlarian menghadap sang Putra Mahkota.


"Yang Mulia!"


"Apa yang terjadi?" tanya Rusel pada Ketua Pengawal Yodra yang terlihat kusut. tampaknya pertarungan tadi cukup menguras tenaga para Pengawal disini.


"Tadi, ada pasukan musuh yang mencoba masuk ke Istana! mereka menyerang dalam kawanan cukup banyak hingga berhasil mengacaukan Istana. Prince! maafkan kami." pintanya membungkuk.


Namun, bukan itu yang ingin di dengar Rusel yang hanya ingin tahu apa Istrinya baik-baik saja? atau wanita itu juga ikut terluka.


"Bagaimana dengan Istriku?"


"Nona.."


"Ketua!" suara Guren menyela dari atas tangga sana. Rusel segera melangkah terburu-buru di ikuti Simob yang mengerti kecemasan Ketuanya.


"Bagaimana dengan Istriku?"


"Nona Sandra ada di kamarnya. Ketua!"


Rusel langsung melangkah cepat ke arah kamarnya. ia melewati beberapa pengawal Istana yang tampaknya di tugaskan untuk berjaga disini.


"Prince!!"


Sapa mereka tapi Rusel hanya diam segera menekan gagang pintu itu hingga matanya melihat Ratu Bellarosa yang berdiri di samping ranjang bersama Raja Mikes.


"Bu!!"


"Feliks!" Ratu Bellarosa tersentak saat Rusel masuk dengan wajah datar tapi jelas pria ini tengah mencemaskan Istrinya.


"Kenapa kau pulang secepat ini?"


"Sandra!" Rusel menyeru Sandra yang terlihat terbaring diatas ranjang ini. ia tak memperdulikan pertanyaan Raja Mikes yang menghela nafas karnanya.


"Bu! apa yang terjadi?"


"Tadi, Istrimu mengeluh perutnya sakit. tapi dia sudah lebih baik." jawab Ratu Bella tegas menatap wajah cantik Sandra yang agak pucat. wanita itu masih memejamkan matanya karna sempat tak sadarkan diri tadi.


"Setelah ini. temui aku!" Raja Mikes melangkah pergi bersama Ratu Bellarosa meninggalkan kamar. Pintu itu kembali tertutup memberikan ruang bagi Rusel untuk memastikan keadaan Sandra.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rusel memeggang lengan Sandra hingga perlahan mata sayu wanita itu terbuka. Manik hitam indahnya menatap wajah Tampan Rusel yang terlihat masih cemas padanya.


"Sel!"


"Ada yang sakit? perlu kita ke Rumah sakit? atau... katakan sesuatu, apa ada yang luka?" tanya Rusel menghujami pertanyaan yang jelas Sandra jawab dengan helaan nafas ringannya.


"Sandra!"


"Aku tak apa. tadi, perutku hanya keram."


"Sekarang bagaimana? masih sakit?" memeggang perut besar di lapisi selimut ini.


"Sedikit!" jawab Sandra memberi senyuman hangatnya. Ia ingin duduk tapi Rusel tak membiarkannya hingga pria itu hanya menyusun bantal di dekat kepala Ranjang dan barulah dengan hati-hati Sandra di dudukan bersandar nyaman.


"Sudah?"


"Em. kesini!" Sandra menarik lengan Rusel mendekat hingga duduk di sampingnya. keduanya berhadapan dengan tangan saling menggenggam.


"Bagaimana keadaan di sana?"


"Semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


Jawab Rusel sudah hafal oleh Sandra yang tahu jika itu tak baik-baik saja. pria ini hanya selalu berkata tenang tak ingin membuatnya cemas.


"Kenapa kau bisa Keram? kau di kamar saja-kan?"


"Menurutmu?" tanya Sandra membuat raut wajah Rusel berubah mengeras. tentu ia tak bisa membayangkan jika tadi pasukan Musuh berhasil masuk dan mencelakai Sandra.


"Aku melarang-mu. bukan?" geram Rusel terlihat marah. Sandra tahu dan memahami perasaan Rusel yang pasti cemas jika ia terluka apalagi ia tengah hamil Tua.


"Berdiri saja kau susah. apalagi jika nanti mereka mengepung-mu. kau tak berfikir kesitu, ha?" imbuhnya lagi menatap tajam Sandra yang beberapa kali menghela nafas.


"Sel! dengarkan aku dulu."


"Kau yang dengarkan aku." bantah Rusel sudah kepalang cemas dengan aksi-aksi nekat Sandra. ia beralih melepas genggaman Sandra seraya mengalihkan pandangan ke arah lain menormalkan emosinya.


"Maafkan aku! tadi, aku sangat penasaran sebenarnya mereka mau apa dan siapa yang memimpinnya?! jadi, aku turun mengikuti jejaknya sampai ke.."


"Kauu..."


"Sel! Please, dengarkan aku. Sayang!" pinta Sandra menyela dengan tangan terulur memeggang rahang tegas itu. tatapan Rusel melemah hingga kembali diam menunggu.


"Aku mengikuti jejak kaki di belakang Istana yang mengarah ke Penjara bawah tanah. awalnya aku kira mereka ingin menguasai Istana tapi tidak, mereka hanya mengalihkan perhatian para pengawal disini."


"Kau melakukan apa?" tanya Rusel yang malah fokus pada apa yang di lakukan Istrinya.


"Aku masuk ke dalam Penjara bawah Tanah dan di sana sangat gelap dengan jejaknya yang terputus di dekat pintu bagian dalam. kau tahu siapa yang-ku temui?" tanya Sandra tapi Rusel hanya diam mendengarkan saja.


"Lucas!"


Spontan Rusel langsung menoleh pada Sandra yang mengangguki itu. Lucas? jadi benar pria itu sudah bergabung dengan pasukan musuh.


"Dia ingin melepaskan Momynya. dan dia sempat adu mulut denganku."


"Dia melukaimu?" tanya Rusel menukik tajam. Sandra menggeleng mengatakan tidak tapi percuma, mata Rusel sangat tajam sampai tahu apa yang tengah di tutupi helaian rambut Sandra di daerah kening mulus ini.


"S..Sel!" lirih Sandra saat jari Rusel perlahan menyibak sedikit rambut di dekat keningnya.


"Sel! ini hanya.."


"Jangan membohongiku." tekan Rusel membuat Sandra menelan ludahnya kasar. Pria ini memang sulit ia bohongi seakan selalu memasang mata untuknya.


"Dia memukulmu sampai memar dan lebam begini?"


"Tidak! dia hanya menekan ujung pistolnya ke keningku."


"Sialan!!" geram Rusel ingin pergi tapi Sandra dengan cepat menarik lengan kekarnya untuk duduk kembali. tatapan Rusel berubah menyeramkan jika sudah menyangkut dirinya.


"Sel! ini hanya memar biasa, aku juga masih hidup. Sayang!"


"Dia ingin menembakmu."


"Tapi dia tak melakukannya." jawab Sandra ingin menenagkan suaminya. tak biasanya Rusel secemas ini dan ia yakin masalahnya begitu serius.


"Sel! kau tenang dulu. kita akan bicara tapi aku ingin kau stabil, aku baik-baik saja. Sayang!"


Ucapan Sandra begitu lembut meraih hati sang putra mahkota yang perlahan menghela nafas sejenak merilekskan pikiran dan hatinya.


"Tenanglah. jangan terlalu memikirkan yang buruk-buruk." imbuh Sandra menarik lengan Rusel agar mendekat hingga pria itu beralih memeluknya, pelukan yang sangat erat dengan wajah tampannya terbenam ke dada Sandra yang lebih berisi.


"Jangan lakukan itu lagi! aku tak bisa membayangkan jika kau di tembak di sana."


"Itu yang terakhir. aku janji." jawab Sandra mengusap kepala Rusel yang sepertinya memiliki beban yang berat. ia merasakan kegelisahan Pria yang biasanya begitu tenang dan tak pernah terpancing di situasi apapun sekarang tampak lebih cemas berlebihan.


"Jangan membuatku selalu ingin mati di tempat. apa salahnya diam dan menurut. ha?"


"Kalau aku hanya diam, berarti aku bukan Sandra-mu lagi. Yang Mulia Siluman!" jawab Sandra mencairkan suasana. Sansra hanya mengulum senyum mengecupi puncak kepala keangkuhan ini penuh cinta darinya.


"Benar juga." jawab Rusel beralih meletakan kepalanya ke paha Sandra dengan kedua kaki masih terjuntai di samping ranjang.

__ADS_1


"Sel!"


"Hm?" jawab Rusel seraya menurunkan selimut lalu menaikan Daster hamil Sandra keatas dada hingga perut besar mulus ini terlihat jelas di depan wajahnya.


"Kalau aku bertanya. kau jawab jujur!"


"Ada apa?" Rusel masih sibuk mengusap perut Sandra lembut dan sangat menyayangi si kecil itu. sesekali tangannya memijat bagian pinggang Sandra yang sudah lebih berisi.


"Apa benar Raja Mikes yang membunuh Ayahnya. Lucas?"


Tangan Rusel berhenti memijat. matanya beralih mematung seakan terlihat menerawang jauh.


"Sel! Lucas begini karna dia menganggap jika Ayahmu membunuh Ayahnya. dia berfikir jika Kerajaan hanya ingin memanfaarkan mereka."


"Kau tidurlah!"


"Sel!" panggil Sandra agak meninggi membuat tatapan keduanya berbenturan. tersirat raut tak suka Sandra yang mulai keras.


"Kau menganggapku Istrimu tapi kau tak pernah mau mengatakan semua itu padaku."


"Karna aku tak ada kuasa untuk itu." jawab Rusel kelut.


"Tapi, kenapa? kau bisa..."


"Aku tak mau membuka luka Ibuku. kau paham???"


Suaranya agak meninggi membuat Sandra terperanjat. Sadar akan intonasi suaranya, Rusel segera bangkit mengusap wajahnya kasar.


"M..maafkan aku. maafkan aku, Sayang! aku..aku hanya sedikit pusing. maafkan aku." sesalnya mengecup punggung tangan Sandra yang diam.


"Bisa kau katakan padaku?"


"Kau.."


"Jika tidak, aku akan sama seperti Lucas! aku akan mendukung pemberontakannya." tegas Sandra yang ikut prihatin jika itu iya. Rusel mengambil nafas perlahan kembali dalam zona tenangnya menggenggam tangan Sandra.


"Yah! memang Ayahku yang melakukannya."


Sandra terkejut bukan main. ia tak menyangka jika itu memang benar, tapi melihat raut nanar Rusel ia mulai agak membayang ke arah lain.


"Kenapa?"


"Sepenuhnya bukan kesalahan Ayahku. hari itu Uncel Brennet tiba-tiba meminta Ayahku membunuhnya dan dia menolak, Uncel Brennet termasuk orang yang di cintai Raja Mikes. dan aku melihat sendiri jika Uncel Brennet menusukan dadanya ke pedang Raja Mikes saat latihan Perpedangan." jelas Rusel dengan elusan lembutnya ke punggung tangan Sandra.


"Lalu?"


"Saat terakhir hembusan nafasnya. Uncel Brennet meminta agar.."


Rusel menjeda ucapannya. ia sendiri juga menahan emosi ini agar tak menyakiti Sandra.


"S..Sel!"


"Agar Ayahku menikahi istrinya yang tengah hamil!"


Sandra terhenyak. berarti foto di kamar Nyonya Loure itu...


"Ibuku sangat hancur! saat tahu jika Raja Mikes menikahi wanita itu secara sembunyi dan bahkan.."


"T..tak usah di teruskan. kau.."


"Dia harus rela berbagi suami!"


Degg...


........


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2